Skip to Content

Penyakit Celiac & Manifestasi Mulut

May 19, 2026 by
Carigi Indonesia

Penyakit Celiac & Manifestasi Mulut

Penyakit Celiac & Manifestasi Mulut

Bisakah Masalah di Mulut Menjadi Tanda Awal Penyakit Celiac?

Penelitian Baru Menyoroti Hubungan Antara Penyakit Celiac dan Kesehatan Rongga Mulut

Penyakit celiac selama ini lebih dikenal sebagai gangguan pencernaan akibat intoleransi terhadap gluten. Kebanyakan orang mengaitkannya dengan gejala seperti diare, nyeri perut, atau gangguan penyerapan nutrisi. Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa penyakit ini juga dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh lain, termasuk rongga mulut.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam BMC Oral Health meneliti kondisi rongga mulut pasien penyakit celiac serta kemungkinan adanya penanda imunologis tertentu pada jaringan mukosa mulut mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa kelainan di rongga mulut mungkin muncul lebih sering pada pasien celiac, bahkan ketika gejala pencernaan tidak terlalu jelas terlihat.

Penyakit Celiac Tidak Hanya Menyerang Sistem Pencernaan

Penyakit celiac merupakan penyakit autoimun seumur hidup yang terjadi pada individu dengan predisposisi genetik yang tidak dapat mentoleransi gluten, yaitu protein yang terdapat pada gandum, barley, rye, dan oat. Saat gluten dikonsumsi, sistem imun tubuh bereaksi secara abnormal dan menyebabkan peradangan pada usus halus.

Kerusakan pada vili usus menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi, sehingga pasien tidak hanya mengalami masalah pencernaan, tetapi juga berbagai gangguan sistemik seperti anemia, osteoporosis, gangguan tiroid, gangguan neurologis, hingga kelainan kulit.

Peneliti menduga bahwa kekurangan nutrisi dan gangguan sistem imun pada penyakit celiac juga dapat memicu berbagai masalah di rongga mulut, termasuk sariawan berulang, mulut kering, perubahan pada lidah, hingga infeksi jamur oportunistik.

Apa yang Diteliti?

Penelitian ini melibatkan 30 pasien penyakit celiac berusia 16–65 tahun. Seluruh peserta menjalani pemeriksaan rongga mulut secara menyeluruh, termasuk evaluasi lesi mulut dan pemeriksaan infeksi jamur. Selain itu, 10 pasien menjalani biopsi mukosa mulut untuk pemeriksaan direct immunofluorescence.

Peneliti ingin mengevaluasi:

  • Keluhan rongga mulut yang paling sering dialami pasien celiac

  • Jenis kelainan mukosa mulut yang muncul

  • Frekuensi kandidiasis oral

  • Ada tidaknya deposit imunoglobulin seperti IgA, IgG, IgM, dan C3 pada jaringan mukosa mulut

Pemeriksaan imunologis ini dilakukan karena deposit imun tertentu sering ditemukan pada beberapa penyakit autoimun dan dermatologis lainnya.

Nyeri Mulut dan Mulut Kering Menjadi Keluhan Utama

Lebih dari tiga perempat peserta penelitian melaporkan keluhan pada rongga mulut. Keluhan yang paling sering ditemukan meliputi:

  • Nyeri akibat ulkus atau erosi mulut

  • Mulut kering (xerostomia)

  • Gusi berdarah dan nyeri

  • Sensasi terbakar pada mulut

  • Gangguan pengecapan

Banyak pasien mengalami lebih dari satu keluhan secara bersamaan. Sebagian pasien merasakan sensasi terbakar kronis pada lidah, sementara lainnya merasakan keluhan yang dipicu oleh makanan tertentu.

Peneliti menekankan bahwa gejala-gejala ini sering kali dianggap sepele dalam pemeriksaan medis rutin, padahal bisa menjadi tanda awal penyakit sistemik yang sedang berkembang.

