Skip to Content

Urutan Flossing dan Sikat Gigi Efektif

July 30, 2026 by
Carigi Indonesia

Urutan Flossing dan Sikat Gigi Efektif

Urutan Flossing dan Sikat Gigi Efektif

Rahasia Gigi Lebih Bersih, Floss atau Sikat Gigi Dulu?

Bayangkan Anda sedang berdiri di depan wastafel pada malam hari, memegang sikat gigi di satu tangan dan segulung benang gigi di tangan lain. Lalu muncul pertanyaan sepele yang mungkin tak pernah benar-benar Anda pikirkan: mana yang lebih dulu sikat gigi, baru benang gigi? Atau benang gigi dulu, baru menyikat?

Bagi kebanyakan orang, jawabannya cuma soal kebiasaan. Toh yang penting keduanya dikerjakan, bukan? Tapi sebuah uji klinis terbaru dari Shanghai, China, menemukan bahwa urutan sederhana itu ternyata bisa membuat perbedaan yang nyata setidaknya untuk gigi-gigi depan Anda.

Pertanyaan sepele yang jarang diteliti serius

Menyikat gigi dan membersihkan sela gigi dengan benang (flossing) adalah dua cara paling umum untuk mengangkat plak lapisan lengket berisi bakteri yang menempel di permukaan gigi. Plak inilah biang keladi dua masalah mulut paling umum: gigi berlubang dan radang gusi (yang bila dibiarkan bisa berkembang menjadi penyakit periodontal, penyebab utama gigi tanggal pada orang dewasa).

Masalahnya, sikat gigi punya keterbatasan. Sebersih apa pun Anda menyikat, bulu sikat sulit menjangkau celah sempit di antara gigi justru area yang paling disukai bakteri. Di sinilah benang gigi berperan: ia menyelinap ke sela-sela yang tak terjangkau sikat.

Yang mengejutkan, meski jutaan orang melakukan keduanya setiap hari, pertanyaan "mana dulu?" hampir tak pernah dijawab dengan penelitian yang memadai. Selama ini pun jawabannya cenderung longgar. American Dental Association (ADA), misalnya, menyatakan bahwa urutan mana pun bisa diterima selama pembersihannya dilakukan dengan tuntas sebagian orang suka flossing dulu, sebagian lain suka menyikat dulu. Namun belakangan, mulai muncul kecenderungan di kalangan sebagian ahli bahwa flossing sebelum menyikat mungkin lebih menguntungkan, terutama karena membantu meningkatkan paparan fluoride di dalam mulut.

Bukti ilmiahnya sendiri masih bercampur: beberapa studi terdahulu menyimpulkan flossing-dulu lebih unggul, tetapi sebuah meta-analisis yang menggabungkan studi-studi itu justru tidak menemukan perbedaan berarti. Nah, penelitian dari Shanghai inilah yang mencoba menambah bukti baru untuk perdebatan tersebut.

Apa yang dilakukan para peneliti

Tim peneliti dari Rumah Sakit Stomatologi Tongji, Universitas Tongji, mengajak 56 mahasiswa untuk sebuah uji klinis acak. Para peserta dibagi secara acak (dengan simulator lempar koin digital) menjadi dua kelompok:

  • Kelompok "floss–sikat" (26 orang): membersihkan sela gigi dengan benang selama 2 menit, berkumur, lalu menyikat gigi 3 menit.

  • Kelompok "sikat–floss" (30 orang): mengerjakan hal yang persis sama, hanya urutannya dibalik menyikat dulu, baru flossing dan berkumur.

Agar adil, semua peserta diberi alat yang sama (sikat gigi berbulu sedang, pasta gigi berfluoride, dan benang gigi) serta pelatihan teknik yang sama, lengkap dengan video dan peragaan model. Teknik menyikat yang diajarkan adalah metode Bass modifikasi cara menyikat yang lazim direkomendasikan dokter gigi.

Untuk mengukur hasilnya secara objektif, peneliti memakai zat pewarna plak: cairan yang membuat plak yang biasanya tak kasat mata jadi tampak jelas berwarna. Kondisi plak dinilai sebelum dan sesudah pembersihan menggunakan sebuah sistem skor baku (indeks plak Turesky). Yang menarik, mulut peserta dibagi menjadi empat wilayah gigi depan atas, gigi belakang atas, gigi depan bawah, dan gigi belakang bawah sehingga peneliti bisa melihat di bagian mana urutan itu paling berpengaruh, bukan hanya menilai mulut sebagai satu kesatuan.

