Tongue Bite Hasil Cetak 3D Bantu Tingkatkan Ketepatan Radioterapi pada Pasien Kanker Lidah
Perangkat sederhana yang dibuat khusus untuk setiap pasien ini mampu meningkatkan akurasi penyinaran sekaligus mengurangi paparan radiasi pada jaringan sehat.
Radioterapi merupakan salah satu pengobatan utama bagi pasien kanker rongga mulut, termasuk kanker lidah. Namun, memberikan radiasi secara tepat bukanlah perkara mudah. Rongga mulut memiliki struktur yang kompleks, sementara lidah merupakan organ yang selalu bergerak. Sedikit saja perubahan posisi selama penyinaran dapat membuat radiasi mengenai jaringan sehat di sekitarnya atau justru mengurangi dosis yang seharusnya diterima oleh sel kanker.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Physical and Engineering Sciences in Medicine menghadirkan solusi yang menarik. Para peneliti mengembangkan tongue bite atau alat pengganjal lidah yang dibuat secara khusus menggunakan teknologi 3D printing. Hasilnya menunjukkan bahwa alat ini tidak hanya lebih nyaman digunakan pasien, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas radioterapi secara keseluruhan.
Mengapa Posisi Lidah Sangat Penting Saat Radioterapi?
Pada radioterapi kanker lidah, dokter harus memastikan sinar radiasi mengenai tumor seakurat mungkin. Di sisi lain, berbagai organ penting di sekitar rongga mulut—seperti batang otak (brainstem), kelenjar ludah (parotid glands), langit-langit mulut (hard palate), hingga sumsum tulang belakang—harus terlindungi dari paparan radiasi berlebihan.
Masalahnya, lidah dapat berubah posisi saat proses pemeriksaan CT Scan maupun selama terapi berlangsung. Selain itu, adanya rongga udara dan perbedaan kepadatan jaringan di dalam mulut membuat distribusi radiasi menjadi kurang merata. Kondisi ini dapat menyebabkan sebagian jaringan tumor menerima dosis yang kurang optimal, sementara jaringan sehat justru menerima paparan radiasi lebih tinggi. Akibatnya, pasien berisiko mengalami efek samping seperti mulut kering (xerostomia), gangguan pengecapan, hingga radang mukosa mulut (mucositis).
Selama ini beberapa rumah sakit menggunakan alat bantu sederhana berbahan styrofoam atau stent khusus untuk menjaga posisi lidah. Namun, alat tersebut belum selalu memberikan kenyamanan yang baik dan belum sepenuhnya mampu mengatasi variasi bentuk rongga mulut setiap pasien.
Membuat Tongue Bite yang Disesuaikan dengan Bentuk Mulut Setiap Pasien
Dalam penelitian ini, tim peneliti melibatkan enam pasien kanker lidah stadium III dan IV yang menjalani radioterapi.
Langkah pertama adalah melakukan CT Scan menggunakan tongue bite berbahan styrofoam yang biasa dipakai di rumah sakit. Dari hasil CT tersebut, peneliti membuat model digital rongga mulut setiap pasien menggunakan perangkat lunak khusus. Model ini kemudian dicetak menggunakan printer 3D berbasis teknologi stereolithography (SLA).
Material yang digunakan adalah resin F80, yaitu bahan yang bersifat biokompatibel, memiliki karakteristik menyerupai jaringan tubuh, serta cukup lunak dan elastis sehingga nyaman digunakan di dalam rongga mulut. Setelah alat selesai dicetak, setiap pasien kembali menjalani CT Scan menggunakan tongue bite hasil cetak 3D sehingga peneliti dapat membandingkan hasil perencanaan radioterapi antara alat konvensional dan alat baru tersebut. Seluruh rencana penyinaran menggunakan teknik Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT) dibuat dengan parameter yang sama agar perbedaannya benar-benar berasal dari penggunaan tongue bite.
Hasilnya: Radiasi Menjadi Lebih Tepat Sasaran
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tongue bite hasil cetak 3D memberikan beberapa keuntungan penting.
