Skip to Content

Pergeseran Tren Kanker Mulut: Meningkat pada Perempuan, Lansia & Gusi

September 8, 2026 by
Carigi Indonesia

Pergeseran Tren Kanker Mulut: Meningkat pada Perempuan, Lansia & Gusi

Pergeseran Tren Kanker Mulut: Meningkat pada Perempuan, Lansia & Gusi

Wajah Kanker Mulut yang Berubah: Dulu Didominasi Pria Perokok, Kini Semakin Mengincar Perempuan dan Lansia

Tiga dekade lalu di wilayah Basque, Spanyol, kanker mulut menyerang pria dibanding perempuan dengan perbandingan hampir 7 banding 1. Kini perbandingannya tinggal sekitar 2 banding 1. Sebuah studi besar yang menelusuri hampir 1.800 kasus mengungkap sebuah penyakit yang diam-diam berganti sasaran — meningkat pada perempuan, pada lansia, dan pada gusi — bahkan ketika jumlah totalnya menurun. Namun satu kenyataan pahit nyaris tak berubah: hanya sekitar separuh pasien yang bertahan hidup lima tahun, karena terlalu banyak yang terlambat terdeteksi.

Kanker yang Sering Terlambat Disadari

Kanker mulut termasuk kanker yang cukup umum di dunia, dan bisa muncul di berbagai bagian: lidah, bibir, gusi, dasar mulut, hingga area tenggorokan bagian atas (orofaring). Lebih dari 90 persen kasusnya adalah jenis yang disebut karsinoma sel skuamosa oral (OSCC). Faktor risiko utamanya sudah lama dikenal, yaitu merokok, konsumsi alkohol, dan infeksi virus HPV.

Masalah terbesar dari kanker ini bukan hanya seberapa sering ia muncul, melainkan seberapa buruk hasil pengobatannya. Kanker mulut cenderung agresif, sering kambuh, dan yang paling menyulitkan — sering baru ditemukan pada stadium lanjut. Akibatnya, tingkat kesembuhannya nyaris tidak membaik selama bertahun-tahun. Sampai saat ini, satu-satunya strategi yang benar-benar efektif untuk memperbaiki peluang hidup adalah deteksi dan penanganan sejak dini.

Wilayah Basque di Spanyol kebetulan menjadi salah satu daerah dengan angka kanker mulut tertinggi di Eropa — menjadikannya "laboratorium alami" yang ideal untuk mempelajari bagaimana penyakit ini berkembang dari waktu ke waktu.

Menengok Data Selama Tiga Dekade

Tim peneliti dari Universitas Negeri Basque memanfaatkan Registri Populasi Kanker wilayah tersebut — sebuah basis data yang mencatat seluruh kasus kanker di wilayah itu. Mereka menganalisis 1.762 kasus kanker mulut dan orofaring yang didiagnosis antara 2012 hingga 2017, dengan pemantauan minimal 5 tahun untuk setiap pasien.

Yang membuat studi ini istimewa adalah perbandingannya: hasil ini disandingkan dengan data dari periode 1986–1994, sehingga memungkinkan kita melihat perubahan yang terjadi selama kurang lebih 25–30 tahun. Karena datanya mencakup seluruh kasus di wilayah itu (bukan sekadar sampel dari satu rumah sakit), gambarannya tergolong representatif. Peneliti menelaah usia, jenis kelamin, lokasi tumor, jenis sel, stadium saat diagnosis, dan tingkat kelangsungan hidup — dengan fokus khusus pada 1.631 kasus OSCC.

Perubahan Terbesar: Dari "Penyakit Pria" Menjadi Lebih Merata

Inilah temuan paling mencolok. Dulu, kanker mulut sangat identik dengan pria. Namun dalam tiga dekade, gambarannya berubah drastis:

  • Pada pria, angka kejadian justru menurun — dari sekitar 24 menjadi sekitar 18 kasus per 100.000 penduduk.