Sebagai catatan soal ketelitian: penelitian ini bersifat single-blind, artinya para pemeriksa yang menilai skor plak tidak tahu peserta masuk kelompok yang mana (untuk mengurangi bias penilaian), meski tentu saja peserta sendiri tahu urutan yang mereka lakukan.

Hasil: bedanya justru muncul di gigi depan

Kabar pertama yang menenangkan: kedua urutan sama-sama berhasil menurunkan plak secara signifikan. Jadi, apa pun urutan yang Anda pilih, menyikat dan flossing tetap bekerja.

Namun ketika peneliti membedah data per wilayah, muncul pola yang jelas. Kelompok yang flossing lebih dulu mengangkat plak secara nyata lebih banyak di gigi depan baik atas maupun bawah dibanding kelompok yang menyikat lebih dulu. Keunggulannya paling menonjol di sela-sela antar gigi depan (permukaan yang selama ini paling sulit dijangkau): di area itu, flossing-dulu membersihkan kira-kira 1,5 hingga hampir 2 kali lebih banyak plak.

Beberapa angka kuncinya (semakin tinggi, semakin banyak plak yang terangkat):

  • Gigi depan atas, seluruh permukaan: penurunan plak 1,13 pada kelompok floss-dulu vs 0,71 pada kelompok sikat-dulu.

  • Gigi depan atas, sela antar gigi: 1,15 vs 0,65.

  • Gigi depan bawah, seluruh permukaan: 0,91 vs 0,64.

  • Gigi depan bawah, sela antar gigi: 0,93 vs 0,62.

Semua selisih di gigi depan itu cukup meyakinkan secara statistik. Sebaliknya, di gigi belakang, kedua urutan tidak berbeda bermakna.

Bagaimana kalau seluruh mulut dihitung sebagai satu kesatuan? Kelompok floss-dulu memang cenderung sedikit lebih unggul, tetapi selisihnya belum cukup kuat untuk disebut signifikan secara statistik nyaris, tapi tak melewati ambang. Dengan kata lain, keunggulan flossing-dulu paling terasa bukan di seluruh mulut secara merata, melainkan terkonsentrasi di barisan gigi depan.

Kenapa hanya gigi depan?

Ini bagian yang menarik untuk dipahami. Menurut peneliti, gigi depan punya beberapa "keuntungan" yang membuat flossing-dulu lebih efektif di sana: posisinya mudah terlihat sehingga Anda bisa mengarahkan benang gigi dengan panduan visual langsung, dan sela antar giginya relatif lebih sempit sehingga plak lebih gampang tergeser keluar secara fisik.

Sebaliknya, gigi belakang punya anatomi yang jauh lebih rumit lengkung permukaan yang tajam dan cabang-cabang akar yang membuat benang gigi sulit menempel sempurna dan menuntut keterampilan lebih tinggi. Wajar bila di area itu, mengubah urutan saja tak cukup memberi keunggulan.

Yang perlu dibaca dengan kepala dingin

Seperti semua penelitian yang baik, studi ini jujur menyebut keterbatasannya dan penting untuk tidak melebih-lebihkan hasilnya.

Pertama, seluruh pesertanya adalah mahasiswa kedokteran gigi tingkat akhir. Mereka jelas punya pemahaman kebersihan mulut di atas rata-rata orang awam, sehingga hasilnya belum tentu langsung berlaku untuk masyarakat umum. (Menariknya, bahkan di kalangan mereka, hanya sekitar 36,7% yang rutin flossing setiap hari.)

Kedua, penggunaan zat pewarna plak, meski perlu untuk pengukuran yang baku, punya efek sampingan: plak yang tampak mencolok kemungkinan membuat peserta membersihkan giginya jauh lebih teliti daripada biasanya. Artinya, hasil di dunia nyata saat kita menyikat gigi tanpa pewarna di rumah bisa jadi tidak seideal ini.

Ketiga, peserta dibatasi pada orang dengan gusi sehat atau radang gusi ringan, bukan penderita penyakit periodontal. Selain itu, jumlah peserta tergolong kecil dan perhitungan sampelnya dirancang untuk analisis seluruh mulut, bukan untuk membandingkan wilayah per wilayah secara khusus. Peneliti sendiri menegaskan bahwa temuan ini perlu diverifikasi pada kelompok yang lebih besar dan beragam, serta ditindaklanjuti dengan studi jangka panjang untuk melihat dampaknya pada kesehatan gusi.

Lalu, sebaiknya kita mulai dari mana?

Pesan paling penting dari semua ini justru sederhana dan menenangkan: hal terbesar bukanlah urutannya, melainkan apakah Anda ber-flossing sama sekali dan melakukannya setiap hari. Manfaat rutin membersihkan sela gigi jauh melampaui soal mana yang dikerjakan lebih dulu.

