Sikat Gigi dan Bersihkan Sela Gigi Terkait Risiko Demensia Rendah

Sikat Gigi Ditambah Bersihkan Sela Gigi, Risiko Demensia Lebih Rendah: Temuan dari 825 Ribu Warga Korea Selatan
Menyikat gigi dan membersihkan sela gigi selama ini dikenal sebagai cara mencegah gigi berlubang dan penyakit gusi. Namun sebuah penelitian besar di Korea Selatan, yang mengikuti lebih dari 825.000 orang dewasa selama 11 tahun, menemukan kaitan dengan sesuatu yang jauh lebih besar: kesehatan otak. Orang yang menyikat gigi minimal dua kali sehari dan membersihkan sela gigi dengan benang gigi atau sikat sela gigi tercatat memiliki risiko demensia sekitar 25% lebih rendah dibandingkan orang yang jarang menyikat gigi dan tidak pernah membersihkan sela gigi.
Demensia, Beban yang Terus Membesar
Demensia adalah kondisi penurunan kemampuan berpikir, mengingat, dan berperilaku yang bersifat progresif dan tidak dapat dipulihkan. Penderitanya perlahan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.
Korea Selatan, seperti banyak negara lain, kini menjadi masyarakat dengan jumlah lansia yang sangat besar. Jumlah penderita demensia pun terus meningkat. Pada 2023, biaya perawatan seorang penderita demensia di Korea mencapai sekitar 26,4 juta won per tahun, setara hampir 44% dari pendapatan tahunan rata-rata sebuah rumah tangga. Secara nasional, biaya perawatan demensia mencapai sekitar 22,9 triliun won, dan beban ini diperkirakan terus bertambah.
Karena belum ada obat yang dapat menyembuhkan demensia, perhatian para ahli banyak diarahkan pada pencegahan. Pada 2017, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya meneliti faktor gaya hidup yang bisa diubah, seperti aktivitas fisik, pola makan, dan stimulasi otak, untuk menurunkan risiko demensia.
Apa Hubungan Mulut dengan Otak?
Pada penyakit Alzheimer, bentuk demensia yang paling umum, terjadi penumpukan protein bernama beta-amiloid dan tau di otak. Gumpalan protein ini mengganggu kerja sel saraf, hingga sel-sel otak perlahan rusak dan daya ingat menurun.
Di sinilah kesehatan mulut mulai berperan. Plak gigi yang tidak dibersihkan menjadi tempat berkembangnya bakteri yang memicu peradangan kronis pada gusi (periodontitis). Peradangan ini tidak hanya terjadi di mulut. Berbagai zat pemicu peradangan dapat menyebar ke seluruh tubuh, dan sejumlah penelitian menunjukkan zat-zat tersebut dapat mendorong pembentukan beta-amiloid dan memperburuk kerusakan sel otak.
Menyikat gigi memang cara paling efektif untuk mengangkat plak. Namun sikat gigi tidak mampu menjangkau celah di antara gigi. Bagian ini membutuhkan alat tambahan seperti benang gigi (dental floss) atau sikat sela gigi (interdental brush). Sayangnya, sangat sedikit penelitian yang menguji pengaruh gabungan kedua kebiasaan ini terhadap risiko demensia.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti dari Kyungpook National University di Daegu, Korea Selatan, bersama peneliti dari The University of Osaka, Jepang, dan Daegu Health College, yang dipimpin Yong-Jin Lee dan Youn-Hee Choi, menganalisis data dari Asuransi Kesehatan Nasional Korea Selatan.
Di Korea, seluruh warga wajib terdaftar dalam asuransi ini dan mengikuti pemeriksaan kesehatan setiap dua tahun, termasuk pemeriksaan gigi oleh dokter gigi dan kuesioner tentang kebiasaan menjaga kesehatan mulut. Sistem ini memungkinkan peneliti melacak riwayat kesehatan jutaan orang dalam jangka panjang.
