Pemanfaatan Layanan Gigi Gratis Lansia

Gigi Sehat di Usia Senja: Mengapa Layanan Gigi Gratis Sering Tak Terpakai
Bayangkan seorang nenek berusia 80-an tahun yang masih memiliki sebagian besar gigi aslinya. Setiap hari ia dibantu petugas perawatan di rumah untuk urusan kesehatannya. Justru karena kondisi itulah, negara sebenarnya menjamin ia berhak mendapat perawatan gigi sepenuhnya gratis. Tapi ada satu masalah: ia tidak tahu bahwa hak itu ada, kalaupun tahu, ia malah lebih memilih membayar sendiri ke dokter gigi langganannya.
Terdengar seperti kejadian langka? Ternyata tidak. Sebuah penelitian terbaru dari Norwegia menunjukkan pola seperti ini justru umum terjadi di kalangan lansia yang paling membutuhkan perawatan gigi. Studi ini membuka satu persoalan yang jarang dibahas: menyediakan layanan kesehatan gigi, bahkan yang gratis ternyata tidak otomatis membuat orang menggunakannya.
Kesehatan Gigi di Usia Senja: Masalah yang Makin Penting
Penyakit gigi dan mulut termasuk gangguan kesehatan paling umum di dunia, memengaruhi sekitar 3,5 miliar orang. Di usia lanjut, menjaga kesehatan mulut bukan sekadar soal senyum ini bagian penting dari penuaan yang sehat dan berkaitan erat dengan kualitas hidup secara keseluruhan.
Yang menarik, generasi lansia sekarang berbeda dari dulu. Berkat kemajuan perawatan gigi, makin banyak orang tua yang mempertahankan gigi asli mereka hingga usia sangat lanjut. Kabar baiknya: mereka tak lagi kehilangan seluruh gigi. Kabar kurang baiknya: gigi asli yang tersisa itu tetap butuh perawatan rutin bahkan makin butuh, karena risiko masalah mulut meningkat seiring bertambahnya usia dan menumpuknya penyakit kronis.
Di Norwegia, layanan gigi terbagi dua. Ada layanan gigi swasta, yang umumnya dibayar sendiri dari kantong pasien. Dan ada layanan gigi publik (disingkat PDS, public dental service), yang menyediakan perawatan gratis bagi kelompok prioritas: anak-anak, remaja, penyandang kebutuhan khusus, serta lansia yang bergantung pada layanan perawatan di rumah (home care services/HCS).
Aturannya cukup jelas: lansia yang sudah menerima bantuan perawatan di rumah minimal tiga bulan, dengan frekuensi setidaknya sekali seminggu, berhak mendapat perawatan gigi gratis di PDS. Namun data sebelumnya menunjukkan hanya satu dari lima lansia dalam kelompok ini yang benar-benar memanfaatkannya — dan sampai kini, belum ada yang menyelidiki mengapa.
Apa yang Dilakukan Peneliti
Tim peneliti dari University of Oslo dan Oral Health Centre of Expertise in Eastern Norway ingin memetakan seberapa sering lansia penerima home care benar-benar pergi ke dokter gigi, sekaligus mencari tahu faktor apa yang memengaruhinya. Ini disebut sebagai studi pertama yang secara khusus meneliti hal tersebut pada lansia penerima home care di Norwegia.
Mereka mewawancarai 116 lansia berusia 65 tahun ke atas (rata-rata 83 tahun, rentang 65 - 102 tahun, sekitar separuhnya perempuan) di empat kota/kabupaten mencakup wilayah perkotaan maupun pedesaan di Norwegia bagian tenggara. Wawancara dilakukan langsung di rumah masing-masing peserta, berlangsung 20 hingga 60 menit, dan dipandu tim yang terdiri atas dokter gigi, perawat gigi (dental hygienist), dan peneliti. Pengumpulan data berlangsung dari Desember 2020 hingga Januari 2023 molor cukup lama karena berkali-kali terganggu pembatasan pandemi COVID-19.
Untuk menganalisis datanya, peneliti memakai kerangka yang dikenal sebagai model perilaku Andersen. Sederhananya, model ini melihat pemanfaatan layanan kesehatan dari beberapa sudut sekaligus: faktor bawaan (usia, jenis kelamin, pendidikan), faktor pemungkin (penghasilan, jenis layanan), faktor kebutuhan (kondisi gigi, rasa sakit), serta kebiasaan menjaga kebersihan mulut dan kondisi kesehatan umum.
Hasilnya: Banyak Hak yang Menguap Begitu Saja
Sekilas, angkanya tampak lumayan. Sekitar dua pertiga peserta (67,2%) mengaku memeriksakan gigi setidaknya sekali setahun. Angka ini tergolong tinggi dibandingkan lansia serupa di negara lain — tetapi masih di bawah rata-rata lansia Norwegia pada umumnya, yang mencapai sekitar 88–90%. Sementara itu, hampir seperempat peserta (24,1%) hanya ke dokter gigi saat ada masalah mendesak, bukan untuk pemeriksaan rutin.
Yang paling mencolok justru soal hak atas layanan gratis. Hampir semua peserta 95,6% sebenarnya memenuhi syarat untuk mendapat perawatan gigi gratis di PDS. Namun:
Hanya sekitar 57% (66 orang) yang tahu bahwa mereka punya hak itu.
Dari yang tahu pun, hanya sekitar 56,5% (35 orang) yang benar-benar menggunakan layanan publik gratis tersebut.
Dengan kata lain, sebagian besar hak atas perawatan gigi gratis ini menguap begitu saja entah karena tidak diketahui, entah karena diketahui tapi tidak dipakai.
Dan inilah bagian yang paling mengejutkan: lebih dari 40% lansia yang sudah tahu mereka berhak atas perawatan gratis tetap memilih membayar sendiri ke dokter gigi swasta. Ada pilihan cuma-cuma, tapi mereka justru merogoh kocek.
Dari analisis statistik, peneliti menemukan beberapa pola yang bermakna:
Semakin banyak gigi asli yang tersisa, semakin rutin seseorang ke dokter gigi. Dari lansia yang masih punya gigi asli lengkap, 85,7% rutin periksa. Sebaliknya, dari mereka yang sudah ompong total (tak punya gigi asli sama sekali), hanya 12,5% yang rutin datang.
Mereka yang tahu haknya lebih sering memakai layanan publik dibanding yang tidak tahu.
Pengguna layanan swasta justru lebih rutin memeriksakan gigi dibanding pengguna layanan publik.