Bukan Cuma Makanan, Obat-obatan Tertentu Juga Bisa Menyebabkan Bau Mulut
Bau Mulut Bisa Memiliki Banyak Penyebab
Bau mulut atau halitosis merupakan masalah yang cukup umum dan bukan sekadar persoalan kebersihan gigi dan mulut. Kondisi ini dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, hingga kualitas hidup seseorang. Bahkan, pada sebagian orang, bau mulut dapat menimbulkan rasa malu, kecemasan, dan keinginan untuk menghindari interaksi sosial.
Selama ini, penyebab bau mulut sering dikaitkan dengan makanan tertentu, kebersihan mulut yang kurang baik, karies, atau penyakit gusi. Namun, sebuah narrative review yang diterbitkan dalam International Dental Journal menunjukkan bahwa obat-obatan tertentu juga dapat berperan dalam munculnya bau mulut.
Studi yang ditulis oleh Mina Iranitalab dan Aviv Ouanounou dari Faculty of Dentistry, University of Toronto, secara khusus membahas berbagai obat yang dilaporkan dapat menyebabkan halitosis serta mekanisme yang mungkin mendasarinya.
Peneliti Menelusuri Literatur tentang Obat dan Bau Mulut
Penelitian ini merupakan narrative review, yaitu kajian yang merangkum dan menganalisis berbagai penelitian sebelumnya.
Peneliti melakukan pencarian literatur melalui PubMed dan EMBASE/OVID untuk publikasi periode Januari 2015 hingga Desember 2024. Google Scholar juga digunakan untuk menelusuri literatur tambahan. Peneliti memberikan perhatian khusus pada penelitian yang lebih baru, terutama publikasi tahun 2021–2025 dan artikel berbentuk systematic review.
Pertanyaan utama yang ingin dijawab adalah: obat apa saja yang dapat menyebabkan halitosis dan bagaimana mekanismenya?
Dua Jalur Obat dalam Menyebabkan Bau Mulut
Hasil kajian menunjukkan bahwa obat dapat berhubungan dengan halitosis melalui dua jalur utama, yaitu secara intra-oral dan extra-oral.
Halitosis intra-oral berasal dari kondisi di dalam rongga mulut. Sementara itu, halitosis extra-oral dapat berasal dari saluran pernapasan, sistem pencernaan, atau senyawa tertentu yang beredar melalui darah kemudian dikeluarkan melalui paru-paru.
Menariknya, sekitar 85–90% kasus halitosis berasal dari rongga mulut. Kondisi seperti lapisan pada lidah, penyakit periodontal, kebersihan mulut yang buruk, karies, infeksi, dan luka pada jaringan mulut merupakan faktor yang umum ditemukan.
Karena itu, pemeriksaan rongga mulut tetap menjadi langkah awal yang penting sebelum mencari kemungkinan penyebab lainnya.
Obat yang Dapat Berhubungan dengan Bau Mulut
Kajian ini menemukan sejumlah kelompok obat yang dilaporkan berhubungan dengan halitosis extra-oral. Di antaranya adalah ranitidine, cysteamine, beberapa obat antijamur, peppermint oil, aspirin dan NSAID, PX-12, silybin, disulfiram, suplatast tosilate, dimethylsulphoxide, levocarnitine, nitrat dan nitrit, paraldehyde, chloral hydrate, serta obat yang mengandung iodine.
Namun, hubungan tersebut tidak selalu memiliki tingkat bukti yang sama. Pada beberapa obat, penelitian telah menemukan hubungan yang cukup jelas, sementara pada obat lainnya bukti masih terbatas atau bahkan menunjukkan hasil yang berbeda-beda.
Salah satu contohnya adalah ranitidine. Sebuah systematic review sebelumnya memperkirakan halitosis dapat terjadi pada sekitar 1 dari 110 pasien yang mengonsumsi ranitidine 150 mg per hari. Namun, penelitian pharmacovigilance lain tidak menemukan halitosis sebagai efek samping yang dilaporkan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara obat dan bau mulut masih perlu dikaji lebih lanjut.
Cysteamine: Salah Satu Contoh dengan Hubungan yang Lebih Jelas
Cysteamine menjadi salah satu obat yang cukup menonjol dalam kajian ini. Obat tersebut digunakan antara lain untuk menangani cystinosis dan diketahui dapat menyebabkan bau tubuh atau napas yang khas.
Cysteamine merupakan senyawa yang mengandung sulfur. Dalam tubuh, senyawa ini dapat berkontribusi terhadap pembentukan volatile sulfur compounds (VSC), yaitu kelompok senyawa yang berperan penting dalam munculnya bau tidak sedap.
Menariknya, formulasi obat juga dapat memengaruhi keluhan tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien yang beralih dari cysteamine immediate-release ke formulasi enteric-coated atau extended-release mengalami perbaikan pada keluhan bau mulut.
Mulut Kering: Jalur Tidak Langsung yang Penting
Selain menghasilkan senyawa berbau secara langsung, obat juga dapat menyebabkan halitosis melalui xerostomia atau mulut kering.