Peneliti memilih orang dewasa berusia 50 tahun ke atas yang mengikuti pemeriksaan kesehatan dan gigi pada 2009 atau 2010. Usia 50 tahun dipilih karena perubahan di otak yang mengarah ke demensia sering dimulai bertahun-tahun sebelum gejala muncul. Mereka yang meninggal atau sudah didiagnosis demensia dalam dua tahun pertama, serta yang sudah ompong total, dikeluarkan. Hasilnya, 825.003 peserta diikuti selama 11 tahun.
Peneliti mencatat empat kebiasaan menjaga kebersihan mulut:
Frekuensi menyikat gigi: 0–1 kali, 2 kali, atau 3 kali atau lebih sehari.
Pemakaian benang gigi atau sikat sela gigi: tidak pernah, kadang-kadang, atau selalu.
Pembersihan karang gigi oleh tenaga profesional (scaling) dalam setahun terakhir.
Menyikat gigi sebelum tidur: tidak pernah, kadang-kadang, atau selalu.
Peneliti lalu membandingkan berapa banyak peserta di setiap kelompok yang kemudian didiagnosis demensia. Perhitungan juga memperhitungkan banyak faktor lain yang bisa memengaruhi hasil, seperti usia, jenis kelamin, tempat tinggal, penghasilan, berat badan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, serta penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, kolesterol tinggi, gigi berlubang, penyakit gusi, dan kehilangan sebagian gigi.
Hasilnya
1. Sekitar 1 dari 7 peserta mengalami demensia
Selama rata-rata 9,6 tahun pengamatan, 118.728 peserta (14,4%) didiagnosis demensia. Kelompok yang terkena demensia umumnya lebih tua, lebih banyak perempuan, dan lebih banyak memiliki penyakit penyerta.
2. Setiap kebiasaan baik berkaitan dengan risiko yang lebih rendah
Setelah semua faktor lain diperhitungkan, setiap kebiasaan menjaga kebersihan mulut berkaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah:
Menyikat gigi 2 kali sehari atau lebih: risiko sekitar 15% lebih rendah dibandingkan menyikat gigi 0–1 kali sehari.
Selalu membersihkan sela gigi: risiko sekitar 11% lebih rendah dibandingkan tidak pernah.
Pembersihan karang gigi di dokter gigi dalam setahun terakhir: risiko sekitar 12% lebih rendah.
Selalu menyikat gigi sebelum tidur: risiko sekitar 18% lebih rendah dibandingkan tidak pernah.
Menariknya, menyikat gigi 3 kali sehari tidak memberi penurunan risiko yang lebih besar dibandingkan 2 kali sehari. Artinya, tidak terlihat pola "makin sering makin baik" secara lurus. Kunci utamanya adalah menyikat gigi secara rutin, bukan sesering mungkin.
3. Kombinasi sikat gigi dan pembersihan sela gigi memberi hasil terbaik
Temuan paling penting datang dari kombinasi kedua kebiasaan. Dibandingkan orang yang menyikat gigi 0–1 kali sehari dan tidak pernah membersihkan sela gigi:
Menyikat gigi 2 kali atau lebih saja, tanpa membersihkan sela gigi: risiko sekitar 15% lebih rendah.
Menyikat gigi 0–1 kali sehari tetapi membersihkan sela gigi: risiko sekitar 15% lebih rendah.
Menyikat gigi 2 kali atau lebih DAN membersihkan sela gigi (selalu atau kadang-kadang): risiko sekitar 25% lebih rendah, penurunan terbesar dari semua kebiasaan yang diteliti.
Angka kejadian demensia pada kelompok terbaik ini sekitar 11 kasus per 1.000 orang per tahun, dibandingkan sekitar 24 kasus pada kelompok yang jarang menyikat gigi dan tidak pernah membersihkan sela gigi.
