Skip to Content

Pakai Behel, Gigi Sudah Bersih? Remaja Cenderung Terlalu Optimis

October 20, 2026 by
Carigi Indonesia

Pakai Behel, Gigi Sudah Bersih? Remaja Cenderung Terlalu Optimis

Pakai Behel, Gigi Sudah Bersih? Remaja Cenderung Terlalu OptimisPakai Behel, Gigi Sudah Bersih? Remaja Cenderung Terlalu Optimis

Pakai Behel, Merasa Gigi Sudah Bersih? Studi Pelacakan Mata Ungkap Remaja Cenderung Terlalu Optimis Menilai Kebersihan Giginya

Membersihkan gigi saat memakai behel bukan perkara mudah. Kawat dan braket menjadi tempat sisa makanan dan plak bersembunyi. Tetapi apakah remaja pengguna behel, dan orang tua mereka, benar-benar bisa melihat apakah gigi itu sudah bersih? Sebuah penelitian di Jerman menggunakan teknologi pelacak gerak mata untuk mengamati cara remaja, orang tua, dan mahasiswa kedokteran gigi menilai kebersihan gigi pengguna behel. Hasilnya: mahasiswa kedokteran gigi menilai paling akurat, orang tua cenderung lebih ketat, sementara remaja lebih "murah hati". Kabar baiknya, pewarna plak terbukti membantu semua orang melihat plak dengan lebih jelas.

Behel dan Tantangan Menjaga Kebersihan Gigi

Meski kini ada pilihan aligner bening yang hampir tak terlihat, behel cekat atau kawat gigi dengan braket yang ditempel di gigi masih sangat umum dipakai dalam perawatan ortodonti. Tujuan utamanya adalah memperbaiki susunan gigi dan gigitan, sekaligus menghasilkan senyum yang lebih percaya diri.

Namun, selama perawatan berlangsung, menjaga kebersihan mulut menjadi tantangan tersendiri. Braket dan kawat membuat banyak sudut sulit dijangkau sikat gigi. Di sisi lain, sebagian pasien, terutama remaja, merasa kurang nyaman dengan behelnya, enggan memperlihatkan gigi, atau malu. Rasa tidak nyaman ini bisa berdampak pada kebiasaan menyikat gigi: lebih jarang, kurang teliti, dan kurang memperhatikan kebersihan mulut.

Padahal, kebersihan mulut yang buruk selama memakai behel bisa meningkatkan risiko gigi berlubang dan penyakit gusi. Masa remaja juga merupakan masa ketika gigi permanen sudah tumbuh lengkap, sehingga penting untuk membangun kebiasaan merawat gigi yang baik sejak dini.

Satu pertanyaan penting jarang diteliti: apakah remaja dan orang tuanya benar-benar mampu melihat plak di gigi yang memakai behel? Jika seseorang tidak bisa mengenali plak, sulit berharap ia membersihkannya dengan baik.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari Departemen Ortodonti, University Medical Center Johannes Gutenberg University Mainz, Jerman, yang dipimpin Frederic Fuchs dan Christina Erbe, membandingkan cara tiga kelompok menilai kebersihan gigi:

  • 28 remaja berusia 12–17 tahun yang sedang memakai behel cekat,

  • 28 orang tua atau wali dari remaja tersebut,

  • 30 mahasiswa kedokteran gigi tingkat akhir sebagai kelompok "ahli".

Langkah-langkah penelitiannya sebagai berikut:

  1. Memotret gigi pasien. Gigi depan setiap remaja difoto dua kali: sekali dalam kondisi apa adanya, dan sekali setelah diolesi pewarna plak (plaque disclosing agent), yaitu cairan yang mewarnai plak menjadi merah muda atau ungu sehingga mudah terlihat.

  2. Menilai kebersihan secara objektif. Peneliti menghitung jumlah plak pada setiap foto menggunakan indeks plak khusus untuk pengguna behel, lalu mengubahnya ke skala 0–10. Nilai 0 berarti tidak ada plak sama sekali, dan 10 berarti plak menutupi seluruh titik pengukuran.

  3. Meminta peserta menilai foto. Setiap peserta melihat 60 foto secara acak, masing-masing selama 5 detik, lalu memberi nilai kebersihan dari 0 (sangat baik) hingga 10 (sangat buruk).

  4. Merekam gerak mata. Selama menilai, gerak mata peserta direkam dengan alat pelacak mata (eye-tracking). Alat ini mencatat ke mana mata melihat, berapa panjang jalur pandangan, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mulai memperhatikan area tertentu.

  5. Mencatat kebiasaan menyikat gigi. Para remaja diberi kesempatan menyikat gigi di klinik, lalu teknik dan lama menyikat giginya dicatat.

Hasilnya

1. Mahasiswa kedokteran gigi melihat dengan paling "efisien"

Rekaman gerak mata menunjukkan perbedaan yang mencolok. Mahasiswa kedokteran gigi memiliki jalur pandangan paling pendek. Mereka mengamati foto secara sistematis: menentukan area yang perlu diperiksa, menilainya, lalu berpindah ke area berikutnya.

Sebaliknya, orang tua memiliki jalur pandangan paling panjang, disusul para remaja. Pola pandangan mereka cenderung acak: mulai dari satu titik, melompat ke sisi seberang, lalu kembali lagi. Peneliti menduga pola ini mencerminkan rasa kurang yakin saat menilai, sehingga mata terus mencari titik acuan.