Air liur memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan dan kesehatan rongga mulut. Ketika produksi air liur berkurang, kemampuan alami mulut untuk membersihkan sisa makanan dan mikroorganisme juga menurun. Kondisi tersebut dapat mendukung terbentuknya lingkungan yang lebih mudah menyebabkan bau mulut.
Kelompok obat yang dapat menyebabkan mulut kering cukup luas. Di antaranya adalah obat antikolinergik, beberapa antidepresan, antihistamin, obat antihipertensi, antipsikotik, ansiolitik, antivirus, pelemas otot, dekongestan, serta beberapa obat lainnya.
Dengan kata lain, obat tidak harus secara langsung menghasilkan bau untuk berkontribusi terhadap halitosis. Efek samping seperti berkurangnya produksi air liur juga dapat menjadi bagian dari rantai penyebabnya.
Bagaimana dengan Obat yang Berhubungan dengan MRONJ?
Kajian ini juga menyoroti medication-related osteonecrosis of the jaw (MRONJ) sebagai salah satu kondisi yang dapat berhubungan dengan halitosis.
Beberapa obat yang diketahui berkaitan dengan MRONJ antara lain bisphosphonate seperti zoledronate dan pamidronate, denosumab, serta sejumlah obat antiangiogenik. Kondisi MRONJ dapat disertai perubahan pada jaringan mulut dan peningkatan senyawa penyebab bau.
Penelitian yang dibahas dalam review tersebut menemukan bahwa kadar hidrogen sulfida dan methyl mercaptan berbeda secara signifikan pada pasien MRONJ dibandingkan kelompok osteoporosis dan individu sehat.
Apa Artinya bagi Dokter Gigi?
Temuan ini memberikan satu pesan penting: ketika pasien mengeluhkan bau mulut, riwayat penggunaan obat juga perlu diperhatikan.
Penulis merekomendasikan agar evaluasi dimulai dari faktor intra-oral yang lebih umum, seperti kebersihan mulut, lapisan lidah, penyakit periodontal, karies, gingivitis, mulut kering, luka pada jaringan mulut, hingga kondisi gigi tiruan. Faktor-faktor tersebut perlu ditangani terlebih dahulu sebelum penyebab extra-oral dipertimbangkan.
Jika bau mulut tetap bertahan setelah faktor di dalam rongga mulut ditangani, dokter dapat mempertimbangkan kemungkinan penyebab lain, termasuk efek obat, serta melakukan rujukan yang sesuai apabila diperlukan.
Penanganan Tidak Selalu Berarti Menghentikan Obat
Temuan mengenai obat sebagai salah satu kemungkinan penyebab halitosis bukan berarti pasien harus menghentikan obat yang sedang dikonsumsi.
Penanganan sebaiknya diarahkan pada mencari penyebab dan mengendalikan faktor yang dapat diperbaiki. Untuk faktor intra-oral, langkah yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan kebersihan gigi dan lidah, menangani gingivitis, periodontitis, dan karies, serta mengatasi mulut kering. Pada kondisi xerostomia, misalnya, peningkatan asupan cairan dan penggunaan pengganti saliva dapat membantu mengendalikan keluhan.
Dengan demikian, riwayat obat menjadi bagian penting dalam proses diagnosis, terutama ketika penyebab lain sudah dievaluasi.
Masih Dibutuhkan Penelitian Lebih Lanjut
Meskipun kajian ini berhasil mengidentifikasi berbagai obat yang dapat berhubungan dengan halitosis, penulis menekankan bahwa bukti ilmiahnya belum merata.
Hanya sedikit penelitian yang secara khusus memantau halitosis sebagai efek samping tersendiri. Selain itu, beberapa penelitian yang tersedia belum secara jelas membedakan apakah bau mulut yang terjadi berasal dari rongga mulut atau dari sumber extra-oral.
Karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme masing-masing obat dan menentukan seberapa sering halitosis benar-benar terjadi sebagai efek samping obat.
Kesimpulan
Bau mulut ternyata tidak selalu berkaitan dengan apa yang dimakan atau seberapa baik seseorang menyikat gigi. Obat-obatan tertentu juga dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap halitosis, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui mulut kering, gangguan gastrointestinal, maupun kondisi seperti MRONJ.
Namun, karena sebagian besar kasus halitosis berasal dari rongga mulut, pemeriksaan dan penanganan faktor oral tetap menjadi langkah awal yang utama.
Bagi tenaga kesehatan, terutama dokter gigi, pesan penting dari kajian ini adalah bahwa riwayat penggunaan obat perlu menjadi bagian dari evaluasi pasien dengan keluhan bau mulut. Dengan memahami kemungkinan hubungan antara obat dan halitosis, penyebab dapat ditelusuri secara lebih menyeluruh dan penanganan dapat dilakukan secara lebih tepat.
Referensi
Iranitalab M, Ouanounou A. Drug-Related Halitosis: A Narrative Review. International Dental Journal. 2026;76:109332. DOI: 10.1016/j.identj.2025.109332