Skip to Content

Penyebab Gigi Berantakan Anak: Kebiasaan Menelan

August 20, 2026 by
Carigi Indonesia

Penyebab Gigi Berantakan Anak: Kebiasaan Menelan

Penyebab Gigi Berantakan Anak: Kebiasaan Menelan

Bukan Empeng atau Isap Jempol: Inilah Kebiasaan Tersembunyi yang Paling Kuat Terkait Gigi Berantakan pada Anak

Selama ini empeng dan kebiasaan mengisap jempol paling sering dituding sebagai biang gigi anak yang tumbuh tidak rapi. Namun sebuah penelitian terbaru terhadap 190 anak di Italia menemukan tersangka yang jauh lebih tak terduga — dan nyaris tak kasat mata: cara anak menelan. Yang lebih mengejutkan, semakin banyak kebiasaan kecil yang menumpuk pada satu anak, semakin besar pula peluang giginya tumbuh berantakan.

Gigi Berantakan Jauh Lebih Umum daripada yang Kita Kira

Ketika seorang anak tumbuh dengan gigi yang tidak rata, gigi depan yang mendongos, atau rahang atas dan bawah yang tidak bertemu dengan pas, dalam istilah kedokteran gigi kondisi ini disebut maloklusi — susunan gigi dan gigitan yang tidak selaras.

Maloklusi bukan masalah kecil yang jarang terjadi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), maloklusi adalah gangguan gigi-mulut paling umum kedua pada anak setelah gigi berlubang, dan ketiga pada orang dewasa. Diperkirakan sekitar satu dari dua anak dan remaja di dunia mengalaminya. Yang penting untuk dipahami orang tua: begitu maloklusi terbentuk dan berlanjut sampai gigi permanen, kondisi ini tidak akan hilang dengan sendirinya seiring anak bertambah besar.

Bukan Sekadar Soal Penampilan

Mudah menganggap gigi berantakan hanya urusan estetika. Padahal dampaknya jauh lebih dalam. Susunan gigi dan gigitan yang tidak tepat bisa mengganggu fungsi-fungsi mendasar mulut: mengunyah, menelan, berbicara, bahkan bernapas.

Masa kanak-kanak adalah periode yang sangat kritis, karena inilah saat rahang sedang tumbuh pesat dan gigi permanen mulai bermunculan. Jika ada yang mengganggu proses ini pada usia dini, efeknya bisa membekas hingga dewasa. Itulah mengapa para dokter gigi menekankan pentingnya deteksi dan pencegahan sedini mungkin — jauh lebih baik mengenali faktor risikonya lebih awal daripada memperbaiki gigi yang sudah terlanjur bergeser.

Pertanyaannya: faktor apa saja yang sebenarnya paling berperan?

Apa yang Dilakukan Para Peneliti

Untuk menjawabnya, tim peneliti dari Klinik Gigi Anak Universitas Perugia, Italia, menelaah data 190 anak berusia 6–12 tahun yang datang untuk pemeriksaan gigi antara Januari 2023 dan Januari 2024. Ini adalah studi berjenis cross-sectional — artinya para peneliti memotret kondisi anak-anak pada satu titik waktu, lalu mencari pola hubungan di dalamnya.

Setiap anak diperiksa langsung oleh dokter gigi berpengalaman, dan orang tua diwawancarai untuk menggali riwayat sembilan kebiasaan mulut yang selama ini diduga berkaitan dengan maloklusi:

  • Menyusu ASI dan minum susu botol

  • Penggunaan empeng dan mengisap jempol atau jari

  • Menelan yang tidak normal (lidah mendorong ke arah yang keliru saat menelan)

  • Bernapas lewat mulut

  • Menggigit kuku dan menggigit benda seperti pensil

  • Frenulum lidah pendek (kondisi "lidah pendek" atau tongue-tie)

Anak-anak yang mengalami maloklusi kemudian dikelompokkan berdasarkan jenisnya — misalnya seberapa maju gigi depan atasnya (disebut overjet, yang bila berlebihan tampak seperti gigi "mendongos"), dan bagaimana gigitan depan bertemu (disebut overbite, yang bisa terlalu dalam atau justru menganga tidak bertemu sama sekali).

