Bukan Sekadar Takut Sakit: Studi Ungkap Mengapa Kenangan Buruk di Kursi Dokter Gigi Bisa Membekas Seumur Hidup
Ada orang dewasa yang masih berkeringat dingin begitu duduk di kursi dokter gigi — mengingat dengan sangat jelas sebuah peristiwa dari lebih dari 30 tahun silam. Sebuah studi dua bagian dari Universitas New York menelusuri apa yang sebenarnya diingat orang tentang kunjungan ke dokter gigi, dari mereka yang tak takut sama sekali hingga yang sangat fobia. Temuannya mengejutkan: kenangan dental yang traumatis begitu hidup dan bertahan seumur hidup — dan yang membuat sebuah kunjungan terasa "traumatis" sering kali bukan sekadar rasa sakit, melainkan perasaan tak berdaya, tak dipercaya, dan hilangnya rasa percaya kepada sang dokter. Namun ada kabar baik: semua ini bisa ditangani.
Kenangan yang Tak Kunjung Pudar
Dalam ilmu psikologi, ada istilah "kenangan rasa takut emosional" (emotional fear memory) — yaitu kenangan yang sangat hidup, penuh emosi, kaya detail indrawi, dan cenderung muncul kembali secara tiba-tiba tanpa diminta. Kenangan semacam ini adalah ciri khas trauma, dan makin dikenali sebagai akar dari berbagai ketakutan dan fobia.
Rasa takut ke dokter gigi ternyata jauh lebih umum daripada yang kita kira. Berdasarkan sejumlah studi di Amerika Serikat, prevalensinya di praktik klinik mencapai sekitar 39 persen — hampir dua dari lima pasien. Dan yang menarik, banyak orang dewasa yang mengalami ketakutan ini melacak asal-usulnya ke masa kanak-kanak.
Meski begitu, peran memori dalam rasa takut ke dokter gigi selama ini justru kurang diteliti. Padahal, jika sebuah pengalaman buruk terekam sebagai kenangan yang menghantui, ia bisa terus membentuk cara seseorang memandang setiap kunjungan berikutnya. Inilah celah yang coba diisi oleh penelitian ini.
Apa yang Dilakukan Para Peneliti
Studi ini sebenarnya terdiri dari dua penelitian yang saling melengkapi, menggunakan metode kualitatif — yaitu menggali dan menganalisis pengalaman seseorang dalam kata-katanya sendiri, bukan sekadar angka.
Penelitian pertama memanfaatkan arsip tulisan tangan anonim (dikumpulkan pada 2004–2007) dari 17 orang tua anak-anak yang cemas ke dokter gigi. Mereka diminta menuliskan pengalaman dental yang traumatis — baik yang mereka alami sendiri semasa kecil, maupun yang dialami anak mereka.
Penelitian kedua melibatkan 58 pasien dewasa di klinik gigi Universitas New York pada awal 2025. Mereka diminta menuliskan dua hal: kenangan paling awal dan kenangan terburuk mereka di dokter gigi, sekaligus menilai tingkat rasa takut mereka saat ini pada skala 0 hingga 10. Para peneliti kemudian menganalisis kenangan-kenangan itu berdasarkan dua kerangka: ciri-ciri "kenangan rasa takut emosional", dan tema-tema yang disebut "kerentanan kognitif".
Temuan 1: Kenangan Trauma Begitu Hidup — dan Bertahan Puluhan Tahun
Hasil dari penelitian pertama sungguh menyentuh. Setiap kenangan masa kecil yang traumatis dipenuhi detail indrawi yang tajam — bau ruangan yang steril, mesin-mesin besar yang menakutkan, suara bor. Semuanya juga sarat bahasa emosi ("takut", "ngeri", "trauma"), dan banyak yang menyebut rasa sakit. Ada yang mengingat menangis selama prosedur, ada pula yang merasa mual atau muntah.
Yang paling mencengangkan adalah betapa lamanya kenangan ini bertahan. Ini adalah kunjungan masa kecil yang seharusnya rutin dan terlupakan puluhan tahun kemudian — tetapi justru terekam begitu dalam. Bahkan setelah 30 tahun lebih, para partisipan menggambarkan masih berkeringat dingin, jantung berdebar, atau membatalkan janji temu berulang kali sebelum akhirnya berani datang. Sebagian bahkan mengandalkan obat penenang untuk bisa melewati kunjungan, dan sebagian menunda ke dokter gigi hingga masalahnya menjadi jauh lebih parah.
