Skip to Content

Patogenesis & Diagnosis Burning Mouth Syndrome

June 9, 2026 by
Carigi Indonesia

Patogenesis & Diagnosis Burning Mouth Syndrome

Patogenesis & Diagnosis Burning Mouth Syndrome

Burning Mouth Syndrome: Saat Mulut Terasa Terbakar Tanpa Penyebab yang Jelas

Memahami Gangguan Nyeri Mulut yang Masih Menjadi Misteri

Bayangkan merasakan sensasi terbakar di dalam mulut setiap hari, tetapi saat diperiksa tidak ditemukan luka, infeksi, maupun masalah gigi yang dapat menjelaskannya. Kondisi inilah yang dialami oleh banyak penderita Burning Mouth Syndrome (BMS) atau sindrom mulut terbakar.

Sebuah artikel tinjauan ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Oral & Facial Pain and Headache mengulas perkembangan terbaru mengenai penyebab dan metode diagnosis BMS. Temuan-temuan ini membantu para klinisi memahami bahwa gangguan tersebut jauh lebih kompleks daripada sekadar masalah pada rongga mulut.

Apa Itu Burning Mouth Syndrome?

Burning Mouth Syndrome adalah gangguan nyeri kronis yang ditandai oleh sensasi terbakar, perih, atau tidak nyaman pada rongga mulut yang berlangsung lebih dari tiga bulan tanpa ditemukan penyebab klinis yang jelas.

Lidah merupakan lokasi yang paling sering terkena, tetapi keluhan juga dapat muncul pada bibir, langit-langit mulut, gusi, maupun bagian rongga mulut lainnya.

Selain rasa terbakar, penderita sering mengeluhkan:

  • Mulut terasa kering

  • Perubahan atau gangguan pengecapan

  • Kesemutan atau mati rasa

  • Rasa tidak nyaman yang mengganggu aktivitas sehari-hari

Selama bertahun-tahun BMS dianggap sebagai kumpulan gejala (sindrom). Namun, para peneliti kini mulai memandangnya sebagai suatu gangguan nyeri tersendiri karena sensasi terbakar merupakan gejala utama yang selalu ditemukan pada pasien.

Siapa yang Paling Sering Mengalaminya?

Secara global, Burning Mouth Syndrome diperkirakan dialami oleh sekitar 1,7% populasi. Meskipun tergolong tidak terlalu umum, kondisi ini cukup sering ditemukan pada pasien yang datang ke klinik kedokteran gigi.

BMS jauh lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki, terutama pada usia di atas 50 tahun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan dapat mengalami kondisi ini tiga hingga sembilan kali lebih sering dibandingkan laki-laki.

Tingginya angka kejadian pada perempuan pascamenopause membuat para peneliti tertarik untuk mempelajari kemungkinan peran perubahan hormonal dalam perkembangan penyakit ini.

Bukan Sekadar Masalah di Mulut

Salah satu perubahan terbesar dalam pemahaman mengenai BMS adalah pandangan bahwa gangguan ini bukan hanya berasal dari rongga mulut.

Bukti ilmiah yang semakin kuat menunjukkan bahwa BMS kemungkinan merupakan gangguan nyeri neuropatik atau nociplastik. Artinya, sistem saraf mengalami perubahan yang menyebabkan seseorang merasakan nyeri meskipun tidak terdapat kerusakan jaringan yang nyata.

Penelitian menemukan adanya perubahan pada saraf sensorik kecil di jaringan mulut. Beberapa pasien bahkan menunjukkan penurunan jumlah serabut saraf tertentu yang berperan dalam menghantarkan sensasi.

Perubahan tersebut dapat menyebabkan sinyal nyeri dikirim secara berlebihan ke otak sehingga muncul sensasi terbakar yang menetap.

Peran Otak dalam Munculnya Nyeri

Perkembangan teknologi pencitraan otak memberikan petunjuk baru mengenai BMS.

Beberapa penelitian menggunakan MRI dan teknik pencitraan modern lainnya menemukan perubahan pada area otak yang berperan dalam pemrosesan nyeri, emosi, dan persepsi sensorik. Area-area tersebut antara lain thalamus, insula, amigdala, serta korteks prefrontal.

Temuan ini menunjukkan bahwa otak tidak hanya menerima sinyal nyeri, tetapi juga mungkin berperan dalam mempertahankan sensasi terbakar yang dialami pasien.

Peneliti juga menemukan adanya perubahan yang disebut white matter hyperintensities pada sebagian penderita BMS. Meskipun hubungan pastinya masih diteliti, perubahan tersebut diduga berkaitan dengan gangguan pemrosesan nyeri kronis.

