Prevalensi Defisiensi Vitamin D Pasien Ortodontik

Mau Pasang Behel? Penelitian Terbaru Menemukan 70% Calon Pasien Ternyata Kekurangan Vitamin D
Bayangkan Anda datang ke klinik gigi untuk satu urusan yang terdengar sederhana: memasang behel supaya susunan gigi lebih rapi. Namun sebelum kawat pertama terpasang, dokter justru meminta sampel darah Anda. Hasilnya mengejutkan bukan soal gigi, melainkan kadar vitamin D dalam darah yang ternyata rendah. Dan Anda tidak sendirian: dari setiap sepuluh orang yang diperiksa, tujuh berada dalam kondisi serupa.
Yang membuat temuan ini makin menarik adalah lokasinya: Madinah, Arab Saudi salah satu wilayah paling berlimpah sinar matahari di dunia. Padahal vitamin D sering dijuluki "vitamin sinar matahari", karena tubuh justru memproduksinya saat kulit terpapar cahaya matahari. Lalu bagaimana mungkin begitu banyak orang di sana kekurangan?
Paradoks inilah yang diangkat sebuah penelitian yang baru terbit di jurnal BMC Oral Health pada Agustus 2026.
Kenapa Urusan Behel Sampai Mengecek Vitamin D?
Sekilas, memasang behel dan mengukur kadar vitamin D terdengar seperti dua hal yang tak berhubungan. Tapi ada benang merahnya.
Behel bekerja dengan cara menggeser gigi sedikit demi sedikit. Agar gigi bisa berpindah tempat, tulang di sekitarnya harus terus-menerus "dibongkar lalu dibangun ulang" sebuah proses alami yang disebut remodeling tulang. Nah, vitamin D adalah salah satu pemain penting dalam urusan tulang dan penyerapan kalsium. Secara teori, kadar vitamin D bisa ikut memengaruhi seberapa lancar tulang berespons ketika gigi digeser.
Karena alasan itulah sebagian peneliti menduga vitamin D mungkin berkaitan dengan jalannya perawatan behel. Namun dan ini penting untuk digarisbawahi sejak awal bukti ilmiahnya masih sangat terbatas. Sebuah tinjauan besar yang merangkum 20 kajian sistematis sebelumnya menyimpulkan bahwa bukti soal pengaruh vitamin D terhadap hasil perawatan behel masih tipis, tidak konsisten, dan tingkat keyakinannya sangat rendah, sehingga belum bisa dijadikan pegangan dalam praktik sehari-hari. Dengan kata lain, ini masih wilayah tanda tanya, bukan kesimpulan yang sudah jadi.
Apa yang Sebenarnya Diteliti
Di sinilah penelitian ini perlu dipahami dengan jujur: penelitian ini tidak menguji apakah vitamin D membuat behel bekerja lebih cepat atau lebih baik. Yang dilakukan para peneliti lebih mendasar mereka ingin tahu seberapa umum kekurangan vitamin D di antara orang-orang yang datang untuk pasang behel, sekaligus memetakan apa artinya hal itu bagi perencanaan penelitian di masa depan.
Tim peneliti dari Universiti Sains Malaysia bekerja sama dengan Prince Sultan Armed Forces Hospital di Madinah, Arab Saudi. Selama Januari hingga Maret 2026, mereka mendekati 525 orang dewasa yang sedang dievaluasi untuk pemasangan behel cekat lengkap. Setelah menyaring peserta (misalnya menyisihkan mereka yang sedang minum suplemen vitamin D, sedang hamil atau menyusui, atau punya kondisi kesehatan yang bisa mempengaruhi metabolisme vitamin D), tersisa 400 peserta berusia 18–40 tahun yang menjadi kelompok utama analisis.
Dari setiap peserta, diambil sampel darah di pagi hari, lalu diperiksa kadar vitamin D-nya (dalam bahasa medis: 25-hidroksi-vitamin D) menggunakan metode laboratorium yang dianggap paling akurat, yaitu LC-MS/MS. Ambang "kekurangan" ditetapkan pada kadar di bawah 50 nmol/L (setara sekitar 20 ng/mL) batas yang lazim dipakai dalam pedoman kesehatan internasional.
Hasilnya: Tujuh dari Sepuluh Kekurangan
Angka yang muncul cukup mencolok. Sebanyak 280 dari 400 peserta (70%) mengalami kekurangan vitamin D. Rata-rata kadar vitamin D dalam kelompok ini pun berada di bawah ambang sehat.
Beberapa temuan yang menonjol:
Perempuan lebih banyak yang kekurangan dibanding laki-laki sekitar 74,6% pada perempuan berbanding 63,7% pada laki-laki, sebuah selisih yang secara statistik bermakna.
Pola makan tampak ikut berperan. Peserta yang setiap hari mengonsumsi sumber vitamin D (seperti ikan berlemak, kuning telur, atau susu yang difortifikasi) cenderung lebih jarang mengalami kekurangan.
