Obat Pereda Nyeri Gigi Bungsu Terampuh

Ketika Gigi Bungsu Menyerang: Studi Pertama Bandingkan Dua Kombinasi Obat Pereda Nyeri Kuat untuk Nyeri Akut Gigi
Sebuah uji klinis dari Turki menjawab pertanyaan lama para dokter gigi: manakah kombinasi pereda nyeri yang lebih efektif untuk pasien dengan gigi bungsu yang meradang?
Sakit Gigi yang Membuat Orang Rela Menunggu Berhari-hari
Nyeri akut akibat gigi bungsu yang tumbuh miring adalah salah satu alasan paling umum orang buru-buru mencari pertolongan dokter gigi. Rasanya berdenyut, sulit ditahan, dan sering disertai pembengkakan gusi, demam ringan, hingga mulut yang sulit dibuka.
Masalahnya, tidak semua pasien bisa langsung dicabut giginya. Jadwal bedah penuh, biaya belum cukup, atau rasa cemas sering membuat pasien menunda tindakan — dan selama itu, mereka bergantung sepenuhnya pada obat pereda nyeri. Pertanyaannya: obat apa yang paling efektif untuk meredakan nyeri akut selama masa tunggu ini?
Sebuah studi baru yang diterbitkan di Scientific Reports (kelompok jurnal Nature) pada Oktober 2025 mencoba menjawabnya. Dr. İbrahim Doğru dan Dr. Levent Ciğerim dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Van Yüzüncü Yıl, Turki, membandingkan dua kombinasi obat pereda nyeri yang sudah beredar di pasaran — dan ini adalah studi pertama di dunia yang secara langsung membandingkan keduanya pada nyeri akut gigi.
Mengenal Dulu: Apa Itu Perikoronitis?
Gigi bungsu (atau gigi geraham ketiga) adalah gigi yang paling sering mengalami masalah saat tumbuh. Karena tempatnya sempit, gigi ini sering tumbuh miring atau hanya muncul sebagian di permukaan gusi — kondisi yang disebut gigi impaksi.
Ketika gigi bungsu hanya tumbuh separuh, ada lipatan gusi yang menutupi sebagian mahkota gigi. Di celah sempit antara gusi dan gigi inilah sisa makanan dan bakteri terperangkap. Hasilnya adalah perikoronitis akut: peradangan yang menimbulkan nyeri hebat, bengkak, bau mulut, dan kadang demam serta pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
Solusi definitifnya adalah mencabut gigi tersebut. Tetapi sebelum pencabutan bisa dilakukan, infeksi harus dikendalikan dulu — biasanya dengan antibiotik — dan nyerinya harus ditangani dengan pereda nyeri.
Dua "Senjata" yang Dibandingkan
Dokter gigi biasanya memberikan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen atau naproksen untuk nyeri semacam ini. Masalahnya, jika nyerinya berat, NSAID tunggal sering tidak cukup. Menaikkan dosis NSAID bukan pilihan bijak karena efek samping lambung dan ginjal juga ikut meningkat.
Solusinya adalah kombinasi: menggabungkan NSAID dengan obat pereda nyeri dari kelas berbeda, sehingga efek pereda nyeri meningkat tanpa harus menaikkan dosis NSAID. Studi ini menguji dua kombinasi yang sudah tersedia dalam bentuk tablet jadi:
Kombinasi A: Naproksen sodium 550 mg + kodein fosfat 30 mg. Naproksen adalah NSAID, kodein adalah opioid ringan yang bekerja di sistem saraf pusat.
Kombinasi B: Dekstoprofen trometamol 25 mg + parasetamol 300 mg. Dekstoprofen adalah NSAID generasi lebih baru, sementara parasetamol bekerja secara sentral dengan efek antiinflamasi yang minimal.
Meskipun keduanya sudah lama beredar, sampai studi ini terbit, belum pernah ada penelitian yang secara langsung membandingkan efektivitas keduanya pada nyeri gigi akut.
Bagaimana Studinya Dilakukan
Antara Januari hingga Desember 2023, tim peneliti merekrut pasien yang datang ke klinik bedah mulut mereka dengan keluhan perikoronitis akut dari gigi bungsu bawah. Dari 100 orang yang dinilai, 62 pasien akhirnya menyelesaikan studi — 51 perempuan dan 11 laki-laki, dengan usia rata-rata sekitar 23 tahun.
Pasien dibagi secara acak ke dalam dua kelompok:
Kelompok A menerima kombinasi naproksen + kodein, dua kali sehari selama 7 hari.
Kelompok B menerima kombinasi dekstoprofen + parasetamol, dua kali sehari selama 7 hari.
