Penyakit Gusi dan Lupus: Dua Peradangan yang Saling Terkait

Penyakit Gusi dan Lupus: Dua Penyakit Peradangan yang Mungkin Saling Memperparah
Lupus adalah penyakit autoimun yang dapat menyerang kulit, sendi, ginjal, hingga organ lain. Penderita lupus ternyata juga lebih sering mengalami penyakit gusi. Sebuah tinjauan ilmiah dari Anhui Medical University, Tiongkok, merangkum bukti tentang hubungan kedua penyakit ini dan mencari penjelasannya di tingkat sel kekebalan tubuh. Para peneliti menduga keduanya berbagi "jalur" peradangan yang sama, yaitu gangguan kerja sama antara sel T dan sel B, dua jenis sel kekebalan utama. Namun mereka menegaskan, bukti saat ini baru menunjukkan kaitan, belum membuktikan bahwa penyakit gusi menyebabkan atau memperparah lupus.
Mengenal Lupus dan Penyakit Gusi
Lupus eritematosus sistemik (lupus) adalah penyakit autoimun ketika sistem kekebalan kehilangan kemampuan membedakan jaringan tubuh sendiri dari ancaman luar. Tubuh kemudian membentuk autoantibodi, yaitu antibodi yang menyerang sel dan jaringan sendiri, sehingga dapat merusak berbagai organ. Faktor genetik berperan besar, tetapi faktor lingkungan dan peradangan di bagian tubuh lain juga diduga ikut memicu atau mempertahankan penyakit ini.
Periodontitis adalah peradangan kronis pada jaringan penyangga gigi. Penyakit ini bermula dari bakteri dalam plak di bawah garis gusi, lalu berkembang karena respons kekebalan tubuh yang terus-menerus. Bila dibiarkan, periodontitis dapat merusak tulang penyangga gigi dan membuat gigi goyang hingga tanggal.
Penderita Lupus Lebih Sering Mengalami Penyakit Gusi
Berbagai penelitian yang dirangkum dalam tinjauan ini menunjukkan bahwa:
Sebuah analisis gabungan tahun 2017 menemukan bahwa penderita lupus memiliki risiko periodontitis sekitar 1,76 kali lebih tinggi dibandingkan orang tanpa lupus.
Sebuah tinjauan tahun 2024 memperkirakan sekitar 67% penderita lupus mengalami periodontitis, jauh lebih tinggi dibandingkan orang sehat.
Penelitian nasional di Norwegia tahun 2022 menemukan penderita lupus memiliki peluang periodontitis sekitar 1,8 kali lebih tinggi.
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa penderita lupus dengan periodontitis cenderung memiliki aktivitas penyakit lupus yang lebih tinggi dan kadar zat peradangan dalam darah yang lebih tinggi.
Namun tidak semua penelitian sepakat. Sebagian tidak menemukan perbedaan kondisi gusi yang bermakna. Peneliti menjelaskan bahwa obat-obatan penekan sistem kekebalan yang banyak diminum penderita lupus dapat mengubah tampilan dan perjalanan penyakit gusi, sehingga hasil penelitian bisa berbeda-beda.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti dari Anhui Medical University dan Rumah Sakit Afiliasi Pertama Anhui Medical University, yang dipimpin Weiwen Hu dan Jiajie Tu, melakukan tinjauan naratif, yaitu merangkum dan membahas berbagai penelitian yang sudah ada, baik pada manusia, hewan, maupun laboratorium. Fokus mereka adalah mencari mekanisme kekebalan tubuh yang mungkin menghubungkan periodontitis dan lupus.
Penting dicatat, tinjauan ini bukan penelitian baru pada pasien, dan tidak dilakukan dengan metode pencarian sistematis.
Bagaimana Gusi dan Lupus Bisa Saling Berkaitan?
Para peneliti mengusulkan sebuah gambaran besar tentang bagaimana peradangan di gusi mungkin "menyulut" sistem kekebalan di seluruh tubuh, dan sebaliknya.
1. Peradangan gusi yang tidak pernah padam
Pada periodontitis, bakteri dan jaringan gusi yang rusak terus-menerus melepaskan "sinyal bahaya". Sinyal ini mengaktifkan sel dendritik, yaitu sel kekebalan yang bertugas memperkenalkan "musuh" kepada sel-sel kekebalan lain. Bila terus aktif, sel-sel ini bisa membuat sistem kekebalan lebih mudah keliru menyerang jaringan tubuh sendiri.
