Skip to Content

Tele-dentistry oleh Dental Hygienist: Solusi Digital Akses Gigi

August 13, 2026 by
Carigi Indonesia

Tele-dentistry oleh Dental Hygienist: Solusi Digital Akses Gigi

Tele-dentistry oleh Dental Hygienist: Solusi Digital Akses Gigi

Tele-dentistry yang Dipimpin Dental Hygienist: Solusi Digital untuk Memperluas Akses Perawatan Gigi

Ketika Jarak Menjadi Hambatan Perawatan Gigi

Akses terhadap pelayanan kesehatan gigi masih menjadi tantangan bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan kurang terlayani. Keterbatasan tenaga kesehatan, jarak geografis, biaya transportasi, hingga kondisi sosial ekonomi dapat membuat masyarakat sulit mendapatkan pemeriksaan dan perawatan gigi secara rutin.

Di tengah persoalan tersebut, teledentistry muncul sebagai salah satu pendekatan yang menjanjikan. Melalui teknologi komunikasi digital, sebagian layanan kesehatan gigi dapat dilakukan dari jarak jauh, misalnya melalui konsultasi virtual, pengiriman foto atau data pemeriksaan, skrining, hingga triase pasien.

Salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam model ini adalah dental hygienist, terutama dalam melakukan skrining, memberikan edukasi kesehatan gigi dan mulut, melakukan tindakan preventif, serta mengumpulkan data yang kemudian dapat dievaluasi secara jarak jauh oleh dokter gigi.

Apa yang Diteliti?

Jurnal karya Lina Al-Baghdadi ini merupakan literature review tematik yang bertujuan melihat bagaimana model teledentistry yang dipimpin oleh dental hygienist dapat membantu meningkatkan akses pelayanan kesehatan gigi di wilayah pedesaan dan komunitas yang kurang terlayani.

Peneliti melakukan pencarian literatur pada tiga basis data, yaitu Ovid/MEDLINE, CINAHL, dan Dentistry & Oral Sciences. Artikel yang dipertimbangkan adalah penelitian yang telah melalui peer review dan membahas layanan teledentistry yang melibatkan dental hygienist atau tenaga kesehatan gigi dengan peran serupa di daerah rural, terpencil, atau underserved.

Dari 82 artikel yang ditemukan, setelah proses penyaringan dan penilaian kualitas, terdapat 10 penelitian yang akhirnya dimasukkan dalam review. Penelitian tersebut berasal dari Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia dengan berbagai desain penelitian, termasuk kualitatif, observasional, mixed-methods, dan deskriptif.

Lima Temuan Penting dari Teledentistry

1. Memperluas akses pelayanan kesehatan gigi

Model teledentistry banyak diterapkan di sekolah, komunitas pedesaan, dan komunitas Indigenous. Pendekatan ini memungkinkan pemeriksaan dan skrining dilakukan lebih dekat dengan masyarakat tanpa selalu membutuhkan kunjungan langsung ke fasilitas kesehatan.

Salah satu studi yang ditinjau melaporkan bahwa 99% kunjungan dental hygiene secara virtual berhasil diselesaikan, sementara sekitar 50% siswa yang diperiksa diketahui memiliki karies yang belum mendapatkan perawatan. Temuan ini menunjukkan bahwa teledentistry tidak hanya membantu menjangkau pasien, tetapi juga dapat menemukan masalah kesehatan gigi yang sebelumnya tidak terdeteksi.

2. Berpotensi menghemat biaya

Keuntungan lain yang terlihat adalah efisiensi biaya. Dengan mengurangi kebutuhan perjalanan pasien maupun tenaga kesehatan, serta memanfaatkan pengiriman data dan gambar secara digital, pelayanan dapat dilakukan dengan sumber daya yang lebih efisien.

Salah satu penelitian di Australia bahkan memperkirakan potensi penghematan hingga AUD 85 juta per tahun ketika model skrining teledentistry diterapkan pada sekitar 2,7 juta anak usia sekolah. Penghematan terutama berasal dari berkurangnya biaya tenaga kerja, perjalanan, dan akomodasi.

