Siwak, Kumur Minyak, Pasta Herbal: Seberapa Ampuh Rawat Gigi?

Siwak, Kumur Minyak, hingga Pasta Gigi Herbal: Seberapa Ampuh Cara Tradisional Merawat Gigi?
Jauh sebelum sikat gigi plastik dan pasta gigi berfluoride ditemukan, manusia sudah punya cara sendiri untuk merawat mulut: menggosok gigi dengan batang siwak, berkumur minyak kelapa, hingga memakai ramuan daun dan rempah. Kini, cara-cara tradisional ini kembali populer seiring meningkatnya minat pada produk alami. Sebuah tinjauan sistematis dari tim peneliti di Amerika Serikat, Yordania, dan Pakistan merangkum 31 penelitian untuk menjawab pertanyaan sederhana: apakah cara tradisional ini benar-benar bekerja? Jawabannya: beberapa cara tradisional menunjukkan hasil yang mendekati cara modern dalam jangka pendek, tetapi kualitas buktinya sebagian besar masih lemah.
Penyakit Mulut, Masalah Kesehatan Dunia
Meski teknologi kedokteran gigi terus berkembang, penyakit mulut masih dialami lebih dari 2,3 miliar orang di seluruh dunia. Dua yang paling umum adalah gigi berlubang, akibat plak dan bakteri penghasil asam yang mengikis gigi, serta penyakit gusi, yang menyerang gusi dan jaringan penyangga gigi. Penyakit gusi yang tidak diobati juga dikaitkan dengan penyakit jantung dan diabetes.
Kabar baiknya, kedua penyakit ini sebagian besar bisa dicegah dengan kebiasaan merawat mulut yang baik. Di negara maju, pasta gigi berfluoride dan pemeriksaan rutin ke dokter gigi terbukti efektif. Namun, banyak masyarakat di daerah dengan sumber daya terbatas belum memiliki akses yang memadai ke layanan tersebut.
Di sinilah cara tradisional menarik perhatian. Cara-cara ini sudah dipakai turun-temurun, mudah didapat, murah, dan ramah lingkungan. Di negara maju pun, minat terhadap produk perawatan mulut "alami" terus meningkat karena kekhawatiran terhadap bahan kimia dan isu keberlanjutan.
Mengenal Cara-Cara Tradisional
Beberapa cara tradisional yang dibahas dalam tinjauan ini antara lain:
Siwak (miswak): batang kayu dari pohon Salvadora persica. Ujungnya dikunyah perlahan hingga seratnya terurai menyerupai sikat, lalu digosokkan ke gigi. Siwak banyak digunakan di Timur Tengah dan Afrika Utara, serta memiliki makna penting dalam tradisi Islam.
Oil pulling (kumur minyak): tradisi dari pengobatan Ayurveda India, yaitu berkumur dengan minyak nabati, biasanya minyak wijen atau minyak kelapa, selama sekitar 5–20 menit, lalu dibuang.
Pasta gigi dan obat kumur herbal: mengandung bahan alami seperti mimba (neem), cengkih, kunyit, jahe, dan berbagai tanaman lain yang diketahui memiliki sifat antibakteri.
Cara pribumi lainnya: menggosok gigi dengan jari, arang, ranting pohon, serat sabut kelapa, atau ekstrak daun.
Meski digunakan luas, banyak cara tradisional ini belum diuji secara ilmiah dengan memadai. Penelitian yang ada pun masih tersebar dan jarang dibandingkan langsung dengan cara modern.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti yang dipimpin Muhammad Shahzad dari Zarqa University, Yordania, dan Irene Yang dari Emory University, Amerika Serikat, melakukan tinjauan sistematis, yaitu jenis penelitian yang mengumpulkan dan menilai seluruh penelitian yang pernah dilakukan tentang suatu topik.
Bersama seorang pustakawan spesialis, mereka menelusuri lima basis data ilmiah besar hingga April 2024. Dari hampir 1.700 catatan yang ditemukan, 31 penelitian dari 14 negara memenuhi syarat. Penelitian paling banyak berasal dari India, disusul Arab Saudi, Iran, Sri Lanka, dan negara lain, termasuk satu penelitian dari Indonesia.
Hanya penelitian berupa uji coba yang dipilih, yaitu penelitian yang membandingkan secara langsung cara tradisional dengan cara modern seperti sikat gigi, pasta gigi biasa, atau obat kumur standar. Obat kumur pembanding yang paling sering dipakai adalah klorheksidin, obat kumur antiseptik yang sering diresepkan dokter gigi.
Hasil yang dinilai meliputi jumlah plak, peradangan gusi, jumlah bakteri di mulut, dan gejala penyakit gusi. Kualitas setiap penelitian juga dinilai menggunakan alat penilaian baku.
Hasilnya
1. Siwak: cukup menjanjikan
Siwak dan obat kumur menjadi cara tradisional yang paling banyak diteliti. Sejumlah penelitian menunjukkan siwak mampu mengurangi plak dan peradangan gusi, dengan hasil yang setara atau dalam beberapa kasus lebih baik dibandingkan sikat gigi biasa.
Beberapa temuan menarik:
Pemakaian siwak dikaitkan dengan berkurangnya bakteri tertentu penyebab penyakit gusi di bawah garis gusi.
