Penyakit Gusi Parah Terkait Risiko Kanker Paru yang Lebih Tinggi pada Lansia
Sebuah studi yang mengikuti lebih dari seribu lansia hingga 16 tahun menemukan bahwa mereka dengan penyakit gusi parah memiliki risiko kanker paru sekitar tiga kali lipat lebih tinggi—kaitan yang tetap bertahan bahkan setelah faktor merokok diperhitungkan. Menariknya, mempertahankan gigi asli justru tampak bersifat melindungi. Temuan ini menambah bukti bahwa kesehatan mulut penting bagi kesehatan seluruh tubuh.
Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa kesehatan mulut berkaitan erat dengan kesehatan seluruh tubuh—bahkan dengan penyakit seserius kanker. Salah satu kaitan yang tengah diteliti adalah antara penyakit gusi dan kanker paru. Namun ada satu tantangan besar dalam meneliti hubungan ini: kedua kondisi tersebut sama-sama dipicu oleh kebiasaan merokok. Jadi, apakah penyakit gusi benar-benar berkaitan dengan kanker paru secara mandiri, atau hanya "kebetulan" karena keduanya sama-sama akibat rokok?
Untuk menjawab pertanyaan rumit ini, sekelompok peneliti dari Brasil dan Amerika Serikat menganalisis data dari sebuah studi jangka panjang yang mengikuti para lansia hingga 16 tahun. Hasil kajian mereka diterbitkan dalam jurnal Oral Diseases pada 2026, dan menawarkan temuan yang menarik sekaligus perlu dibaca dengan cermat.
Konteks: Peradangan Kronis, Sang Penghubung antara Mulut dan Kanker
Kanker paru adalah salah satu kanker paling umum di dunia sekaligus penyebab kematian akibat kanker nomor satu. Sementara itu, penyakit gusi (periodontitis) adalah peradangan kronis yang menyerang jaringan penyangga gigi.
Kaitan antara keduanya sudah dilaporkan dalam berbagai penelitian sebelumnya. Bahkan, sebuah analisis gabungan menemukan bahwa penderita penyakit gusi memiliki risiko kanker paru sekitar 41% lebih tinggi. Diduga, benang merah yang menghubungkan keduanya adalah peradangan kronis: gusi yang terus-menerus meradang melepaskan zat-zat peradangan ke seluruh tubuh, dan peradangan sistemik ini diketahui berperan dalam perkembangan kanker.
Tantangannya, seperti disebut di awal, adalah merokok—faktor risiko utama kanker paru yang juga merupakan penyebab penyakit gusi. Karena itu, untuk mengetahui apakah penyakit gusi benar-benar berkaitan dengan kanker paru, sebuah penelitian harus mampu "memisahkan" pengaruh rokok. Inilah yang menjadi kekuatan studi ini.
Apa yang Dilakukan Peneliti
Penelitian ini memanfaatkan data dari studi Health ABC (Health, Aging and Body Composition)—sebuah studi kohort yang mengikuti 1.136 lansia yang menjalani pemeriksaan gusi, lalu memantau kondisi kesehatan mereka hingga 16 tahun ke depan. Karena mengikuti partisipan dari waktu ke waktu, desain ini lebih kuat dalam menilai urutan kejadian dibanding sekadar memotret satu titik waktu.
Peneliti menilai kondisi gusi para partisipan—termasuk kedalaman kantong gusi (semakin dalam, semakin parah penyakitnya) dan jumlah gigi asli yang tersisa—lalu melacak siapa saja yang kemudian mengalami kanker paru atau meninggal karenanya. Yang terpenting, mereka memperhitungkan faktor merokok secara cermat—tidak hanya status merokok, tetapi juga intensitasnya—sekaligus faktor lain seperti konsumsi alkohol, diabetes, dan indeks massa tubuh. Dengan begitu, mereka bisa menilai apakah kaitan penyakit gusi dengan kanker paru tetap bertahan setelah pengaruh rokok "dikeluarkan" dari perhitungan.
Hasilnya: Gusi Parah, Risiko Tiga Kali Lipat
Selama masa pengamatan, kanker paru muncul pada 4,4% partisipan dan menjadi penyebab kematian pada 3,3%. Namun temuan utamanya terletak pada perbandingan berdasarkan kondisi gusi.
Para lansia dengan penyakit gusi parah—yang ditandai dengan banyaknya kantong gusi yang dalam—memiliki risiko kanker paru sekitar tiga kali lipat lebih tinggi, dan risiko kematian akibat kanker paru yang juga sekitar tiga kali lipat. Yang membuat temuan ini kuat: kaitan tersebut tetap bertahan bahkan setelah faktor merokok, alkohol, diabetes, dan berat badan diperhitungkan. Bahkan di kalangan mereka yang pernah merokok, kaitan ini tetap terlihat jelas.
Temuan menarik lainnya berkaitan dengan jumlah gigi. Mempertahankan lebih banyak gigi asli ternyata tampak bersifat melindungi—setiap gigi yang masih ada dikaitkan dengan risiko kanker paru yang sedikit lebih rendah. Sebaliknya, semakin banyak gigi yang telah hilang, semakin tinggi risikonya. Dengan kata lain, kedua penanda buruknya kesehatan mulut—penyakit gusi parah dan kehilangan gigi—sama-sama mengarah ke risiko kanker paru yang lebih tinggi.
Mengapa Bisa Terkait?
