Skip to Content

Saat Menyikat Gigi Dihentikan: Bagaimana Bakteri Mulut Berubah di Awal Gingivitis

February 5, 2026 by
Carigi Indonesia

berita kesehatan gigi

Saat Menyikat Gigi Dihentikan: Bagaimana Bakteri Mulut Berubah di Awal Gingivitis

Studi ini mengungkap dinamika cepat mikrobiota mulut ketika peradangan gusi mulai terbentuk

Gingivitis sering dianggap sebagai masalah gusi ringan yang mudah pulih. Namun, apa sebenarnya yang terjadi di dalam mulut ketika gingivitis mulai muncul? Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Frontiers in Cellular and Infection Microbiology memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana komunitas bakteri di mulut berubah secara cepat saat kebersihan mulut dihentikan sementara.

Melalui model gingivitis eksperimental pada individu sehat, para peneliti berhasil memantau perubahan mikrobiota di berbagai area mulut sejak kondisi sehat, saat peradangan berkembang, hingga fase pemulihan.

Mengapa Mikrobiota Mulut Penting?

Mulut manusia merupakan ekosistem mikroba yang sangat kompleks. Bakteri hidup di berbagai “niche” atau lokasi, seperti permukaan gigi, gusi, lidah, dan saliva. Dalam kondisi sehat, mikroorganisme ini berada dalam keseimbangan dengan tubuh inangnya.

Ketika keseimbangan ini terganggu—kondisi yang dikenal sebagai disbiosis—peradangan dapat muncul. Gingivitis merupakan contoh paling awal dan masih dapat dipulihkan dari gangguan ini, sehingga menjadi model ideal untuk mempelajari hubungan antara bakteri mulut dan peradangan gusi.

Bagaimana Penelitian Dilakukan?

Penelitian ini melibatkan 41 relawan dewasa sehat yang diikuti selama tiga fase utama:

  1. Fase baseline (2 minggu): Peserta menyikat gigi dengan cara dan alat yang distandarkan.

  2. Fase induksi gingivitis (2 minggu): Semua bentuk kebersihan mulut dihentikan—tidak menyikat gigi, tidak flossing, dan tidak menggunakan obat kumur.

  3. Fase pemulihan (1 minggu): Peserta kembali menyikat gigi seperti biasa.

Selama tujuh kali kunjungan, peneliti mengambil sampel dari enam lokasi berbeda di mulut, yaitu plak supragingiva, plak subgingiva, plak interdental, jaringan gingiva, lidah, dan saliva. Analisis dilakukan menggunakan teknik sekuensing gen 16S rRNA untuk menilai jumlah, keragaman, dan komposisi bakteri, serta dikaitkan dengan tanda klinis seperti plak dan perdarahan gusi.

Apa yang Terjadi Saat Tidak Menyikat Gigi?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons bakteri terhadap penghentian kebersihan mulut terjadi dengan cepat dan tidak seragam di setiap lokasi mulut.

Plak dan Perdarahan Gusi Ternyata Tidak Sama

Plak gigi meningkat secara signifikan selama fase tanpa menyikat gigi. Namun, penelitian ini menemukan bahwa plak dan perdarahan gusi dipengaruhi oleh mekanisme mikroba yang berbeda. Plak lebih berkaitan dengan peningkatan jumlah bakteri, sedangkan perdarahan gusi lebih berhubungan dengan perubahan jenis dan susunan bakteri, terutama pada plak supragingiva dan biofilm lidah.

Keragaman Bakteri Justru Meningkat

Menariknya, gingivitis tidak hanya ditandai oleh dominasi satu jenis bakteri “jahat”. Sebaliknya, beberapa lokasi seperti plak supragingiva, lidah, dan saliva menunjukkan peningkatan keragaman bakteri selama fase peradangan. Ini menandakan adanya pergeseran ekosistem mikroba yang kompleks, bukan sekadar pertumbuhan bakteri tertentu.

Perubahan Jenis Bakteri Kunci

Selama gingivitis, bakteri seperti Leptotrichia dan Prevotella meningkat, sementara bakteri yang sering dikaitkan dengan kondisi sehat, seperti Streptococcus, justru menurun. Perubahan ini paling jelas terlihat pada plak supragingiva, menjadikannya lokasi penting dalam proses awal gingivitis.

Setiap Bagian Mulut Bereaksi Berbeda

Salah satu temuan penting studi ini adalah bahwa setiap area di mulut memiliki respons yang berbeda terhadap gingivitis. Biofilm plak gigi mengalami perubahan paling besar, sementara mikrobiota lidah dan saliva relatif lebih stabil.

Meski begitu, komposisi bakteri pada lidah tetap berhubungan dengan tingkat perdarahan gusi, menunjukkan bahwa lidah dapat berperan sebagai “reservoir” bakteri yang memengaruhi kesehatan gusi secara tidak langsung.

Menariknya, meskipun kebersihan mulut kembali dilakukan, beberapa perubahan mikrobiota—terutama pada plak—masih bertahan lebih lama dibandingkan perbaikan klinis yang terlihat.

Makna Klinis bagi Kesehatan Gigi dan Mulut

Penelitian ini menegaskan bahwa gingivitis bukan sekadar akibat “banyaknya plak”, tetapi merupakan hasil interaksi kompleks antara jumlah bakteri, komposisinya, dan lokasi tempat bakteri hidup. Plak dan perdarahan gusi, meskipun sering dinilai bersama, mencerminkan proses biologis yang berbeda.

Pemahaman ini membuka peluang bagi pendekatan pencegahan dan perawatan yang lebih tepat sasaran—tidak hanya berfokus pada penghilangan plak, tetapi juga pada menjaga keseimbangan mikrobiota di seluruh rongga mulut.

Kesimpulan

Gingivitis tahap awal ditandai oleh perubahan mikrobiota yang cepat, dinamis, dan spesifik lokasi. Plak dan perdarahan gusi merupakan dua indikator klinis yang berbeda dengan dasar mikrobiologis yang tidak sepenuhnya sama. Dengan memahami dinamika ini, strategi pencegahan dan pengelolaan kesehatan periodontal dapat dikembangkan secara lebih efektif dan berbasis ekologi mikroba.

Referensi Artikel Asli

Keijser, B. J. F., van den Broek, T. J., van der Wurff, M., Dulos, R., Jagers, F., Kool, J., dkk. (2025). Oral bacterial community dynamics during induction of gingival inflammation. Frontiers in Cellular and Infection Microbiology, 15:1597690.

DOI: 10.3389/fcimb.2025.1597690



Carigi Indonesia February 5, 2026
Share this post
Tags
Archive
How Digital Systems Are Reshaping Dentistry