Mengunyah siwak mengubah komposisi air liur, misalnya meningkatkan kadar kalsium, yang diduga menciptakan lingkungan mulut yang lebih sehat.
Pada anak sekolah di Tanzania, baik pengguna siwak maupun sikat gigi sama-sama mengalami penurunan plak dan perdarahan gusi setelah mengikuti program edukasi kesehatan mulut.
Namun hasilnya tidak selalu seragam. Satu penelitian tidak menemukan perbedaan antara siwak "aktif" dan siwak yang zat aktifnya sudah dihilangkan. Penelitian lain tentang akar tanaman Euclea natalensis di Afrika Selatan tidak menemukan perbedaan kesehatan gigi, dan justru mencatat perubahan warna gigi pada penggunanya.
2. Kumur minyak (oil pulling): manfaat sedang
Berkumur dengan minyak wijen atau minyak kelapa menunjukkan manfaat sedang dalam mengurangi bakteri, plak, peradangan gusi, dan bau mulut. Salah satu penelitian berkualitas terbaik dalam tinjauan ini menemukan bahwa kumur minyak kelapa menurunkan plak secara bermakna dibandingkan berkumur air biasa.
Akan tetapi, bila dibandingkan dengan obat kumur klorheksidin, hasilnya umumnya tidak lebih baik, dan sering kali tidak berbeda bermakna.
Ada pula sisi praktis yang perlu dipertimbangkan. Sebagian peserta lebih menyukai kumur minyak karena tidak ada keluhan rasa tidak enak seperti pada klorheksidin. Tetapi durasi berkumur yang lama, hingga 20 menit, menjadi kendala tersendiri dan bisa membuat orang sulit melakukannya secara rutin. Sebagai perbandingan, menyikat gigi hanya butuh sekitar 2–3 menit.
3. Pasta gigi herbal: setara dengan pasta gigi biasa
Beberapa penelitian menunjukkan pasta gigi herbal, termasuk pasta gigi berbasis ramuan Ayurveda, mampu menurunkan plak, perdarahan gusi, kedalaman kantong gusi, dan jumlah bakteri secara bermakna. Pada sejumlah penelitian, hasilnya setara dengan pasta gigi biasa.
Hanya satu penelitian yang menemukan jumlah bakteri lebih rendah pada pengguna pasta gigi berfluoride dibandingkan pasta gigi herbal, tetapi temuan itu bersifat deskriptif dan tidak diuji secara statistik.
4. Obat kumur herbal: beberapa sama efektifnya dengan klorheksidin
Obat kumur herbal juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Beberapa penelitian menemukan obat kumur herbal sama efektifnya dengan klorheksidin dalam mengurangi plak, peradangan gusi, dan bakteri penyebab gigi berlubang. Obat kumur dari resin tanaman asafoetida bahkan menurunkan plak lebih besar dibandingkan klorheksidin.
Ada juga temuan dari Indonesia: penelitian pada siswa SMP dengan radang gusi menunjukkan bahwa berkumur dengan ekstrak biji pinang menurunkan peradangan gusi, dengan hasil yang tidak berbeda bermakna dibandingkan klorheksidin.
Namun tidak semua produk herbal berhasil. Obat kumur probiotik terbukti kurang efektif, dan obat kumur dari buah mengkudu yang dikombinasikan dengan pembersihan karang gigi tidak memberi manfaat tambahan dibandingkan pembersihan karang gigi saja.
5. Sikat jari, arang, dan sikat dari bahan alam
Cara-cara pribumi seperti menggosok gigi dengan jari, arang, atau sikat buatan dari sabut kelapa, serat buah pinang, dan ranting jambu biji juga menunjukkan perbaikan kebersihan mulut. Pada anak sekolah di Filipina, sikat dari bahan alam ini meningkatkan kebersihan mulut tanpa perbedaan bermakna dibandingkan sikat gigi biasa, dan sikat dari sabut kelapa menjadi favorit mayoritas siswa.
Cara-cara ini dinilai mudah dijangkau dan ramah lingkungan, tetapi masih sangat kurang diuji secara ilmiah.
Catatan Penting: Kualitas Bukti Masih Lemah
Para peneliti menekankan bahwa hasil-hasil di atas harus ditafsirkan dengan hati-hati. Dari 31 penelitian, sebagian besar dinilai berkualitas lemah, dan hanya tiga yang dinilai berkualitas kuat. Kelemahan yang umum ditemukan antara lain:
Jumlah peserta kecil, bahkan ada penelitian yang hanya melibatkan 6 orang.
Kurangnya penyamaran (blinding), sehingga peserta atau peneliti mengetahui perlakuan yang diberikan dan bisa memengaruhi hasil.
Faktor lain tidak diperhitungkan, serta banyak peserta yang mundur di tengah penelitian.
Masa pengamatan singkat. Kebanyakan penelitian hanya berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu, sehingga efek jangka panjang dan keamanannya belum diketahui.
Cara dan dosis berbeda-beda, sehingga hasil penelitian sulit dibandingkan dan tidak bisa digabungkan secara statistik.
Hanya penelitian berbahasa Inggris, sehingga penelitian dari daerah yang banyak menggunakan cara tradisional mungkin terlewat.