Berbagai Kelainan Mukosa Mulut Ditemukan pada Pasien Celiac

Pemeriksaan klinis menunjukkan bahwa hampir seluruh pasien memiliki perubahan pada mukosa rongga mulut. Temuan yang paling sering meliputi:

  • Lidah berlapis putih (white-coated tongue)

  • Linea alba akibat iritasi mekanis

  • Atrophic glossitis atau lidah tampak licin dan kemerahan

  • Pembengkakan mukosa pipi dengan permukaan menyerupai batu kerikil

  • Recurrent aphthous stomatitis (sariawan berulang)

  • Angular cheilitis di sudut bibir

Menurut peneliti, banyak kondisi tersebut kemungkinan berkaitan dengan kekurangan nutrisi, terutama zat besi dan vitamin B kompleks, akibat terganggunya penyerapan nutrisi pada penyakit celiac.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sariawan berulang tampaknya lebih sering ditemukan pada pasien celiac dibandingkan populasi umum.

Infeksi Jamur Mulut Ternyata Cukup Tinggi

Salah satu temuan yang cukup menarik adalah tingginya angka kandidiasis oral pada pasien celiac.

Peneliti menemukan infeksi jamur mulut pada 43,3% pasien. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis serta hasil kultur mikrobiologi.

Peneliti menduga bahwa mulut kering, kekurangan nutrisi, gangguan sistem imun, dan penggunaan obat tertentu dapat meningkatkan risiko infeksi jamur pada pasien celiac.

Temuan ini memperlihatkan pentingnya pemeriksaan rongga mulut pada pasien dengan dugaan maupun diagnosis penyakit celiac.

Tidak Ditemukan Penanda Imunologis Khusus pada Mukosa Mulut

Walaupun peneliti berharap menemukan deposit imunologis tertentu pada jaringan mukosa mulut, pemeriksaan direct immunofluorescence tidak menunjukkan adanya deposit IgA, IgG, IgM, maupun C3 pada seluruh sampel biopsi.

Hasil ini menunjukkan bahwa pemeriksaan imunopatologis mukosa mulut kemungkinan belum bermanfaat sebagai alat diagnosis penyakit celiac itu sendiri.

Namun, peneliti menyebut metode ini mungkin tetap berguna pada penyakit terkait seperti dermatitis herpetiformis, yaitu penyakit kulit yang erat kaitannya dengan celiac disease.

Mengapa Temuan Ini Penting?

Penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa kesehatan rongga mulut dapat mencerminkan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Karena banyak pasien dewasa dengan penyakit celiac memiliki gejala pencernaan yang ringan atau bahkan tidak khas, dokter gigi dan dokter spesialis penyakit mulut dapat berperan penting dalam membantu deteksi dini. Sariawan berulang, lidah kemerahan tanpa sebab jelas, mulut kering kronis, atau kandidiasis berulang sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika muncul bersamaan.

Peneliti juga menekankan pentingnya kolaborasi antara dokter gigi, dokter kulit, dan dokter spesialis gastroenterologi untuk meningkatkan diagnosis dini dan kualitas perawatan pasien.

Keterbatasan Penelitian

Sebagai studi pilot, penelitian ini melibatkan jumlah peserta yang relatif kecil dan tidak menggunakan kelompok kontrol sehat sebagai pembanding.

Peneliti mengakui bahwa penelitian dengan jumlah sampel lebih besar masih diperlukan untuk memahami hubungan antara penyakit celiac dan manifestasi rongga mulut secara lebih mendalam, terutama terkait perubahan imunologis pada jaringan oral.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa penyakit celiac dapat berkaitan dengan berbagai manifestasi rongga mulut, seperti lidah berlapis putih, atrophic glossitis, sariawan berulang, angular cheilitis, hingga kandidiasis oral.

Meskipun pemeriksaan direct immunofluorescence tidak menemukan deposit imunologis spesifik pada mukosa mulut, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pemeriksaan rongga mulut sebagai bagian dari evaluasi pasien dengan kemungkinan penyakit celiac. Pengenalan tanda-tanda oral secara dini dapat membantu menemukan kasus celiac yang sebelumnya tidak terdiagnosis dan meningkatkan kualitas penanganan pasien.

Referensi

Mania-Końsko A, Ślebioda Z, Dańczak-Pazdrowska A, Wyganowska ML. Clinical and immunopathological assessment of the oral mucosa in coeliac disease: a pilot study. BMC Oral Health. 2025;25:942. DOI: 10.1186/s12903-025-06329-z.

Carigi Indonesia May 19, 2026
Share this post
Tags
Archive
Prediksi Jumlah Implan dengan AI