Scaling Gigi Turunkan Risiko Eksim 67%

Dari Gusi ke Kulit: Bagaimana Scaling Gigi Dua Kali Setahun Bisa Menurunkan Risiko Eksim Hingga Dua per Tiga
Sebuah studi besar dari Taiwan yang melacak hampir 78.000 orang dewasa mengungkap hubungan mengejutkan antara penyakit gusi dan eksim — sekaligus membuktikan bahwa sesuatu yang sederhana seperti scaling gigi rutin dapat menurunkan risikonya secara dramatis.
Hubungan Tersembunyi Antara Mulut dan Kulit
Bagaimana jika rahasia kulit yang lebih sehat dan tidak gampang gatal ternyata bukan terletak pada krim atau salep — melainkan pada apa yang terjadi di dalam mulut Anda?
Itulah kemungkinan menarik yang diangkat oleh sebuah studi besar yang dipublikasikan di jurnal akses terbuka PLOS One pada Oktober 2025. Para peneliti dari Taiwan menganalisis catatan kesehatan hampir 78.000 orang dewasa dan menemukan dua pola yang mencolok:
Orang dengan periodontitis (penyakit gusi tahap lanjut) memiliki risiko sekitar 2,5 kali lebih tinggi untuk mengalami dermatitis atopik (penyakit kulit kronis yang sering disebut eksim).
Di antara penderita periodontitis, pasien yang rutin menjalani scaling gigi mengalami penurunan risiko eksim sebesar 67% — dan semakin sering mereka melakukan pembersihan profesional, semakin rendah risiko mereka.
Ini adalah studi berbasis populasi pertama di dunia yang menunjukkan hubungan dosis-respons yang jelas antara perawatan gigi rutin dan penurunan risiko penyakit kulit.
Dua Penyakit, Satu Akar Masalah: Peradangan
Untuk memahami mengapa hal ini penting, kita perlu melihat apa yang dimiliki bersama oleh kedua penyakit ini.
Dermatitis atopik (DA), yang umum dikenal sebagai eksim, adalah penyakit kulit inflamasi kronis yang ditandai dengan rasa gatal yang intens, kemerahan, dan ruam yang berulang. Penyakit ini menyerang antara 1,2% hingga 17,1% orang dewasa di seluruh dunia, dan dipicu oleh kombinasi faktor genetik, lingkungan, disregulasi imun, serta ketidakseimbangan mikroba kulit.
Periodontitis adalah infeksi kronis pada jaringan penyangga gigi yang disebabkan oleh bakteri dalam plak gigi. Jika dibiarkan, penyakit ini tidak hanya merusak gusi dan tulang — tetapi juga memompa molekul-molekul peradangan ke dalam aliran darah, memicu inflamasi di seluruh tubuh.
Kedua penyakit ini memiliki mesin penggerak yang sama: peradangan kronis yang tidak mau berdiam diri di tempatnya. Zat-zat pro-inflamasi yang dilepaskan saat infeksi gusi terjadi — seperti C-reactive protein, interleukin-6, dan tumor necrosis factor-alpha — bisa menyebar ke seluruh tubuh dan berkontribusi pada kerusakan barrier kulit, disregulasi imun, serta peradangan yang memicu eksim.
Apa yang Dilakukan Para Peneliti?
Tim peneliti — yang terdiri dari dokter spesialis kulit, dokter anestesi, dan peneliti kedokteran gigi dari Taipei Medical University dan beberapa rumah sakit mitra — menggunakan data dari Taiwan's National Health Insurance Database, salah satu database kesehatan terbesar dan paling andal di dunia, yang mencakup lebih dari 99% dari 23 juta penduduk Taiwan.
Dari sampel acak satu juta peserta asuransi kesehatan, mereka mengidentifikasi:
38.934 orang dewasa yang baru didiagnosis periodontitis antara tahun 2011 dan 2015
38.934 orang kontrol dengan usia dan jenis kelamin yang serupa, tanpa periodontitis
Kedua kelompok dipantau hingga akhir tahun 2017 untuk melihat siapa yang akan mengalami dermatitis atopik. Yang penting, hanya pasien yang belum pernah didiagnosis eksim sebelum studi dimulai yang dimasukkan ke dalam analisis.
Para peneliti kemudian mengajukan pertanyaan kedua yang lebih menarik lagi: di antara penderita periodontitis, apakah mereka yang menjalani scaling gigi — pembersihan profesional rutin yang menghilangkan plak dan karang gigi — memiliki nasib yang berbeda?
Di Taiwan, scaling gigi sepenuhnya ditanggung oleh asuransi kesehatan nasional dan tersedia dua kali dalam setahun bagi siapa saja berusia 13 tahun ke atas. Hal ini memungkinkan studi efek pencegahannya dilakukan dalam skala nasional yang nyata.
Apa yang Mereka Temukan?