Di atas fondasi itu, urutan adalah semacam "penyempurna". Jika Anda ingin sedikit mengoptimalkan hasil khususnya untuk gigi depan yang paling sering terlihat saat tersenyum mendahulukan flossing sebelum menyikat adalah penyesuaian yang murah, gampang, dan didukung penelitian ini. Logikanya masuk akal: flossing lebih dulu melonggarkan sisa makanan dan plak dari sela gigi, lalu sikat menyapunya bersih. Sebagian ahli juga menambahkan bahwa dengan urutan ini, fluoride dari pasta gigi lebih mudah menjangkau sela-sela gigi (meski perlu dicatat, studi Shanghai ini mengukur plak, bukan kadar fluoride).

Tapi ingat kembali pesan ADA: selama dilakukan dengan tuntas, urutan mana pun tetap bermanfaat. Yang benar-benar merugikan adalah tidak membersihkan sela gigi sama sekali.

Kesimpulan

Sebuah kebiasaan sekecil membalik urutan benang gigi dulu, baru sikat ternyata bisa membuat gigi depan Anda lebih bersih dari plak, terutama di sela-sela yang paling sulit dijangkau. Penelitian ini menempatkan urutan pembersihan sebagai faktor yang bisa kita ubah untuk meningkatkan efektivitas menjaga kebersihan mulut, khususnya di gigi depan.

Meski demikian, ini masih bukti awal dari kelompok kecil yang "melek" kesehatan gigi, dan belum bisa langsung digeneralisasi ke semua orang. Kabar baiknya, Anda tak perlu menunggu penelitian lanjutan untuk mengambil manfaatnya: mulai flossing setiap hari, kerjakan dengan tuntas, dan bila mau, biasakan melakukannya sebelum menyikat gigi. Sisanya konsistensi setiap malam di depan wastafel adalah bagian yang paling menentukan.

Referensi & Sumber Asli

Artikel jurnal asli:

Ma, Y.-F., Pan, Y.-H., Tang, Y., & Yan, X.-Z. (2026). Impact of brushing-flossing sequence on plaque removal: a single-blind, randomized controlled trial. BMC Oral Health, 26, artikel 565.

DOI: 10.1186/s12903-026-07984-6

Tautan langsung: https://link.springer.com/article/10.1186/s12903-026-07984-6

Detail publikasi:

  • Afiliasi peneliti: Department of Periodontology, Shanghai Engineering Research Center of Tooth Restoration and Regeneration & Tongji Research Institute of Stomatology, Shanghai Tongji Stomatological Hospital and Dental School, Universitas Tongji, Shanghai, China

  • Yi-Fei Ma dan Yi-Hui Pan berkontribusi setara sebagai penulis utama

  • Diterima 22 November 2024 · Disetujui 19 Februari 2026 · Terbit daring 25 Februari 2026 · Versi rekaman 31 Maret 2026

  • Status: Open access (Creative Commons Attribution 4.0), telah melalui peer-review

  • Registrasi uji klinis: Chinese Clinical Trials Registry, ID ChiCTR2400087214 (23 Juli 2024)

  • Persetujuan etik: Komite Etik RS Stomatologi Universitas Tongji (No. [2024]-SR-48)

  • Pendanaan: National Natural Science Foundation of China dan sejumlah lembaga penelitian di Shanghai

  • Konflik kepentingan: penulis menyatakan tidak ada

Konteks tambahan (panduan umum):

  • American Dental Association (ADA) — Dental Floss/Interdental Cleaners, ada.org

  • American Association of Orthodontists (AAO) — Should You Brush or Floss First?, aaoinfo.org

Catatan penting untuk pembaca: Penelitian ini adalah uji klinis berskala kecil (56 peserta) yang seluruhnya terdiri dari mahasiswa kedokteran gigi — kelompok dengan literasi kebersihan mulut di atas rata-rata. Penggunaan zat pewarna plak juga berpotensi membuat peserta membersihkan gigi lebih teliti dari biasanya. Karena itu, keunggulan "flossing dulu" yang ditemukan di gigi depan merupakan bukti awal yang menjanjikan, bukan anjuran mutlak, dan belum tentu berlaku sama bagi semua orang. Hal terpenting tetap: bersihkan sela gigi setiap hari dengan tuntas. Untuk kondisi gusi atau gigi tertentu, konsultasikan dengan dokter gigi Anda.

Artikel ini merupakan ulasan populer ilmiah yang disusun untuk carigi.id. Informasi di dalamnya bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran langsung dari dokter gigi.

Carigi Indonesia July 30, 2026
Share this post
Tags
Archive
Telemedisin Layanan Kesehatan Indonesia