Skip to Content

Periksa Gigi Ibu Hamil dan Janin

July 23, 2026 by
Carigi Indonesia

Periksa Gigi Ibu Hamil dan Janin

Periksa Gigi Ibu Hamil dan Janin

Yang Menahan Ibu Hamil ke Dokter Gigi, Ternyata Sering Bukan Soal Gigi 

Bayangkan seorang ibu muda di sebuah kabupaten kecil. Ia sedang hamil, gusinya sering berdarah, dan ada satu gigi geraham yang mulai berdenyut kalau kena dingin. Kabar baiknya: pemerintah menanggung penuh biaya perawatan giginya selama kehamilan. Gratis. Bahkan ada petugas kesehatan yang datang ke rumahnya untuk menjelaskan dan mendaftarkan ia ke sebuah klinik gigi.

Lalu, apakah ia datang?

Pertanyaan sesederhana itulah yang mendorong sekelompok peneliti dari University of Washington untuk mengangkat telepon dan menanyakannya langsung kepada 51 perempuan. Jawaban yang mereka temukan ternyata jauh lebih rumit dan jauh lebih manusiawi daripada sekadar "malas" atau "tidak tahu".


Kenapa Periksa Gigi Saat Hamil Itu Penting?

Selama ini, kunjungan ke dokter gigi saat hamil sering dianggap urusan yang bisa ditunda. Padahal, menurut para peneliti, ada setidaknya tiga alasan mengapa masa kehamilan justru merupakan momen emas untuk merawat mulut.

Pertama, kesehatan mulut ibu sendiri membaik. Perubahan hormon selama kehamilan membuat gusi lebih rentan meradang dan berdarah, sehingga masa ini justru butuh perhatian ekstra, bukan lebih sedikit.

Kedua dan ini yang sering luput merawat mulut ibu dapat mengurangi penularan bakteri penyebab gigi berlubang dari ibu ke anak. Bayi tidak lahir dengan bakteri karies di mulutnya. Bakteri itu berpindah, umumnya dari orang terdekat, lewat hal-hal sepele seperti mencicipi makanan bayi dengan sendok yang sama. Semakin sedikit bakteri di mulut ibu, semakin lambat pula bayi terinfeksi.

Ketiga, kunjungan ke dokter gigi membuka ruang untuk anticipatory guidance panduan antisipatif tentang cara merawat gigi bayi yang akan lahir, sebelum masalah muncul.

Singkatnya: merawat gigi ibu hamil bukan hanya soal ibunya. Ini investasi lintas generasi. Tidak heran jika naskah asli studi ini berjudul "An Intergenerational Approach to Oral Health Promotion" pendekatan antargenerasi untuk promosi kesehatan mulut.

Sebuah Kabupaten Kecil yang Mencoba Cara Berbeda

Penelitian ini berlatar di Klamath County, sebuah wilayah pedesaan di negara bagian Oregon, Amerika Serikat, dengan penduduk sekitar 66 ribu jiwa. Lebih dari separuh kelahiran di sana ditanggung Medicaid, program jaminan kesehatan pemerintah untuk warga berpenghasilan rendah.

Dinas Kesehatan setempat menjalankan sebuah program percontohan yang cukup progresif. Ibu hamil peserta Medicaid tidak sekadar diberi tahu bahwa layanan gigi mereka gratis. Mereka:

  • dikunjungi di rumah atau diberi sesi konseling satu-lawan-satu oleh seorang perawat gigi (dental hygienist) di pusat layanan ibu dan anak;

  • langsung "dititipkan" ke sebuah klinik gigi sebagai rumah perawatan tetap (dental home), bukan sekadar diberi daftar alamat.

Perawat gigi tersebut sekaligus berperan sebagai pendamping yang menemani proses dari awal sampai pasien benar-benar duduk di kursi dokter gigi.

Hasilnya terbilang mencolok. Evaluasi program melaporkan sekitar 55,8% ibu hamil yang berhak akhirnya benar-benar mendapat perawatan gigi angka yang jauh melampaui capaian di kabupaten lain maupun rata-rata negara bagian, yang saat itu masih di bawah 9%.