Hasil dasarnya sudah cukup mencolok: sekitar 75 persen anak — atau tiga dari setiap empat anak — mengalami maloklusi. Sekitar 31 persen tergolong maloklusi "Kelas II" (rahang bawah relatif tertinggal di belakang), 8 persen "Kelas III" (rahang bawah relatif maju), dan hampir separuh anak memiliki overjet yang berlebihan.

Tersangka Utama: Cara Menelan yang Keliru

Di sinilah studi ini memberikan kejutan terbesarnya. Dari sembilan kebiasaan yang diperiksa, yang paling konsisten dan paling kuat berkaitan dengan gigi berantakan bukanlah empeng atau isap jempol, melainkan menelan yang tidak normal — dalam istilah medis disebut dysfunctional swallowing atau tongue thrust.

Apa sebenarnya kebiasaan ini? Bayangkan apa yang terjadi setiap kali kita menelan. Normalnya, lidah akan menekan ke atas ke arah langit-langit mulut. Namun pada sebagian anak, lidah justru terdorong ke depan, menekan atau bahkan menyelip di antara gigi. Kelihatannya sepele. Tetapi kita menelan lebih dari seribu kali setiap hari. Tekanan kecil yang terjadi ribuan kali, hari demi hari, tahun demi tahun, lama-lama mampu menggeser posisi gigi dan memengaruhi arah pertumbuhannya.

Angka-angka dari studi ini memperjelas seberapa kuat kaitannya. Anak yang memiliki pola menelan tidak normal:

  • Berisiko hampir 6 kali lipat lebih besar mengalami maloklusi secara umum dibandingkan anak yang menelan dengan normal.

  • Berisiko sekitar 6 kali lipat memiliki gigi depan yang mendongos (overjet berlebih).

  • Berisiko jauh lebih tinggi mengalami gigitan terbuka (gigi depan atas dan bawah tidak bertemu) serta maloklusi Kelas II dan Kelas III.

Perlu dicatat bahwa untuk beberapa kondisi yang lebih jarang — seperti gigitan terbuka dan Kelas III — jumlah anak dalam kelompoknya kecil, sehingga angka pastinya masih memiliki rentang ketidakpastian yang lebar. Meski begitu, arah temuannya jelas dan searah: kebiasaan menelan yang keliru berulang kali muncul sebagai faktor risiko yang menonjol.

Kebiasaan bernapas lewat mulut juga ditemukan berkaitan dengan maloklusi, meski pengaruhnya tidak sekuat masalah menelan. Keduanya masuk akal secara biologis: baik menelan yang keliru maupun bernapas lewat mulut membuat posisi lidah "turun" dan tidak menekan langit-langit sebagaimana mestinya — dan hilangnya dorongan lidah ini dapat memengaruhi bagaimana rahang atas berkembang.

Semakin Banyak Kebiasaan, Semakin Besar Risiko

Temuan penting kedua dari studi ini mungkin justru yang paling praktis bagi orang tua: yang berbahaya bukan hanya satu kebiasaan buruk, melainkan penumpukannya.

Ketika para peneliti mengelompokkan anak berdasarkan jumlah kebiasaan mulut yang dimiliki, muncul pola yang sangat jelas:

  • Anak dengan 0–1 kebiasaan: sekitar 32 persen mengalami maloklusi.

  • Anak dengan 2–3 kebiasaan: melonjak menjadi sekitar 75 persen.

  • Anak dengan lebih dari 3 kebiasaan: mencapai 84 persen.

Dengan kata lain, kebiasaan-kebiasaan buruk tampaknya saling memperkuat efek negatifnya. Kombinasi beberapa kebiasaan sekaligus mengganggu proses alami pertumbuhan rahang dan gigi secara berlarut-larut. Karena itu, para peneliti menyarankan agar dokter gigi tidak hanya menilai satu kebiasaan secara terpisah, tetapi melihat pola perilaku anak secara keseluruhan untuk mengenali siapa yang paling berisiko.

Kejutan dari Data: ASI dan Empeng Tak Seperti Dugaan

Studi ini juga menghasilkan beberapa temuan yang menantang keyakinan umum.