Para peneliti menawarkan beberapa penjelasan yang menarik. Salah satu yang paling penting adalah bahwa kantong gusi yang dalam menandakan peradangan yang sedang aktif berlangsung—bukan sekadar bekas kerusakan masa lalu. Kantong-kantong dalam ini menjadi sumber zat-zat peradangan (seperti IL-6, TNF-α, dan protein C-reaktif) yang menyebar ke seluruh tubuh dan diketahui dapat mendorong perkembangan kanker.
Selain itu, bakteri yang bersarang di kantong gusi yang dalam—seperti Porphyromonas gingivalis dan Fusobacterium nucleatum—telah dikaitkan dengan proses kanker melalui gangguan pada sistem kekebalan dan peradangan. Bahkan, ada bukti bahwa Porphyromonas gingivalis dapat ditemukan di jaringan kanker paru itu sendiri. Adapun kaitan kehilangan gigi dengan risiko yang lebih tinggi mungkin mencerminkan perubahan keseimbangan bakteri mulut, sekaligus faktor sosial seperti keterbatasan akses ke perawatan gigi, gizi yang kurang baik, dan kondisi sosial-ekonomi yang lebih rendah.
Penting: Bagaimana dengan Peran Merokok?
Karena merokok adalah faktor risiko utama kanker paru sekaligus penyebab penyakit gusi, wajar jika muncul pertanyaan: jangan-jangan kaitan ini semata-mata akibat rokok? Para peneliti menangani kekhawatiran ini dengan serius.
Mereka memperhitungkan bukan hanya status merokok, tetapi juga intensitasnya (seberapa banyak dan lama seseorang merokok), dan hasilnya tetap konsisten—kaitan penyakit gusi dengan kanker paru tidak hilang. Ini menunjukkan bahwa pengaruh rokok saja kemungkinan tidak cukup untuk menjelaskan seluruh kaitan yang teramati. Meski demikian, para peneliti tetap jujur mengakui bahwa pengaruh rokok yang tersisa tidak bisa sepenuhnya disingkirkan—karena data riwayat merokok mungkin tidak sempurna, dan jumlah partisipan yang tidak pernah merokok terlalu sedikit untuk dianalisis secara meyakinkan. Karena itu, temuan ini sebaiknya dibaca sebagai kaitan yang kuat namun tetap perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
Apa Artinya untuk Kita
Bagi kita, penelitian ini memperkuat sebuah pesan yang kian jelas: kesehatan mulut adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan tubuh secara keseluruhan—termasuk dalam upaya pencegahan kanker. Merawat gusi dan mempertahankan gigi asli bukan hanya soal kenyamanan mengunyah, tetapi mungkin juga berkaitan dengan menekan peradangan kronis yang berdampak ke seluruh tubuh.
Tentu, pesan yang paling utama tetaplah bahwa tidak merokok adalah cara terpenting untuk mencegah kanker paru. Namun temuan ini menambahkan satu lapisan penting: menjaga kesehatan gusi—melalui kebersihan mulut yang baik dan perawatan gigi yang rutin—dapat menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan menyeluruh, terutama bagi para lansia.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, yang populasi lansianya terus bertambah dan di mana penyakit gusi sangat umum. Kesadaran bahwa merawat mulut juga berkaitan dengan risiko penyakit serius dapat mendorong perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan gigi dan gusi sepanjang usia.
Catatan Penting: Batasan Penelitian
Seperti kajian ilmiah yang jujur, penelitian ini juga terbuka soal keterbatasannya.
Pertama, para partisipan seluruhnya adalah lansia berusia 70–79 tahun di awal studi, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk kelompok usia yang lebih muda. Kedua, sebagai studi pengamatan, penelitian ini menunjukkan kaitan, bukan bukti sebab-akibat—meski desain jangka panjangnya memperkuat dugaan bahwa penyakit gusi mendahului kanker. Ketiga, seperti telah dibahas, pengaruh rokok yang tersisa tidak dapat sepenuhnya disingkirkan. Selain itu, penelitian ini tidak memiliki data mengenai pengobatan kanker paru yang diterima pasien (yang sangat memengaruhi kelangsungan hidup) maupun beberapa penanda aktivitas penyakit gusi lainnya. Para peneliti menyarankan penelitian lanjutan dengan metodologi yang lebih kuat untuk memperjelas hubungan ini.
Kesimpulan
Studi jangka panjang ini menemukan bahwa penyakit gusi parah dikaitkan dengan risiko kanker paru dan kematian akibatnya yang sekitar tiga kali lipat lebih tinggi pada lansia—dan mempertahankan gigi asli tampak bersifat melindungi. Yang memperkuat temuan ini, kaitan tersebut bertahan bahkan setelah faktor merokok diperhitungkan dengan cermat, meski tetap perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
Pesan yang bisa dibawa pulang: menjaga kesehatan mulut mungkin merupakan salah satu bagian dari menjaga kesehatan tubuh secara utuh, termasuk dalam mencegah penyakit serius. Bersama dengan pesan utama untuk tidak merokok, merawat gigi dan gusi sejak dini adalah investasi berharga bagi kesehatan jangka panjang—sebuah pengingat lagi bahwa mulut kita bukanlah bagian yang terpisah dari sisa tubuh.
Referensi
Menezes da Silveira T, Simonsick EM, Hilgert JB, Hugo FN, Muniz FWMG, Pola NM. Incident Lung Cancer and Mortality: Data From Health ABC Using Periodontal Status and Tooth Loss. Oral Diseases. 2026;32(6):1460–1470. DOI: https://doi.org/10.1111/odi.70178