Temuan 2: Bukan Hanya Rasa Sakit — tapi Rasa Tak Berdaya
Lalu, apa sebenarnya yang membuat sebuah kunjungan begitu traumatis? Jawabannya melampaui sekadar rasa sakit fisik.
Para partisipan menggambarkan pengalaman dikekang atau ditahan paksa, wajah ditutup (salah satu menyebutnya "dicekik"), serta dibentak atau disuruh "jadi anak berani". Ada pula yang dipisahkan paksa dari orang tuanya. Namun yang paling menyakitkan secara emosional adalah pengalaman tidak dipercaya — ketika mereka mengeluh sakit tetapi diabaikan, atau ketika dokter tetap melanjutkan prosedur meski isyarat "berhenti" yang sudah disepakati sudah diberikan.
(Perlu dicatat, sebagian praktik yang digambarkan dalam kenangan lama ini — seperti menutup mulut anak atau bahkan menampar sebagai "hukuman" — kini sudah ditinggalkan dan dianggap tidak dapat diterima dalam praktik kedokteran gigi modern.) Benang merah dari semua ini jelas: yang membekas bukan semata rasa sakitnya, melainkan perasaan tak berdaya dan dikhianati.
Faktor Baru: Ketika Dokter Tak Lagi Bisa Dipercaya
Salah satu sumbangan terpenting dari studi ini adalah menambahkan sebuah faktor baru ke dalam model ilmiah tentang rasa takut dental: persepsi bahwa dokter tidak bisa dipercaya.
Selama ini, model yang ada menjelaskan ketakutan melalui empat hal: pengalaman yang terasa tak terkendali, tak terduga, berbahaya, dan menjijikkan. Namun kerangka itu berakar pada penjelasan evolusioner — cocok untuk menjelaskan takut ular atau ketinggian, tetapi kurang menangkap ketakutan yang bersifat antarmanusia. Padahal, dokter gigi adalah sosok yang seharusnya melindungi kita.
Dari kisah para partisipan, rasa tidak percaya ini muncul dari beberapa hal: tidak dipercaya saat mengeluh sakit, isyarat berhenti yang diabaikan, komentar yang merendahkan — dan yang cukup menonjol, perasaan dieksploitasi secara finansial, yaitu ketika pasien merasa didorong menjalani prosedur yang mahal dan tidak perlu. Pengalaman-pengalaman ini melanggar prinsip dasar etika kesehatan, yakni "tidak membahayakan", dan meruntuhkan kepercayaan yang menjadi fondasi hubungan dokter–pasien. Inilah alasan mengapa rasa takut ke dokter gigi berbeda dari fobia lainnya: ia sangat bersifat sosial dan personal.
Temuan 3: Kenangan Buruk Itu Umum — Bahkan bagi yang Tak Takut
Di sini ada nuansa penting yang menyeimbangkan gambaran. Ketika diminta menceritakan kenangan terburuk mereka, ternyata bahkan orang-orang yang saat ini tidak takut atau hanya sedikit takut pun memiliki kenangan yang hidup dan negatif.
Artinya, pengalaman buruk di dokter gigi adalah hal yang umum, dan tidak secara otomatis melahirkan ketakutan seumur hidup. Sebuah kunjungan yang buruk bukanlah vonis. Yang membedakan apakah pengalaman itu berkembang menjadi rasa takut yang menetap adalah kombinasi banyak faktor lain — seperti tahap usia saat kejadian, temperamen bawaan, riwayat rasa sakit, hingga tingkat kepercayaan pada dokter. Temuan ini menenangkan sekaligus penting: satu pengalaman buruk tidak serta-merta menentukan masa depan seseorang.
Prosedur yang Paling Sering Menakutkan
Studi ini juga mencatat prosedur apa yang paling sering dikaitkan dengan kenangan buruk. Secara keseluruhan, yang paling banyak disebut adalah perawatan saluran akar, penambalan, dan pencabutan gigi — terutama pencabutan gigi bungsu.
