Skip to Content

Prevalensi Impaksi Gigi Molar Ketiga Yaman

July 15, 2026 by
Carigi Indonesia

Prevalensi Impaksi Gigi Molar Ketiga Yaman


Gigi Bungsu Masih Jadi Juara Penyebab Gigi Impaksi, Studi Besar di Yaman Ungkap Polanya

Pemeriksaan radiografi panoramik membantu mendeteksi gigi terpendam sebelum menimbulkan komplikasi

Gigi yang tidak kunjung tumbuh meskipun sudah waktunya erupsi dikenal sebagai gigi impaksi atau gigi terpendam. Kondisi ini terjadi ketika gigi gagal mencapai posisi normal di rongga mulut akibat kurangnya ruang, adanya hambatan fisik, atau arah pertumbuhan gigi yang tidak sesuai.

Pada banyak orang, gigi impaksi tidak menimbulkan keluhan pada awalnya. Namun, jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu berbagai masalah, seperti gigi berlubang, radang gusi di sekitar gigi yang belum tumbuh sempurna, kerusakan akar gigi di sebelahnya, hingga terbentuknya kista.

Untuk mengetahui seberapa sering kondisi ini terjadi, sekelompok peneliti dari Yaman melakukan penelitian berskala besar menggunakan foto panoramik gigi. Hasilnya dipublikasikan dalam BMC Oral Health tahun 2026 dan memberikan gambaran mengenai pola gigi impaksi pada ribuan pasien di Kota Sana'a.

Mengapa gigi impaksi perlu mendapat perhatian?

Erupsi gigi merupakan proses alami ketika gigi permanen tumbuh menembus gusi hingga mencapai posisi fungsional. Namun, proses ini tidak selalu berjalan lancar. Hambatan berupa ruang rahang yang sempit, arah pertumbuhan gigi yang abnormal, maupun keberadaan jaringan atau gigi lain dapat menyebabkan gigi tetap tertanam di dalam tulang.

Selain menyebabkan rasa tidak nyaman, gigi impaksi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya karies, penyakit periodontal, resorpsi akar gigi tetangga, bahkan perubahan patologis berupa kista atau tumor odontogenik. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum muncul komplikasi yang lebih serius.

Apa yang dilakukan para peneliti?

Penelitian ini menggunakan desain retrospektif potong lintang (cross-sectional) dengan menganalisis 16.575 foto radiografi panoramik digital yang diambil dari 12 pusat pencitraan radiologi di Kota Sana'a, Yaman, selama periode 2020–2022.

Peneliti mengevaluasi setiap radiografi untuk mengetahui keberadaan gigi impaksi. Selanjutnya, mereka menganalisis berbagai karakteristik, antara lain:

  • usia dan jenis kelamin pasien,

  • jenis gigi yang mengalami impaksi,

  • lokasi gigi pada rahang atas atau bawah,

  • arah kemiringan (angulasi),

  • kedalaman impaksi,

  • serta temuan radiografis lain seperti karies, resorpsi akar, dan dugaan adanya kista.

Pendekatan ini memberikan gambaran yang cukup komprehensif mengenai pola gigi impaksi berdasarkan hasil pemeriksaan radiografi panoramik.

Sekitar satu dari tujuh radiografi menunjukkan adanya gigi impaksi

Dari seluruh radiografi yang diperiksa, sebanyak 2.378 menunjukkan adanya sedikitnya satu gigi impaksi. Dengan demikian, prevalensi berdasarkan radiografi mencapai 14,3%.

Kasus paling banyak ditemukan pada kelompok usia 20–29 tahun, yaitu sekitar 42% dari seluruh pasien dengan gigi impaksi. Peneliti juga menemukan bahwa perempuan lebih sering mengalami gigi impaksi dibandingkan laki-laki, dengan proporsi 60% berbanding 40%.

Temuan ini menunjukkan bahwa masa dewasa muda merupakan periode ketika gigi impaksi paling sering teridentifikasi, terutama karena pada usia tersebut gigi bungsu umumnya sedang atau baru menyelesaikan proses erupsi.

Gigi bungsu mendominasi hampir seluruh kasus

Hasil yang paling menonjol dari penelitian ini adalah dominasi gigi molar ketiga atau gigi bungsu.

