Skip to Content

Usia Gigi & Kekuatan Semen Pasak

April 24, 2026 by
Carigi Indonesia

Usia Gigi & Kekuatan Semen Pasak

Usia Gigi & Kekuatan Semen Pasak

Semen yang Menentukan, Bukan Usianya: Mengapa Usia Gigi Mungkin Tak Berpengaruh Saat Dokter Gigi Merekatkannya Kembali

Studi terbaru pada 180 gigi yang diekstraksi menunjukkan bahwa pilihan material jauh lebih menentukan daripada usia pasien — temuan yang menantang asumsi yang sudah dipegang selama puluhan tahun

Tanyakan pada dokter gigi mana pun, dan mereka akan mengatakan hal yang sama: gigi berubah seiring bertambahnya usia. Enamel menipis. Tubulus-tubulus mikroskopis yang menembus dentin — lapisan hidup di bawah enamel — perlahan terisi mineral, menjadi lebih sempit dan kurang permeabel. Serat kolagen mengeras. Saat pasien memasuki usia tujuh puluhan, bagian dalam giginya, secara mikroskopis, tampak sangat berbeda dibanding gigi seorang berusia dua puluh tahun.

Maka secara intuitif masuk akal bila kita menduga, ketika dokter gigi merekatkan sebuah pasak di dalam saluran akar gigi pasien lanjut usia, perekatnya akan berperilaku berbeda — mungkin kurang melekat, atau membutuhkan adhesif khusus. Namun studi terbaru dari Charité – Universitätsmedizin Berlin dan Universitas Marburg, yang diterbitkan di The Journal of Adhesive Dentistry, menunjukkan bahwa intuisi tersebut keliru.

Dalam hal merekatkan pasak gigi di dalam saluran akar, usia gigi hampir tidak berpengaruh sama sekali. Sebaliknya, jenis semen yang dipilih dokter gigi-lah yang sangat menentukan hasilnya.

Mengapa Pertanyaan Ini Bukan Sekadar Akademis

Perawatan saluran akar sering kali diakhiri dengan pemasangan pasak — batang kecil yang disementasikan di dalam saluran yang telah dibersihkan, sebagai penopang mahkota atau tambalan besar di atasnya. Perekat yang menahan pasak tersebut harus mampu bertahan terhadap tekanan kunyah, saliva, dan pemakaian harian selama bertahun-tahun.

Para dokter gigi telah lama mempertanyakan apakah gigi yang lebih tua membutuhkan strategi perekatan yang berbeda. Bagian dalam saluran akar yang menua memang merupakan lingkungan yang lebih sulit untuk direkati: jumlah tubulus dentin yang terbuka lebih sedikit, dentin menjadi lebih termineralisasi atau "sklerotik", dan kolagen mengalami modifikasi akibat akumulasi advanced glycation end products (AGEs) — produk yang terbentuk secara alami selama puluhan tahun, khususnya pada pasien dengan kadar gula darah tinggi. Secara teori, semua perubahan ini dapat melemahkan ikatan kimiawi antara semen dan gigi.

Sebagian dokter gigi lebih memilih sistem adhesif multi-tahap, yang melibatkan primer terpisah dan teknik aplikasi yang lebih teliti. Sebagian lainnya memilih sistem adhesif satu-tahap (self-adhesive) yang lebih sederhana — sistem yang mengklaim mampu menembus, mendemineralisasi, dan merekat pada gigi hanya dalam satu kali aplikasi. Kompromi yang ada selama ini adalah: kemudahan melawan kinerja. Apakah salah satu pendekatan lebih baik pada gigi tua? Pada gigi muda? Belum ada yang benar-benar tahu.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan

Tim peneliti — dipimpin Jacqueline Victoria Krempels — mengumpulkan 180 gigi manusia hasil ekstraksi, dikelompokkan dengan cermat berdasarkan usia pasien menjadi tiga kelompok:

  • Muda: 20–35 tahun

  • Paruh baya: 45–60 tahun

  • Lanjut usia: 70–85 tahun

Jeda sepuluh tahun antar kelompok sengaja dibuat, agar perbedaan usia lebih tajam dan perbandingan lebih jernih.

