Sikat Gigi Saja Tak Cukup: Benang Gigi Angkat 90% Plak Sela Gigi

Sikat Gigi Saja Hanya Bersihkan Kurang dari Separuh Plak di Sela Gigi: Uji Laboratorium Bandingkan 10 Kombinasi Alat Pembersih
Banyak orang merasa giginya sudah bersih setelah menyikat gigi. Namun sebuah uji laboratorium di Jepang menunjukkan bahwa sikat gigi biasa hanya mampu mengangkat sekitar 44% plak di sela gigi geraham. Ketika sikat gigi dikombinasikan dengan alat tambahan, hasilnya melonjak. Kombinasi yang memakai benang gigi gulung bahkan mampu mengangkat lebih dari 90% plak di sela gigi.
Celah yang Sering Terlewat
Gigi berlubang dan penyakit gusi masih menjadi masalah kesehatan besar di dunia. Menurut data Global Burden of Disease 2021, penyakit gusi berat dan gigi berlubang yang tidak dirawat dialami sekitar 3,69 miliar orang. Angka ini nyaris tidak berubah selama 30 tahun terakhir, yang menunjukkan bahwa cara merawat mulut yang umum dilakukan selama ini belum cukup berhasil.
Kunci pencegahannya adalah membersihkan plak, yaitu lapisan lengket berisi bakteri yang menempel di permukaan gigi. Menyikat gigi tetap menjadi cara utama. Masalahnya, bulu sikat sulit menjangkau sela-sela gigi, terutama di bagian geraham. Padahal di area inilah plak paling mudah menumpuk dan penyakit gusi sering bermula.
Dalam penelitian sebelumnya, tim peneliti yang sama menguji 26 sikat gigi manual yang dijual di pasaran. Rata-rata, sikat-sikat tersebut hanya mampu membersihkan kurang dari separuh plak di sela gigi, apa pun bentuk, kekerasan bulu, maupun ukuran kepala sikatnya.
Karena itu, dokter gigi umumnya menyarankan alat tambahan untuk membersihkan sela gigi. Namun di Jepang sendiri, survei nasional tahun 2024 menunjukkan baru sekitar 54% orang yang membersihkan sela gigi. Selain itu, masih sedikit penelitian yang membandingkan secara sistematis kombinasi alat mana yang paling efektif.
Mengenal Alat Pembersih Sela Gigi
Penelitian ini menguji empat jenis alat tambahan, yang dipakai bersama sikat gigi biasa:
Sikat gigi satu berkas (single-tufted brush): sikat kecil dengan satu gumpalan bulu berujung runcing, untuk menjangkau area yang sulit dicapai.
Sikat sela gigi (interdental brush): sikat kecil berbentuk silinder seperti sikat botol mini, dimasukkan ke celah di antara gigi.
Benang gigi gulung (string floss): benang gigi biasa yang dililitkan di jari.
Benang gigi bergagang (holder floss): benang gigi yang sudah terpasang pada gagang plastik berbentuk huruf Y.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti dari Tsurumi University dan Fukuoka Dental College, Jepang, yang dipimpin Ryoko Otsuka dan Ayako Okada, melakukan uji laboratorium menggunakan model rahang tiruan yang biasa dipakai untuk latihan mahasiswa kedokteran gigi.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Membuat plak buatan. Permukaan sisi gigi geraham pertama bawah tiruan, yaitu bagian yang menghadap gigi di sebelahnya, dilapisi plak buatan berwarna merah. Bahan ini mirip cat kuku dan menempel kuat di gigi, sehingga hanya bisa diangkat secara mekanis.
Menguji 10 cara pembersihan. Mulai dari sikat gigi saja, sikat gigi ditambah satu alat, hingga sikat gigi ditambah dua alat sekaligus.
Melibatkan lima tenaga profesional. Empat dokter gigi dan satu dental hygienist melakukan seluruh prosedur dengan teknik yang sudah diseragamkan. Setiap cara diulang lima kali oleh setiap operator.
Mengukur hasil dengan foto. Gigi difoto sebelum dan sesudah dibersihkan. Luas plak merah yang tersisa dihitung dengan perangkat lunak pengolah gambar oleh pemeriksa yang tidak tahu cara pembersihan mana yang dipakai.
Analisis statistik juga memperhitungkan perbedaan keterampilan antaroperator, sehingga hasilnya lebih mencerminkan kemampuan alat itu sendiri.