Ada pula satu temuan yang mengusik: pada kenangan traumatis masa kecil, pengekangan fisik (menahan paksa anak) muncul dalam hampir separuh cerita. Ini menegaskan kembali bahwa cara sebuah prosedur dilakukan — dan bagaimana pasien diperlakukan selama itu — bisa sama pentingnya dengan prosedur itu sendiri.
Beban yang Diwariskan Antar-Generasi
Salah satu sisi paling manusiawi dari penelitian ini adalah bagaimana rasa takut dental bisa "mengalir" antar generasi. Beberapa orang tua yang dulu mengalami trauma di masa kecil kini justru berusaha keras mencari pengalaman yang lebih baik bagi anak-anak mereka — sebuah upaya sadar untuk memutus rantai ketakutan.
Namun ada pula sisi yang menyayat. Para orang tua yang pernah ikut menahan tubuh anak mereka selama prosedur menggambarkan rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam — merasa telah mengkhianati kepercayaan anaknya. Kisah-kisah ini mengingatkan bahwa dampak sebuah pengalaman dental tak hanya melekat pada pasien, tetapi juga pada orang-orang di sekitarnya.
Catatan Penting: Apa yang Perlu Diingat
Seperti semua penelitian yang jujur, studi ini pun mengakui keterbatasannya secara terbuka.
Pertama, karena bersifat kualitatif, kekuatannya terletak pada kedalaman wawasan, bukan pada angka yang bisa digeneralisasi. Temuannya berupa tema dari kelompok kecil (17 dan 58 orang) di lokasi tertentu, sehingga tidak bisa dibaca sebagai "sekian persen dari semua orang". Kedua, data berupa tulisan, bukan wawancara, sehingga para peneliti tidak bisa menggali lebih dalam — dan sebagian perasaan mungkin tidak terungkap. Ketiga, kenangan bersifat retrospektif dan tidak seakurat rekaman video; namun para peneliti menegaskan bahwa yang membentuk rasa takut adalah pengalaman subjektif kenangan itu, bukan ketepatan historisnya.
Perlu diingat pula bahwa data penelitian pertama sudah cukup lama (2004–2007) dan menggambarkan sejumlah praktik yang kini sudah tidak dianjurkan atau ditinggalkan. Dengan kata lain, kisah-kisah itu mencerminkan era yang berbeda, bukan standar praktik kedokteran gigi masa kini.
Kesimpulan: Kabar Baiknya, Ketakutan Ini Bisa Ditangani
Meski banyak menggambarkan pengalaman yang berat, pesan akhir dari studi ini justru penuh harapan dan sangat praktis. Para peneliti menawarkan beberapa langkah konkret yang bisa diterapkan setiap klinik gigi:
Pertama, tanyakan secara rutin kepada setiap pasien bagaimana perasaan mereka tentang ke dokter gigi — cukup dengan skala sederhana 0 hingga 10. Kedua, bagi pasien yang cemas, tanyakan pengalaman buruk di masa lalu, lalu akui dan validasi perasaan mereka. Ketiga, rancang perawatan bersama pasien dengan cara yang menghindari pemicu ketakutan spesifik mereka — memberi mereka rasa kendali, bersikap dapat diprediksi, mendengarkan keluhan, menghormati isyarat "berhenti", dan membangun kepercayaan. Terakhir, jalankan rencana itu dengan konsisten, sehingga setiap kunjungan yang baik perlahan mematahkan keyakinan bahwa dokter gigi pasti menakutkan.
Bagi pasien, pesannya melegakan: rasa takut Anda valid dan umum dialami, dan dokter gigi yang baik akan mendengarkan. Bagi para praktisi, studi ini menjadi pengingat kuat bahwa tindakan-tindakan kecil untuk membangun kepercayaan — mendengarkan, menjelaskan, dan menghormati batas pasien — bisa menjadi kunci untuk memutus rantai ketakutan yang mungkin telah bertahan seumur hidup. Karena pada akhirnya, kedokteran gigi yang baik bukan hanya soal merawat gigi, melainkan juga merawat rasa percaya.
Referensi
Daly, K. A., Ochshorn, J., Heyman, R. E., Lipnitsky, R. D., Baker, S., Rozbicka, A. O., Athilat, S., & Pike, A. (2025). Trauma, terror, and toothpaste: exploring memories for dental visits across a range of patient fear. Oral (Basel), 5(3), 65. DOI: https://doi.org/10.3390/oral5030065