Skip to Content

Radang Sendi Rahang Anak (JIA): Tanda Keterlibatan TMJ

August 17, 2026 by
Carigi Indonesia

Radang Sendi Rahang Anak (JIA): Tanda Keterlibatan TMJ

Radang Sendi Rahang Anak (JIA): Tanda Keterlibatan TMJ

Ketika Radang Sendi Menyerang Rahang Anak: Tanda Kecil yang Bisa Mengungkap Masalah pada Sendi Rahang

Penelitian menunjukkan pemeriksaan gigi dan gerakan rahang dapat membantu mendeteksi keterlibatan sendi temporomandibular pada anak dengan juvenile idiopathic arthritis

Juvenile idiopathic arthritis (JIA) atau artritis idiopatik juvenil merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada sendi dan terjadi pada anak sebelum usia 16 tahun. Penyakit ini dapat mengalami periode kambuh dan membaik, tetapi jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan baik, peradangan dapat menyebabkan kerusakan sendi serta mengganggu pertumbuhan dan fungsi tubuh.

Salah satu bagian tubuh yang dapat terdampak adalah sendi temporomandibular (temporomandibular joint/TMJ), yaitu sendi yang menghubungkan rahang bawah dengan tulang tengkorak. Sendi ini berperan penting ketika seseorang membuka mulut, mengunyah, berbicara, dan melakukan berbagai gerakan rahang.

Masalahnya, keterlibatan TMJ pada anak dengan JIA tidak selalu menimbulkan keluhan yang jelas. Seorang anak dapat mengalami perubahan pada sendi rahang tanpa merasakan nyeri atau gangguan yang berarti. Kondisi inilah yang membuat deteksi dini menjadi tantangan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Oral Rehabilitation pada 2026 mencoba melihat apakah tanda dan gejala yang ditemukan melalui pemeriksaan gigi dan fungsi rahang berkaitan dengan perubahan pada TMJ yang terlihat melalui pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI).

Mengapa sendi rahang perlu diperhatikan pada anak dengan JIA?

JIA dapat melibatkan TMJ pada berbagai tipe penyakit. Keterlibatan tersebut bahkan dapat terjadi pada kedua sisi dan sering kali baru diketahui setelah penyakit berlangsung cukup lama.

Jika peradangan pada TMJ tidak ditangani, pertumbuhan rahang bawah dapat terganggu. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan wajah menjadi tidak simetris, perubahan hubungan gigi dan rahang, keterbatasan membuka mulut, hingga gangguan mengunyah.

Yang membuatnya lebih sulit, gejala seperti nyeri atau gangguan gerakan rahang tidak selalu muncul pada tahap awal. Karena itu, mengandalkan keluhan pasien saja dapat menyebabkan keterlibatan TMJ terlewatkan.

MRI menjadi salah satu pemeriksaan penting karena dapat memperlihatkan jaringan lunak, tulang, dan tulang rawan pada TMJ. Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi tanda-tanda peradangan aktif, seperti penebalan membran sinovial, cairan pada sendi, dan edema sumsum tulang.

Apa yang dilakukan peneliti?

Penelitian ini merupakan studi observasional potong lintang yang dilakukan di satu pusat pelayanan kesehatan, yaitu Bambino Gesù Children's Hospital di Roma, Italia.

Peneliti melibatkan 76 anak dan remaja dengan JIA yang menjalani pemeriksaan oleh dokter reumatologi dan kemudian menjalani pemeriksaan gigi serta fungsi rahang menggunakan kriteria Diagnostic Criteria for Temporomandibular Disorders (DC/TMD).

Pemeriksaan tersebut mencakup berbagai aspek, antara lain:

  • nyeri pada area wajah dan rahang;

  • nyeri saat otot pengunyahan diperiksa;

  • nyeri saat TMJ ditekan;

  • bunyi pada sendi rahang seperti klik atau gemeretak;

  • keterbatasan membuka mulut;

  • keterbatasan gerakan rahang ke kanan dan kiri;

  • keterbatasan gerakan protrusi rahang; serta

  • penyimpangan arah gerakan rahang.

