Rajin Pakai Benang Gigi, Risiko Stroke Lebih Rendah?

Rajin Pakai Benang Gigi, Risiko Stroke Lebih Rendah? Temuan dari Penelitian 24 Tahun di Amerika Serikat
Benang gigi selama ini dikenal sebagai alat untuk mencegah gigi berlubang dan penyakit gusi. Namun sebuah penelitian yang mengikuti lebih dari 6.000 orang dewasa di Amerika Serikat selama hampir 24 tahun menemukan kaitan dengan sesuatu yang jauh lebih serius: stroke. Orang yang menggunakan benang gigi tercatat memiliki risiko stroke iskemik sekitar 23% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah menggunakannya. Penurunan terbesar terlihat pada stroke yang dipicu gumpalan darah dari jantung, serta pada gangguan irama jantung yang dikenal sebagai fibrilasi atrium.
Mulut yang Meradang, Pembuluh Darah yang Terancam
Penyakit gusi (periodontitis) dan gigi berlubang termasuk penyakit tidak menular yang paling banyak dialami manusia di seluruh dunia. Keduanya merupakan peradangan kronis yang tidak hanya merusak mulut, tetapi juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke.
Penyakit gusi bermula dari bakteri dalam plak yang menumpuk di sekitar gigi dan memicu peradangan berkepanjangan. Plak paling sulit dibersihkan di sela-sela gigi, area yang tidak terjangkau sikat gigi. Di sinilah benang gigi berperan.
Sejumlah penelitian sebelumnya sudah memberi petunjuk. Data survei kesehatan nasional Amerika Serikat menunjukkan bahwa orang yang rutin menggunakan benang gigi memiliki angka penyakit jantung, stroke, dan kematian yang lebih rendah. Penelitian di Finlandia juga menemukan bahwa kombinasi menyikat gigi dan menggunakan benang gigi berkaitan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung yang lebih rendah, sementara menyikat gigi saja tidak.
Namun, belum banyak penelitian yang secara khusus melihat hubungan benang gigi dengan jenis-jenis stroke dan fibrilasi atrium.
Mengenal Stroke Iskemik dan Fibrilasi Atrium
Sebelum masuk ke hasil, ada beberapa istilah penting:
Stroke iskemik adalah jenis stroke yang paling umum, terjadi ketika aliran darah ke otak tersumbat. Penyebabnya beragam, antara lain:
Stroke kardioembolik: gumpalan darah terbentuk di jantung, lalu terbawa aliran darah dan menyumbat pembuluh darah otak.
Stroke trombotik: sumbatan terbentuk di pembuluh darah besar yang mengarah ke otak.
Stroke lakunar: sumbatan di pembuluh darah kecil di bagian dalam otak.
Stroke hemoragik adalah stroke akibat pecahnya pembuluh darah di otak.
Fibrilasi atrium adalah gangguan irama jantung, ketika bilik atas jantung berdenyut tidak teratur. Kondisi ini membuat darah mudah menggumpal di jantung, sehingga menjadi salah satu penyebab utama stroke kardioembolik.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti yang dipimpin Souvik Sen dari University of South Carolina, bersama peneliti dari University of North Carolina, Emory University, Johns Hopkins University, dan sejumlah universitas lain di Amerika Serikat, menganalisis data dari ARIC (Atherosclerosis Risk in Communities). Ini adalah penelitian jangka panjang yang dimulai sejak 1987 di empat wilayah di Amerika Serikat untuk mempelajari penyebab penyakit jantung dan pembuluh darah.
Pada tahun 1996–1998, para peserta ditanya: "Berapa kali Anda menggunakan benang gigi dalam seminggu terakhir?" Pilihan jawabannya adalah tidak sama sekali, sekali, dua kali, atau tiga kali atau lebih. Mereka yang menjawab "tidak sama sekali" dikelompokkan sebagai bukan pengguna benang gigi, sedangkan sisanya sebagai pengguna benang gigi.
Pada saat yang sama, peserta juga menjalani pemeriksaan gigi menyeluruh untuk menilai penyakit gusi dan gigi berlubang, serta pemeriksaan darah untuk mengukur penanda peradangan.
Sebanyak 6.200 orang yang masih memiliki gigi dan belum pernah mengalami stroke diikuti selama rata-rata 23,7 tahun. Selama periode itu, peneliti mencatat siapa saja yang mengalami stroke dan fibrilasi atrium melalui catatan rumah sakit, wawancara telepon rutin, rekaman jantung (EKG), dan akta kematian. Setiap kasus stroke diperiksa ulang oleh panel dokter.
Perhitungan juga memperhitungkan banyak faktor lain yang bisa memengaruhi hasil, termasuk usia, jenis kelamin, ras, wilayah tempat tinggal, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, kebiasaan merokok, pendidikan, berat badan, kebiasaan menyikat gigi, dan kebiasaan rutin ke dokter gigi.
Hasilnya
1. Dua pertiga peserta menggunakan benang gigi
Sekitar 65% peserta (4.049 orang) mengaku menggunakan benang gigi, sementara 2.151 orang tidak pernah menggunakannya.
Kedua kelompok ini sejak awal sudah berbeda. Pengguna benang gigi lebih banyak perempuan, berpendidikan lebih tinggi, memiliki berat badan lebih rendah, lebih jarang merokok, lebih jarang memiliki tekanan darah tinggi dan diabetes, serta memiliki gusi dan gigi yang lebih sehat.