Tapi angka itu justru memunculkan pertanyaan lanjutan yang lebih menarik: kalau sudah dipermudah sedemikian rupa, apa yang masih menghalangi sebagian ibu untuk datang?

Yang Dilakukan Peneliti: Menelepon dan Mendengarkan

Di sinilah tim yang dipimpin Mai Le masuk. Alih-alih menyebar kuesioner pilihan ganda, mereka memilih pendekatan kualitatif metode riset yang tidak mengejar angka, melainkan mengejar alasan.

Langkah-langkahnya sederhana namun teliti:

  1. Peneliti memilih peserta program secara acak, lalu menghubungi 60 perempuan. Sebanyak 51 orang bersedia diwawancarai.

  2. Wawancara dilakukan lewat telepon dengan format semi-terstruktur ada panduan pertanyaan, tapi responden bebas bercerita ke mana pun arah ceritanya membawa.

  3. Dari 51 perempuan itu, 45 orang (88%) memanfaatkan layanan gigi, sementara 6 orang tidak.

  4. Seluruh rekaman ditranskrip, lalu dianalisis dengan gabungan dua kerangka: grounded theory (membiarkan tema muncul sendiri dari cerita responden, tanpa dipaksakan hipotesis awal) dan Model Tahapan Perubahan atau Stages of Change.

Model Tahapan Perubahan ini menarik untuk dipahami. Ia melihat perubahan perilaku bukan sebagai saklar on-off, melainkan sebagai tangga bertahap: dari belum terpikir sama sekali → mulai mempertimbangkan → bersiap-siap → bertindak → mempertahankan kebiasaan. Dengan lensa ini, peneliti bisa memetakan bukan hanya apa hambatannya, tapi juga di tangga mana seorang ibu tersangkut.

Temuan Utama: Hambatan Terbesar Justru Bukan Soal Gigi

Inilah bagian paling menohok dari studi ini. Ketika para ibu bercerita, kategori hambatan pertama yang muncul sama sekali tidak berhubungan dengan mulut.

1. Tekanan hidup sehari-hari (pregnancy stressors)

Peneliti mengidentifikasi tiga sumber tekanan yang berulang kali muncul:

  • Hubungan rumah tangga yang tidak sehat pasangan yang tidak mendukung, konflik di rumah, situasi domestik yang menguras energi;

  • Kondisi keuangan pribadi kesulitan ekonomi yang membuat prioritas hidup tersusun ulang setiap hari;

  • Urusan pekerjaan jam kerja, risiko kehilangan penghasilan bila izin, dan sejenisnya.

Bagi seorang perempuan yang sedang bergulat dengan ketiga hal ini sekaligus, gigi berlubang bukanlah krisis. Ia hanyalah satu item di antrean panjang yang tak pernah sampai giliran.

2. Hambatan yang memang terkait dunia kedokteran gigi

Kategori kedua baru menyentuh soal gigi, dan isinya cukup beragam:

  • Persepsi atas pengalaman berobat gigi sebelumnya trauma atau kenangan buruk yang membekas;

  • Sikap terhadap dokter gigi sebagai profesi;

  • Seberapa penting kesehatan mulut dinilai dalam skala prioritas pribadi;

  • Persepsi tentang kemampuan membayar perhatikan kata "persepsi": banyak ibu tetap merasa tak sanggup membayar meski layanannya sudah ditanggung sepenuhnya;

  • Keterbatasan waktu;

  • Sikap dokter gigi dan staf klinik terhadap pasien cara resepsionis menyambut, nada bicara petugas, rasa dihargai atau justru dipandang sebelah mata.

Poin terakhir ini layak digarisbawahi. Hambatan bisa muncul bukan dari dompet atau kebijakan, melainkan dari kualitas interaksi manusia di meja depan klinik.

Yang juga penting dicatat: temuan studi ini bukan cerita kegagalan. Sebagian besar perempuan yang diwawancarai justru berhasil melewati hambatan-hambatan tersebut dan tetap datang berobat. Yang dipetakan peneliti adalah rintangan yang harus mereka lompati bukan tembok yang menghentikan mereka.

Kesimpulan: Menggratiskan Layanan Saja Tidak Cukup

Pesan inti studi ini bisa dirangkum dalam satu kalimat: membuka akses tidak otomatis menciptakan kunjungan.