Pasien yang secara klinis dicurigai mengalami keterlibatan TMJ kemudian menjalani MRI. Dari 76 pasien, 62 pasien atau sekitar 72% menjalani pemeriksaan MRI TMJ.

Apa yang ditemukan?

Dari 76 pasien yang diteliti, mayoritas adalah perempuan, yaitu sekitar 84%, dengan rata-rata usia 13,3 tahun. Sebagian besar pasien memiliki tipe JIA oligoartikular.

Pada pemeriksaan klinis, beberapa temuan yang cukup sering ditemukan antara lain:

  • nyeri orofasial dalam 30 hari terakhir pada sekitar 47% pasien;

  • nyeri saat pemeriksaan otot temporalis dan masseter pada sekitar 51%;

  • nyeri saat TMJ dipalpasi pada sekitar 39%;

  • bunyi TMJ pada sekitar 31%;

  • penyimpangan gerakan rahang yang tidak terkoreksi pada sekitar 47%; dan

  • keterbatasan membuka mulut pada sekitar 34% pasien.

Namun, temuan yang menarik adalah tidak semua pasien dengan keterlibatan TMJ menunjukkan nyeri atau keluhan yang jelas.

Hal ini memperkuat tantangan dalam mendeteksi arthritis pada TMJ. Tidak adanya nyeri pada sendi bukan berarti TMJ terbebas dari perubahan akibat penyakit. Peneliti menjelaskan bahwa arthritis TMJ pada anak dapat bersifat “diam” atau hanya menimbulkan sedikit gejala.

Gerakan rahang ternyata memberikan petunjuk penting

Salah satu temuan yang paling menarik adalah hubungan antara penyimpangan arah gerakan rahang dengan perubahan yang terlihat pada MRI.

Setelah peneliti melakukan koreksi statistik terhadap banyaknya perbandingan yang dilakukan, penyimpangan rahang ke kanan atau kiri tetap memiliki hubungan yang bermakna dengan penebalan membran sinovial dan edema sumsum tulang pada TMJ.

Kedua temuan tersebut merupakan tanda yang berkaitan dengan keterlibatan inflamasi pada sendi.

Dengan kata lain, perubahan sederhana yang dapat diamati ketika seorang anak membuka atau menggerakkan rahangnya mungkin dapat menjadi petunjuk bahwa terdapat masalah yang lebih dalam pada sendi.

Peneliti juga menemukan hubungan antara bunyi pada TMJ dengan keterbatasan gerakan protrusi rahang. Hubungan ini tetap signifikan setelah dilakukan koreksi statistik.

Nyeri bukan satu-satunya tanda

Penelitian ini juga memberikan pesan penting bagi orang tua dan tenaga kesehatan: tidak adanya rasa sakit tidak selalu berarti tidak ada masalah pada TMJ.

Dalam penelitian, sekitar 51% pasien mengalami nyeri saat otot pengunyahan diperiksa, tetapi sebagian besar tidak mengalami nyeri ketika TMJ secara langsung dipalpasi.

Menurut peneliti, perbedaan tersebut bukan berarti hasil pemeriksaan saling bertentangan. Nyeri otot dan nyeri sendi merupakan dua hal yang dapat muncul melalui mekanisme yang berbeda. Selain itu, kemampuan anak untuk mengenali dan menyampaikan rasa sakit juga dapat berbeda sesuai usia.

Karena itu, pemeriksaan TMJ pada anak dengan JIA sebaiknya tidak hanya berfokus pada pertanyaan “apakah rahangnya sakit?”, tetapi juga melihat bagaimana rahang bergerak dan apakah terdapat perubahan fungsi atau bentuk wajah.