  • Pada perempuan, angkanya lebih dari dua kali lipat — melonjak dari sekitar 3 menjadi lebih dari 7 kasus per 100.000 penduduk.

  • Akibatnya, perbandingan pria-perempuan berubah dramatis: dari sekitar 7,4 banding 1 menjadi hanya 2,3 banding 1.

Perubahan lain yang menyertai: usia rata-rata pasien meningkat, dari sekitar 60 tahun menjadi hampir 67 tahun. Pada kelompok OSCC, lebih dari separuh pasien (54 persen) berusia di atas 65 tahun, sementara yang berusia di bawah 45 tahun hanya sekitar 3 persen. Dengan kata lain, meski jumlah total kasus secara keseluruhan menurun, komposisi penderitanya bergeser — semakin banyak perempuan dan semakin banyak orang lanjut usia.

Mengapa Perempuan Semakin Terkena? Jejak Rokok dari Masa Lalu

Penjelasan utamanya terletak pada satu kebiasaan yang efeknya baru terasa puluhan tahun kemudian: merokok. Sepanjang paruh kedua abad ke-20, jumlah perempuan perokok di Spanyol meningkat tajam — dari kurang dari 1 persen pada 1945 menjadi sekitar 22 persen pada 1995. Karena kanker mulut umumnya muncul di usia tua, kasus-kasus yang terdiagnosis hari ini (kebanyakan pada perempuan berusia di atas 60 tahun) sesungguhnya adalah gema dari kebiasaan merokok beberapa dekade sebelumnya.

Kabar baiknya, dalam 30 tahun terakhir kebiasaan merokok menurun pada kedua jenis kelamin dan cenderung menyetara (kini sekitar 21 persen pria dan 15 persen perempuan di wilayah itu). Para peneliti berharap penurunan ini akan menekan angka kanker terkait tembakau pada generasi mendatang. Namun untuk saat ini, mereka memperkirakan kasus pada perempuan masih akan terus meningkat, mendekati angka pada pria — sehingga upaya pencegahan yang menyasar perempuan menjadi semakin penting.

Kejutan di Gusi: Lokasi yang Meningkat dan Paling Berbahaya

Ada satu pergeseran menarik lain: kanker yang muncul di gusi (gingiva) semakin sering ditemukan, pada pria maupun perempuan. Pada perempuan, misalnya, angkanya meningkat sekitar tiga kali lipat.

Mengapa ini menarik? Karena gusi justru merupakan lokasi kanker mulut yang paling sedikit kaitannya dengan rokok. Kanker di gusi lebih banyak dikaitkan dengan usia lanjut dan dengan kondisi pra-kanker tertentu di mulut (seperti bercak putih yang disebut leukoplakia). Jadi, sementara kanker akibat rokok menurun, jenis kanker mulut yang tidak berkaitan dengan rokok ini justru menjadi relatif lebih menonjol seiring menuanya populasi.

Yang lebih mengkhawatirkan, gusi ternyata merupakan lokasi dengan peluang bertahan hidup paling rendah. Studi ini menemukan hubungan yang jelas antara lokasi kanker dan kelangsungan hidup: kanker di bibir memiliki prognosis terbaik (sekitar 66 persen bertahan 5 tahun), diikuti tepi lidah (sekitar 59 persen), sementara kanker gusi paling buruk (hanya sekitar 41 persen). Perlu dicatat, penulis studi jujur menyebut bahwa temuan soal buruknya prognosis kanker gusi ini masih bertentangan antar-penelitian — sebagian studi lain justru menemukan hasil sebaliknya — sehingga temuan ini perlu dibaca dengan hati-hati.

Angka yang Tak Kunjung Membaik: Bertahan Hidup Sekitar 50 Persen

Meski wajah kanker mulut berubah, satu hal menyedihkan tetap sama. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun secara keseluruhan hanya sekitar 50 persen — angka yang nyaris tidak membaik selama bertahun-tahun, dan setara dengan kondisi di banyak wilayah lain di Eropa dan dunia.

