Skip to Content

PCOS dan Penyakit Gusi Berdarah

October 25, 2026 by
Carigi Indonesia

PCOS dan Penyakit Gusi Berdarah

PCOS dan Penyakit Gusi Berdarah

PCOS dan Gusi Berdarah: Perempuan dengan Sindrom Ovarium Polikistik Tiga Kali Lebih Sering Mengalami Penyakit Gusi

Sindrom ovarium polikistik atau PCOS selama ini lebih dikenal sebagai gangguan hormon yang memengaruhi siklus haid dan kesuburan. Namun sebuah penelitian di Spanyol menemukan bahwa dampaknya bisa sampai ke mulut. Dari 145 perempuan yang diperiksa, penyakit gusi ditemukan pada 40,5% perempuan dengan PCOS, dibandingkan hanya 11,2% pada perempuan tanpa PCOS. Hubungan ini tetap terlihat meski kebiasaan menjaga kebersihan mulut sudah diperhitungkan, dan tampaknya berkaitan erat dengan kadar insulin dalam darah.

PCOS, Bukan Sekadar Masalah Haid

Sindrom ovarium polikistik (PCOS) dialami sekitar 6–13% perempuan usia subur di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Banyak kasusnya belum terdiagnosis. PCOS umumnya ditandai dengan:

  • kadar hormon androgen (hormon "laki-laki") yang tinggi, dengan gejala seperti jerawat atau pertumbuhan rambut berlebih,

  • haid yang tidak teratur atau tidak terjadi ovulasi,

  • dan gambaran banyak kantong kecil (kista) pada indung telur.

Namun PCOS kini dipandang sebagai gangguan yang memengaruhi seluruh tubuh. Banyak perempuan dengan PCOS mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi ketika tubuh kurang peka terhadap insulin sehingga pankreas harus memproduksi insulin lebih banyak. PCOS juga berkaitan dengan peradangan ringan yang berlangsung terus-menerus di dalam tubuh.

Gusi yang Meradang dan Tubuh yang Meradang

Penyakit gusi (penyakit periodontal) meliputi dua tahap utama:

  • Gingivitis: radang gusi yang terbatas pada gusi, ditandai gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah. Tahap ini masih bisa pulih sepenuhnya.

  • Periodontitis: peradangan yang sudah merusak jaringan penyangga gigi dan tulang rahang. Kerusakan pada tahap ini tidak bisa kembali seperti semula.

Peradangan di gusi tidak hanya berdampak di mulut. Zat-zat peradangan dari gusi dapat masuk ke aliran darah dan memperburuk resistensi insulin. Sebaliknya, kondisi seperti diabetes, obesitas, dan sindrom metabolik membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit gusi.

Karena PCOS juga melibatkan resistensi insulin dan peradangan, para ahli menduga ada hubungan antara PCOS dan penyakit gusi. Namun bukti yang ada masih terbatas.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari Departemen Stomatologi University of Valencia dan Departemen Endokrinologi Rumah Sakit Universitas Dr. Peset, Valencia, Spanyol, yang dipimpin Cecilia Fabiana Márquez-Arrico, membandingkan dua kelompok perempuan berusia 18–45 tahun:

  • 74 perempuan dengan PCOS yang didiagnosis berdasarkan kriteria internasional (kriteria Rotterdam),

  • 71 perempuan tanpa PCOS dengan usia yang sebanding.

Peserta yang sedang hamil, baru minum antibiotik, menyandang diabetes, penyakit autoimun, atau kondisi lain yang bisa memengaruhi gusi tidak diikutsertakan. Usia rata-rata peserta sekitar 28 tahun.

Setiap peserta menjalani:

  1. Pemeriksaan gusi menyeluruh oleh seorang dokter gigi spesialis periodonsia, termasuk mengukur kedalaman celah gusi, kerusakan jaringan penyangga gigi, perdarahan gusi saat diperiksa, plak, dan karang gigi, serta foto rontgen.

  2. Pemeriksaan darah saat puasa, untuk mengukur kadar hormon, gula darah, insulin, kolesterol, dan berbagai penanda peradangan.