Apakah pemeriksaan gigi dapat menggantikan MRI?

Tidak.

Penelitian ini justru menunjukkan bahwa pemeriksaan klinis dan MRI memiliki peran yang saling melengkapi.

Pemeriksaan gigi dan fungsi rahang relatif dapat dilakukan sebagai bagian dari pemantauan rutin untuk mencari tanda-tanda awal. Namun, karena keterlibatan TMJ dapat terjadi tanpa gejala yang jelas, pemeriksaan klinis saja tidak cukup untuk memastikan ada atau tidaknya peradangan.

MRI dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai kondisi jaringan dan struktur TMJ. Karena itu, hasil pemeriksaan klinis dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah diperlukan evaluasi lebih lanjut dengan pencitraan.

Apa arti temuan ini bagi perawatan anak dengan JIA?

Temuan penelitian ini mendukung pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menangani anak dengan JIA.

Dokter reumatologi, dokter gigi, dan khususnya bidang ortodonti dapat berperan bersama dalam memantau perkembangan TMJ. Pemeriksaan secara berkala memungkinkan perubahan fungsi rahang dibandingkan dari waktu ke waktu, terutama karena JIA dapat mengalami periode kambuh dan remisi.

Peneliti bahkan menyarankan bahwa skrining TMD sejak awal diagnosis JIA berpotensi membantu menemukan tanda-tanda awal keterlibatan TMJ. Pemantauan ortodontik secara berkala juga dinilai penting untuk mengenali perubahan fungsi rahang sedini mungkin.

Namun, hasil penelitian perlu dibaca dengan hati-hati

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Studi dilakukan pada satu pusat pelayanan kesehatan dan menggunakan desain potong lintang, sehingga penelitian ini terutama menunjukkan adanya hubungan antara temuan klinis dan MRI, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat.

Selain itu, tidak semua pasien menjalani MRI. Pemeriksaan MRI dilakukan pada pasien yang berdasarkan evaluasi klinis dicurigai memiliki keterlibatan TMJ.

Peneliti juga menekankan bahwa sejumlah hubungan yang terlihat pada analisis awal tidak lagi signifikan setelah dilakukan koreksi statistik. Hubungan tersebut karena itu perlu dianggap sebagai temuan eksploratif dan masih membutuhkan konfirmasi melalui penelitian yang lebih besar dan bersifat prospektif.

Kesimpulan

Keterlibatan sendi rahang merupakan salah satu masalah yang perlu diperhatikan pada anak dan remaja dengan juvenile idiopathic arthritis. Tantangannya, perubahan pada TMJ dapat berlangsung tanpa keluhan yang jelas sehingga berpotensi terlambat dikenali.

Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa temuan dalam pemeriksaan gigi dan fungsi rahang—terutama penyimpangan gerakan rahang—memiliki hubungan dengan tanda peradangan TMJ yang terlihat melalui MRI.

Temuan tersebut tidak berarti setiap anak dengan JIA yang mengalami rahang menyimpang pasti mengalami arthritis TMJ. Namun, perubahan tersebut dapat menjadi sinyal yang patut diperhatikan dan dievaluasi lebih lanjut.

Pesan utama penelitian ini adalah bahwa pemeriksaan TMJ sebaiknya menjadi bagian dari pemantauan anak dengan JIA. Skrining TMD sejak awal penyakit dan pemantauan gigi serta fungsi rahang secara berkala berpotensi membantu menemukan keterlibatan TMJ lebih dini, sebelum kerusakan sendi berkembang lebih jauh.

Referensi

Vallogini G, Michelotti A, Magni Manzoni S, et al. Temporomandibular Joint Involvement in Paediatric Patients Affected by Juvenile Idiopathic Arthritis. Journal of Oral Rehabilitation. 2026;53:1530–1542. DOI: 10.1111/joor.70200

Carigi Indonesia August 17, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kehilangan Gigi pada Demensia & Risiko Kematian