Skip to Content

Pemanfaatan Layanan Gigi Gratis Lansia

July 21, 2026 by
Carigi Indonesia

Pemanfaatan Layanan Gigi Gratis Lansia


Gigi Sehat di Usia Senja: Mengapa Layanan Gigi Gratis Sering Tak Terpakai 

Bayangkan seorang nenek berusia 80-an tahun yang masih memiliki sebagian besar gigi aslinya. Setiap hari ia dibantu petugas perawatan di rumah untuk urusan kesehatannya. Justru karena kondisi itulah, negara sebenarnya menjamin ia berhak mendapat perawatan gigi sepenuhnya gratis. Tapi ada satu masalah: ia tidak tahu bahwa hak itu ada, kalaupun tahu, ia malah lebih memilih membayar sendiri ke dokter gigi langganannya.

Terdengar seperti kejadian langka? Ternyata tidak. Sebuah penelitian terbaru dari Norwegia menunjukkan pola seperti ini justru umum terjadi di kalangan lansia yang paling membutuhkan perawatan gigi. Studi ini membuka satu persoalan yang jarang dibahas: menyediakan layanan kesehatan gigi, bahkan yang gratis ternyata tidak otomatis membuat orang menggunakannya.

Kesehatan Gigi di Usia Senja: Masalah yang Makin Penting

Penyakit gigi dan mulut termasuk gangguan kesehatan paling umum di dunia, memengaruhi sekitar 3,5 miliar orang. Di usia lanjut, menjaga kesehatan mulut bukan sekadar soal senyum ini bagian penting dari penuaan yang sehat dan berkaitan erat dengan kualitas hidup secara keseluruhan.

Yang menarik, generasi lansia sekarang berbeda dari dulu. Berkat kemajuan perawatan gigi, makin banyak orang tua yang mempertahankan gigi asli mereka hingga usia sangat lanjut. Kabar baiknya: mereka tak lagi kehilangan seluruh gigi. Kabar kurang baiknya: gigi asli yang tersisa itu tetap butuh perawatan rutin bahkan makin butuh, karena risiko masalah mulut meningkat seiring bertambahnya usia dan menumpuknya penyakit kronis.

Di Norwegia, layanan gigi terbagi dua. Ada layanan gigi swasta, yang umumnya dibayar sendiri dari kantong pasien. Dan ada layanan gigi publik (disingkat PDS, public dental service), yang menyediakan perawatan gratis bagi kelompok prioritas: anak-anak, remaja, penyandang kebutuhan khusus, serta lansia yang bergantung pada layanan perawatan di rumah (home care services/HCS).

Aturannya cukup jelas: lansia yang sudah menerima bantuan perawatan di rumah minimal tiga bulan, dengan frekuensi setidaknya sekali seminggu, berhak mendapat perawatan gigi gratis di PDS. Namun data sebelumnya menunjukkan hanya satu dari lima lansia dalam kelompok ini yang benar-benar memanfaatkannya — dan sampai kini, belum ada yang menyelidiki mengapa.

Apa yang Dilakukan Peneliti

Tim peneliti dari University of Oslo dan Oral Health Centre of Expertise in Eastern Norway ingin memetakan seberapa sering lansia penerima home care benar-benar pergi ke dokter gigi, sekaligus mencari tahu faktor apa yang memengaruhinya. Ini disebut sebagai studi pertama yang secara khusus meneliti hal tersebut pada lansia penerima home care di Norwegia.

Mereka mewawancarai 116 lansia berusia 65 tahun ke atas (rata-rata 83 tahun, rentang 65 - 102 tahun, sekitar separuhnya perempuan) di empat kota/kabupaten mencakup wilayah perkotaan maupun pedesaan di Norwegia bagian tenggara. Wawancara dilakukan langsung di rumah masing-masing peserta, berlangsung 20 hingga 60 menit, dan dipandu tim yang terdiri atas dokter gigi, perawat gigi (dental hygienist), dan peneliti. Pengumpulan data berlangsung dari Desember 2020 hingga Januari 2023 molor cukup lama karena berkali-kali terganggu pembatasan pandemi COVID-19.