2. Bakteri gusi yang mengubah protein tubuh
Bakteri penyebab penyakit gusi, terutama Porphyromonas gingivalis, menghasilkan enzim yang dapat mengubah struktur protein tubuh. Protein yang berubah ini bisa dianggap "asing" oleh sistem kekebalan. Mekanisme ini sudah cukup dikenal pada artritis reumatoid, tetapi pada lupus masih berupa dugaan.
Ada pula dugaan "penyamaran": sebagian bagian tubuh bakteri mirip dengan protein manusia, sehingga sistem kekebalan yang menyerang bakteri ikut menyerang jaringan tubuh sendiri. Peneliti menegaskan ini juga masih berupa hipotesis.
3. Zat peradangan yang sama pada kedua penyakit
Beberapa zat peradangan ditemukan meningkat baik pada periodontitis maupun lupus, misalnya IL-6, IL-17, dan interferon. Zat-zat ini dapat memperkuat peradangan dan memengaruhi kerja sel kekebalan.
4. Kerja sama sel T dan sel B yang kebablasan
Inilah inti dari tinjauan ini. Dalam sistem kekebalan, sel T berperan seperti "komandan" yang memberi perintah, sedangkan sel B bertugas membuat antibodi. Salah satu jenis sel T, yaitu sel T helper folikular, membantu sel B berkembang dan memproduksi antibodi melalui sinyal seperti IL-21 dan BAFF.
Pada lupus, kerja sama ini berjalan berlebihan sehingga tubuh membuat banyak autoantibodi yang merusak organ. Pada periodontitis, para peneliti juga menemukan peningkatan sinyal yang sama, seperti IL-21 dan BAFF, di jaringan gusi, cairan gusi, air liur, dan darah.
Para peneliti menduga gusi yang meradang dapat menjadi "penguat" dari luar yang terus merangsang sistem kekebalan, sehingga memperparah gangguan yang sudah ada pada orang yang rentan terhadap lupus.
5. Hubungan dua arah
Sebaliknya, lupus dan pengobatannya juga dapat memengaruhi gusi. Gangguan sistem kekebalan pada lupus dan obat-obatan penekan kekebalan dapat mengubah keseimbangan bakteri di mulut dan membuat gusi lebih rentan meradang. Sebuah penelitian pada tikus menunjukkan bahwa latar belakang lupus memperparah peradangan gusi dan kerusakan tulang penyangga gigi.
Apakah Merawat Gusi Bisa Membantu Penderita Lupus?
Beberapa penelitian kecil memberi petunjuk awal:
Satu penelitian kecil menemukan bahwa perawatan gusi berkaitan dengan membaiknya kondisi gusi dan menurunnya skor aktivitas lupus pada pasien yang menjalani terapi penekan kekebalan.
Penelitian lain pada 38 penderita lupus dan periodontitis menemukan penurunan penanda peradangan CRP dalam darah 30 hari setelah pembersihan karang gigi dan akar gigi.
Namun penelitian-penelitian ini melibatkan sedikit peserta, berlangsung singkat, dan pasien juga sedang minum obat lupus. Para peneliti menegaskan bahwa belum ada cukup bukti untuk menganjurkan perawatan gusi sebagai cara mengendalikan lupus atau mencegah kambuhnya lupus. Perawatan gusi dianjurkan untuk menjaga kesehatan mulut, bukan sebagai pengganti pengobatan lupus.
Catatan Penting
Para peneliti berulang kali menekankan keterbatasan bukti yang ada:
Sebagian besar bukti berasal dari penelitian terpisah tentang periodontitis dan lupus, bukan dari penelitian pada orang yang mengalami keduanya sekaligus.
Banyak mekanisme masih berupa hipotesis dan belum dibuktikan secara langsung.
Hubungan sebab-akibat belum jelas. Belum diketahui apakah periodontitis ikut memicu lupus, memperparah lupus, atau keduanya hanya muncul bersamaan karena faktor risiko yang sama seperti genetik, merokok, obat-obatan, dan kebersihan mulut.
Ada beberapa hal lain yang patut dicermati pembaca (catatan redaksi):
Tinjauan ini sangat teknis dan sebagian besar ditujukan untuk peneliti imunologi. Artikel ini menyederhanakan banyak istilah dan mekanisme, sehingga tidak mencakup seluruh detailnya.
Ini tinjauan naratif, bukan tinjauan sistematis. Penulis memilih dan merangkum penelitian tanpa metode pencarian dan penilaian kualitas yang baku.