Penyebab Gigi Berantakan Anak: Kebiasaan Menelan

Bukan Empeng atau Isap Jempol: Inilah Kebiasaan Tersembunyi yang Paling Kuat Terkait Gigi Berantakan pada Anak
Selama ini empeng dan kebiasaan mengisap jempol paling sering dituding sebagai biang gigi anak yang tumbuh tidak rapi. Namun sebuah penelitian terbaru terhadap 190 anak di Italia menemukan tersangka yang jauh lebih tak terduga — dan nyaris tak kasat mata: cara anak menelan. Yang lebih mengejutkan, semakin banyak kebiasaan kecil yang menumpuk pada satu anak, semakin besar pula peluang giginya tumbuh berantakan.
Gigi Berantakan Jauh Lebih Umum daripada yang Kita Kira
Ketika seorang anak tumbuh dengan gigi yang tidak rata, gigi depan yang mendongos, atau rahang atas dan bawah yang tidak bertemu dengan pas, dalam istilah kedokteran gigi kondisi ini disebut maloklusi — susunan gigi dan gigitan yang tidak selaras.
Maloklusi bukan masalah kecil yang jarang terjadi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), maloklusi adalah gangguan gigi-mulut paling umum kedua pada anak setelah gigi berlubang, dan ketiga pada orang dewasa. Diperkirakan sekitar satu dari dua anak dan remaja di dunia mengalaminya. Yang penting untuk dipahami orang tua: begitu maloklusi terbentuk dan berlanjut sampai gigi permanen, kondisi ini tidak akan hilang dengan sendirinya seiring anak bertambah besar.
Bukan Sekadar Soal Penampilan
Mudah menganggap gigi berantakan hanya urusan estetika. Padahal dampaknya jauh lebih dalam. Susunan gigi dan gigitan yang tidak tepat bisa mengganggu fungsi-fungsi mendasar mulut: mengunyah, menelan, berbicara, bahkan bernapas.
Masa kanak-kanak adalah periode yang sangat kritis, karena inilah saat rahang sedang tumbuh pesat dan gigi permanen mulai bermunculan. Jika ada yang mengganggu proses ini pada usia dini, efeknya bisa membekas hingga dewasa. Itulah mengapa para dokter gigi menekankan pentingnya deteksi dan pencegahan sedini mungkin — jauh lebih baik mengenali faktor risikonya lebih awal daripada memperbaiki gigi yang sudah terlanjur bergeser.
Pertanyaannya: faktor apa saja yang sebenarnya paling berperan?
Apa yang Dilakukan Para Peneliti
Untuk menjawabnya, tim peneliti dari Klinik Gigi Anak Universitas Perugia, Italia, menelaah data 190 anak berusia 6–12 tahun yang datang untuk pemeriksaan gigi antara Januari 2023 dan Januari 2024. Ini adalah studi berjenis cross-sectional — artinya para peneliti memotret kondisi anak-anak pada satu titik waktu, lalu mencari pola hubungan di dalamnya.
Setiap anak diperiksa langsung oleh dokter gigi berpengalaman, dan orang tua diwawancarai untuk menggali riwayat sembilan kebiasaan mulut yang selama ini diduga berkaitan dengan maloklusi:
Menyusu ASI dan minum susu botol
Penggunaan empeng dan mengisap jempol atau jari
Menelan yang tidak normal (lidah mendorong ke arah yang keliru saat menelan)
Bernapas lewat mulut
Menggigit kuku dan menggigit benda seperti pensil
Frenulum lidah pendek (kondisi "lidah pendek" atau tongue-tie)
Anak-anak yang mengalami maloklusi kemudian dikelompokkan berdasarkan jenisnya — misalnya seberapa maju gigi depan atasnya (disebut overjet, yang bila berlebihan tampak seperti gigi "mendongos"), dan bagaimana gigitan depan bertemu (disebut overbite, yang bisa terlalu dalam atau justru menganga tidak bertemu sama sekali).
Hasil dasarnya sudah cukup mencolok: sekitar 75 persen anak — atau tiga dari setiap empat anak — mengalami maloklusi. Sekitar 31 persen tergolong maloklusi "Kelas II" (rahang bawah relatif tertinggal di belakang), 8 persen "Kelas III" (rahang bawah relatif maju), dan hampir separuh anak memiliki overjet yang berlebihan.
Tersangka Utama: Cara Menelan yang Keliru
Di sinilah studi ini memberikan kejutan terbesarnya. Dari sembilan kebiasaan yang diperiksa, yang paling konsisten dan paling kuat berkaitan dengan gigi berantakan bukanlah empeng atau isap jempol, melainkan menelan yang tidak normal — dalam istilah medis disebut dysfunctional swallowing atau tongue thrust.
Apa sebenarnya kebiasaan ini? Bayangkan apa yang terjadi setiap kali kita menelan. Normalnya, lidah akan menekan ke atas ke arah langit-langit mulut. Namun pada sebagian anak, lidah justru terdorong ke depan, menekan atau bahkan menyelip di antara gigi. Kelihatannya sepele. Tetapi kita menelan lebih dari seribu kali setiap hari. Tekanan kecil yang terjadi ribuan kali, hari demi hari, tahun demi tahun, lama-lama mampu menggeser posisi gigi dan memengaruhi arah pertumbuhannya.
Angka-angka dari studi ini memperjelas seberapa kuat kaitannya. Anak yang memiliki pola menelan tidak normal:
Berisiko hampir 6 kali lipat lebih besar mengalami maloklusi secara umum dibandingkan anak yang menelan dengan normal.
Berisiko sekitar 6 kali lipat memiliki gigi depan yang mendongos (overjet berlebih).
Berisiko jauh lebih tinggi mengalami gigitan terbuka (gigi depan atas dan bawah tidak bertemu) serta maloklusi Kelas II dan Kelas III.
Perlu dicatat bahwa untuk beberapa kondisi yang lebih jarang — seperti gigitan terbuka dan Kelas III — jumlah anak dalam kelompoknya kecil, sehingga angka pastinya masih memiliki rentang ketidakpastian yang lebar. Meski begitu, arah temuannya jelas dan searah: kebiasaan menelan yang keliru berulang kali muncul sebagai faktor risiko yang menonjol.
Kebiasaan bernapas lewat mulut juga ditemukan berkaitan dengan maloklusi, meski pengaruhnya tidak sekuat masalah menelan. Keduanya masuk akal secara biologis: baik menelan yang keliru maupun bernapas lewat mulut membuat posisi lidah "turun" dan tidak menekan langit-langit sebagaimana mestinya — dan hilangnya dorongan lidah ini dapat memengaruhi bagaimana rahang atas berkembang.
Semakin Banyak Kebiasaan, Semakin Besar Risiko
Temuan penting kedua dari studi ini mungkin justru yang paling praktis bagi orang tua: yang berbahaya bukan hanya satu kebiasaan buruk, melainkan penumpukannya.
Ketika para peneliti mengelompokkan anak berdasarkan jumlah kebiasaan mulut yang dimiliki, muncul pola yang sangat jelas:
Anak dengan 0–1 kebiasaan: sekitar 32 persen mengalami maloklusi.
Anak dengan 2–3 kebiasaan: melonjak menjadi sekitar 75 persen.
Anak dengan lebih dari 3 kebiasaan: mencapai 84 persen.