Skip to Content

Apa yang Kita Makan Membentuk "Kebun Bakteri" di Mulut, dan Air Liur Bisa Menjadi Jendelanya

November 3, 2026 by
Carigi Indonesia

Apa yang Kita Makan Membentuk "Kebun Bakteri" di Mulut, dan Air Liur Bisa Menjadi Jendelanya

bakteri

Mulut kita dihuni lebih dari 700 jenis mikroba, sebagian besar bakteri yang hidup berdampingan dengan tubuh. Keseimbangan "kebun bakteri" ini ternyata sangat dipengaruhi oleh apa yang kita makan. Sebuah tinjauan ilmiah dari Rumania dan Amerika Serikat merangkum bukti bahwa makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan cenderung mengganggu keseimbangan bakteri mulut, sedangkan makanan kaya serat, sayur, dan buah mendukung mulut yang lebih sehat. Para peneliti juga menyoroti dua hal yang jarang dibahas: paparan logam berat dari makanan dan potensi air liur sebagai alat pemeriksaan kesehatan yang sederhana tanpa jarum suntik. Namun sebagian besar bukti ini masih bersifat awal.

Mulut, Gerbang Pertama Tubuh

Mulut adalah pintu masuk saluran pencernaan. Bakteri yang hidup di dalamnya tidak hanya memengaruhi gigi dan gusi, tetapi juga ikut berperan dalam pencernaan, penyerapan zat gizi, dan sistem kekebalan tubuh.

Dalam kondisi sehat, bakteri di mulut berada dalam keadaan seimbang. Para ahli menyebutnya eubiosis. Bila keseimbangan ini terganggu, kondisi yang disebut disbiosis, bakteri penyebab penyakit dapat berkembang lebih banyak. Disbiosis di mulut tidak hanya dikaitkan dengan gigi berlubang dan penyakit gusi, tetapi juga dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit Alzheimer, dan beberapa jenis kanker.

Keseimbangan bakteri mulut dipengaruhi banyak hal. Para peneliti mencatat bahwa antibiotik, obat kumur antiseptik, rokok, penyakit mulut, dan kebiasaan menjaga kebersihan mulut merupakan faktor utama. Pola makan berperan sebagai faktor penting yang ikut membentuk dan mengubah komposisi bakteri tersebut.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari Stefan cel Mare University of Suceava, Rumania, dan Belmont University, Amerika Serikat, yang dipimpin Liliana Anchidin-Norocel, menyusun tinjauan naratif, yaitu merangkum dan membahas berbagai penelitian yang sudah ada. Mereka menelusuri penelitian yang terbit sejak tahun 2000 hingga 2025 di beberapa basis data ilmiah.

Penting dicatat, tinjauan ini bukan penelitian baru dan tidak menggunakan metode pencarian sistematis. Tujuannya adalah menyusun gambaran besar tentang hubungan antara makanan, bakteri mulut, air liur, dan kesehatan tubuh.

Bagaimana Makanan Memengaruhi Bakteri Mulut?

Gula dan karbohidrat olahan: mendorong ketidakseimbangan

Tinjauan sistematis yang dikutip dalam jurnal ini menemukan bahwa konsumsi gula tinggi mengurangi keragaman bakteri mulut dan mendorong pertumbuhan bakteri yang menghasilkan asam serta tahan terhadap asam, seperti Streptococcus mutans penyebab gigi berlubang. Akibatnya, lingkungan mulut menjadi lebih asam dan lebih mudah mengalami gigi berlubang.

Beberapa contoh penelitian yang dirangkum:

  • Pada orang dewasa sehat di Australia, asupan karbohidrat dan gula yang tinggi berkaitan dengan keragaman bakteri yang lebih rendah, lebih banyak bakteri Streptococcus, dan air liur yang lebih asam.

  • Pada anak usia 11–13 tahun di Finlandia, anak yang sering mengonsumsi camilan manis, seperti cokelat, permen, es krim, kue manis, jus manis, dan minuman ringan, memiliki komposisi bakteri air liur yang berbeda, dengan lebih banyak bakteri yang berkaitan dengan gigi berlubang dan penyakit gusi.

  • Pada hampir 1.000 orang dewasa di Amerika Serikat, mereka yang sering minum minuman manis memiliki keragaman bakteri yang lebih rendah dan lebih banyak bakteri penghasil asam.

  • Pada atlet muda di Italia, konsumsi camilan energi dan cokelat berkaitan erat dengan bakteri penyebab gigi berlubang dan kerusakan gigi.

Serat, sayur, dan buah: mendukung keseimbangan

Sebaliknya, pola makan sehat yang kaya bahan nabati dan serat serta rendah gula dan makanan olahan dikaitkan dengan plak yang lebih sedikit dan peradangan gusi yang lebih ringan.

  • Pada orang yang berisiko gangguan metabolik, diet tinggi serat dan rendah lemak selama delapan minggu memperbaiki kondisi gusi, termasuk berkurangnya perdarahan dan kedalaman kantong gusi, serta memperbaiki berat badan, gula darah, dan penanda peradangan.

  • Pada remaja di Turki, kualitas makanan yang lebih baik berkaitan dengan keragaman bakteri mulut yang lebih tinggi. Sebaliknya, obesitas berkaitan dengan keragaman yang lebih rendah.

  • Sayuran hijau yang kaya nitrat, polifenol dari buah dan sayur, serta asam lemak omega-3 dari ikan dikaitkan dengan bakteri yang lebih "ramah" dan berkurangnya bakteri penyebab penyakit.

Makanan fermentasi dan probiotik

Makanan fermentasi yang mengandung bakteri baik seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium diduga dapat membantu menekan bakteri penyebab gigi berlubang. Satu penelitian menemukan bahwa berkumur dengan jus buah lingonberry yang difermentasi selama enam bulan mengurangi bakteri penyebab penyakit dan meningkatkan bakteri baik.