Untuk menganalisis datanya, peneliti memakai kerangka yang dikenal sebagai model perilaku Andersen. Sederhananya, model ini melihat pemanfaatan layanan kesehatan dari beberapa sudut sekaligus: faktor bawaan (usia, jenis kelamin, pendidikan), faktor pemungkin (penghasilan, jenis layanan), faktor kebutuhan (kondisi gigi, rasa sakit), serta kebiasaan menjaga kebersihan mulut dan kondisi kesehatan umum.

Hasilnya: Banyak Hak yang Menguap Begitu Saja

Sekilas, angkanya tampak lumayan. Sekitar dua pertiga peserta (67,2%) mengaku memeriksakan gigi setidaknya sekali setahun. Angka ini tergolong tinggi dibandingkan lansia serupa di negara lain — tetapi masih di bawah rata-rata lansia Norwegia pada umumnya, yang mencapai sekitar 88–90%. Sementara itu, hampir seperempat peserta (24,1%) hanya ke dokter gigi saat ada masalah mendesak, bukan untuk pemeriksaan rutin.

Yang paling mencolok justru soal hak atas layanan gratis. Hampir semua peserta 95,6% sebenarnya memenuhi syarat untuk mendapat perawatan gigi gratis di PDS. Namun:

  • Hanya sekitar 57% (66 orang) yang tahu bahwa mereka punya hak itu.

  • Dari yang tahu pun, hanya sekitar 56,5% (35 orang) yang benar-benar menggunakan layanan publik gratis tersebut.

Dengan kata lain, sebagian besar hak atas perawatan gigi gratis ini menguap begitu saja entah karena tidak diketahui, entah karena diketahui tapi tidak dipakai.

Dan inilah bagian yang paling mengejutkan: lebih dari 40% lansia yang sudah tahu mereka berhak atas perawatan gratis tetap memilih membayar sendiri ke dokter gigi swasta. Ada pilihan cuma-cuma, tapi mereka justru merogoh kocek.

Dari analisis statistik, peneliti menemukan beberapa pola yang bermakna:

  • Semakin banyak gigi asli yang tersisa, semakin rutin seseorang ke dokter gigi. Dari lansia yang masih punya gigi asli lengkap, 85,7% rutin periksa. Sebaliknya, dari mereka yang sudah ompong total (tak punya gigi asli sama sekali), hanya 12,5% yang rutin datang.

  • Mereka yang tahu haknya lebih sering memakai layanan publik dibanding yang tidak tahu.

  • Pengguna layanan swasta justru lebih rutin memeriksakan gigi dibanding pengguna layanan publik.

Beberapa pola lain terlihat tetapi belum cukup kuat secara statistik: lansia berpenghasilan lebih tinggi dan yang berusia sangat lanjut cenderung lebih sering periksa, sementara mereka yang lebih bergantung pada bantuan orang lain untuk aktivitas sehari-hari cenderung lebih jarang.



Mengapa Lansia Enggan Memanfaatkan Haknya?

Peneliti menggali alasan di balik keengganan ini. Dua alasan paling umum yang disebut peserta untuk tidak periksa rutin adalah merasa tidak butuh perawatan (46,4%) dan terganjal masalah kesehatan umum (27%).

Soal "merasa tidak butuh" ini menyimpan jebakan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pada lansia, penilaian sendiri terhadap kondisi gigi kerap lebih rendah daripada kebutuhan sebenarnya bila diperiksa dokter. Seiring bertambahnya usia, sebagian orang menurunkan ekspektasi terhadap kesehatan mulutnya dan menganggap masalah gigi bukan prioritas padahal masalah itu tetap ada dan terus berjalan.

Lalu kenapa banyak yang memilih bayar sendiri padahal tersedia yang gratis? Peneliti menduga jawabannya terletak pada kepercayaan dan kenyamanan. Banyak lansia sudah lama memiliki dokter gigi langganan di layanan swasta. Hubungan yang terjalin bertahun-tahun, rasa percaya, serta kenyamanan membuat mereka enggan berpindah ke layanan publik meski itu berarti terus membayar dari kantong sendiri.