Setiap kelompok usia kemudian dibagi lagi ke enam jenis semen gigi komersial dari tiga produsen besar — tiga sistem multi-tahap (Panavia 21, Core X Flow, Multilink Automix) dan tiga sistem adhesif satu-tahap (Panavia SA Cement Plus, Smart Cem 2, SpeedCEM Plus). Dengan demikian, peneliti memiliki 18 sub-kelompok, masing-masing terdiri atas 10 gigi.

Saluran akar dipreparasi hingga kedalaman dan lebar yang seragam, lalu pasak baja standar disementasikan ke dalamnya. Setelah seminggu disimpan, setiap pasak ditarik keluar secara lurus menggunakan mesin uji, dan gaya yang diperlukan untuk merusak ikatan perekatnya dicatat. Lokasi kegagalan difoto dan diklasifikasikan ke dalam empat kategori: ikatan rusak di dentin, di pasak, di dalam semen itu sendiri, atau gabungan dari beberapa titik (kegagalan "campuran").

Apa yang Ditemukan Peneliti

Usia sama sekali tidak berpengaruh

Inilah temuan utama. Analisis statistik menunjukkan bahwa usia gigi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kekuatan perekatan semen (P = 0,506). Enamel muda, enamel paruh baya, enamel lansia — semen berperilaku relatif sama di ketiga kelompok tersebut. Tidak ada pula efek interaksi, artinya tidak ada semen tertentu yang bekerja lebih baik pada satu kelompok usia dibanding kelompok lain.

Bagi para klinisi yang diam-diam bertanya-tanya apakah mereka perlu mengubah teknik perekatan pada pasien lanjut usia, studi ini memberikan jawaban yang jelas: kemungkinan besar tidak perlu.

Jenis semen sangat menentukan

Sementara usia tidak menjadi masalah, pilihan semen justru sangat berpengaruh. Kekuatan ikatan antar produk bervariasi secara dramatis:

  • Smart Cem 2 menjadi yang terkuat secara keseluruhan, dengan kekuatan ikatan median 9,04 MPa.

  • Multilink Automix dan Core X Flow mengikuti di urutan berikutnya, keduanya sekitar 8 MPa.

  • SpeedCEM Plus dan Panavia 21 berada di kisaran tengah.

  • Panavia SA Cement Plus tertinggal cukup jauh, hanya 4,18 MPa — kurang dari separuh kekuatan semen terbaik.

Perbedaan antara beberapa produk ini signifikan secara statistik, terutama Panavia SA Cement Plus dibanding sebagian besar produk lainnya.

Kejutan tentang "bintang" kimia adhesif

Produk dengan kinerja paling lemah, Panavia SA Cement Plus, justru mengandung 10-MDP — monomer fungsional yang selama ini dipuji oleh komunitas riset kedokteran gigi karena kemampuannya membentuk ikatan kimiawi yang stabil dengan mineral gigi. Ini adalah bahan aktif yang membuat produk-produk Panavia generasi awal menjadi terkenal.

Lalu mengapa kali ini kinerjanya kurang memuaskan? Para peneliti menduga bahwa 10-MDP saja, tanpa dukungan monomer lain, mungkin belum cukup untuk menghasilkan ikatan terkuat. Singkatnya: satu molekul "pahlawan" belum tentu menjadi formula lengkap. Semen terbaik tampaknya adalah hasil kombinasi beberapa komponen kimia yang bekerja secara sinergis.

Di mana ikatannya pecah

Saat pasak ditarik keluar, pola kegagalan paling umum — terlihat pada 46% sampel — adalah kegagalan campuran, yaitu ikatan yang rusak di beberapa titik sekaligus. Kondisi ini paling sering muncul pada gigi muda (53%) dan pada sampel SpeedCEM Plus (70%).