  3. Pengukuran tubuh, seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar pinggang.

  4. Kuesioner tentang kebiasaan menyikat gigi, membersihkan sela gigi, merokok, dan minum alkohol.

Hasilnya

1. Profil metabolik perempuan dengan PCOS lebih buruk

Dibandingkan perempuan tanpa PCOS, perempuan dengan PCOS memiliki:

  • indeks massa tubuh dan lingkar pinggang yang lebih besar,

  • kadar insulin lebih tinggi dan resistensi insulin yang lebih besar,

  • kolesterol total, kolesterol LDL ("jahat"), dan trigliserida lebih tinggi, serta kolesterol HDL ("baik") lebih rendah,

  • dan sejumlah penanda peradangan yang lebih tinggi.

Secara keseluruhan, perempuan dengan PCOS menunjukkan kondisi peradangan ringan di seluruh tubuh.

2. Penyakit gusi jauh lebih sering ditemukan

Penyakit gusi ditemukan pada 30 dari 74 perempuan dengan PCOS (40,5%), dibandingkan 8 dari 71 perempuan tanpa PCOS (11,2%). Secara statistik, perempuan dengan PCOS memiliki peluang sekitar 5 kali lebih besar mengalami penyakit gusi.

Sebagian besar kasus berupa gingivitis, yaitu radang gusi tahap awal: 32,3% pada kelompok PCOS dibandingkan 8,5% pada kelompok pembanding. Periodontitis, tahap yang lebih berat, jarang ditemukan pada kedua kelompok, meski sedikit lebih banyak pada perempuan dengan PCOS.

Perempuan dengan PCOS juga menunjukkan perdarahan gusi yang lebih banyak, plak yang lebih banyak, serta lebih banyak gigi dengan kerusakan jaringan penyangga.

3. Bukan semata karena jarang menyikat gigi

Secara umum, kebiasaan menjaga kebersihan mulut peserta cukup baik. Namun ada sedikit perbedaan: sekitar 15% perempuan dengan PCOS hanya menyikat gigi sekali sehari, dibandingkan sekitar 1% pada kelompok pembanding.

Untuk memastikan apakah perbedaan ini yang menjelaskan tingginya penyakit gusi, peneliti memperhitungkan kebiasaan menjaga kebersihan mulut dalam analisis. Hasilnya, PCOS tetap berkaitan dengan penyakit gusi, dengan peluang sekitar 4,8 kali lebih besar. Kebersihan mulut yang baik sendiri terbukti menjadi faktor pelindung.

Artinya, kebersihan mulut memang penting, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa perempuan dengan PCOS lebih sering mengalami penyakit gusi.

4. Insulin sebagai penghubung utama

Peneliti kemudian mencari faktor dalam darah yang paling berkaitan dengan kondisi gusi:

  • Kadar insulin berkaitan dengan celah gusi yang lebih dalam dan perdarahan gusi yang lebih banyak.

  • Kolesterol HDL yang lebih tinggi berkaitan dengan perdarahan gusi yang lebih sedikit.

  • Penanda peradangan bernama C3c berkaitan dengan penumpukan plak.

  • Lingkar pinggang berkaitan dengan hampir semua ukuran kesehatan gusi.

Ketika seluruh peserta dikelompokkan berdasarkan kadar insulin puasa, perbedaannya cukup jelas. Pada peserta dengan kadar insulin 7,7 µIU/mL atau lebih rendah, hanya sekitar 7,6% yang mengalami penyakit gusi. Pada peserta dengan kadar insulin di atas 7,7 µIU/mL, angkanya naik menjadi sekitar 34,5%.

5. Kabar baiknya: kebanyakan masih tahap awal

Kaitan yang ditemukan terutama berhubungan dengan peradangan gusi dan plak, yaitu tahap awal penyakit gusi yang masih bisa dipulihkan, bukan kerusakan jaringan yang sudah permanen. Menurut peneliti, ini berarti merawat radang gusi pada perempuan dengan PCOS sejak dini sangat penting agar tidak berkembang menjadi periodontitis.

Mengapa PCOS Bisa Memengaruhi Gusi?

