Kanker Gusi dan Dasar Mulut Ternyata Lebih Berbahaya? Studi 20 Tahun Ungkap Risiko yang Sering Terlewat
Lokasi Kanker di Dalam Mulut Ternyata Sangat Menentukan
Ketika mendengar istilah kanker mulut, banyak orang mengira semua jenisnya memiliki tingkat bahaya yang sama. Padahal, lokasi munculnya kanker di rongga mulut ternyata sangat memengaruhi perjalanan penyakit, peluang kekambuhan, hingga harapan hidup pasien.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Head & Neck menunjukkan bahwa kanker yang muncul pada gusi (gingiva) dan dasar mulut (floor of mouth) memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan kanker yang tumbuh di lidah. Temuan ini mendorong perlunya perhatian lebih besar terhadap kedua lokasi tersebut, mulai dari deteksi dini hingga penanganan setelah pengobatan.
Mengapa Lokasi Kanker Begitu Penting?
Rongga mulut terdiri dari beberapa bagian, seperti lidah, pipi bagian dalam, langit-langit mulut, gusi, hingga dasar mulut. Meskipun semuanya dapat mengalami kanker sel skuamosa mulut (oral squamous cell carcinoma atau OSCC), setiap lokasi memiliki karakteristik anatomi yang berbeda.
Misalnya, jaringan gusi relatif tipis dan berada sangat dekat dengan tulang rahang sehingga sel kanker lebih mudah menyebar ke tulang. Sementara itu, dasar mulut memiliki jaringan ikat yang longgar, banyak pembuluh limfa, dan saraf, sehingga memudahkan penyebaran sel kanker ke jaringan sekitar maupun kelenjar getah bening. Kondisi inilah yang diduga menyebabkan kanker pada kedua lokasi tersebut lebih agresif dibandingkan lokasi lainnya.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Penelitian ini merupakan studi retrospektif yang menganalisis data pasien kanker mulut yang menjalani operasi di Tianjin Medical University Cancer Institute & Hospital, Tiongkok, selama periode 2000–2020.
Dari lebih dari seribu data pasien yang tersedia, sebanyak 885 pasien memenuhi kriteria penelitian dan dianalisis lebih lanjut. Peneliti membandingkan karakteristik klinis, stadium penyakit, penyebaran ke kelenjar getah bening, angka kekambuhan, hingga tingkat kelangsungan hidup berdasarkan lokasi kanker di rongga mulut.
Selain itu, penelitian juga mengevaluasi faktor-faktor yang memengaruhi peluang hidup pasien, seperti stadium kanker, kebiasaan merokok, kualitas diferensiasi sel kanker, serta pemberian kemoterapi sebelum operasi (neoadjuvant chemotherapy).
Sebagian Besar Pasien Baru Datang Saat Penyakit Sudah Lanjut
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kanker paling sering ditemukan pada lidah (41,9%), disusul gusi (31,8%) dan dasar mulut (16,0%).
Yang mengkhawatirkan, sekitar dua pertiga pasien dengan kanker gusi maupun kanker dasar mulut sudah berada pada stadium III atau IV saat pertama kali didiagnosis. Kedua kelompok ini juga memiliki ukuran tumor yang lebih besar serta penyebaran ke kelenjar getah bening yang lebih sering dibandingkan kanker pada lidah.
Harapan Hidup Lebih Rendah Dibandingkan Kanker Lidah
Perbedaan lokasi kanker ternyata berpengaruh nyata terhadap peluang hidup pasien.
Pasien dengan kanker lidah memiliki angka kelangsungan hidup lima tahun sekitar 62,3%, sedangkan pada kanker gusi turun menjadi 49,8%. Kondisi paling berat ditemukan pada kanker dasar mulut, dengan angka kelangsungan hidup lima tahun hanya 37,3%.
Selain itu, kanker gusi memiliki kecenderungan mengalami kekambuhan lebih dini setelah operasi, sedangkan kanker dasar mulut menunjukkan penurunan harapan hidup yang semakin nyata dalam jangka panjang.
Merokok Memperburuk Prognosis Kanker Dasar Mulut
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah hubungan antara kebiasaan merokok dan kanker dasar mulut.
Peneliti menemukan bahwa pasien kanker dasar mulut yang memiliki riwayat penggunaan tembakau memiliki risiko kematian hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak merokok. Hal ini diduga karena zat karsinogen dari asap maupun produk tembakau lebih mudah mengendap di dasar rongga mulut yang letaknya paling rendah, sementara jaringan di area tersebut juga lebih tipis dan rentan terhadap kerusakan.
Kemoterapi Sebelum Operasi Memberikan Harapan pada Kanker Gusi
Berbeda dengan kanker dasar mulut, penelitian ini menemukan bahwa pemberian kemoterapi sebelum operasi (neoadjuvant chemotherapy) berkaitan dengan penurunan risiko kematian pada pasien kanker gusi.
Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan terapi yang disesuaikan dengan lokasi kanker dapat memberikan manfaat yang berbeda pada setiap pasien. Peneliti juga menilai bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami mengapa respons terhadap kemoterapi berbeda antar lokasi kanker di rongga mulut.
Mengapa Kanker Gusi Sering Terlambat Dikenali?
Menurut peneliti, kanker gusi sering kali menyerupai penyakit gusi biasa sehingga mudah diabaikan. Selain itu, letaknya yang dekat dengan tulang memungkinkan penyebaran terjadi lebih cepat sebelum gejala menjadi jelas.
Karena itu, lesi yang tampak tidak kunjung sembuh, benjolan pada gusi, perdarahan yang menetap, atau perubahan jaringan di rongga mulut sebaiknya segera diperiksa oleh dokter gigi atau dokter spesialis terkait. Deteksi dini dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan secara signifikan.
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa tidak semua kanker mulut memiliki karakteristik yang sama. Kanker yang muncul pada gusi dan dasar mulut cenderung didiagnosis pada stadium lebih lanjut, lebih sering menyebar ke kelenjar getah bening, serta memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan kanker lidah.
Temuan ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan pada gusi dan dasar mulut, memperkuat program deteksi dini, mendorong penghentian kebiasaan merokok, serta memberikan terapi yang lebih sesuai dengan lokasi kanker. Dengan pendekatan yang lebih spesifik, peluang hidup pasien diharapkan dapat terus ditingkatkan.
Referensi
Li H, Ding Y, Wu Y, Fang Y, Li X, Shi W, Chen S, Yang A, Zhang J, Shi R, Jing C, Wang X, Duan Y. Greater Attention to Gingival Cancer and Floor of Mouth Cancer: Based on a Retrospective Analysis of Oral Cancer Across Different Subsites. Head & Neck. 2026;48:1351–1360.https://doi.org/10.1002/hed.70145