2. Risiko stroke iskemik sekitar 23% lebih rendah
Selama hampir 24 tahun, tercatat 434 kasus stroke iskemik. Angka kejadian stroke lebih rendah pada pengguna benang gigi (sekitar 6,1%) dibandingkan bukan pengguna (sekitar 8,7%).
Setelah semua faktor lain diperhitungkan, pengguna benang gigi tetap memiliki risiko stroke iskemik sekitar 23% lebih rendah. Perbedaan antara kedua kelompok mulai terlihat sekitar tiga tahun setelah pengamatan dimulai dan terus melebar seiring waktu.
3. Paling kuat pada stroke akibat gumpalan dari jantung
Ketika dipilah berdasarkan jenis stroke, penurunan risiko paling jelas terlihat pada stroke kardioembolik, dengan risiko sekitar 40% lebih rendah pada pengguna benang gigi.
Sebaliknya, setelah faktor lain diperhitungkan, benang gigi tidak berkaitan secara bermakna dengan stroke trombotik, stroke lakunar, maupun stroke hemoragik.
4. Risiko fibrilasi atrium juga lebih rendah
Pengguna benang gigi juga memiliki risiko fibrilasi atrium sekitar 12% lebih rendah. Peneliti kemudian menganalisis apakah fibrilasi atrium menjadi "jembatan" antara benang gigi dan stroke. Hasilnya, fibrilasi atrium hanya menjelaskan sekitar 7% dari hubungan tersebut. Artinya, sebagian besar kaitan benang gigi dengan stroke kemungkinan melalui jalur lain.
5. Seminggu sekali pun sudah terlihat bedanya
Temuan ini cukup menarik. Dibandingkan orang yang tidak pernah menggunakan benang gigi, risiko stroke lebih rendah dengan besar yang hampir sama pada mereka yang menggunakannya sekali, dua kali, maupun tiga kali atau lebih dalam seminggu.
Dengan kata lain, perbedaan utamanya terletak antara "tidak pernah" dan "pernah", bukan pada seberapa sering. Di antara pengguna benang gigi sendiri, frekuensi tidak membuat perbedaan yang bermakna.
6. Penanda peradangan: belum jelas
Pengguna benang gigi memiliki kadar penanda peradangan IL-6 yang sedikit lebih rendah. Namun perbedaan ini hilang setelah usia, berat badan, pendidikan, dan kebiasaan merokok diperhitungkan. Penanda peradangan lain, CRP, tidak berbeda antara kedua kelompok.
Bagaimana Benang Gigi Bisa Berkaitan dengan Stroke?
Para peneliti mengajukan beberapa kemungkinan jalur:
Mengurangi infeksi di mulut. Benang gigi membersihkan plak di sela gigi, tempat bakteri penyebab penyakit gusi bersarang. Bakteri dan zat peradangan dari gusi yang sakit diduga dapat masuk ke aliran darah dan merusak pembuluh darah.
Menekan peradangan di seluruh tubuh. Peradangan kronis berperan dalam penyempitan pembuluh darah dan pembentukan gumpalan darah.
Menjaga irama jantung. Peradangan diketahui dapat mengubah struktur dan kelistrikan bilik atas jantung, sehingga memicu fibrilasi atrium dan pembentukan gumpalan darah.
Peneliti mencatat beberapa alasan mengapa hubungan ini mungkin tidak sekadar mencerminkan gaya hidup sehat secara umum. Kaitannya spesifik pada stroke kardioembolik dan fibrilasi atrium, bukan semua jenis stroke. Selain itu, setelah memperhitungkan risiko kematian karena sebab lain, benang gigi tidak berkaitan dengan kematian akibat penyebab selain stroke.
Catatan Penting dari Peneliti
Meski penelitian ini besar dan berlangsung sangat lama, hasilnya tetap perlu ditafsirkan dengan hati-hati:
Hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat. Penelitian ini mengamati data, bukan uji coba. Belum bisa dipastikan bahwa menggunakan benang gigi secara langsung mencegah stroke.
Kemungkinan pengaruh gaya hidup sehat. Pengguna benang gigi sejak awal lebih sehat dan lebih peduli kesehatan. Meski banyak faktor sudah diperhitungkan, peneliti mengakui bahwa faktor yang tidak tercatat, seperti pola makan, penghasilan, dan kesadaran kesehatan, masih bisa ikut berperan.
Kebiasaan hanya ditanyakan sekali. Penggunaan benang gigi ditanyakan satu kali pada tahun 1996–1998, berdasarkan pengakuan peserta, tanpa diketahui apakah kebiasaan itu berubah selama 24 tahun berikutnya. Namun hasil tetap konsisten ketika pengamatan dibatasi pada 10 tahun pertama.
Peserta terbatas. Penelitian hanya melibatkan peserta berkulit putih dan kulit hitam dari empat wilayah di Amerika Serikat. Peserta yang dianalisis juga cenderung lebih sehat dibandingkan yang tidak ikut, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk populasi lain, termasuk di Indonesia.
Penanda peradangan tidak mendukung jalur yang diusulkan. Perbedaan kadar IL-6 hilang setelah faktor lain diperhitungkan, sehingga mekanisme biologisnya masih perlu dibuktikan.