Pergeseran Tren Kanker Mulut: Meningkat pada Perempuan, Lansia & Gusi

Wajah Kanker Mulut yang Berubah: Dulu Didominasi Pria Perokok, Kini Semakin Mengincar Perempuan dan Lansia
Tiga dekade lalu di wilayah Basque, Spanyol, kanker mulut menyerang pria dibanding perempuan dengan perbandingan hampir 7 banding 1. Kini perbandingannya tinggal sekitar 2 banding 1. Sebuah studi besar yang menelusuri hampir 1.800 kasus mengungkap sebuah penyakit yang diam-diam berganti sasaran — meningkat pada perempuan, pada lansia, dan pada gusi — bahkan ketika jumlah totalnya menurun. Namun satu kenyataan pahit nyaris tak berubah: hanya sekitar separuh pasien yang bertahan hidup lima tahun, karena terlalu banyak yang terlambat terdeteksi.
Kanker yang Sering Terlambat Disadari
Kanker mulut termasuk kanker yang cukup umum di dunia, dan bisa muncul di berbagai bagian: lidah, bibir, gusi, dasar mulut, hingga area tenggorokan bagian atas (orofaring). Lebih dari 90 persen kasusnya adalah jenis yang disebut karsinoma sel skuamosa oral (OSCC). Faktor risiko utamanya sudah lama dikenal, yaitu merokok, konsumsi alkohol, dan infeksi virus HPV.
Masalah terbesar dari kanker ini bukan hanya seberapa sering ia muncul, melainkan seberapa buruk hasil pengobatannya. Kanker mulut cenderung agresif, sering kambuh, dan yang paling menyulitkan — sering baru ditemukan pada stadium lanjut. Akibatnya, tingkat kesembuhannya nyaris tidak membaik selama bertahun-tahun. Sampai saat ini, satu-satunya strategi yang benar-benar efektif untuk memperbaiki peluang hidup adalah deteksi dan penanganan sejak dini.
Wilayah Basque di Spanyol kebetulan menjadi salah satu daerah dengan angka kanker mulut tertinggi di Eropa — menjadikannya "laboratorium alami" yang ideal untuk mempelajari bagaimana penyakit ini berkembang dari waktu ke waktu.
Menengok Data Selama Tiga Dekade
Tim peneliti dari Universitas Negeri Basque memanfaatkan Registri Populasi Kanker wilayah tersebut — sebuah basis data yang mencatat seluruh kasus kanker di wilayah itu. Mereka menganalisis 1.762 kasus kanker mulut dan orofaring yang didiagnosis antara 2012 hingga 2017, dengan pemantauan minimal 5 tahun untuk setiap pasien.
Yang membuat studi ini istimewa adalah perbandingannya: hasil ini disandingkan dengan data dari periode 1986–1994, sehingga memungkinkan kita melihat perubahan yang terjadi selama kurang lebih 25–30 tahun. Karena datanya mencakup seluruh kasus di wilayah itu (bukan sekadar sampel dari satu rumah sakit), gambarannya tergolong representatif. Peneliti menelaah usia, jenis kelamin, lokasi tumor, jenis sel, stadium saat diagnosis, dan tingkat kelangsungan hidup — dengan fokus khusus pada 1.631 kasus OSCC.
Perubahan Terbesar: Dari "Penyakit Pria" Menjadi Lebih Merata
Inilah temuan paling mencolok. Dulu, kanker mulut sangat identik dengan pria. Namun dalam tiga dekade, gambarannya berubah drastis:
Pada pria, angka kejadian justru menurun — dari sekitar 24 menjadi sekitar 18 kasus per 100.000 penduduk.
Pada perempuan, angkanya lebih dari dua kali lipat — melonjak dari sekitar 3 menjadi lebih dari 7 kasus per 100.000 penduduk.
Akibatnya, perbandingan pria-perempuan berubah dramatis: dari sekitar 7,4 banding 1 menjadi hanya 2,3 banding 1.