Skip to Content

Scaling Ultrasonik vs Manual Root Planing Subgingiva

September 25, 2026 by
Carigi Indonesia

Scaling Ultrasonik vs Manual Root Planing Subgingiva

Scaling Ultrasonik vs Manual Root Planing Subgingiva

Membersihkan Karang Gigi di Bawah Gusi: Perlukah Sentuhan Manual Setelah Ultrasonik?

Perawatan standar penyakit gusi adalah membersihkan karang dan bakteri di bawah garis gusi. Sebuah uji klinis di Tiongkok membandingkan pembersihan ultrasonik saja versus ultrasonik yang dilengkapi penghalusan akar secara manual. Hasilnya: langkah manual tambahan memberi manfaat nyata namun kecil—dan justru menegaskan bahwa kunci keberhasilan jangka panjang ada pada perawatan rutin.

Bagi penderita penyakit gusi yang sudah parah, membersihkan karang gigi dan bakteri yang menumpuk di bawah garis gusi—versi yang lebih dalam dari pembersihan karang gigi yang umum dikenal sebagai scaling—adalah perawatan utama untuk menghentikan peradangan dan mencegah gigi tanggal. Namun di kalangan dokter gigi, ada satu pertanyaan teknis yang belum sepenuhnya terjawab: setelah membersihkan dengan alat ultrasonik, perlukah ditambah langkah penghalusan akar gigi secara manual dengan alat tangan? Apakah langkah tambahan itu benar-benar memberi hasil yang lebih baik?

Untuk menjawabnya, sekelompok peneliti dari Tiongkok melakukan sebuah uji klinis. Hasil kajian mereka diterbitkan dalam jurnal Head & Face Medicine pada 2026, dan menawarkan jawaban yang bernuansa—sekaligus pelajaran penting tentang apa yang sebenarnya paling menentukan keberhasilan perawatan gusi.

Konteks: Membersihkan Karang di Bawah Gusi, dan Mengapa Tekniknya Diperdebatkan

Penyakit gusi (periodontitis) adalah peradangan kronis yang, jika dibiarkan, perlahan menghancurkan jaringan dan tulang penyangga gigi. Pemicunya adalah bakteri dalam plak dan karang gigi yang menumpuk di bawah garis gusi. Karena itu, inti dari perawatannya sederhana: membersihkan karang dan bakteri tersebut secara menyeluruh.

Untuk melakukannya, dokter gigi memiliki dua jenis alat. Yang pertama adalah alat ultrasonik, yang menggunakan getaran untuk memecah dan membersihkan tumpukan karang dengan cepat dan efisien. Yang kedua adalah alat manual (seperti kuret), yang dioperasikan dengan tangan dan memberikan "sentuhan" serta kepekaan lebih untuk menghaluskan permukaan akar dan mengangkat karang yang membandel.

Di sinilah perdebatannya. Dulu, pendekatan yang dominan adalah "penyerutan akar" (root planing) secara agresif—menghaluskan permukaan akar sebanyak mungkin. Namun seiring waktu, muncul pemahaman baru bahwa kontaminasi pada akar sebenarnya bersifat dangkal, sehingga penyerutan yang terlalu agresif tidak selalu diperlukan dan justru bisa mengikis struktur gigi. Konsep pun bergeser ke arah "pembersihan" (debridement) yang lebih menjaga jaringan gigi. Pertanyaan yang tersisa: apakah pembersihan ultrasonik saja sudah cukup, atau tetap perlu dilengkapi sentuhan manual?

Apa yang Dilakukan Peneliti

Penelitian ini menggunakan desain yang cerdas bernama "belah-mulut" (split-mouth): pada pasien yang sama, sebagian area mulut dirawat dengan satu metode, dan sebagian lainnya dengan metode berbeda. Dengan cara ini, setiap pasien menjadi pembanding bagi dirinya sendiri, sehingga perbandingannya lebih adil.

Sebanyak 29 pasien dengan penyakit gusi tahap lanjut (parah) mengikuti uji klinis acak terkontrol ini. Sebagian area gusi mereka dibersihkan dengan ultrasonik saja, sementara area lainnya dibersihkan dengan ultrasonik yang kemudian dilengkapi penghalusan akar manual. Peneliti lalu mengukur tiga hal penting pada awal perawatan, bulan ke-3, dan bulan ke-6: kedalaman kantong gusi (semakin dangkal semakin sehat), tingkat perlekatan gusi ke gigi, dan tingkat perdarahan gusi.

Hasilnya: Keduanya Berhasil, Kombinasi Sedikit Lebih Unggul

Kabar pertama yang melegakan: kedua metode sama-sama berhasil. Baik pembersihan ultrasonik saja maupun yang dilengkapi langkah manual, keduanya menghasilkan perbaikan yang bermakna pada semua ukuran dibandingkan kondisi awal.

Namun, metode kombinasi (ultrasonik + manual) menunjukkan hasil yang sedikit lebih unggul. Area yang mendapat langkah manual tambahan mengalami pengurangan kedalaman kantong gusi yang lebih besar dan perbaikan perlekatan gusi yang lebih baik—terutama pada bulan ke-3. Yang paling penting, metode kombinasi menghasilkan lebih sedikit "kantong gusi dalam" yang tersisa, alias tingkat "penutupan kantong" yang lebih tinggi. Ini bermakna karena kantong gusi yang dalam adalah tempat bakteri bersembunyi; semakin sedikit yang tersisa, semakin kecil beban penyakitnya. Sementara itu, untuk tingkat perdarahan gusi, kedua metode memberikan hasil yang setara.