Menghapus biaya adalah langkah penting, tapi hanya menyelesaikan satu dari sekian banyak hambatan. Di belakangnya masih berdiri antrean panjang: tekanan rumah tangga, ketidakpastian ekonomi, trauma masa lalu, keterbatasan waktu, dan rasa tidak nyaman saat berhadapan dengan petugas klinik.

Karena itu para peneliti menyimpulkan bahwa memetakan hambatan-hambatan ini adalah informasi esensial untuk merancang program kemitraan publik-swasta yang lebih baik — program yang tidak berhenti pada pembiayaan, tetapi juga mendampingi, menyederhanakan proses, dan memanusiakan pengalaman berobat.

Bahwa program Klamath County berhasil mendorong lebih dari separuh ibu hamil untuk datang bukanlah kebetulan. Kuncinya bukan cuma "gratis", melainkan adanya sosok pendamping yang menjemput, menjelaskan, dan menghubungkan ibu hamil dengan klinik. Peneliti lain yang kemudian mengutip studi ini menilai fungsi pendamping inilah yang paling menentukan.

Dan hasilnya terasa sampai generasi berikutnya. Evaluasi lanjutan di kabupaten yang sama menemukan bahwa anak-anak dari ibu peserta program sekitar 1,5 kali lebih mungkin bebas gigi berlubang dibandingkan anak-anak di kabupaten pembanding (85% berbanding 58,9%) — bukti nyata bahwa merawat gigi seorang ibu hamil dapat berbuah pada senyum anaknya bertahun-tahun kemudian.

Referensi

Artikel utama:

Le, M., Riedy, C., Weinstein, P., & Milgrom, P. (2009). Barriers to utilization of dental services during pregnancy: a qualitative analysis. Journal of Dentistry for Children (Chicago, Ill.), 76(1), 46–52.

  • PMID: 19341579

  • PMCID: PMC2891449

  • NIHMSID: NIHMS197017

  • Afiliasi: Department of Pediatric Dentistry, University of Washington, AS

  • Pendanaan: National Institutes of Health / NIDCR, hibah U54 DE014254

Catatan mengenai DOI: artikel ini tidak memiliki DOI terdaftar. Journal of Dentistry for Children belum menerapkan penomoran DOI pada terbitan tahun 2009, sehingga kolom DOI di PubMed maupun di daftar pustaka jurnal-jurnal yang mengutipnya kosong. Pengenal permanen yang sah untuk artikel ini adalah PMID 19341579 dan PMCID PMC2891449. Naskah versi penulis yang tersedia gratis di PubMed Central menggunakan judul berbeda: "An Intergenerational Approach to Oral Health Promotion: Pregnancy and Utilization of Dental Services."

Rujukan pendukung (untuk konteks program dan dampak lanjutannya):

  1. Milgrom, P., Ludwig, S., Shirtcliff, R. M., Smolen, D., Sutherland, M., Gates, P., & Weinstein, P. (2008). Providing a dental home for pregnant women: a community program to address dental care access. Journal of Public Health Dentistry. DOI: 10.1111/j.1752-7325.2007.00049.x

  2. Milgrom, P., Sutherland, M., Shirtcliff, R. M., Ludwig, S., & Smolen, D. (2010). Children's tooth decay in a public health program to encourage low-income pregnant women to utilize dental care. BMC Public Health, 10, 76. DOI: 10.1186/1471-2458-10-76

  3. Riedy, C. A., Weinstein, P., Mancl, L., Garson, G., Huebner, C. E., Milgrom, P., Grembowski, D., Shepherd-Banigan, M., Smolen, D., & Sutherland, M. (2015). Dental attendance among low-income women and their children following a brief motivational counseling intervention: A community randomized trial. Social Science & Medicine, 144, 9–18. DOI: 10.1016/j.socscimed.2015.09.005

Artikel ini merupakan ulasan populer ilmiah atas penelitian yang telah dipublikasikan dan bukan pengganti nasihat medis. Untuk keluhan kesehatan gigi selama kehamilan, konsultasikan dengan dokter gigi atau tenaga kesehatan Anda.

Carigi Indonesia July 23, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kesehatan Gigi Anak dan Makanan