1. Penyakit Gusi Berhubungan dengan Risiko Eksim 2,5 Kali Lebih Tinggi
Setelah disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, pendapatan, dan banyak kondisi medis lainnya, penderita periodontitis ternyata 2,47 kali lebih mungkin mengalami dermatitis atopik dibandingkan orang tanpa penyakit gusi. Hubungan ini terbukti pada:
Baik laki-laki (risiko 2,7 kali lebih tinggi) maupun perempuan (risiko 2,4 kali lebih tinggi)
Setiap kelompok usia dari 20 hingga di atas 70 tahun
Khususnya pada kelompok berpenghasilan rendah, di mana risikonya melonjak menjadi hampir 4 kali lipat
2. Scaling Gigi Memangkas Risiko Hingga Dua per Tiga
Di antara pasien periodontitis, mereka yang menjalani scaling gigi memiliki risiko eksim 67% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak. Efek protektif ini terlihat di hampir semua subkelompok — berbagai usia, jenis kelamin, dan tingkat pendapatan.
3. Semakin Sering Scaling, Semakin Rendah Risikonya
Mungkin temuan paling kuat adalah pola dosis-respons yang sangat jelas:
1 kali scaling: risiko 37% lebih rendah
2 kali scaling: risiko 60% lebih rendah
3 kali scaling: risiko 71% lebih rendah
4 kali scaling atau lebih: risiko 86% lebih rendah
Dengan kata lain, semakin konsisten pasien menjalani perawatan gigi rutin, semakin tajam pula penurunan risiko eksim mereka.
Mengapa Membersihkan Gigi Bisa Mempengaruhi Kulit?
Para peneliti mengajukan tiga penjelasan biologis yang masuk akal:
1. Lebih sedikit peradangan di seluruh tubuh. Infeksi gusi kronis mengirimkan sinyal-sinyal peradangan ke seluruh tubuh. Studi-studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa scaling gigi yang menghilangkan plak dan bakteri dapat menurunkan kadar C-reactive protein dan penanda inflamasi lainnya — meredakan "latar belakang inflamasi sistemik" yang berpotensi memicu peradangan kulit.
2. Koneksi filaggrin. Filaggrin adalah protein kunci yang menjaga fungsi barrier kulit — dan, yang kurang banyak diketahui, juga menjaga fungsi mukosa rongga mulut. Mutasi pada gen filaggrin sangat erat kaitannya dengan eksim. Cacat yang sama dapat melemahkan pertahanan rongga mulut juga, membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit gusi dan penyakit kulit secara bersamaan.
3. Jalan tol mikrobioma mulut-kulit. Penelitian terkini menunjukkan bahwa bakteri yang hidup di mulut dan di kulit lebih erat hubungannya pada pasien eksim dibandingkan pada orang sehat. Banyak bakteri yang dominan pada kulit pasien eksim sebenarnya berasal dari rongga mulut. Mengurangi bakteri jahat di mulut melalui scaling dapat secara tidak langsung memperbaiki keseimbangan mikroba kulit.
Mengapa Ini Penting bagi Kesehatan Masyarakat?
Temuan ini membawa implikasi yang melampaui dunia kedokteran gigi.
Bagi pasien, pesannya memberdayakan: menjaga rutinitas perawatan gigi profesional — terutama dua kali kunjungan tahunan yang sudah ditanggung oleh banyak sistem asuransi — mungkin tidak hanya melindungi gigi dan gusi, tetapi juga kulit dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Bagi sistem kesehatan, studi ini memperkuat pemahaman yang semakin berkembang bahwa kesehatan mulut tidak terpisah dari kesehatan tubuh secara umum. Mengintegrasikan layanan kedokteran gigi ke dalam strategi pencegahan penyakit kronis — untuk penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kini berpotensi pula untuk eksim — bisa menjadi salah satu investasi kesehatan masyarakat yang paling cost-effective yang tersedia.
Bagi klinisi, terutama dokter spesialis kulit, temuan ini menyiratkan bahwa menanyakan kebersihan mulut pasien eksim dan merujuk mereka untuk pemeriksaan gigi mungkin merupakan alat diagnostik dan preventif yang sederhana namun belum dimanfaatkan sepenuhnya.
Catatan Kehati-hatian
Para penulis dengan jujur mengakui beberapa keterbatasan penting:
Studi ini bersifat observasional, sehingga hanya menunjukkan hubungan, bukan membuktikan sebab-akibat.
Data asuransi tidak mencakup faktor gaya hidup seperti frekuensi menyikat gigi, pola makan, kebiasaan merokok, atau riwayat eksim dalam keluarga.
Pasien dengan periodontitis ringan yang tidak terdiagnosis mungkin masuk ke kelompok "tanpa periodontitis", yang justru bisa menyebabkan terlalu kecilnya estimasi terhadap hubungan sebenarnya.
Hasilnya berasal dari populasi Taiwan dan tidak dapat langsung diterapkan pada populasi Barat, karena perbedaan genetik, iklim, pola makan, dan sistem layanan kesehatan.
Beberapa detail tentang tingkat keparahan, durasi, dan lokasi lesi eksim tidak tersedia dalam database.