Hubungan antara Nyeri, Stres, dan Kesehatan Mental

Banyak penderita BMS juga mengalami masalah psikologis seperti:

  • Kecemasan

  • Depresi

  • Gangguan tidur

  • Stres kronis

Menariknya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi psikologis tersebut sering kali muncul sebelum gejala BMS berkembang. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor psikologis mungkin berperan dalam memicu atau memperburuk gangguan tersebut.

Stres yang berlangsung lama dapat memengaruhi hormon, sistem kekebalan tubuh, neurotransmiter, serta mekanisme pengaturan nyeri di otak. Akibatnya, sensitivitas terhadap rasa sakit meningkat dan gejala menjadi lebih sulit dikendalikan.

Karena itu, para ahli kini menggunakan pendekatan biopsikososial, yaitu memahami BMS sebagai hasil interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan sosial.

Apakah Hormon dan Penyakit Lain Ikut Berperan?

Karena sering ditemukan pada perempuan pascamenopause, perubahan hormon diduga memiliki hubungan dengan BMS. Namun hingga saat ini, bukti ilmiah mengenai peran hormon masih belum konsisten.

Selain itu, beberapa kondisi kesehatan lain juga sering ditemukan bersamaan dengan BMS, antara lain:

  • Hipertensi

  • Kadar kolesterol tinggi

  • Gangguan tiroid

  • Penyakit refluks gastroesofageal (GERD)

  • Peningkatan kadar homosistein

  • Gangguan kecemasan dan depresi

Walaupun belum tentu menjadi penyebab langsung, kondisi-kondisi tersebut dapat memengaruhi lingkungan biologis tubuh dan memperburuk persepsi nyeri.

Mengapa Diagnosis BMS Sulit Ditegakkan?

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani Burning Mouth Syndrome adalah proses diagnosisnya.

Hingga saat ini belum tersedia pemeriksaan tunggal yang dapat memastikan seseorang menderita BMS. Oleh karena itu, dokter harus terlebih dahulu menyingkirkan berbagai kemungkinan penyebab lain dari sensasi terbakar di mulut, seperti:

  • Infeksi jamur atau bakteri

  • Kekurangan vitamin dan mineral

  • Diabetes mellitus

  • Gangguan tiroid

  • Penyakit autoimun

  • Efek samping obat-obatan

  • Gangguan kelenjar ludah

Artikel ini menekankan pentingnya penggunaan algoritma diagnosis yang sistematis. Pendekatan tersebut meliputi wawancara medis yang mendalam, pemeriksaan klinis, tes laboratorium, evaluasi fungsi saraf, pemeriksaan pencitraan, hingga penilaian kondisi psikologis pasien.

Dengan pendekatan yang terstruktur, diagnosis dapat ditegakkan lebih cepat dan akurat sehingga pasien memperoleh penanganan yang tepat.

Menuju Penanganan yang Lebih Personal

Para penulis menyimpulkan bahwa Burning Mouth Syndrome merupakan gangguan yang kompleks dan melibatkan banyak faktor sekaligus. Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan seluruh kasus.

Sebaliknya, kondisi ini kemungkinan muncul akibat interaksi antara perubahan sistem saraf, faktor psikologis, kondisi kesehatan sistemik, serta faktor hormonal.

Di masa depan, perkembangan biomarker, teknik pencitraan yang lebih canggih, dan pendekatan kedokteran presisi diharapkan mampu membantu dokter mengidentifikasi subtipe BMS yang berbeda sehingga terapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.

Kesimpulan

Burning Mouth Syndrome merupakan gangguan nyeri kronis yang ditandai sensasi terbakar pada rongga mulut tanpa adanya penyebab yang jelas secara klinis. Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan perubahan sistem saraf, fungsi otak, faktor psikologis, dan berbagai kondisi kesehatan lainnya.

Pemahaman yang semakin mendalam mengenai mekanisme BMS membuka peluang untuk diagnosis yang lebih akurat dan penanganan yang lebih personal. Dengan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter gigi, ahli saraf, dan profesional kesehatan mental, kualitas hidup pasien diharapkan dapat meningkat secara signifikan.

Referens

Canfora F, Calabria E, Armogida NG, Ottaviani G, Mignogna MD, Spagnuolo G, Adamo D. Burning Mouth Syndrome: Updates on Pathogenesis and Diagnostic Algorithms. Journal of Oral & Facial Pain and Headache. 2025;39(4). DOI: 10.22514/jofph.2025.064.

Carigi Indonesia June 9, 2026
Share this post
Tags
Archive
Disbiosis Mikrobioma Karies Gigi