Sebanyak 85,9% dari seluruh gigi impaksi merupakan gigi bungsu. Posisi berikutnya ditempati oleh gigi taring (12,2%), sedangkan jenis gigi lain seperti premolar, molar pertama dan kedua, maupun gigi seri hanya menyumbang sebagian kecil kasus.

Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian di negara lain yang juga menunjukkan bahwa gigi bungsu merupakan gigi yang paling rentan mengalami impaksi karena tumbuh paling akhir, ketika ruang pada rahang sering kali sudah terbatas.

Pola impaksi yang paling sering ditemukan

Selain mengetahui jenis gigi yang terdampak, penelitian ini juga menggambarkan pola posisi gigi impaksi.

Peneliti menemukan bahwa:

  • angulasi vertikal merupakan pola yang paling banyak ditemukan (36,5%),

  • diikuti mesioangular (34,5%),

  • sedangkan angulasi horizontal, distoangular, dan inverted ditemukan dalam jumlah yang lebih sedikit.

Berdasarkan tingkat impaksi, Level B menjadi kategori yang paling sering dijumpai. Dari sisi kedalaman, partial bony impaction, yaitu gigi yang masih sebagian tertutup tulang, merupakan kondisi yang paling banyak ditemukan.

Banyak gigi impaksi disertai tanda-tanda masalah lain

Penelitian ini juga mencatat adanya berbagai temuan radiografis yang berkaitan dengan gigi impaksi.

Sekitar 50,8% gigi impaksi menunjukkan tanda radiografis yang mengarah pada karies gigi, sedangkan 44,2% memperlihatkan gambaran yang mengarah pada resorpsi akar gigi di sebelahnya. Selain itu, sekitar 4,2% kasus menunjukkan dugaan adanya lesi kistik.

Walaupun temuan tersebut berasal dari interpretasi radiografi dan belum merupakan diagnosis klinis pasti, hasil ini menunjukkan bahwa gigi impaksi berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi apabila tidak dipantau atau ditangani dengan baik.

Apa arti temuan ini bagi masyarakat?

Penelitian ini menegaskan bahwa pemeriksaan radiografi panoramik merupakan metode skrining yang efektif untuk mendeteksi gigi impaksi dan memperkirakan karakteristiknya.

Bagi masyarakat, khususnya remaja akhir dan dewasa muda, pemeriksaan gigi secara rutin menjadi langkah penting untuk mengetahui apakah terdapat gigi yang gagal tumbuh dengan normal. Jika ditemukan tanda-tanda impaksi, dokter gigi dapat menentukan apakah gigi cukup dipantau, memerlukan perawatan ortodonti, atau perlu dilakukan tindakan pencabutan.

Peneliti juga mengingatkan bahwa hasil radiografi harus selalu dikombinasikan dengan pemeriksaan klinis, dan bila diperlukan dapat dilengkapi dengan pemeriksaan Cone Beam Computed Tomography (CBCT) agar diagnosis dan perencanaan perawatan menjadi lebih akurat.

Kesimpulan

Studi multicenter ini menunjukkan bahwa 14,3% radiografi panoramik pasien di Kota Sana'a memperlihatkan adanya sedikitnya satu gigi impaksi. Kasus paling sering ditemukan pada dewasa muda usia 20–29 tahun, lebih banyak terjadi pada perempuan, dan didominasi oleh gigi bungsu.

Mayoritas gigi impaksi memiliki angulasi vertikal atau mesioangular dengan kedalaman partial bony impaction, serta sering disertai gambaran radiografis yang mengarah pada karies maupun resorpsi akar.

Temuan ini memperkuat pentingnya pemeriksaan radiografi sebagai langkah awal untuk mendeteksi gigi impaksi sejak dini sehingga komplikasi dapat dicegah melalui penanganan yang tepat.

Referensi 

Ghithan BA, Ali MM, Al-Sabai KM, Al-Arabi AM, Al-Wadei SM, Abdulghani AS, Al-Ariqi BF, Salem LG, Othman AA, Al-Lakami B. Radiograph-based epidemiology of impacted teeth in Sana'a City, Yemen: a multicenter retrospective study. BMC Oral Health. 2026;26:1174. https://doi.org/10.1186/s12903-026-08453-w

Carigi Indonesia July 15, 2026
Share this post
Tags
Archive
Prevalensi Impaksi Gigi Taring Analisis CBCT