Semakin banyak plak di foto, semakin panjang pula jalur pandangan peserta, karena lebih banyak area yang diperiksa.

2. Penilaian berbeda-beda: orang tua ketat, remaja lebih longgar

Mahasiswa kedokteran gigi memberikan penilaian paling akurat, sesuai dengan pengalaman mereka. Orang tua cenderung menilai lebih ketat, sementara remaja cenderung menilai lebih longgar atau menganggap gigi lebih bersih daripada kenyataannya.

Peneliti melihat sikap orang tua yang lebih kritis ini sebagai hal positif. Orang tua yang teliti bisa membantu mengawasi dan mendorong anaknya menjaga kebersihan gigi selama perawatan behel. Meski demikian, peneliti juga mengingatkan bahwa penelitian lain menunjukkan orang tua pun sering memiliki kekurangan dalam teknik menyikat gigi, sehingga belum tentu selalu menjadi contoh yang tepat.

Secara umum, semua kelompok cenderung "menarik nilai ke tengah". Gigi yang sangat bersih dinilai lebih kotor dari kenyataannya, sementara gigi yang sangat kotor dinilai lebih bersih dari kenyataannya.

3. Pewarna plak membuat penilaian lebih jelas

Penggunaan pewarna plak membuat penilaian lebih tajam pada semua kelompok. Setelah plak diwarnai, peserta menilai kebersihan gigi dengan lebih ketat dan lebih sesuai dengan jumlah plak yang sebenarnya. Pada foto tanpa pewarna, plak yang tidak terlihat jelas membuat gigi tampak lebih bersih.

Temuan ini sejalan dengan penelitian lain. Pewarna plak terbukti membantu menemukan dan mengangkat lebih banyak plak, bahkan membantu remaja di sebuah panti asuhan di Jepang memperbaiki cara menyikat gigi mereka.

4. Remaja dengan gigi paling kotor justru merasa giginya bersih

Peneliti juga meminta para remaja menilai foto gigi mereka sendiri. Hasilnya cukup menarik:

  • Remaja dengan kebersihan gigi sangat baik (nilai objektif 0–3) cenderung menilai giginya lebih ketat daripada kenyataannya.

  • Remaja dengan kebersihan gigi sedang (nilai 4–6) cenderung menilai giginya lebih bersih daripada kenyataannya.

  • Semua remaja dengan kebersihan gigi buruk (nilai 7 ke atas) menilai giginya lebih bersih daripada kenyataannya.

Dengan kata lain, mereka yang paling membutuhkan perbaikan justru paling tidak menyadarinya.

5. Lama menyikat gigi: belum terbukti berpengaruh

Rata-rata, para remaja menyikat gigi sekitar 78 detik, dengan rentang 35 hingga 125 detik. Angka ini umumnya di bawah anjuran dua menit.

Remaja yang menyikat gigi lebih lama tampak sedikit lebih akurat menilai kebersihan gigi. Namun hubungan ini lemah dan tidak bermakna secara statistik. Teknik menyikat gigi juga tidak berkaitan dengan akurasi penilaian.

Catatan Penting dari Peneliti

Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan:

  • Penilaian dilakukan melalui foto, bukan pemeriksaan langsung di mulut. Foto diam dalam kondisi percobaan bisa berbeda dari kondisi sebenarnya.

  • Hanya foto gigi depan yang dinilai, padahal plak juga sering menumpuk di gigi belakang.

  • Kelompok "ahli" adalah mahasiswa tingkat akhir, bukan dokter gigi berpengalaman, sehingga hasilnya mungkin berbeda bila dinilai oleh spesialis.

  • Jumlah peserta relatif kecil dan hanya berasal dari satu klinik di Jerman.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa cara melihat dan menilai kebersihan gigi pengguna behel sangat berbeda antara remaja, orang tua, dan mahasiswa kedokteran gigi. Mahasiswa kedokteran gigi menilai paling akurat dan paling sistematis. Orang tua lebih ketat, sementara remaja cenderung lebih longgar, terutama mereka yang kebersihan giginya paling buruk.

Penggunaan pewarna plak terbukti sangat membantu semua kelompok melihat plak dengan lebih jelas. Para peneliti menyarankan pewarna plak juga dipakai di rumah untuk membantu memperbaiki kebiasaan menyikat gigi.

Bagi masyarakat, khususnya orang tua yang anaknya memakai behel, pesannya: jangan hanya mengandalkan penglihatan sekilas untuk memastikan gigi sudah bersih. Gunakan pewarna plak, yang tersedia dalam bentuk tablet kunyah atau cairan, secara berkala untuk melihat bagian gigi yang masih kotor. Dampingi anak saat menyikat gigi, pastikan durasinya cukup sekitar dua menit, dan mintalah dokter gigi atau ortodontis menunjukkan cara membersihkan gigi di sekitar braket dan kawat dengan benar.

Referensi

Fuchs F, Krause L, Bjelopavlovic M, Schmidtmann I, Erbe C. Perception of oral hygiene during orthodontic treatment: an eye-tracking and cross-sectional study. Scientific Reports. 2026;16:23538. DOI: https://doi.org/10.1038/s41598-026-63694-7


Carigi Indonesia October 20, 2026
Share this post
Tags
Archive
Sikat Gigi Saja Tak Cukup: Benang Gigi Angkat 90% Plak Sela Gigi