Skip to Content

Resveratrol Obat Kumur Bau Mulut vs Chlorhexidine

August 19, 2026 by
Carigi Indonesia

Resveratrol Obat Kumur Bau Mulut vs Chlorhexidine

Resveratrol Obat Kumur Bau Mulut vs Chlorhexidine

Benarkah Resveratrol Bisa Membantu Mengatasi Bau Mulut? Studi Baru Bandingkan Efeknya dengan Chlorhexidine

Bahan alami yang banyak ditemukan pada kulit anggur dan kacang ternyata berpotensi membantu mengurangi bau mulut. Sebuah uji klinis menemukan bahwa obat kumur yang mengandung resveratrol mampu menurunkan kadar bakteri Porphyromonas gingivalis sekaligus memperbaiki beberapa indikator kesehatan gusi dalam jangka pendek.

Bau Mulut Bukan Sekadar Masalah Kepercayaan Diri

Bau mulut atau halitosis merupakan salah satu masalah kesehatan mulut yang cukup sering dijumpai. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan masalah sosial dan kepercayaan diri, tetapi juga dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan di dalam rongga mulut.

Salah satu penyebabnya adalah aktivitas bakteri tertentu yang hidup dalam plak gigi. Bakteri seperti Porphyromonas gingivalis dapat menghasilkan senyawa berbau tidak sedap ketika memecah protein dan asam amino. Bakteri ini juga dikenal berkaitan dengan penyakit periodontal.

Karena itu, salah satu pendekatan untuk mengendalikan bau mulut adalah mengurangi jumlah bakteri dan plak yang berperan dalam pembentukan senyawa penyebab bau.

Selama ini, chlorhexidine atau CHX menjadi salah satu bahan antimikroba yang banyak digunakan dalam perawatan plak dan bau mulut. Namun, penggunaannya memiliki sejumlah kekurangan, terutama bila digunakan dalam jangka panjang, seperti perubahan rasa dan pewarnaan gigi yang umumnya bersifat reversibel.

Kondisi tersebut mendorong peneliti mencari alternatif lain, salah satunya resveratrol.

Resveratrol, Senyawa Alami yang Menarik Perhatian

Resveratrol merupakan senyawa polifenol yang secara alami ditemukan pada sejumlah tanaman, termasuk kulit anggur, buah beri, dan kacang tanah.

Senyawa ini telah banyak diteliti karena memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Dalam penelitian sebelumnya, resveratrol juga menunjukkan potensi dalam menghambat pembentukan biofilm serta memengaruhi faktor virulensi P. gingivalis.

Namun, sebagian penelitian sebelumnya lebih banyak menguji resveratrol dalam bentuk suplemen, pasta gigi, atau sebagai bagian dari terapi tambahan.

Pertanyaannya kemudian: apakah resveratrol yang digunakan sebagai obat kumur juga dapat membantu mengatasi bau mulut?

Inilah yang ingin dijawab oleh penelitian yang dilakukan oleh Noor A. Abed Taher, Athraa Ali Mahmood, dan Hashim Mueen Hussein dari College of Dentistry, Mustansiriyah University, Baghdad, Irak.

Bagaimana Penelitian Dilakukan?

Penelitian ini merupakan uji klinis acak dengan desain triple-blind, yang berarti peserta, pemberi intervensi, maupun pihak yang melakukan penilaian tidak mengetahui kelompok obat kumur yang digunakan selama proses penelitian.

Sebanyak 54 mahasiswa kedokteran gigi berusia 20–23 tahun dengan bau mulut yang berkaitan dengan gingivitis akibat plak mengikuti penelitian ini.

Peserta dibagi menjadi tiga kelompok:

  • Kelompok resveratrol (RSV): menggunakan obat kumur yang mengandung resveratrol.

  • Kelompok chlorhexidine (CHX): menggunakan obat kumur chlorhexidine 0,2% sebagai pembanding aktif.