Apa penyebab utamanya? Sebagian besar berpangkal pada keterlambatan diagnosis. Lebih dari separuh kasus baru ditemukan ketika kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening atau ke organ lain — jauh lebih sulit diobati dibanding jika ditemukan saat masih terlokalisasi. Faktor lain yang berkaitan dengan peluang hidup meliputi jenis kelamin (perempuan cenderung lebih baik, mungkin karena lebih cepat memeriksakan diri), usia (pasien muda lebih baik), lokasi, dan stadium.

Ada pula temuan yang mengejutkan soal penyebab kematian: penyebab kematian terbanyak kedua pada pasien-pasien ini justru adalah kanker lain. Ini masuk akal secara medis — orang yang pernah terkena kanker mulut punya risiko lebih tinggi mengembangkan tumor baru di saluran napas dan pencernaan atas, karena dipicu faktor risiko yang serupa.

Catatan Penting: Apa yang Perlu Diingat

Beberapa hal perlu digarisbawahi agar pembaca tidak salah tafsir.

Pertama, ini adalah studi retrospektif yang mengandalkan data registri. Artinya, sebagian informasi tidak tersedia lengkap — misalnya, data stadium TNM (sistem penentuan stadium kanker yang rinci) tidak bisa diakses untuk banyak kasus. Studi semacam ini juga hanya bisa menunjukkan pola dan kaitan, bukan membuktikan sebab-akibat pada individu.

Kedua, dan yang paling penting untuk konteks Indonesia: semua angka di sini spesifik untuk wilayah Basque, Spanyol. Tren besarnya — pergeseran ke arah perempuan, lansia, dan gusi, serta pentingnya deteksi dini — memang mencerminkan pola yang terlihat di banyak belahan dunia. Namun angka pastinya (misalnya berapa kasus per 100.000 penduduk) tidak bisa langsung dipindahkan ke populasi lain yang punya kebiasaan dan demografi berbeda.

Kesimpulan: Deteksi Dini Adalah Senjata yang Sudah Kita Miliki

Studi ini menyampaikan dua pesan sekaligus. Yang pertama bernuansa peringatan: kanker mulut bukan lagi sekadar "penyakit pria perokok". Wajahnya berubah — semakin banyak menyerang perempuan, orang lanjut usia, dan area gusi yang tak selalu berkaitan dengan rokok. Pergeseran ini menuntut kewaspadaan yang lebih luas, tidak hanya pada kelompok yang selama ini dianggap "berisiko tinggi".

Pesan kedua justru memberi harapan: meski prognosisnya masih buruk, penyebab utamanya — keterlambatan diagnosis — adalah sesuatu yang bisa kita ubah. Memeriksakan gigi dan mulut secara rutin, tidak mengabaikan sariawan atau luka di mulut yang tak kunjung sembuh lebih dari dua minggu, serta mengurangi rokok dan alkohol, adalah langkah-langkah nyata yang bisa menyelamatkan nyawa. Dokter gigi berada di garis depan untuk menemukan tanda-tanda awal ini — dan semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang untuk sembuh.

Referensi

Amezaga-Fernandez, I., Marichalar-Mendia, X., Lafuente-Ibáñez-de-Mendoza, I., López-de-Munain-Marqués, A., & Aguirre-Urizar, J. M. (2025). Evolution of oral and oropharyngeal cancer in the Basque Country (Spain) from 1986-1994 to 2012-2017. Medicina Oral, Patología Oral y Cirugía Bucal, 30(6), e925–e933. DOI: https://doi.org/10.4317/medoral.27518

Carigi Indonesia September 8, 2026
Share this post
Tags
Archive
Lowongan Kerja Perawat Gigi Surabaya 2026