Radioterapi & Kandidiasis Oral

Mengapa Radioterapi Kanker Bisa Memicu Infeksi Jamur di Rongga Mulut?
Penelitian Baru Ungkap Gangguan Sistem Imun Akibat Radiasi pada Pasien Kanker
Radioterapi merupakan salah satu terapi utama untuk kanker kepala dan leher. Meskipun efektif membunuh sel kanker, terapi ini sering menimbulkan berbagai efek samping di rongga mulut, mulai dari mulut kering, luka, nyeri, hingga infeksi. Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi jamur mulut akibat Candida albicans.
Kini, sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal mBio mengungkap mekanisme biologis yang mungkin menjadi penyebab meningkatnya infeksi jamur setelah radioterapi. Peneliti menemukan bahwa paparan radiasi dapat mengganggu jalur sistem imun penting yang melibatkan IL-17 dan IL-23, sehingga pertahanan alami rongga mulut terhadap infeksi jamur menjadi melemah.
Oral Mucositis: Komplikasi yang Sering Terjadi Selama Radioterapi
Pasien kanker kepala dan leher yang menjalani radioterapi sering mengalami oral mucositis, yaitu peradangan dan kerusakan jaringan mukosa mulut. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri hebat sehingga pasien kesulitan makan, minum, bahkan berbicara. Pada kasus berat, terapi kanker terkadang harus dihentikan sementara karena kondisi mulut pasien terlalu parah.
Kerusakan jaringan mulut akibat radiasi juga menciptakan lingkungan yang lebih mudah ditumbuhi mikroorganisme, termasuk jamur Candida albicans. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa infeksi jamur mulut cukup sering ditemukan pada pasien kanker yang menjalani radioterapi.
Namun, selama ini mekanisme pasti mengapa radioterapi meningkatkan risiko infeksi jamur belum sepenuhnya dipahami.
Meneliti Peran Sistem Imun Rongga Mulut
Untuk memahami masalah tersebut, peneliti menggunakan model tikus percobaan yang dipaparkan radioterapi kepala-leher dan infeksi kandidiasis oral. Penelitian difokuskan pada dua molekul penting sistem imun, yaitu IL-17 dan IL-23.
Kedua sitokin ini diketahui berperan besar dalam sistem pertahanan mukosa mulut terhadap infeksi jamur. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa jalur IL-17 sangat penting untuk melindungi rongga mulut dari Candida albicans.
Peneliti ingin mengetahui bagaimana paparan radiasi memengaruhi sistem pertahanan alami tersebut.
Radiasi Mengganggu Pertahanan Alami Rongga Mulut
Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan radiasi secara signifikan mengubah respons imun pada jaringan rongga mulut. Radioterapi diketahui mengganggu sinyal reseptor IL-17 dan menurunkan efektivitas sel imun yang bertugas mengendalikan infeksi jamur.
Akibatnya, tikus yang terpapar radiasi menjadi jauh lebih rentan mengalami oropharyngeal candidiasis, yaitu infeksi jamur pada rongga mulut dan tenggorokan.
Peneliti juga menemukan adanya peningkatan kerusakan jaringan, peradangan, dan gangguan penyembuhan luka pada jaringan mulut yang terkena radiasi. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan jamur secara lebih agresif.
Jalur IL-17 dan IL-23 Ternyata Sangat Kompleks
Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah kompleksitas peran jalur imun IL-23/IL-17.
Dalam kondisi normal, IL-17 membantu mempertahankan kesehatan mukosa dengan merangsang respons antimikroba dan merekrut neutrofil untuk melawan infeksi.
Namun, ketika jaringan mulut mengalami kerusakan akibat radiasi, keseimbangan jalur imun ini menjadi terganggu. Gangguan tersebut tidak hanya melemahkan perlindungan terhadap jamur, tetapi juga dapat memperburuk peradangan dan kerusakan jaringan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem imun rongga mulut bekerja dalam keseimbangan yang sangat sensitif, terutama selama terapi kanker berlangsung.
Mengapa Temuan Ini Penting bagi Pasien Kanker?
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa banyak pasien radioterapi mengalami nyeri mulut berkepanjangan, luka yang sulit sembuh, dan infeksi jamur berulang meskipun sudah mendapatkan perawatan suportif standar.
Selain itu, penelitian ini juga menyoroti potensi risiko dari obat-obatan penghambat IL-17 yang saat ini digunakan untuk mengobati penyakit autoimun seperti psoriasis dan artritis inflamasi. Beberapa penelitian klinis sebelumnya memang telah mengaitkan obat penghambat IL-17 dengan meningkatnya risiko kandidiasis.
Artinya, dokter mungkin perlu lebih berhati-hati mempertimbangkan efek samping terkait sistem imun pada pasien yang sudah rentan mengalami infeksi rongga mulut.
Membuka Peluang Terapi Baru
Pemahaman mengenai mekanisme biologis di balik infeksi jamur akibat radioterapi dapat membuka peluang pengembangan terapi baru di masa depan.
Peneliti menyebut beberapa pendekatan potensial yang dapat dikembangkan, antara lain:
Melindungi sistem imun berbasis IL-17 selama radioterapi
Mengurangi kerusakan jaringan akibat inflamasi
Mempercepat penyembuhan mukosa mulut
Mencegah pertumbuhan jamur berlebih pada pasien rentan