3. Teknologi dapat mendukung deteksi dini

Teledentistry juga berpotensi membantu proses diagnosis awal. Salah satu penelitian yang ditinjau menemukan bahwa dental hygienist memiliki tingkat akurasi yang sebanding dengan dokter gigi dalam mengidentifikasi karies melalui data fotografi.

Namun, teledentistry bukan berarti seluruh pelayanan harus dilakukan secara daring. Dalam beberapa model, tenaga kesehatan di lapangan tetap melakukan pemeriksaan atau tindakan preventif, sementara dokter gigi memberikan supervisi atau evaluasi dari jarak jauh.

4. Teknologi saja tidak cukup

Keberhasilan teledentistry sangat bergantung pada regulasi, sistem pembiayaan, kewenangan tenaga kesehatan, serta kesiapan sumber daya manusia.

Penelitian yang ditinjau menunjukkan bahwa keterbatasan scope of practice, aturan supervisi, sistem lisensi, dan mekanisme reimbursement dapat menghambat penerapan teledentistry secara luas. Karena itu, inovasi teknologi perlu berjalan bersamaan dengan perubahan kebijakan dan sistem pelayanan.

5. Tantangan terbesar adalah keberlanjutan layanan

Menemukan pasien melalui skrining hanyalah langkah awal. Pasien tetap membutuhkan tindak lanjut ketika ditemukan masalah kesehatan gigi.

Salah satu studi yang ditinjau menunjukkan bahwa meskipun skrining berhasil dilakukan, hanya 11% anak yang dirujuk setelah pemeriksaan teledentistry yang kemudian mendapatkan perawatan lanjutan. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara deteksi masalah dan tersedianya perawatan berikutnya.

Karena itu, sistem rujukan yang terintegrasi, pendanaan yang konsisten, protokol yang jelas, serta koordinasi antarprofesi menjadi bagian penting agar program teledentistry tidak berhenti sebagai proyek jangka pendek.

Apa Artinya bagi Masa Depan Pelayanan Gigi?

Review ini menunjukkan bahwa teledentistry yang melibatkan dental hygienist memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi terhadap ketimpangan akses pelayanan kesehatan gigi, khususnya di wilayah rural dan komunitas yang kurang terlayani.

Model seperti skrining berbasis sekolah, edukasi kesehatan gigi, pemberian fluoride, pengumpulan data diagnostik, dan konsultasi jarak jauh dapat membantu memperluas jangkauan tenaga kesehatan. Namun, keberhasilan jangka panjang membutuhkan pelatihan yang memadai, dukungan teknologi, regulasi yang jelas, sistem reimbursement, dan mekanisme rujukan yang berjalan dengan baik.

Peneliti juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk menilai hasil klinis jangka panjang, kepuasan pasien dan tenaga kesehatan, aspek ekonomi, serta bagaimana kebijakan dan kolaborasi antarprofesi dapat mendukung perluasan model ini.

Kesimpulan

Teledentistry bukan sekadar penggunaan teknologi untuk konsultasi gigi dari jarak jauh. Jika dirancang dengan tepat, model yang dipimpin dental hygienist dapat menjadi strategi untuk membawa pelayanan preventif dan deteksi dini lebih dekat kepada masyarakat yang selama ini sulit mengakses layanan kesehatan gigi.

Meski demikian, teknologi bukanlah satu-satunya kunci. Agar manfaatnya benar-benar dirasakan pasien, teledentistry perlu didukung oleh tenaga kesehatan yang terlatih, kebijakan yang mendukung, pembiayaan yang berkelanjutan, serta sistem rujukan yang memastikan pasien tetap mendapatkan perawatan setelah masalah ditemukan.

Referensi 

Al-Baghdadi L. Teledentistry models led by dental hygienists in underserved communities: a literature review. Canadian Journal of Dental Hygiene. 2025;59(3):217–223.

Carigi Indonesia August 13, 2026
Share this post
Tags
Archive
Profilaksis Antibiotik Operasi Implan Gigi