Program Sikat Gigi Sekolah Bantu Anak Cerebral Palsy
Bukan Sekadar Penyuluhan: Program Sikat Gigi Berbasis Sekolah Bantu Anak dengan Cerebral Palsy Punya Gigi Lebih Bersih Selama 18 Bulan
Anak dengan cerebral palsy sering kesulitan menjaga kebersihan gigi, dan kesehatan mulut mereka kerap terabaikan. Sebuah program di sekolah khusus di Bangkok, Thailand, mencoba pendekatan yang berbeda. Bukan hanya memberi penyuluhan, tim dokter gigi mengajak kepala sekolah, guru, pengasuh asrama, hingga orang tua untuk bersama-sama mengubah kebiasaan dan aturan sekolah. Hasilnya, setelah 18 bulan, jumlah plak di gigi anak-anak turun sekitar 44%, dan seperempat anak berhasil mencapai kebersihan gigi yang baik, padahal di awal program tidak ada satu pun.
Ketika Kesehatan Mulut Terpinggirkan
Cerebral palsy adalah gangguan saraf yang memengaruhi gerakan dan kekuatan otot. Kondisi ini dialami sekitar 1,5–3 dari setiap 1.000 bayi yang lahir di dunia.
Anak dengan cerebral palsy umumnya memiliki kesehatan mulut yang lebih buruk dibandingkan anak lain. Risiko gigi berlubang lebih tinggi, susunan gigi sering tidak rapi, dan kebersihan mulut kurang terjaga. Ada beberapa penyebabnya:
Keterbatasan gerak tangan membuat anak sulit menyikat gigi sendiri dengan baik, sehingga sering bergantung pada pengasuh.
Obat-obatan yang dikonsumsi rutin bisa memengaruhi kondisi gusi dan air liur.
Kesehatan mulut sering dinomorduakan. Orang tua dan pengasuh wajar lebih fokus pada masalah fisik anak yang lebih mendesak.
Akses ke dokter gigi sulit, baik karena transportasi maupun keterbatasan dokter gigi yang terlatih menangani anak berkebutuhan khusus. Akibatnya, anak sering baru dibawa ke dokter gigi saat darurat, dan perawatannya pun kerap berakhir dengan pencabutan gigi.
Selama ini, program kesehatan gigi untuk anak berkebutuhan khusus umumnya berfokus pada penyuluhan: melatih anak atau pengasuh, atau memberikan sikat gigi khusus. Namun pengetahuan saja sering tidak cukup untuk mengubah kebiasaan dalam jangka panjang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan pendekatan yang lebih luas di sekolah, mulai dari kebijakan sekolah, pelatihan guru, lingkungan yang mendukung, hingga kerja sama dengan orang tua.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Siriporn Songsiripradubboon dari Fakultas Kedokteran Gigi Chulalongkorn University dan peneliti kesehatan gigi masyarakat Sudaduang Krisdapong merancang program promosi kesehatan gigi berbasis partisipasi masyarakat di sebuah sekolah negeri khusus anak dengan cerebral palsy di Thailand.
Pesertanya adalah seluruh 23 siswa kelas pertama sekolah menengah pertama, berusia 12–17 tahun. Sebagian besar dari mereka tinggal di asrama sekolah, sementara sisanya pulang ke rumah setiap hari. Kelompok ini dipilih karena merupakan siswa termuda yang dinilai sudah cukup mampu belajar dan berlatih menyikat gigi sendiri.
Enam langkah mendekati sekolah
Alih-alih datang membawa program yang sudah jadi, tim dokter gigi membangun program bersama pihak sekolah melalui enam langkah:
Mengajak pimpinan sekolah dan mengusulkan agar perawatan gigi dimasukkan ke dalam kebijakan sekolah.
Melatih seluruh staf sekolah, mulai dari guru, pengasuh asrama, terapis, hingga ahli gizi, tentang cara merawat gigi, memeriksa plak, dan teknik menyikat gigi.
Menentukan tujuan bersama dan membentuk tim sekolah dengan pembagian peran yang jelas.
Membenahi kebiasaan di asrama, misalnya mengganti pasta gigi tanpa fluoride dan memindahkan waktu sikat gigi.
Menyusun kurikulum sikat gigi bersama para guru.
Mencari sponsor, yaitu sebuah lembaga swadaya masyarakat di bidang kesehatan gigi, untuk menyediakan sikat gigi, pasta gigi berfluoride, dan alat peraga.
Tujuh kegiatan dan aturan baru
Selama 18 bulan, lahir tujuh kegiatan dan aturan yang disesuaikan dengan kondisi sekolah:
Pelajaran sikat gigi di kelas. Pelajaran satu jam per semester dimasukkan ke mata pelajaran kesehatan. Anak belajar memeriksa plak di cermin, menyikat gigi, lalu diperiksa ulang. Bila plak masih tersisa, mereka mengulang menyikat gigi.
Pasta gigi berfluoride di asrama. Semua pasta gigi tanpa fluoride diganti dengan pasta gigi berfluoride.
Sikat gigi bersama sebelum tidur. Karena keterbatasan kamar mandi, anak-anak membentuk lingkaran berisi sekitar 10 orang dengan ember di tengah. Mereka menyikat gigi bersama, meludahkan busa pasta gigi ke ember tanpa berkumur, lalu mengelap mulut dengan serbet. Cara ini memudahkan pengasuh mengawasi, dan anak-anak jadi menyikat gigi lebih lama karena dilakukan beramai-ramai. Anak dengan disabilitas berat dibantu langsung oleh pengasuh.
Sikat gigi pagi setelah sarapan. Waktu sikat gigi pagi dipindahkan dari sebelum sarapan menjadi setelah sarapan.
