Prevalensi Impaksi Gigi Taring Analisis CBCT

Gigi Tumbuh Terpendam Ternyata Cukup Umum, Gigi Taring Jadi yang Paling Sering Mengalami
Pemeriksaan sejak dini dapat mencegah perawatan yang lebih rumit di kemudian hari
Pernahkah Anda mendengar istilah gigi impaksi atau gigi tumbuh terpendam? Kondisi ini terjadi ketika gigi permanen gagal tumbuh ke permukaan rongga mulut karena terhalang oleh jaringan, tulang, atau posisi gigi yang tidak normal. Akibatnya, gigi tetap berada di dalam tulang rahang meskipun waktu erupsinya sudah seharusnya tiba.
Gigi impaksi bukan hanya memengaruhi penampilan senyum. Jika tidak terdeteksi sejak awal, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan mengunyah, kesulitan berbicara, menggeser posisi gigi lain, hingga meningkatkan risiko kerusakan akar gigi di sekitarnya. Oleh karena itu, diagnosis dini menjadi salah satu kunci keberhasilan perawatan ortodonti.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam BMC Oral Health mencoba menggambarkan seberapa sering gigi impaksi terjadi pada masyarakat Mesir serta bagaimana posisi gigi-gigi tersebut menggunakan teknologi Cone Beam Computed Tomography (CBCT), yaitu pemeriksaan radiografi tiga dimensi yang mampu menunjukkan posisi gigi dengan lebih akurat.
Mengapa posisi gigi impaksi penting diketahui?
Ketika gigi permanen tidak kunjung tumbuh, dokter gigi perlu mengetahui letak sebenarnya dari gigi tersebut sebelum menentukan terapi. Posisi gigi yang berada di sisi bibir, sisi langit-langit mulut, maupun di tengah tulang rahang akan memengaruhi teknik pembedahan maupun perawatan ortodonti yang dipilih.
Selain itu, gigi impaksi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti masih bertahannya gigi susu, adanya gigi tambahan (supernumerary teeth), kista, trauma pada masa anak-anak, hingga faktor genetik. Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan radiografi menjadi bagian penting dalam proses diagnosis.
Apa yang dilakukan peneliti?
Penelitian ini menggunakan desain retrospektif dengan menganalisis 4.522 foto panoramik pasien dari berbagai pusat radiologi di Alexandria, Mesir. Seluruh radiografi diperiksa untuk menemukan gigi permanen yang mengalami impaksi, tidak termasuk gigi molar ketiga (gigi bungsu).
Apabila ditemukan gigi impaksi, peneliti kemudian mengevaluasi hasil pemeriksaan CBCT pasien untuk mengetahui:
apakah gigi berada di rahang atas atau rahang bawah,
apakah berada di sisi kanan atau kiri,
serta apakah posisinya mengarah ke bibir (labial/bukal), ke arah lidah atau langit-langit (lingual/palatal), atau berada di tengah tulang alveolar.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh gambaran tiga dimensi yang jauh lebih akurat dibandingkan radiografi konvensional saja.
Gigi taring menjadi yang paling sering mengalami impaksi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 7% dari seluruh pasien memiliki sedikitnya satu gigi permanen yang mengalami impaksi.
Menariknya, sebagian besar pasien hanya memiliki satu gigi impaksi, sedangkan kasus dengan banyak gigi impaksi ditemukan sangat jarang.
Jenis gigi yang paling sering mengalami impaksi adalah:
Gigi taring (canine) sebanyak 72,1% dari seluruh gigi impaksi.
Premolar kedua sebanyak 16%.
Insisivus sentral (gigi seri tengah) sebanyak 7,3%.
Temuan ini memperkuat hasil berbagai penelitian sebelumnya yang juga menunjukkan bahwa gigi taring merupakan gigi permanen yang paling rentan mengalami gangguan erupsi.
Rahang atas lebih sering mengalami gigi impaksi
Peneliti juga menemukan bahwa sekitar 77,1% gigi impaksi berada di rahang atas (maksila), sedangkan hanya 22,9% yang ditemukan di rahang bawah.
Secara khusus:
gigi seri,
gigi taring,
dan premolar pertama