  • Kelompok kontrol: menggunakan air suling.

Peserta menggunakan obat kumur masing-masing dua kali sehari selama tujuh hari, sebanyak 15 ml selama 30 detik. Penggunaan obat kumur dilakukan setelah menyikat gigi, sementara kebiasaan perawatan gigi sehari-hari tetap dipertahankan.

Peneliti kemudian membandingkan kondisi peserta sebelum dan sesudah penggunaan obat kumur.

Yang diukur bukan hanya bau mulut. Peneliti juga melihat jumlah plak, perdarahan saat pemeriksaan gusi, tingkat peradangan gusi, serta jumlah P. gingivalis dalam sampel plak.

Untuk mengukur bau mulut, penelitian menggunakan penilaian bau secara langsung atau organoleptik dan alat halimeter yang dapat mendeteksi senyawa sulfur penyebab bau.

Sementara itu, keberadaan P. gingivalis diperiksa menggunakan metode real-time PCR.

Hasilnya: Resveratrol Menunjukkan Penurunan Bau Mulut

Setelah tujuh hari, kelompok yang menggunakan obat kumur resveratrol menunjukkan penurunan skor bau mulut yang bermakna secara statistik.

Penurunan tersebut terlihat pada berbagai metode pengukuran, baik dari bau pada permukaan lidah, bau dari sela gigi menggunakan dental floss, maupun pengukuran menggunakan halimeter.

Menariknya, ketika dibandingkan langsung dengan chlorhexidine, tidak ditemukan perbedaan yang bermakna secara statistik pada ketiga pengukuran bau mulut tersebut.

Dengan kata lain, dalam penelitian ini, efek obat kumur resveratrol terhadap bau mulut terlihat sebanding dengan chlorhexidine selama periode pengamatan tujuh hari.

Tidak Hanya Bau Mulut, Kondisi Gusi Juga Membaik

Perubahan positif juga terlihat pada beberapa indikator kesehatan periodontal.

Pada kelompok resveratrol, terjadi penurunan:

  • Plaque Index (PI), yang menggambarkan jumlah plak;

  • Bleeding on Probing (BOP), yaitu perdarahan yang muncul saat gusi diperiksa;

  • Gingival Index (GI), yang menggambarkan tingkat peradangan gusi.

Penurunan ketiga parameter tersebut juga ditemukan pada kelompok chlorhexidine.

Ketika resveratrol dibandingkan langsung dengan chlorhexidine, tidak ditemukan perbedaan bermakna pada ketiga parameter tersebut. Sebaliknya, kedua kelompok menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan kelompok yang hanya menggunakan air suling.

Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan obat kumur resveratrol selama satu minggu tidak hanya berkaitan dengan penurunan bau mulut, tetapi juga dengan perbaikan beberapa tanda klinis gingivitis.

Bagaimana dengan Bakteri Penyebab Bau Mulut?

Bagian menarik lainnya dari penelitian ini adalah pemeriksaan terhadap Porphyromonas gingivalis.

Pada awal penelitian, jumlah P. gingivalis pada ketiga kelompok relatif sebanding. Setelah tujuh hari, jumlah bakteri tersebut turun cukup tajam pada kelompok resveratrol dan chlorhexidine.

Rata-rata jumlah P. gingivalis pada kelompok resveratrol turun dari sekitar 1.563 menjadi 90, sedangkan pada kelompok chlorhexidine turun dari sekitar 1.315 menjadi 383.

Sebaliknya, kelompok air suling tidak menunjukkan penurunan. Rata-rata jumlah bakteri justru berada di sekitar 1.704 setelah tujuh hari.

Meskipun penurunan pada kelompok resveratrol terlihat lebih besar dibandingkan chlorhexidine, perbedaan antara kedua kelompok tersebut tidak signifikan secara statistik.