Melibatkan orang tua. Sesi penyuluhan dan latihan sikat gigi untuk orang tua diadakan saat pertemuan orang tua tahunan, dan sekolah berkomitmen menjadikannya agenda rutin.
Sikat gigi setelah makan siang. Setelah makan siang, lagu sikat gigi diputar sebagai tanda, lalu anak-anak menyikat gigi di kelas dan lorong dengan bimbingan guru.
Aturan "dilarang permen". Sekolah sering menerima sumbangan jajanan manis dari masyarakat. Sekolah lalu menetapkan aturan bahwa sumbangan tidak boleh berupa permen, anak tidak boleh makan permen di sekolah, dan tanda larangan dipasang di berbagai area.
Seluruh program menerapkan teknik "ludahkan, jangan berkumur" (spit, don't rinse), yaitu meludahkan sisa pasta gigi tanpa membilas dengan air agar fluoride bertahan lebih lama di gigi.
Cara mengukur hasilnya
Seorang dokter gigi anak berpengalaman memeriksa jumlah plak di enam permukaan gigi setiap anak, dengan skor 0–3. Pemeriksaan dilakukan sebelum program dimulai, lalu pada 1 minggu, 2 minggu, 3 bulan, 9 bulan, dan 18 bulan setelahnya.
Hasilnya
1. Plak turun sejak minggu pertama dan bertahan hingga 18 bulan
Rata-rata skor plak anak-anak turun dari sekitar 1,63 sebelum program menjadi sekitar 1,02 setelah satu minggu, atau turun sekitar 37%. Penurunan ini bertahan dan makin besar hingga mencapai sekitar 0,91 pada bulan ke-18, atau berkurang sekitar 44%. Perubahan ini tergolong besar secara statistik.
2. Dari nol menjadi seperempat anak dengan kebersihan gigi baik
Sebelum program, tidak ada satu pun anak yang memiliki kebersihan gigi yang baik, dan sekitar 30% tergolong buruk. Pada bulan ke-9 dan ke-18, sekitar 26% anak (6 dari 23) berhasil mencapai kebersihan gigi yang baik, sementara anak dengan kebersihan gigi buruk tinggal 2 orang.
3. Anak dengan disabilitas berat justru membaik pesat
Anak dengan disabilitas berat memulai program dengan skor plak yang lebih tinggi. Namun perbaikan mereka lebih besar, terutama pada minggu pertama dan pada akhir program, hingga akhirnya mencapai tingkat kebersihan yang setara atau bahkan lebih baik dibandingkan anak dengan disabilitas ringan.
Peneliti menduga hal ini karena banyak anak dengan disabilitas berat didampingi orang tuanya selama di sekolah, dan mereka juga mendapat bantuan langsung dari terapis saat latihan sikat gigi pertama. Menurut peneliti, keterlibatan pengasuh dan orang tua yang lebih dekat tampaknya menjadi kunci perbaikan pada anak dengan disabilitas berat.
4. Pengaruh usia dan tempat tinggal
Anak yang lebih tua, usia 15 tahun ke atas, menunjukkan perbaikan lebih besar pada minggu-minggu awal dibandingkan anak yang lebih muda.
Ada pula pola menarik terkait tempat tinggal. Setelah tim dokter gigi mengunjungi asrama, perbaikan pada anak yang tinggal di asrama hampir dua kali lipat dibandingkan anak yang tinggal di rumah. Sebaliknya, setelah orang tua mendapat penyuluhan dan latihan, anak yang tinggal di rumah menunjukkan hasil yang lebih baik pada akhir program. Namun perbedaan ini tidak bermakna secara statistik dan perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
Mengapa Pendekatan Ini Berhasil?
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan gigi biasanya hanya efektif dalam jangka pendek, sekitar beberapa minggu hingga tiga bulan. Setelah itu, kebiasaan cenderung kembali seperti semula kecuali ada pengingat atau penyuluhan ulang secara berkala.
Program ini berbeda karena tidak hanya bertumpu pada penyuluhan berulang. Perubahan yang dilakukan menyentuh lingkungan dan aturan sekolah: pasta gigi berfluoride di asrama, jadwal sikat gigi yang tetap, aturan larangan permen, serta keterlibatan guru, pengasuh, dan orang tua. Fokusnya bergeser dari anak saja menjadi seluruh lingkungan di sekitar anak.
Menurut para peneliti, ini merupakan program kesehatan gigi berbasis partisipasi masyarakat pertama untuk anak dengan cerebral palsy yang berjalan lebih dari satu tahun.
Catatan Penting dari Peneliti
Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan:
Tidak ada kelompok pembanding. Semua anak menjalani program, sehingga tidak bisa dipastikan sepenuhnya bahwa perbaikan murni disebabkan oleh program ini.
Jumlah peserta kecil, hanya 23 anak dari satu sekolah dan satu tingkat kelas.
Hanya satu pemeriksa, dan ada beberapa anak yang tidak hadir pada sebagian kunjungan karena sakit, lomba olahraga, atau pemeriksaan medis.
Analisis kelompok bersifat penjajakan, sehingga perbedaan berdasarkan usia, tempat tinggal, dan tingkat disabilitas perlu dikonfirmasi oleh penelitian lebih besar.
Program dihentikan lebih awal. Program awalnya direncanakan berjalan lebih dari dua tahun hingga anak-anak lulus, tetapi terhenti setelah 18 bulan akibat pandemi COVID-19.
Belum mengukur gigi berlubang dan kualitas hidup, sehingga dampak jangka panjangnya belum diketahui.
Setiap program perlu disesuaikan. Karena program dirancang bersama sekolah tertentu, hasilnya belum tentu bisa langsung diterapkan di sekolah lain tanpa penyesuaian.