Pertama, cakupan area tumor menjadi lebih baik. Selain itu, dosis maksimum yang diterima area target mengalami penurunan secara bermakna, sehingga distribusi radiasi menjadi lebih merata. Indeks keseragaman (homogeneity index) dan indeks kesesuaian (conformity index) juga menunjukkan perbaikan dibandingkan penggunaan tongue bite konvensional.
Keuntungan berikutnya adalah berkurangnya paparan radiasi pada beberapa organ penting di sekitar tumor.
Rata-rata dosis yang diterima batang otak menurun dari sekitar 38,99 Gy menjadi 36,79 Gy. Dosis pada kelenjar ludah kanan turun dari 25,26 Gy menjadi 22,65 Gy, sedangkan kelenjar ludah kiri berkurang dari 25,82 Gy menjadi 23,56 Gy. Penurunan paling besar terjadi pada langit-langit mulut (hard palate), yaitu dari 11,93 Gy menjadi 7,64 Gy, atau berkurang sekitar 35,9%. Sementara itu, tidak ditemukan perbedaan bermakna pada dosis yang diterima sumsum tulang belakang karena letaknya relatif jauh dari rongga mulut.
Peneliti juga menemukan bahwa jumlah monitor units (MU), yaitu parameter yang berkaitan dengan penyampaian radiasi selama terapi, menjadi lebih rendah pada penggunaan tongue bite cetak 3D. Hal ini menunjukkan proses penyinaran dapat berlangsung lebih efisien tanpa mengurangi kualitas terapi.
Tidak Hanya Lebih Akurat, Tetapi Juga Lebih Nyaman
Selain mengevaluasi kualitas radioterapi, penelitian ini juga memperhatikan pengalaman pasien saat menggunakan alat tersebut.
Seluruh pasien menyatakan tongue bite hasil cetak 3D terasa lembut, mengikuti bentuk rongga mulut dengan baik, serta memberikan bukaan mulut yang cukup selama terapi. Tidak ada pasien yang melaporkan refleks muntah (gag reflex) ataupun rasa tidak nyaman yang berarti selama penggunaan alat.
Temuan ini menjadi nilai tambah yang penting karena kenyamanan pasien sangat memengaruhi kemampuan mereka mempertahankan posisi tubuh selama sesi radioterapi yang dapat berlangsung beberapa menit. Posisi yang stabil membantu penyinaran menjadi lebih konsisten dari satu sesi ke sesi berikutnya.
Apa Arti Temuan Ini?
Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi 3D printing semakin membuka peluang penerapan pengobatan yang benar-benar dipersonalisasi (personalized medicine). Dengan memanfaatkan data CT Scan setiap pasien, tenaga kesehatan dapat membuat alat bantu yang sesuai dengan anatomi individu, bukan lagi menggunakan alat dengan ukuran yang sama untuk semua orang.
Meskipun penelitian ini masih melibatkan enam pasien, hasilnya memberikan bukti awal bahwa tongue bite hasil cetak 3D mampu meningkatkan kualitas distribusi radiasi sekaligus mengurangi paparan pada beberapa organ penting di sekitar rongga mulut. Peneliti menilai penelitian dengan jumlah pasien yang lebih besar masih diperlukan untuk mengonfirmasi manfaat tersebut sebelum digunakan secara lebih luas dalam praktik klinis.
Kesimpulan
Tongue bite yang dibuat menggunakan teknologi cetak 3D menawarkan pendekatan baru dalam radioterapi kanker lidah. Dibandingkan tongue bite berbahan styrofoam yang umum digunakan, alat ini mampu meningkatkan ketepatan penyinaran, memperbaiki distribusi dosis radiasi, mengurangi paparan pada beberapa organ sehat, serta memberikan kenyamanan yang lebih baik bagi pasien.
Seiring berkembangnya teknologi pencetakan 3D di bidang kesehatan, inovasi seperti ini berpotensi menjadi bagian penting dari radioterapi yang lebih presisi, aman, dan berorientasi pada kebutuhan setiap pasien.
Referensi
Zulqurnain MF, Arif H, Batool M, Amjad N, Hill R. A study on using custom 3D-printed tongue bites for radiotherapy patients with oral tongue carcinoma. Physical and Engineering Sciences in Medicine. 2026;49:881–888.https://doi.org/10.1007/s13246-026-01725-3