Kedua kelompok juga mendapat amoksisilin 500 mg tiga kali sehari selama 5 hari untuk mengendalikan infeksi, serta parasetamol 500 mg sebagai obat cadangan jika nyeri tak tertahankan.
Pasien mencatat tingkat nyeri mereka menggunakan VAS (Visual Analogue Scale) — skala sederhana dari 0 (tidak nyeri) hingga 10 (nyeri tak tertahankan) — pada 10 titik waktu: 6 jam, 12 jam, 18 jam, 24 jam setelah dosis pertama, lalu setiap hari dari hari ke-2 hingga hari ke-7.
Apa yang Ditemukan: Kedua Obat Bekerja, Tapi Ada Pemenangnya
Hasilnya menarik. Kedua kombinasi obat terbukti sangat efektif menurunkan nyeri akut.
Pada kelompok naproksen + kodein, rata-rata nyeri turun dari 7,61 menjadi 1,26 — penurunan 83,44%.
Pada kelompok dekstoprofen + parasetamol, rata-rata nyeri turun dari 7,19 menjadi 0,61 — penurunan 91,52%.
Selama enam hari pertama, tidak ada perbedaan statistik yang bermakna antara kedua kelompok — keduanya sama-sama meredakan nyeri dengan baik. Tetapi pada hari ke-7, kelompok dekstoprofen + parasetamol memiliki nyeri yang nyata lebih rendah secara statistik (p < 0,05).
Dengan kata lain: kedua kombinasi ampuh, tetapi dekstoprofen + parasetamol memberikan hasil akhir yang sedikit lebih baik di akhir periode pengobatan seminggu.
Bagaimana dengan efek samping?
Kekhawatiran utama penggunaan NSAID adalah keluhan lambung. Dalam studi ini, efek samping tergolong ringan dan frekuensinya mirip di kedua kelompok:
Pada kelompok naproksen + kodein: sakit kepala pada 4 pasien, mual pada 2 pasien, diare pada 1 pasien.
Pada kelompok dekstoprofen + parasetamol: sakit perut pada 2 pasien.
Tidak ada pasien yang harus menghentikan pengobatan karena efek samping.
Mengapa Studi Ini Penting
1. Memberi dokter gigi pilihan berbasis bukti
Sampai sekarang, dokter gigi memilih antara dua kombinasi ini sebagian besar berdasarkan ketersediaan dan pengalaman klinis. Studi ini adalah bukti ilmiah pertama yang menyandingkan keduanya secara langsung — memberi dasar rasional untuk pemilihan obat, terutama untuk pasien yang memerlukan kontrol nyeri hingga 7 hari penuh.
2. Menegaskan logika "kombinasi lebih baik daripada dosis tinggi"
Temuan ini memperkuat prinsip yang sudah lama dipegang dalam farmakologi: mengombinasikan NSAID dengan analgesik kelas lain memberikan efek pereda nyeri yang lebih kuat tanpa harus menaikkan dosis NSAID. Bagi pasien, artinya kontrol nyeri yang lebih baik dengan risiko efek samping lambung yang lebih terkendali.
3. Menjawab kebutuhan pasien dalam "masa tunggu"
Banyak pasien yang mengalami perikoronitis akut tidak bisa langsung menjalani pencabutan gigi bungsu — entah karena kondisi sistemik yang harus distabilkan dulu, antrean operasi, atau alasan lain. Studi ini menunjukkan bahwa kedua kombinasi mampu menurunkan nyeri dari "sangat berat" (VAS ≥ 7) ke tingkat "ringan" atau bahkan nol dalam satu minggu — memberi pasien kenyamanan hingga tindakan definitif bisa dilakukan.
4. Mengingatkan bahwa obat bukan solusi tunggal
Penulis menekankan bahwa pengobatan medis tidak menggantikan pencabutan gigi penyebab. Tanpa menghilangkan sumber infeksi, perikoronitis berisiko kambuh. Pereda nyeri adalah jembatan, bukan tujuan akhir.
Catatan Penting: Keterbatasan Studi
Para peneliti sendiri jujur menyebutkan sejumlah keterbatasan:
Studi ini bersifat single-blind dan dilakukan di satu pusat saja — karena tablet kedua obat berbeda warna dan ukuran, pasien mungkin bisa mengenali obat yang mereka minum.
Tidak ada pengukuran penanda biologis inflamasi (seperti CRP atau IL-6) sehingga penilaian sepenuhnya bergantung pada laporan nyeri pasien.
Antibiotik amoksisilin yang diberikan pada kedua kelompok mungkin ikut memengaruhi hasil dengan meredakan inflamasi dari sisi infeksinya.
Perbedaan ambang nyeri, kondisi psikologis, dan kapasitas penyembuhan tiap individu juga bisa memengaruhi hasil VAS.