Program CEME: Perawatan Mulut Tekan Pneumonia Pasien Stroke

Sikat, Latih, Pijat, Edukasi: Program Perawatan Mulut Sederhana yang Pangkas Risiko Pneumonia Pasien Stroke hingga Dua Pertiga
Pasien stroke yang kesulitan menelan sangat rentan terkena radang paru dalam minggu pertama setelah serangan. Sebuah uji klinis di Tiongkok menguji program perawatan mulut bernama CEME, yang menggabungkan empat hal: membersihkan mulut, melatih otot mulut, memijat area mulut dan kelenjar ludah, serta mengajarkan cara menelan yang aman. Hasilnya, angka pneumonia pada pasien yang menjalani program ini sekitar 10%, jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 32% pada pasien yang mendapat perawatan mulut biasa.
Ketika Menelan Menjadi Berbahaya
Stroke dapat merusak bagian otak yang mengendalikan proses menelan. Kondisi ini disebut disfagia pascastroke. Penderitanya bisa tersedak, batuk saat minum, atau tanpa sadar membiarkan makanan, minuman, dan air liur masuk ke saluran napas.
Masalahnya bertambah karena mulut pasien stroke sering berada dalam kondisi buruk. Rasa di bibir, wajah, dan lidah bisa berkurang, sehingga sisa makanan tertinggal di mulut tanpa disadari. Otot mulut melemah, membuat makanan sulit dikunyah dan didorong ke tenggorokan. Produksi air liur juga bisa menurun, padahal air liur berperan membersihkan mulut, melawan bakteri, dan melicinkan makanan saat ditelan.
Akibatnya, bakteri di mulut berkembang biak. Ketika air liur atau sisa makanan yang mengandung bakteri ini masuk ke paru-paru, terjadilah pneumonia terkait stroke. Komplikasi ini dialami 5–56% pasien stroke, risikonya jauh lebih tinggi pada pasien yang sulit menelan, dan dapat memperberat kecacatan, menurunkan kualitas hidup, hingga meningkatkan risiko kematian.
Selama ini, banyak penelitian perawatan mulut untuk pasien stroke berfokus pada satu hal saja, misalnya obat kumur antibakteri atau alat khusus. Masih sedikit yang menggabungkan kebersihan mulut, rehabilitasi menelan, dan perangsangan air liur dalam satu program.
Dari Penelitian Sebelumnya Lahir Program CEME
Tim peneliti dari Rumah Sakit Afiliasi Kedua Army Medical University di Chongqing, Tiongkok, sebelumnya meneliti 211 pasien disfagia pascastroke. Mereka menemukan bahwa pneumonia lebih banyak terjadi pada pasien dengan kesehatan mulut yang buruk, air liur yang sedikit, kebersihan mulut yang kurang, serta kemampuan menelan yang terganggu.
Berdasarkan temuan itu, dan mengikuti panduan internasional untuk merancang program perawatan yang terdiri dari banyak komponen, mereka menyusun program CEME. Namanya diambil dari empat komponen utamanya:
C – Cleaning (Membersihkan Mulut)
Perawat membantu atau membimbing pasien membersihkan mulut minimal tiga kali sehari, termasuk menyikat gigi minimal dua kali, menggunakan sikat gigi elektrik. Lidah ikut dibersihkan. Setelah setiap makan, mulut diperiksa dan dibersihkan dari sisa makanan. Bila pasien tidak mampu mengatasi air liurnya sendiri, perawat menggunakan alat penyedot untuk mencegah air liur masuk ke saluran napas.
E – Exercises (Latihan Otot Mulut)
Setelah mulut bersih, pasien dibimbing melakukan empat rangkaian latihan, tiga kali sehari:
Bibir: membuka mulut, mengerucutkan bibir, memonyongkan bibir, lalu tersenyum lebar.
Pipi: menggembungkan pipi dan menahannya, lalu memindahkan udara dari pipi kiri ke kanan.
Lidah: menjulurkan lidah ke sudut-sudut mulut dan memutarnya mengelilingi gigi. Bagi pasien yang lidahnya lumpuh, perawat membantu menggerakkannya.
Mengunyah dan menelan: gerakan mengunyah tanpa makanan, menarik napas dalam, menahan napas sebentar, menelan kosong, lalu batuk.
M – Massage (Pijat Mulut, Titik Akupresur, dan Kelenjar Ludah)
Getaran sikat gigi elektrik dipakai untuk merangsang pipi bagian dalam, langit-langit lunak, dan pangkal lidah. Perawat juga menekan lembut beberapa titik akupresur dalam pengobatan tradisional Tiongkok di bawah lidah dan di bawah bibir bawah, serta memijat area tiga kelenjar ludah utama di pipi dekat telinga, di bawah rahang, dan di dasar mulut.