Yang justru mengejutkan: faktor-faktor yang biasa kita kira paling menentukan seperti seberapa sering seseorang terpapar matahari, seberapa tertutup pakaiannya, usia, berat badan, atau tingkat aktivitas fisik dalam kelompok ini tidak menunjukkan kaitan yang jelas dengan kekurangan vitamin D.
Mengapa Bisa Kekurangan di Negeri yang Terik?
Temuan terakhir tadi terdengar berlawanan dengan akal sehat. Bukankah semakin sering kena matahari mestinya semakin tinggi vitamin D-nya?
Para peneliti menjelaskan bahwa hasil ini perlu dibaca hati-hati. Salah satu kemungkinannya: karena kekurangan vitamin D begitu meluas di kelompok ini hampir semua orang kadarnya rendah perbedaan gaya hidup antarindividu jadi sulit "terlihat" secara statistik. Selain itu, informasi soal paparan matahari dan pakaian dikumpulkan lewat kuesioner sederhana, bukan pengukuran presisi, sehingga gambarannya kasar.
Yang jelas, fenomena "kekurangan di negeri yang justru berlimpah matahari" bukan hal baru di kawasan Timur Tengah. Berbagai survei di Arab Saudi sebelumnya melaporkan angka kekurangan vitamin D yang serupa tingginya sekitar 70% hingga 85%. Gaya hidup yang lebih banyak di dalam ruangan, menghindari terik siang, serta pakaian yang menutup sebagian besar tubuh diduga menjadi penyumbangnya, meski dalam studi ini masing-masing faktor tak berdiri sendiri sebagai penentu.
Yang Perlu Digarisbawahi: Ini Bukan Bukti Behel Jadi Lebih Cepat
Godaan terbesar saat membaca berita seperti ini adalah menyimpulkan, "Berarti kalau mau pasang behel, vitamin D harus dicukupi dulu supaya cepat rapi." Sayangnya, penelitian ini tidak membuktikan hal itu. Para peneliti sendiri berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak mengukur kecepatan pergerakan gigi, rasa nyeri, maupun hasil akhir perawatan.
Memang ada penelitian terdahulu yang mengisyaratkan kemungkinan kaitan misalnya satu studi menemukan gigi bergerak sedikit lebih lambat pada pasien yang kekurangan vitamin D. Namun studi itu berskala kecil, tidak dirancang secara ketat, sehingga hanya menunjukkan kemungkinan hubungan, bukan sebab-akibat. Sampai ada uji klinis besar yang benar-benar menguji hal ini, klaim "vitamin D mempercepat behel" tetap belum bisa dipastikan.
Lalu, apa gunanya penelitian ini kalau begitu? Justru di sinilah letak kontribusinya yang cerdas. Bila suatu saat ada peneliti yang ingin menguji manfaat vitamin D pada perawatan behel dan hanya ingin melibatkan pasien dengan kadar vitamin D "cukup" penelitian ini memberi gambaran nyata soal betapa beratnya proses penyaringannya. Dengan kekurangan yang mencapai 70%, peneliti mungkin harus memeriksa tiga hingga enam orang hanya untuk menemukan satu peserta yang memenuhi syarat. Ini bukan sekadar angka statistik; ini soal biaya, waktu, dan tenaga laboratorium yang sangat nyata. Penelitian ini, dengan kata lain, adalah semacam "peta jalan" bagi riset berikutnya.
Apa Artinya untuk Kita?
Meski dilakukan jauh di Arab Saudi dan berfokus pada calon pasien behel, pesan besar penelitian ini terasa dekat dengan kita. Indonesia pun negeri tropis yang berlimpah matahari sepanjang tahun, tetapi kekurangan vitamin D bukanlah hal asing di sini karena berlimpahnya matahari tidak otomatis berarti kita cukup vitamin D.
Beberapa hal yang bisa dipetik:
Berlimpah matahari ≠ cukup vitamin D. Gaya hidup di dalam ruangan dan pola paparan matahari yang minim bisa membuat kadar vitamin D tetap rendah, di mana pun kita tinggal.
Pola makan tetap penting. Sumber vitamin D dari makanan seperti ikan berlemak, telur, dan produk susu yang difortifikasi bisa membantu, terutama bila paparan matahari terbatas.
Kalau ragu, periksa, jangan tebak. Kadar vitamin D hanya bisa diketahui pasti lewat pemeriksaan darah. Suplementasi sebaiknya berdasarkan hasil pemeriksaan dan saran tenaga kesehatan, bukan asumsi.
Jangan buru-buru menarik kesimpulan soal gigi. Menjaga vitamin D itu baik untuk kesehatan tulang dan tubuh secara umum, tetapi belum ada bukti kuat bahwa hal itu akan mempercepat atau memperbaiki hasil perawatan behel Anda.