Skip to Content

Teriparatide untuk Patah Tulang Rahang: Hasil Studi Awal di India

October 27, 2026 by
Carigi Indonesia

Teriparatide untuk Patah Tulang Rahang: Hasil Studi Awal di India

Teriparatide untuk Patah Tulang Rahang: Hasil Studi Awal di India

Obat Osteoporosis untuk Patah Tulang Rahang? Studi Kecil di India Temukan Nyeri Lebih Cepat Hilang dan Tulang Lebih Padat

Patah tulang rahang bawah termasuk cedera wajah yang paling sering terjadi, misalnya akibat kecelakaan lalu lintas, jatuh, atau perkelahian. Pada perokok dan peminum alkohol, proses penyembuhan tulang bisa berjalan lebih lambat. Sebuah penelitian kecil di India mencoba memberikan teriparatide, obat yang biasa dipakai untuk osteoporosis, kepada pasien patah tulang rahang setelah operasi. Hasilnya, pasien yang mendapat obat ini bebas nyeri lebih cepat, membutuhkan lebih sedikit obat pereda nyeri, dan memiliki kepadatan tulang yang lebih tinggi di area patahan setelah enam minggu. Namun penelitian ini hanya melibatkan 12 pasien, sehingga hasilnya masih bersifat awal.

Patah Tulang Rahang dan Tantangan Penyembuhannya

Patah tulang rahang bawah biasanya ditangani dengan operasi pemasangan pelat dan sekrup untuk menyatukan kembali tulang yang patah. Setelah itu, tubuh menjalani proses penyembuhan alami: membentuk jaringan tulang baru di area patahan, lalu memperkuat dan merapikannya.

Tulang rahang bawah memiliki beberapa kelemahan dibandingkan tulang lain:

  • Pasokan darahnya lebih terbatas, terutama berasal dari satu pembuluh darah utama di dalam tulang.

  • Bentuknya melengkung sehingga menerima banyak tekanan saat mengunyah.

  • Berada di dekat mulut, yang penuh bakteri, air liur, dan sisa makanan, sehingga risiko infeksi lebih tinggi.

Selain itu, sejumlah faktor dapat memperlambat penyembuhan tulang, seperti usia lanjut, diabetes, gizi buruk, merokok, dan konsumsi alkohol. Merokok dan alkohol diketahui mengganggu aliran darah, menghambat sel pembentuk tulang, dan memengaruhi proses peradangan.

Mengenal Teriparatide

Teriparatide adalah obat buatan yang meniru sebagian hormon paratiroid, yaitu hormon yang mengatur kalsium dan pembentukan tulang. Obat ini diberikan melalui suntikan di bawah kulit dan selama ini digunakan untuk mengobati osteoporosis berat.

Teriparatide merangsang sel pembentuk tulang dan membantu meningkatkan kepadatan tulang. Penelitian pada hewan dan pada patah tulang panjang, misalnya tulang kaki, menunjukkan bahwa obat ini dapat membantu penyembuhan patah tulang. Namun, penelitian pada patah tulang rahang masih sangat sedikit, dan penelitian sebelumnya memakai suntikan setiap hari selama 30 hari, yang mahal dan merepotkan.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim dokter bedah mulut dan maksilofasial dari SRM Dental College & Hospital, Chennai, India, yang dipimpin Trishala Annamalai Rajan dan Elavenil Panneerselvam, meneliti 12 pasien berusia 20–70 tahun dengan patah tulang rahang bawah yang membutuhkan operasi. Semua pasien adalah perokok dan/atau peminum alkohol, sehingga dianggap memiliki risiko penyembuhan yang lebih lambat. Sebagian besar pasien (10 orang) adalah laki-laki.

Pasien dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing 6 orang:

  • Kelompok teriparatide: setelah operasi, mendapat suntikan teriparatide dua kali seminggu selama 4 minggu.

  • Kelompok pembanding: menjalani operasi yang sama tanpa suntikan teriparatide.

Kedua kelompok mendapat antibiotik dan obat pereda nyeri yang sama setelah operasi. Mulai hari ketiga, obat pereda nyeri hanya diberikan bila pasien memintanya.

Peneliti kemudian menilai:

  • tingkat nyeri pada hari ke-1 hingga ke-7, serta hari ke-14, 21, dan 30,

  • jumlah obat pereda nyeri yang dibutuhkan pada hari ke-3 hingga ke-7,

  • kemampuan membuka mulut,

  • penanda pembentukan tulang dalam darah sebelum operasi dan pada hari ke-30,

  • serta kepadatan tulang di garis patahan melalui CT scan sebelum operasi dan pada minggu ke-6.

Hasilnya

1. Nyeri hilang lebih cepat

Semua pasien di kelompok teriparatide sudah bebas nyeri pada hari ke-4, sedangkan pasien di kelompok pembanding baru bebas nyeri pada hari ke-6.

Pasien yang mendapat teriparatide juga tidak membutuhkan obat pereda nyeri tambahan mulai hari ke-4. Sebaliknya, semua pasien di kelompok pembanding masih membutuhkan obat pereda nyeri pada hari ke-4, dan sebagian masih membutuhkannya hingga hari ke-6.