Para peneliti menjelaskan beberapa kemungkinan:

  • Resistensi insulin dapat mengganggu kerja sel-sel pertahanan tubuh, meningkatkan kerusakan sel akibat stres oksidatif, dan memperkuat reaksi peradangan di jaringan gusi.

  • Kadar insulin dan gula yang tinggi dapat memicu terbentuknya senyawa yang memperparah peradangan di gusi.

  • Sistem kekebalan yang terlalu aktif. Penanda C3 yang tinggi pada PCOS dapat memperkuat respons peradangan terhadap bakteri di gusi.

  • Kolesterol HDL memiliki sifat antioksidan dan antiradang, sehingga kadar HDL yang rendah pada PCOS mungkin membuat gusi lebih rentan.

Hubungan ini juga bisa berjalan dua arah. Radang gusi pada perempuan dengan PCOS diduga dapat memperburuk peradangan di seluruh tubuh dan gangguan metabolik.

Catatan Penting dari Peneliti

Para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini hanya mengamati satu waktu, sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. Penelitian jangka panjang dan uji klinis masih diperlukan untuk memastikan apakah PCOS menyebabkan penyakit gusi, atau sebaliknya.

Selain itu, beberapa hal perlu diperhatikan:

  • Jumlah peserta relatif kecil dan berasal dari satu rumah sakit di Spanyol.

  • Kebanyakan kasus penyakit gusi berupa gingivitis, sementara kasus periodontitis sangat sedikit, sehingga hubungan PCOS dengan penyakit gusi yang berat belum bisa disimpulkan.

  • Berat badan kedua kelompok tidak sama. Ringkasan jurnal menyebut kedua kelompok sebanding dalam usia dan berat badan, tetapi data hasil menunjukkan perempuan dengan PCOS memiliki indeks massa tubuh dan lingkar pinggang yang lebih besar. Hal ini bisa ikut memengaruhi hasil.

  • Pengobatan PCOS, seperti pil KB kombinasi dan metformin, lebih banyak digunakan oleh kelompok PCOS dan dicatat oleh peneliti, tetapi pengaruhnya terhadap gusi tidak dianalisis secara khusus.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan dengan PCOS lebih sering mengalami penyakit gusi, terutama radang gusi tahap awal, dibandingkan perempuan tanpa PCOS. Hubungan ini tidak sepenuhnya dijelaskan oleh kebiasaan menjaga kebersihan mulut, dan tampaknya berkaitan dengan gangguan metabolik dan peradangan yang menyertai PCOS, dengan resistensi insulin sebagai penghubung utama.

Para peneliti menyarankan agar pemeriksaan gusi menjadi bagian dari perawatan perempuan dengan PCOS, dan bahwa pengendalian metabolik, terutama perbaikan resistensi insulin, mungkin juga bermanfaat bagi kesehatan gusi.

Bagi perempuan dengan PCOS, pesannya: perhatikan kesehatan gusi Anda. Bila gusi sering merah, bengkak, atau berdarah saat menyikat gigi, jangan dianggap sepele. Sikat gigi minimal dua kali sehari, bersihkan sela gigi, dan periksakan gigi secara rutin ke dokter gigi. Beri tahu dokter gigi bahwa Anda memiliki PCOS, serta obat-obatan yang Anda konsumsi. Menjaga berat badan, pola makan, dan aktivitas fisik sesuai anjuran dokter juga dapat membantu mengendalikan resistensi insulin, yang mungkin ikut bermanfaat bagi gusi.

Referensi

Márquez-Arrico CF, Pelechá-Salvador M, López-Domènech S, Fernández-Reyes M, Silvestre FJ, Silvestre-Rangil J, Montiel-Company JM, Rocha M. Polycystic ovary syndrome and periodontal disease: an until-now undiscovered connection influenced by metabolic parameters. BMC Oral Health. 2026;26:1909. 

DOI: https://doi.org/10.1186/s12903-026-09196-4

Carigi Indonesia October 25, 2026
Share this post
Tags
Archive
Anak Diabetes Tipe 1: Gigi Berlubang Sama, Gusi Lebih Bermasalah