Uji Biokompatibilitas Pasta Gigi

Tidak Semua Pasta Gigi Sama: Studi Ungkap Perbedaan Keamanan dan Kemampuan Antibakteri Berbagai Merek Pasta Gigi
Pasta Gigi Sehari-hari Ternyata Memiliki Karakteristik yang Berbeda
Pasta gigi merupakan bagian tak terpisahkan dari rutinitas menjaga kesehatan mulut. Selain membantu membersihkan plak dan sisa makanan, berbagai kandungan di dalam pasta gigi juga berperan dalam mencegah gigi berlubang, menjaga kesehatan gusi, hingga mengurangi sensitivitas gigi.
Namun, di balik manfaat tersebut, setiap produk memiliki komposisi bahan aktif yang berbeda. Kandungan seperti fluorida, bahan antibakteri, enzim, maupun deterjen (surfaktan) dapat memberikan efek yang berbeda, baik terhadap bakteri penyebab penyakit gigi maupun terhadap jaringan lunak di dalam rongga mulut.
Inilah yang menjadi perhatian para peneliti dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Scientific Reports. Penelitian ini membandingkan 12 produk pasta gigi komersial untuk melihat keseimbangan antara efektivitas membunuh bakteri dan tingkat keamanannya terhadap sel gusi manusia.
Mengapa Keamanan Pasta Gigi Perlu Diteliti?
Saat menyikat gigi, pasta gigi tidak hanya mengenai permukaan gigi, tetapi juga bersentuhan langsung dengan gusi, lidah, pipi bagian dalam, dan jaringan mulut lainnya. Walaupun waktu kontaknya relatif singkat, sebagian bahan aktif dapat tetap berada di rongga mulut setelah menyikat gigi.
Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bahan seperti sodium lauryl sulfate (SLS), yang berfungsi menghasilkan busa, dapat menyebabkan iritasi atau memengaruhi kesehatan sel apabila digunakan dalam kondisi tertentu.
Karena itu, para peneliti ingin mengetahui apakah berbagai formulasi pasta gigi memiliki tingkat keamanan biologis (biocompatibility) yang berbeda, sekaligus membandingkan kemampuan masing-masing produk dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Penelitian dilakukan menggunakan 12 pasta gigi komersial, yang terdiri atas pasta gigi untuk orang dewasa maupun anak-anak, termasuk produk yang mengandung fluorida, klorheksidin, maupun enzim.
Para peneliti kemudian menguji berbagai aspek, yaitu:
Sitotoksisitas, untuk mengetahui apakah pasta gigi dapat mengurangi kelangsungan hidup sel fibroblas gusi manusia.
Apoptosis, yaitu apakah pasta gigi memicu kematian sel secara terprogram.
Genotoksisitas, untuk melihat apakah terjadi kerusakan pada materi genetik sel.
Aktivitas antibakteri, terhadap dua bakteri yang berkaitan dengan perkembangan karies, yaitu Streptococcus mutans dan Lacticaseibacillus rhamnosus.
Seluruh pengujian dilakukan di laboratorium menggunakan metode kultur sel dan analisis mikrobiologi yang telah banyak digunakan dalam penelitian biokompatibilitas bahan kedokteran gigi.
Hasil Penelitian: Efektif Membunuh Bakteri Belum Tentu Paling Ramah terhadap Sel
Penelitian menemukan bahwa semua pasta gigi menunjukkan tingkat sitotoksisitas yang berbeda-beda terhadap sel gusi manusia.
Produk Meridol menunjukkan tingkat sitotoksisitas paling tinggi pada kondisi penelitian, sedangkan Klorhex memperlihatkan tingkat sitotoksisitas paling rendah sehingga dinilai memiliki biokompatibilitas yang lebih baik dibandingkan produk lain yang diuji.
Menariknya, hanya Colgate Maximum Cavity Protection yang menunjukkan peningkatan apoptosis (kematian sel terprogram) secara bermakna. Sementara itu, pasta gigi lainnya tidak menunjukkan peningkatan apoptosis yang signifikan pada konsentrasi yang diuji.
Kabar baiknya, tidak ada satu pun pasta gigi yang terbukti menyebabkan kerusakan DNA (genotoksisitas) secara signifikan pada sel gusi manusia selama penelitian berlangsung.
Pasta Gigi Mana yang Paling Efektif Melawan Bakteri?
Selain keamanan terhadap sel, peneliti juga mengevaluasi kemampuan setiap pasta gigi dalam menghambat bakteri penyebab karies.
Untuk bakteri Streptococcus mutans, beberapa produk menunjukkan aktivitas antibakteri paling kuat, yaitu:
Colgate Total 12
Colgate Maximum Cavity Protection
Klorhex
ROCS Kids
Sensodyne Pronamel for Kids