Peneliti menduga teriparatide memiliki efek meredakan nyeri, antara lain dengan menekan zat-zat pemicu peradangan di jaringan tulang.

2. Tulang di area patahan lebih padat

Enam minggu setelah operasi, kepadatan tulang di garis patahan pada kelompok teriparatide meningkat jauh lebih besar. Pada salah satu potongan CT scan, kepadatan tulang naik dari sekitar 152 menjadi sekitar 964 satuan (Hounsfield unit), dibandingkan kenaikan dari sekitar 128 menjadi 379 pada kelompok pembanding. Pola serupa terlihat pada dua potongan CT scan lainnya.

3. Penanda pembentukan tulang meningkat

Pada hari ke-30, kadar osteokalsin, salah satu penanda pembentukan tulang dalam darah, pada kelompok teriparatide sekitar dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding (47,5 dibandingkan 20,1 ng/dL). Penanda lain, P1NP, juga lebih tinggi, tetapi perbedaannya tidak bermakna secara statistik.

4. Kemampuan membuka mulut serupa

Kemampuan membuka mulut membaik pada kedua kelompok dan tidak berbeda bermakna antara keduanya.

5. Tanpa efek samping yang tercatat

Tidak ada pasien di kelompok teriparatide yang mengalami komplikasi atau efek samping selama penelitian.

Catatan Penting

Para peneliti mengakui bahwa jenis patah tulang tidak tersebar merata antara kedua kelompok. Semua patah tulang di bagian sendi rahang (kondilus) berada di kelompok teriparatide. Mereka juga menyarankan uji klinis acak dengan jumlah pasien lebih besar.

Ada beberapa hal lain yang perlu dicermati pembaca (catatan redaksi):

  • Jumlah pasien sangat kecil, hanya 6 orang per kelompok. Hasil dari penelitian sekecil ini mudah dipengaruhi kebetulan dan perlu dikonfirmasi.

  • Pasien tidak dibagi secara acak dan tidak disebutkan adanya penyamaran (blinding). Pasien dan pemeriksa kemungkinan mengetahui siapa yang mendapat obat, padahal penilaian nyeri sangat mudah dipengaruhi oleh harapan.

  • Usia kedua kelompok berbeda. Rata-rata usia kelompok teriparatide sekitar 48 tahun, sedangkan kelompok pembanding sekitar 37 tahun.

  • Ada data yang tidak konsisten. Jurnal menyebut 9 patah tulang di kelompok teriparatide dan 8 di kelompok pembanding, tetapi tabel kepadatan tulang mencantumkan 9 pada masing-masing kelompok.

  • Belum ada bukti penyembuhan yang lebih cepat secara klinis. Penelitian ini mengukur kepadatan tulang dan penanda dalam darah, bukan waktu hingga tulang benar-benar menyatu atau pasien kembali beraktivitas normal.

  • Teriparatide adalah obat resep dengan indikasi utama osteoporosis. Penggunaannya untuk patah tulang rahang masih tahap penelitian, bukan pengobatan standar. Obat ini tidak boleh digunakan tanpa resep dan pengawasan dokter.

Kesimpulan

Penelitian kecil ini memberi petunjuk awal bahwa teriparatide yang disuntikkan dua kali seminggu selama empat minggu setelah operasi patah tulang rahang dapat membantu meredakan nyeri lebih cepat dan meningkatkan pembentukan serta kepadatan tulang pada pasien perokok atau peminum alkohol. Jadwal dua kali seminggu juga lebih praktis dan lebih murah dibandingkan suntikan setiap hari yang dipakai penelitian sebelumnya.

Meski demikian, karena jumlah pasien sangat kecil dan desain penelitiannya memiliki banyak keterbatasan, hasil ini perlu dibuktikan melalui uji klinis acak yang lebih besar sebelum teriparatide dapat dianjurkan secara rutin untuk patah tulang rahang.

Bagi masyarakat, pesan yang paling jelas dari penelitian ini justru soal gaya hidup: merokok dan minum alkohol dapat memperlambat penyembuhan tulang. Bila Anda atau keluarga menjalani operasi patah tulang rahang, ikuti seluruh anjuran dokter bedah mulut, jaga kebersihan mulut selama masa penyembuhan, dan berhentilah merokok serta minum alkohol, setidaknya selama proses penyembuhan. Pertanyaan tentang obat tambahan seperti teriparatide sebaiknya didiskusikan langsung dengan dokter yang menangani.

Referensi

Rajan TA, Panneerselvam E, Dhanasekaran ASS, Raja VBK. Evaluation of teriparatide as a promoter of mandibular fracture healing: An observational clinical study. Chinese Journal of Traumatology. 2026;29:443–449.

DOI: https://doi.org/10.1016/j.cjtee.2025.06.005

Carigi Indonesia October 27, 2026
Share this post
Tags
Archive
Edukasi Sikat Gigi Ibu Hamil Kurangi Plak, Gusi Tetap Perlu Dijaga