E – Education (Edukasi Menelan dengan Aman)
Perawat mengajarkan langsung kepada pasien dan keluarga cara makan dan menelan yang aman, antara lain:
memilih makanan bertekstur rata, lembut, dan mudah dikunyah;
menegakkan kepala tempat tidur minimal 30 derajat bila pasien belum bisa duduk, dan tidak membiarkan pasien makan sambil berbaring datar;
menundukkan kepala atau memiringkannya ke sisi tubuh yang sehat saat menelan;
meletakkan makanan di sisi mulut yang sehat dan menelan satu suapan dalam satu waktu, bahkan menelan berulang bila masih ada sisa;
tidak berbicara saat menelan;
tetap duduk selama 30 menit setelah makan;
membersihkan mulut segera setelah makan.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol, salah satu desain penelitian yang paling kuat untuk menilai efektivitas suatu perawatan. Penelitian berlangsung di bagian saraf rumah sakit tersebut pada Agustus hingga Desember 2023.
Dari 1.078 pasien stroke yang disaring, 84 pasien memenuhi syarat. Mereka adalah pasien dewasa yang mengalami gangguan menelan dan masuk rumah sakit dalam 24 jam pertama setelah stroke. Pasien kemudian dibagi secara acak:
42 pasien menjalani program CEME.
42 pasien mendapat perawatan mulut rutin sesuai panduan yang berlaku, yaitu menyikat gigi minimal dua kali sehari dengan bantuan perawat disertai edukasi umum.
Program dijalankan selama 7 hari, dimulai dalam 24 jam setelah pasien terdaftar. Di akhir penelitian, data lengkap tersedia dari 39 pasien kelompok CEME dan 37 pasien kelompok perawatan biasa.
Hasil utama yang dinilai adalah kejadian pneumonia dalam 7 hari pertama setelah stroke. Peneliti juga menilai kemampuan menelan, kesehatan mulut secara umum, kebersihan mulut (jumlah plak), produksi air liur, dan tingkat keparahan stroke. Penilaian dilakukan oleh petugas yang tidak mengetahui pasien berada di kelompok mana, sehingga hasilnya lebih objektif.
Hasilnya
1. Pneumonia turun drastis
Dalam seminggu pertama setelah stroke, pneumonia terjadi pada 4 dari 39 pasien (10,3%) di kelompok CEME, dibandingkan 12 dari 37 pasien (32,4%) di kelompok perawatan biasa. Artinya, risiko pneumonia pada kelompok CEME kira-kira sepertiga dari kelompok perawatan biasa, dan perbedaan ini bermakna secara statistik.
2. Mulut lebih bersih dan lebih sehat
Kebersihan mulut membaik pada kedua kelompok, yang menunjukkan bahwa perawatan mulut rutin pun sudah bermanfaat. Namun perbaikannya lebih besar pada kelompok CEME. Sekitar 87% pasien CEME mencapai kebersihan mulut yang baik, dibandingkan sekitar 68% pada kelompok perawatan biasa. Skor kesehatan mulut secara keseluruhan juga lebih baik pada kelompok CEME.
Para peneliti menyoroti peran sikat gigi elektrik. Getarannya yang cepat lebih efektif mengangkat plak dibandingkan sikat gigi biasa, dan lebih mudah digunakan oleh pasien stroke yang sebagian tubuhnya lemah atau lumpuh.
3. Kemampuan menelan air membaik
Hasil tes menelan air pada kelompok CEME lebih baik dibandingkan kelompok perawatan biasa. Peneliti menduga latihan otot bibir, pipi, dan lidah, serta rangsangan getaran sikat gigi elektrik di dalam mulut, membantu memperkuat refleks menelan.
4. Hal yang belum berubah
Beberapa hal tidak berbeda di antara kedua kelompok:
Kemampuan makan lewat mulut sehari-hari. Peneliti menjelaskan bahwa perbaikan di aspek ini biasanya butuh waktu jauh lebih lama, bahkan bisa sampai enam bulan, sementara program ini hanya berjalan satu minggu.
Produksi air liur. Meski ada pijat titik akupresur dan kelenjar ludah, jumlah air liur tidak meningkat dibandingkan kelompok perawatan biasa. Penelitian lain yang menemukan manfaat pijat kelenjar ludah umumnya berlangsung minimal tiga bulan. Selain itu, jalur saraf yang rusak akibat stroke, obat-obatan, dan pola makan seperti makanan lunak atau selang makan juga bisa memengaruhi produksi air liur.
Tingkat keparahan stroke, yang memang tidak diharapkan berubah oleh perawatan mulut.
Tidak ada efek samping yang tercatat akibat program ini, seperti tersedak atau air masuk ke saluran napas saat perawatan mulut.
Catatan Penting dari Peneliti
Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan:
Jumlah pasien kecil dan penelitian hanya dilakukan di satu rumah sakit, sehingga hasilnya perlu dikonfirmasi oleh penelitian lebih besar di banyak rumah sakit.
Masa pengamatan hanya 7 hari, sehingga dampak jangka panjang, misalnya pada kemampuan makan, lama rawat inap, dan biaya perawatan, belum diketahui.
Sulit mengetahui komponen mana yang paling berperan, karena keempat komponen dijalankan bersamaan dan mungkin saling memperkuat. Peneliti menyarankan penelitian lanjutan yang memperkenalkan komponen satu per satu.
Jenis pasta gigi tidak diseragamkan. Pasien dianjurkan memakai pasta gigi berfluoride yang tidak banyak berbusa, tetapi merek dan kadar fluoridenya tidak ditentukan.