Kelompok lanjut usia menunjukkan pola yang berbeda: kegagalan lebih cenderung terjadi di pasak itu sendiri (30%) dibanding di dentin. Ini menunjukkan bahwa meskipun dentin lansia secara keseluruhan tidak lebih lemah, cara semen "mencengkeram" permukaan pasak kemungkinan berubah seiring usia.

Apa Artinya untuk Praktik Kedokteran Gigi Sehari-hari

Pesan kliniknya cukup sederhana:

  1. Jangan mengubah strategi adhesif hanya berdasarkan usia pasien. Tidak ada bukti bahwa pasien lanjut usia butuh pendekatan khusus, ataupun bahwa pasien muda bisa cukup dengan semen yang lebih murah.

  2. Pilih semen dengan seksama. Perbedaan antara semen terbaik dan terburuk dalam studi ini lebih dari dua kali lipat. Itu adalah perbedaan klinis yang nyata, yang dapat memengaruhi daya tahan restorasi.

  3. Lebih sederhana belum tentu berarti lebih buruk. Beberapa semen satu-tahap self-adhesive (seperti Smart Cem 2) justru mengungguli sebagian sistem multi-tahap. Artinya, teknik yang lebih sederhana tidak otomatis berarti hasil yang lebih rendah — semuanya tergantung produknya.

  4. Label "self-adhesive" bukan jaminan ajaib. Di dalam kategori yang sama, kinerjanya ternyata bisa sangat berbeda. Dua produk dalam kategori sejenis bisa berperilaku sangat tidak sebanding.

Keterbatasan yang Perlu Diketahui

Setiap studi laboratorium memiliki batasan, dan para peneliti cukup terbuka mengenai hal ini. Gigi-gigi disementasikan dalam kondisi ideal dan bersih — tanpa larutan irigasi endodontik yang biasa digunakan dokter gigi pada perawatan nyata, yang dapat memengaruhi kinerja material self-etching. Studi ini hanya mengukur gaya tarik lurus, bukan kompleksitas beban lateral, fluktuasi suhu, dan serangan enzim yang dialami pasak di dalam mulut sungguhan. Dan meskipun 180 sampel gigi adalah jumlah yang wajar, tidak ada analisis kekuatan statistik (power analysis) formal yang dilakukan sebelum percobaan dimulai.

Meski begitu, temuan intinya — bahwa usia gigi tidak secara berarti mengubah kekuatan ikatan semen di saluran akar — cukup kuat untuk menjadi dasar berpikir klinis.

Intinya

Dentin memang berubah seiring usia. Namun, perubahan tersebut — setidaknya dalam percobaan yang terkontrol dengan baik ini — tidak berarti ikatan antara pasak dan saluran akar menjadi lebih lemah. Material yang dipilih dokter gigi — formulasi kimianya, paduan monomernya — itulah yang benar-benar membuat perbedaan.

Bagi pasien, pesan praktisnya: usia saja bukan alasan untuk mengharapkan hasil yang lebih buruk dari pemasangan pasak endodontik. Bagi dokter gigi, studi ini menjadi pengingat penting bahwa tidak semua semen dalam kategori yang sama berperilaku sama, dan bahwa memilih semen yang tepat membutuhkan pertimbangan yang lebih dalam dibanding sekadar menyesuaikannya dengan usia pasien.

Yang menentukan adalah semennya, bukan kalender umur pasiennya.

Referensi

Krempels JV, Sturm R, Neumann K, Schumacher T, Schouten C, Faber FJ, Frankenberger R, Roggendorf MJ. Influence of Tooth Age On Intracanal Dentin Adhesion. The Journal of Adhesive Dentistry. 2025;27:75–80.

DOI: 10.3290/j.jad.c_1980


Carigi Indonesia April 24, 2026
Share this post
Tags
Archive
Erosi Asam & Sikat Interdental