Artinya, penelitian ini menunjukkan bahwa resveratrol memiliki aktivitas yang menjanjikan terhadap P. gingivalis, tetapi belum dapat dikatakan lebih efektif daripada chlorhexidine berdasarkan penelitian ini.

Apakah Resveratrol Nyaman Digunakan?

Peneliti juga meminta peserta menilai pengalaman mereka menggunakan obat kumur melalui kuesioner.

Secara umum, tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok resveratrol, chlorhexidine, dan kontrol dalam hal rasa, kenyamanan, durasi berkumur, maupun pengaruh terhadap rasa makanan dan minuman.

Namun, beberapa peserta pada kelompok resveratrol dan chlorhexidine melaporkan rasa gatal pada mukosa mulut.

Menariknya, meskipun resveratrol sering dianggap menarik karena berasal dari bahan alami, penelitian ini menunjukkan bahwa asal bahan yang alami tidak otomatis berarti tidak memiliki efek sensori. Resveratrol tetap dapat memberikan rasa atau sensasi tertentu di mulut.

Tetapi, Jangan Terburu-buru Menganggap Resveratrol sebagai Pengganti Chlorhexidine

Hasil penelitian memang menjanjikan, tetapi ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, penelitian hanya melibatkan 54 orang, dan seluruh peserta merupakan mahasiswa kedokteran gigi yang relatif muda dan sehat. Karena itu, hasil penelitian belum tentu dapat langsung diterapkan pada populasi yang lebih luas.

Kedua, penelitian hanya berlangsung selama tujuh hari. Jadi, penelitian ini belum dapat menjawab apakah resveratrol aman dan efektif jika digunakan sebagai obat kumur setiap hari dalam jangka panjang.

Ketiga, obat kumur yang digunakan dalam penelitian bukan hanya mengandung resveratrol. Produk tersebut juga mengandung essential oil dari wild thyme. Bahan tersebut sendiri berpotensi memiliki efek antibakteri atau membantu mengurangi bau, sehingga peneliti tidak dapat memastikan bahwa seluruh efek yang ditemukan hanya berasal dari resveratrol.

Selain itu, peneliti juga mencatat bahwa ketersediaan obat kumur resveratrol masih terbatas dan biayanya berpotensi lebih tinggi dibandingkan chlorhexidine.

Jadi, Apa Kesimpulannya?

Penelitian ini memberikan temuan awal yang menarik: obat kumur yang mengandung resveratrol berpotensi membantu mengurangi bau mulut yang berkaitan dengan P. gingivalis dan gingivitis akibat plak.

Setelah digunakan selama tujuh hari, resveratrol dikaitkan dengan penurunan skor bau mulut, jumlah plak, perdarahan saat pemeriksaan, peradangan gusi, serta jumlah P. gingivalis.

Efek tersebut tidak berbeda secara bermakna dengan chlorhexidine dalam penelitian ini.

Namun, hasil ini sebaiknya dipandang sebagai bukti awal, bukan sebagai bukti bahwa resveratrol sudah terbukti menjadi pengganti chlorhexidine untuk penggunaan jangka panjang. Penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar, populasi yang lebih beragam, formulasi resveratrol tanpa bahan aktif tambahan, serta periode pengamatan yang lebih panjang masih diperlukan.

Dengan kata lain, resveratrol menunjukkan potensi yang menjanjikan, tetapi masih membutuhkan penelitian lebih lanjut sebelum dapat direkomendasikan sebagai alternatif rutin untuk chlorhexidine.

Referensi Artikel Asli

Abed Taher NA, Mahmood AA, Hussein HM. Efficacy of a Mouthwash Containing Resveratrol in Reducing Halitosis-related P. gingivalis: A Randomized Triple-blind Trial. Oral Health & Preventive Dentistry. 2025;23:793–803. DOI: 10.3290/j.ohpd.c_2373

Carigi Indonesia August 19, 2026
Share this post
Tags
Archive
Obat-Obatan Penyebab Bau Mulut (Halitosis)