Hasilnya
1. Sikat gigi saja: hanya 44%
Sikat gigi saja hanya mengangkat sekitar 44% plak di sela gigi. Plak banyak tertinggal di area antara titik kontak gigi hingga garis gusi. Angka ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan sikat gigi manual umumnya membersihkan kurang dari separuh plak di sela gigi.
2. Semua alat tambahan membantu
Setiap kombinasi alat tambahan menghasilkan pembersihan yang jauh lebih baik dibandingkan sikat gigi saja. Berikut hasilnya:
Cara pembersihan | Plak yang terangkat |
Sikat gigi saja | 44% |
Sikat gigi + sikat satu berkas | 61% |
Sikat gigi + sikat sela gigi | 69% |
Sikat gigi + sikat satu berkas + sikat sela gigi | 75% |
Sikat gigi + benang gigi bergagang | 84% |
Sikat gigi + sikat sela gigi + benang gigi bergagang | 83% |
Sikat gigi + sikat satu berkas + benang gigi bergagang | 85% |
Sikat gigi + benang gigi gulung | 91% |
Sikat gigi + sikat satu berkas + benang gigi gulung | 92% |
Sikat gigi + sikat sela gigi + benang gigi gulung | 93% |
3. Benang gigi gulung jadi juara
Semua kombinasi yang memakai benang gigi gulung mampu mengangkat lebih dari 90% plak, dan secara statistik lebih baik dibandingkan kombinasi lain.
Menariknya, menambahkan alat lain di samping benang gigi gulung tidak memberi tambahan manfaat yang berarti. Kombinasi sikat gigi, sikat sela gigi, dan benang gigi gulung memang mencatat angka tertinggi (93%), tetapi tidak berbeda bermakna dibandingkan sikat gigi dan benang gigi gulung saja (91%). Artinya, pada celah gigi yang sempit seperti dalam model ini, benang gigi gulung tampaknya sudah membersihkan hampir semua plak yang bisa dijangkau.
4. Mengapa benang gigi gulung lebih unggul dari benang bergagang?
Benang gigi bergagang tidak pernah melewati angka 90%, berkisar 83–85%. Dari foto, plak masih tersisa di dekat garis gusi bagian luar dan dalam.
Peneliti menduga penyebabnya adalah benang yang tegang dan kaku pada gagang. Benang gigi gulung bisa dilengkungkan mengikuti bentuk gigi dan diselipkan sedikit ke bawah garis gusi, sementara benang bergagang sulit menyesuaikan diri dengan lekuk permukaan gigi.
5. Sikat sela gigi tidak selalu lebih baik
Temuan ini sedikit berbeda dari beberapa tinjauan sebelumnya yang menyebut sikat sela gigi umumnya lebih efektif daripada benang gigi. Peneliti menjelaskan bahwa hal ini sangat bergantung pada ukuran celah gigi. Pada celah yang sempit, seperti dalam model ini, benang gigi lebih unggul. Sebaliknya, sikat sela gigi lebih cocok untuk celah yang lebar, misalnya pada orang yang gusinya sudah turun atau memiliki kantong gusi yang dalam.
Catatan Penting dari Peneliti
Para peneliti menekankan bahwa hasil ini perlu ditafsirkan dengan hati-hati:
Dilakukan oleh tenaga profesional terlatih. Hasilnya menggambarkan batas kemampuan maksimal alat, bukan hasil yang biasa dicapai orang awam saat membersihkan gigi sendiri di rumah. Memakai benang gigi dengan benar, misalnya, cukup sulit bagi banyak orang.
Uji laboratorium, bukan di mulut manusia. Model ini tidak memiliki air liur, pipi, lidah, gusi yang meradang, maupun plak alami yang menempel lebih kuat. Air liur bahkan diketahui dapat mengurangi efektivitas pembersihan, sehingga angka di dunia nyata kemungkinan lebih rendah.
Hanya satu jenis celah gigi. Pengujian hanya dilakukan pada sela gigi geraham bawah yang rapat. Hasilnya bisa berbeda pada gigi depan, celah yang lebar, atau akar gigi yang terbuka.
Memakai banyak alat sekaligus belum tentu praktis. Menggunakan tiga alat setiap hari di rumah bisa sulit dipertahankan dalam jangka panjang.