Menariknya, keunggulan langkah manual paling terasa pada gigi berakar tunggal (seperti gigi depan dan geraham kecil) yang lebih mudah dijangkau, dan sedikit berkurang pada gigi geraham besar yang bentuknya lebih rumit. Satu hal yang juga melegakan: efek samping berupa gigi ngilu ternyata rendah pada kedua metode—sebagian karena penghalusan manual hanya dilakukan pada tahap akhir dan didukung kontrol kebersihan yang ketat.

Sedikit, Tapi Bermakna—dan Memudar Seiring Waktu

Inilah bagian yang paling penting untuk dipahami. Manfaat tambahan dari langkah manual memang kecil dalam angka (selisihnya hanya sekitar sepersepuluh hingga seperlima milimeter). Namun para peneliti menekankan bahwa manfaat kecil ini tetap bermakna secara klinis: dengan mendorong sejumlah kantong gusi yang "di ambang batas" menjadi tertutup, metode kombinasi mengurangi beban penyakit yang tersisa—dan berpotensi menurunkan kebutuhan tindakan bedah gusi.

Tapi ada catatan penting: keunggulan ini memudar seiring waktu. Selisih yang terlihat pada bulan ke-3 mengecil pada bulan ke-6. Ini membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar soal teknik pembersihan: keberhasilan jangka panjang perawatan gusi tidak ditentukan oleh satu kali tindakan, melainkan oleh perawatan pemeliharaan yang rutin dan disiplin. Para peneliti menegaskan bahwa kontrol berkala dan, bila perlu, pengulangan perawatan adalah bagian tak terpisahkan dari menjaga kesehatan gusi.

Apa Artinya untuk Kita

Bagi pasien, penelitian ini membawa beberapa pesan yang menenangkan sekaligus mendidik. Pertama, perawatan pembersihan karang gigi di bawah gusi untuk penyakit gusi parah memang efektif—apa pun kombinasi alat yang digunakan. Kedua, menambahkan sentuhan manual setelah pembersihan ultrasonik dapat memberi manfaat tambahan yang kecil namun berharga, terutama untuk menutup kantong-kantong gusi yang dalam.

Namun pesan yang paling penting adalah yang ketiga: kunci sesungguhnya ada pada konsistensi perawatan, bukan pada satu kali tindakan. Karena keunggulan teknik apa pun akan memudar seiring waktu, yang benar-benar menjaga gusi tetap sehat adalah kebersihan mulut sehari-hari dan kontrol rutin ke dokter gigi.

Konteks ini relevan bagi Indonesia, di mana penyakit gusi dan penumpukan karang gigi masih sangat umum. Pesannya sederhana: jangan menganggap perawatan gusi selesai setelah sekali dibersihkan. Merawat gusi adalah proses berkelanjutan—dan justru di situlah letak keberhasilannya.

Catatan Penting: Batasan Penelitian

Seperti kajian ilmiah yang jujur, penelitian ini juga terbuka soal keterbatasannya.

Pertama, masa pengamatannya hanya enam bulan, sehingga belum bisa menilai daya tahan gigi dan kestabilan penyakit dalam jangka panjang. Kedua, keberhasilan penghalusan akar manual sangat bergantung pada keterampilan operator (dokter gigi yang melakukannya), sehingga hasilnya bisa berbeda-beda antar-praktisi. Ketiga, jumlah pesertanya relatif kecil. Para peneliti menyarankan penelitian lanjutan yang mengamati daya tahan gigi dalam jangka panjang serta menganalisis efektivitas biayanya—untuk memastikan apakah manfaat kecil dari metode kombinasi benar-benar berujung pada berkurangnya kebutuhan operasi dan gigi yang lebih awet.

Kesimpulan

Uji klinis ini menyimpulkan bahwa baik pembersihan ultrasonik saja maupun yang dikombinasikan dengan penghalusan akar manual, keduanya efektif memperbaiki kondisi penyakit gusi parah. Metode kombinasi memberikan manfaat tambahan yang bermakna namun kecil, terutama pada fase awal penyembuhan dan dalam mengurangi kantong gusi yang dalam—yang berpotensi menurunkan kebutuhan tindakan bedah.

Pesan yang bisa dibawa pulang: dalam perawatan gusi, detail teknik memang berpengaruh, tetapi hanya sedikit. Yang benar-benar menentukan adalah perawatan yang berkelanjutan—kebersihan mulut sehari-hari dan kontrol rutin. Sebuah pengingat bahwa menjaga kesehatan gusi, seperti banyak hal dalam kesehatan, adalah maraton, bukan lari cepat.

Referensi

Lin C, Mei YM, Yan Y, Wang XE, Shu C, Feng Y, Hou JX. Comparisons between ultrasonic subgingival debridement with or without manual root planing on clinical parameters improving of periodontitis: a split-mouth randomized clinical trial. Head & Face Medicine. 2026;22:54.

DOI: https://doi.org/10.1186/s13005-026-00622-0

Carigi Indonesia September 25, 2026
Share this post
Tags
Archive
Penyakit Gusi dan Penyakit Autoimun