Pertama, tim peneliti tidak menemukan efek perlindungan dari pemberian ASI terhadap maloklusi — padahal banyak literatur menyebut menyusui dini membantu perkembangan rahang yang sehat. Penjelasan yang mungkin: dalam kelompok anak yang diteliti, pemberian ASI dan susu botol sering berjalan berdampingan. Ketika kedua kebiasaan ini bercampur (satu cenderung melindungi, satu cenderung berisiko), manfaat ASI bisa jadi tertutupi.

Kedua, kebiasaan mengisap yang bersifat non-nutritif — seperti empeng, isap jempol, dan menggigit pensil — juga tidak menunjukkan kaitan yang signifikan dengan maloklusi dalam studi ini. Ini terdengar berlawanan dengan anggapan umum. Namun penjelasannya menarik: efek dari kebiasaan-kebiasaan ini (misalnya gigitan terbuka) sering kali pulih dengan sendirinya setelah anak berhenti melakukannya. Karena studi ini meneliti anak usia 6–12 tahun — usia ketika banyak anak sudah lama meninggalkan empeng atau isap jempol — kemungkinan besar sebagian dampaknya sudah "sembuh" sebelum anak diperiksa.

Catatan Penting: Apa yang Belum Bisa Dijawab Studi Ini

Seperti semua penelitian, studi ini punya keterbatasan yang perlu disikapi dengan jujur.

Data dikumpulkan hanya dari satu klinik gigi universitas. Anak-anak yang datang ke klinik semacam ini bisa jadi tidak sepenuhnya mewakili populasi anak pada umumnya — sehingga angka prevalensi yang tinggi (75 persen) mungkin lebih besar daripada di masyarakat luas.

Selain itu, karena sifatnya retrospective dan sebagian informasi digali dari ingatan orang tua saat wawancara, ada kemungkinan bias ingatan — orang tua tidak selalu ingat persis seberapa lama dan sesering apa anak melakukan kebiasaan tertentu di masa lalu.

Dan yang paling penting untuk dipahami: studi ini menunjukkan adanya kaitan (asosiasi), bukan bukti sebab-akibat. Artinya, temuan ini memperlihatkan bahwa kebiasaan menelan yang keliru berjalan beriringan dengan gigi berantakan — tetapi untuk memastikan bahwa yang satu benar-benar menyebabkan yang lain, dibutuhkan penelitian jangka panjang yang mengikuti anak dari waktu ke waktu.

Kesimpulan: Deteksi Dini Adalah Kunci

Terlepas dari keterbatasannya, pesan utama studi ini kuat dan relevan: kebiasaan mulut tertentu — terutama cara menelan yang keliru, dan pada tingkat lebih ringan kebiasaan bernapas lewat mulut — berkaitan erat dengan gigi berantakan pada anak. Anak dengan kebiasaan ini lebih mungkin mengembangkan bukan hanya maloklusi umum, tetapi juga kondisi spesifik seperti gigi mendongos dan gigitan terbuka.

Kabar baiknya, kebiasaan-kebiasaan ini bisa dikenali sejak dini. Menelan yang keliru dan bernapas lewat mulut bukanlah hal yang tampak dramatis, sehingga sering luput dari perhatian orang tua maupun anak. Namun justru karena "diam-diam" itulah keduanya perlu diwaspadai.

Bagi orang tua, ini berarti: jangan hanya fokus pada empeng atau isap jempol. Perhatikan juga bagaimana anak bernapas dan menelan sehari-hari, dan bila ada keraguan, konsultasikan sejak dini ke dokter gigi. Skrining dan penanganan lebih awal terhadap gangguan fungsi mulut ini berpotensi mencegah masalah gigi yang jauh lebih rumit — dan lebih mahal — di kemudian hari.

Referensi

Severino, M., Mattei, A., Vena, F., Viarchi, A., Truppa, C. T., Lombardo, G., Carullo, R., Cialfi, D., Bertini, L., & Cianetti, S. (2025). Associations between oral habits and specific malocclusion traits in children: a retrospective cross-sectional study in Italy. BMC Oral Health, 25, 1534. DOI: https://doi.org/10.1186/s12903-025-06892-5

Carigi Indonesia August 20, 2026
Share this post
Tags
Archive
Resveratrol Obat Kumur Bau Mulut vs Chlorhexidine