Pola makan vegetarian dan vegan

Pola makan nabati diduga dapat mengurangi risiko penyakit gusi karena tinggi serat dan rendah lemak jenuh. Namun pola makan vegan juga dikaitkan dengan risiko erosi gigi dan gigi berlubang yang lebih tinggi, kemungkinan karena asupan kalsium dan vitamin B12 yang lebih rendah serta air liur yang lebih asam.

Logam Berat: Faktor yang Sering Terlupakan

Para peneliti menyoroti satu faktor yang jarang dibahas dalam penelitian bakteri mulut, yaitu logam berat seperti kadmium, timbal, merkuri, nikel, dan arsenik.

Logam berat dapat masuk ke tubuh melalui:

  • tanaman yang tumbuh di tanah tercemar,

  • serealia, ikan, dan makanan laut tertentu,

  • air minum yang tercemar,

  • sebagian makanan olahan,

  • serta asap rokok dan polusi lingkungan.

Bukti awal menunjukkan bahwa paparan logam berat, bahkan dalam kadar rendah, dapat mengganggu keragaman bakteri mulut, memicu peradangan, dan dikaitkan dengan gigi berlubang serta radang gusi. Namun peneliti menegaskan bahwa sebagian besar bukti ini masih berupa kaitan, banyak berasal dari penelitian hewan atau penelitian di daerah dengan pencemaran tinggi, dan belum ada standar untuk menilai kadar logam dalam air liur.

Air Liur: Alat Periksa Kesehatan Tanpa Jarum?

Air liur mengandung banyak zat yang mencerminkan kondisi tubuh, seperti elektrolit, hormon, zat peradangan, enzim, dan sisa metabolisme bakteri. Karena mudah diambil tanpa jarum, air liur dinilai menjanjikan sebagai alat pemeriksaan kesehatan.

Beberapa contoh yang dirangkum:

  • Gula dalam air liur berkaitan dengan kadar gula darah pada penderita diabetes.

  • Kalsium dalam air liur ditemukan lebih tinggi pada perempuan pascamenopause dengan kepadatan tulang yang rendah.

  • Vitamin D dalam air liur menunjukkan potensi mencerminkan kadar vitamin D dalam darah.

  • Pada penderita diabetes tipe 1, kadar gula, trigliserida, dan kolesterol dalam air liur berkaitan dengan kadarnya di dalam darah.

  • Penanda peradangan dalam air liur dapat membantu mendeteksi gangguan seperti obesitas yang tidak sehat secara metabolik dan PCOS pada remaja.

Namun para peneliti mengingatkan bahwa pemeriksaan air liur belum siap menggantikan pemeriksaan darah atau penilaian gizi standar. Hasilnya bisa dipengaruhi banyak hal, seperti cara pengambilan air liur, waktu pengambilan dalam sehari, dan metode analisis yang berbeda-beda.

Catatan Penting

Para peneliti mengakui bahwa pemeriksaan berbasis air liur masih menghadapi banyak kendala, antara lain belum adanya standar cara pengambilan dan analisis, serta minimnya penelitian jangka panjang untuk memastikan keakuratannya.

Ada beberapa hal lain yang patut dicermati pembaca (catatan redaksi):

  • Ini tinjauan naratif, bukan tinjauan sistematis. Penulis memilih dan merangkum penelitian tanpa metode pencarian dan penilaian kualitas yang baku, sehingga ada kemungkinan penelitian yang bertentangan tidak terangkum.

  • Sebagian besar penelitian yang dikutip berskala kecil. Banyak yang hanya melibatkan puluhan peserta, misalnya 14 anak, 29 orang, atau 40 remaja.

  • Kebanyakan hanya menunjukkan kaitan. Perubahan komposisi bakteri belum tentu berarti perubahan kesehatan yang nyata, dan banyak mekanisme masih diteliti pada hewan.

  • Pemeriksaan air liur masih tahap penelitian. Saat ini belum ada pemeriksaan air liur yang direkomendasikan secara rutin untuk menilai status gizi atau paparan logam berat.

Kesimpulan

Tinjauan ini memperkuat pesan bahwa pola makan berperan penting dalam membentuk keseimbangan bakteri di mulut. Makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan cenderung mendorong ketidakseimbangan bakteri dan lingkungan mulut yang lebih asam, sementara makanan kaya serat, sayur, buah, dan antioksidan mendukung mulut yang lebih sehat. Paparan logam berat dari makanan dan lingkungan disebut sebagai faktor yang perlu lebih banyak diteliti.

Para peneliti juga melihat potensi besar air liur sebagai cara sederhana untuk memantau kesehatan mulut dan tubuh di masa depan, meski masih diperlukan banyak penelitian sebelum dapat digunakan secara luas.

Bagi masyarakat, pesannya sederhana: apa yang Anda makan memengaruhi kesehatan mulut Anda. Batasi camilan dan minuman manis, terutama yang dikonsumsi berulang kali sepanjang hari. Perbanyak sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan ikan. Minum air putih yang cukup. Pola makan sehat tetap harus dibarengi dengan menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, membersihkan sela gigi, dan memeriksakan gigi secara rutin ke dokter gigi.

Referensi

Anchidin-Norocel L, Lobiuc A, Covasa M. Diet–Oral Microbiota Interactions and Salivary Biomarkers of Nutritional Health: A Narrative Review. Nutrients. 2026;18:396. DOI: https://doi.org/10.3390/nu18030396

Carigi Indonesia November 3, 2026
Share this post
Tags
Archive
Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Lebih Rentan Gigi Berlubang: Mengapa Kesehatan Mulut Mereka Tidak Boleh Dinomorduakan