4. Hasilnya konsisten pada berbagai jenis demensia
Pola serupa terlihat pada dua jenis demensia yang paling umum:
Penyakit Alzheimer: kombinasi sikat gigi dan pembersihan sela gigi berkaitan dengan risiko sekitar 29% lebih rendah.
Demensia vaskular (akibat gangguan pembuluh darah otak): kombinasi ini berkaitan dengan risiko sekitar 26% lebih rendah.
Pada kelompok demensia jenis lain, yang lebih banyak dipengaruhi faktor genetik, pembersihan karang gigi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Mengapa Menyikat Gigi Sebelum Tidur Penting?
Penelitian ini menyoroti kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur, yang berkaitan dengan risiko demensia sekitar 18% lebih rendah.
Saat tidur, produksi air liur menurun drastis. Padahal air liur berperan penting membersihkan mulut dan menekan pertumbuhan bakteri. Pada lansia, mulut kering lebih sering terjadi, apalagi bila mengonsumsi banyak obat sekaligus. Akibatnya, bakteri di mulut lebih mudah berkembang biak sepanjang malam, dan risiko gigi berlubang serta penyakit gusi pun meningkat.
Peneliti juga mencatat bahwa orang yang terbiasa menyikat gigi sebelum tidur cenderung memiliki kebiasaan menjaga kesehatan mulut yang lebih baik secara keseluruhan.
Mengapa Kebersihan Mulut Bisa Berkaitan dengan Demensia?
Para peneliti menjelaskan beberapa kemungkinan mekanismenya:
Peradangan kronis. Bakteri plak memicu peradangan gusi yang dapat menyebar ke seluruh tubuh. Zat pemicu peradangan ini diduga dapat mendorong penumpukan beta-amiloid di otak, ciri khas penyakit Alzheimer.
Gangguan pembuluh darah. Peradangan kronis dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah, meningkatkan kebocoran sawar pelindung otak, dan mendorong terbentuknya gumpalan darah kecil. Hal ini terutama berkaitan dengan demensia vaskular.
Stres oksidatif. Penyakit gusi menghasilkan zat-zat reaktif yang dapat merusak sel, mirip dengan proses yang terjadi pada peradangan saraf.
Keseimbangan bakteri mulut. Kebiasaan menjaga kebersihan mulut secara rutin dapat memperbanyak bakteri yang menguntungkan dan mengurangi bakteri penyebab penyakit.
Karena demensia berkembang perlahan selama 5 hingga 20 tahun, peneliti menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut secara konsisten sejak usia muda.
Catatan Penting dari Peneliti
Meski melibatkan ratusan ribu peserta, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan:
Hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat. Penelitian ini mengamati data yang sudah ada, bukan uji coba. Jadi belum bisa dipastikan bahwa menyikat gigi dan membersihkan sela gigi secara langsung mencegah demensia.
Kemungkinan sebab-akibat terbalik. Tahap paling awal demensia, sebelum terdiagnosis, bisa saja membuat seseorang mulai lalai menjaga kebersihan mulut. Jadi, kebiasaan yang buruk mungkin merupakan tanda awal demensia, bukan penyebabnya.
Kebiasaan berdasarkan pengakuan peserta. Data menyikat gigi dan membersihkan sela gigi berasal dari kuesioner, sehingga bisa terjadi kesalahan mengingat atau jawaban yang kurang akurat.
Hanya peserta pemeriksaan kesehatan. Orang yang rutin mengikuti pemeriksaan kesehatan cenderung lebih peduli kesehatan, sehingga hasilnya belum tentu mewakili seluruh masyarakat.
Diagnosis dari data klaim asuransi. Waktu diagnosis demensia yang tercatat bisa berbeda dari waktu penyakit itu sebenarnya dimulai.
Ada faktor yang tidak tercatat, seperti kemampuan berpikir awal peserta, obat-obatan yang dikonsumsi, serta jumlah dan jenis gigi yang tersisa.