Skip to Content

Bisakah Cahaya Mengurangi Nyeri Setelah Operasi Gigi Bungsu?

February 22, 2026 by
Carigi Indonesia

Bisakah Cahaya Mengurangi Nyeri Setelah Operasi Gigi Bungsu?

Bisakah Cahaya Mengurangi Nyeri Setelah Operasi Gigi Bungsu?

Meninjau Peran Photobiomodulation Therapy dalam Kedokteran Gigi Modern

Operasi Umum, Keluhan yang Sama

Pencabutan gigi bungsu bawah merupakan salah satu tindakan bedah mulut yang paling sering dilakukan. Meski prosedurnya umum, fase pemulihan sering kali disertai nyeri, bengkak, dan keterbatasan membuka mulut. Obat pereda nyeri seperti ibuprofen atau parasetamol menjadi pilihan utama, namun tidak semua pasien nyaman menggunakannya karena potensi efek samping.

Situasi ini mendorong para peneliti mencari alternatif non-obat yang lebih aman. Salah satu pendekatan yang mulai banyak diteliti adalah photobiomodulation therapy (PBMT) atau terapi laser daya rendah.

Mengapa Perlu Alternatif Selain Obat Nyeri?

Nyeri pasca pencabutan gigi bungsu memang biasanya bersifat sementara, tetapi cukup mengganggu aktivitas harian dan kualitas hidup pasien. Selain itu, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau analgesik tidak selalu cocok untuk semua orang.

PBMT menawarkan pendekatan berbeda: menggunakan cahaya laser berintensitas rendah untuk merangsang proses biologis alami tubuh, bukan menekan rasa nyeri secara kimiawi.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Artikel yang direview ini merupakan narrative review yang menelaah penelitian-penelitian klinis terkait efektivitas PBMT dalam mengurangi nyeri setelah pencabutan gigi bungsu bawah.

  • Peneliti menelusuri basis data ilmiah utama seperti PubMed dan Web of Science.

  • Hanya uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trials) pada manusia yang disertakan.

  • Dari hasil penyaringan, empat penelitian memenuhi kriteria dan dianalisis secara kualitatif.

Tujuannya bukan untuk menghitung angka gabungan, melainkan memahami pola hasil, manfaat, dan keterbatasan dari studi-studi yang ada.

Apa Hasil Utamanya?

Temuan yang dilaporkan tergolong menjanjikan, meski belum sepenuhnya konsisten.

  • Dua penelitian menunjukkan penurunan nyeri yang bermakna secara statistik pada pasien yang menerima PBMT, terutama bila laser diaplikasikan secara intraoral, langsung di area bekas pencabutan.

  • Satu studi menemukan bahwa penggunaan kombinasi dua panjang gelombang laser memberikan kontrol nyeri yang lebih baik dibandingkan satu panjang gelombang saja.

  • Dua studi lainnya tidak menunjukkan perbedaan nyeri yang signifikan, meskipun secara umum kelompok PBMT tetap melaporkan nyeri yang lebih rendah dibanding kelompok kontrol.

Sebagian besar penelitian menilai nyeri menggunakan Visual Analog Scale (VAS) selama 1–7 hari pasca operasi, yaitu periode ketika nyeri biasanya paling terasa.

Bagaimana PBMT Dapat Mengurangi Nyeri?

PBMT tidak bekerja seperti obat analgesik konvensional. Terapi ini diduga memengaruhi proses penyembuhan di tingkat sel, antara lain dengan:

  • Menurunkan mediator inflamasi

  • Meningkatkan pelepasan endorfin (pereda nyeri alami tubuh)

  • Memperbaiki aliran darah dan regenerasi jaringan

Kombinasi efek tersebut dapat membantu mengurangi nyeri, bengkak, dan rasa tidak nyaman setelah operasi.

Mengapa Hasilnya Belum Seragam?

Salah satu tantangan utama yang disoroti penulis adalah ketiadaan standar protokol. Setiap penelitian menggunakan jenis laser, panjang gelombang, dosis energi, durasi, dan titik aplikasi yang berbeda-beda.

Selain itu, nyeri setelah pencabutan gigi bungsu umumnya akan mereda secara alami dalam beberapa hari. Hal ini membuat manfaat tambahan PBMT terkadang sulit dibedakan dari proses penyembuhan normal.

Kesimpulan: Cahaya yang Menjanjikan, Tapi Perlu Bukti Lebih Kuat

Secara keseluruhan, PBMT dinilai aman, non-invasif, dan berpotensi membantu mengurangi nyeri pasca pencabutan gigi bungsu bawah. Terapi ini belum dapat menggantikan obat pereda nyeri sepenuhnya, tetapi berpeluang menjadi terapi tambahan yang bermanfaat.

Para penulis menegaskan perlunya uji klinis lanjutan dengan protokol yang terstandar agar peran PBMT dalam praktik kedokteran gigi dapat ditetapkan dengan lebih jelas.

Referensi Artikel Asli

Mauriello, L., Cuozzo, A., Pezzella, V., Iorio-Siciliano, V., Isola, G., Spagnuolo, G., Ramaglia, L., & Blasi, A. (2025).

Effects of Photobiomodulation Therapy (PBMT) in the Management of Postoperative Pain After Third Lower Molar Extraction: A Narrative Review. Journal of Clinical Medicine, 14, 5210.

DOI: https://doi.org/10.3390/jcm14155210

Carigi Indonesia February 22, 2026
Share this post
Tags
Archive
Apakah Pasta Gigi Mengubah Bakteri di Bawah Gusi?