Ada juga persoalan sistem. Di Norwegia, layanan home care dikelola pemerintah kota, sedangkan layanan gigi publik dikelola pemerintah provinsi. Dua lembaga berbeda ini tidak selalu berkomunikasi mulus, sehingga informasi soal hak lansia kerap tidak sampai. Peneliti menyarankan agar petugas home care yang toh sudah membantu kebersihan harian lansia turut memeriksa kondisi mulut dan menyampaikan informasi mengenai hak perawatan gigi gratis.

Satu temuan lagi menjadi catatan: lebih dari 30% peserta memiliki kebiasaan menjaga kebersihan mulut yang belum memadai, padahal keluhan mulut kering sangat umum di kelompok ini dan mulut kering adalah faktor risiko besar untuk masalah gigi.

Apa Artinya Buat Kita?

Meski penelitian ini dilakukan di Norwegia dengan sistem kesehatannya yang khas, pelajarannya terasa universal. Populasi dunia sedang menua, dan makin banyak lansia mempertahankan gigi aslinya termasuk di Indonesia. Artinya, kebutuhan akan perawatan gigi lansia akan terus meningkat di mana-mana.

Pesan intinya: menyediakan layanan saja bahkan yang gratis tidak cukup. Kalau informasinya tidak sampai, kalau lansia merasa "tidak butuh", atau kalau alurnya berbelit, layanan sebaik apa pun bisa berakhir tak terpakai. Kesadaran akan hak, kemudahan memperoleh informasi, dan kerja sama antarlembaga ternyata sama pentingnya dengan tersedianya layanan itu sendiri.

Bagi keluarga yang merawat orang tua lanjut usia, temuan ini juga menjadi pengingat: jangan menunggu sampai gigi terasa sakit. Pemeriksaan rutin, menjaga kebersihan mulut, dan memastikan lansia benar-benar mengakses layanan yang menjadi haknya bisa mencegah masalah jauh sebelum berkembang serius.

Catatan: Beberapa Keterbatasan

Seperti semua penelitian, studi ini punya batasan yang perlu dicatat. Desainnya bersifat potret sesaat (cross-sectional), sehingga tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. Datanya juga mengandalkan laporan peserta sendiri, yang berpotensi bias. Pandemi COVID-19 memangkas jumlah peserta, dan cara perekrutannya membuat besar kemungkinan yang ikut adalah lansia yang relatif lebih sehat. Karena itu, hasilnya perlu ditafsirkan dengan hati-hati dan belum tentu mewakili semua lansia penerima home care.

Kesimpulan

Studi ini menyampaikan pesan yang sederhana tapi penting: di kalangan lansia yang paling membutuhkan, perawatan gigi masih kurang dimanfaatkan bukan karena layanannya tidak ada, melainkan karena banyak yang tidak tahu haknya, merasa tidak perlu, atau terhalang kebiasaan dan sistem yang berbelit.

Kabar baiknya, ini persoalan yang bisa diperbaiki. Meningkatkan kesadaran lansia akan hak mereka, memperbaiki cara menyampaikan informasi, serta mempererat kerja sama antara layanan perawatan di rumah dan layanan gigi publik dapat menutup jurang antara "berhak" dan "benar-benar dirawat".

Pada akhirnya, menjaga gigi di usia senja bukan cuma soal menyikat gigi dua kali sehari tapi juga soal memastikan setiap lansia tahu, mampu, dan mau mengakses perawatan yang layak mereka dapatkan. Sebab mempertahankan gigi asli hingga usia lanjut adalah sebuah pencapaian; dan merawatnya dengan baik adalah cara menjaga kualitas hidup sampai akhir.

Referensi Artikel Asli

Hassan, H. I., Ansteinsson, V., Uhlen-Strand, M.-M., Hellesø, R., Skudutyte-Rysstad, R., & Hovden, E. A. Sz. (2026). Dental health service utilization among older adults receiving home care services in south-eastern Norway. Acta Odontologica Scandinavica, 85, 323–331.

DOI: 10.2340/aos.v85.46262

Artikel diterbitkan sebagai Open Access di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0 (CC BY 4.0).

Carigi Indonesia July 21, 2026
Share this post
Tags
Archive
Orientasi Cetak 3D Gigi Tiruan Presisi