Skip to Content

Migrasi Implan ke Sinus Maksilaris

June 18, 2026 by
Carigi Indonesia

Migrasi Implan ke Sinus Maksilaris

Migrasi Implan ke Sinus Maksilaris

Implan Gigi Masuk ke Rongga Sinus: Kasus Langka yang Berhasil Ditangani dengan Teknik Khusus

Inovasi Sederhana Membantu Pengangkatan Implan yang Bermigrasi ke Area Sulit Dijangkau

Pemasangan implan gigi telah menjadi salah satu solusi utama untuk menggantikan gigi yang hilang. Prosedur ini umumnya memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Namun, seperti tindakan medis lainnya, komplikasi tetap dapat terjadi. Salah satu komplikasi yang jarang tetapi cukup serius adalah berpindahnya implan gigi ke dalam sinus maksilaris, yaitu rongga berisi udara yang terletak di atas gigi rahang atas.

Sebuah laporan kasus yang dipublikasikan pada tahun 2026 menggambarkan penanganan unik terhadap kondisi tersebut. Tim peneliti dari Istanbul University berhasil mengangkat implan yang bermigrasi hingga ke ostium sinus maksilaris menggunakan pendekatan intraoral dan instrumen yang dimodifikasi secara khusus. Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya perencanaan yang tepat dan kreativitas klinis dalam menghadapi komplikasi yang tidak biasa.

Ketika Implan Gigi Masuk ke Sinus

Sinus maksilaris merupakan rongga yang berada di dalam tulang rahang atas dan dilapisi oleh membran khusus yang berfungsi membantu proses pembersihan alami saluran pernapasan. Pada beberapa pasien, terutama di daerah belakang rahang atas, ketebalan tulang yang terbatas dapat meningkatkan risiko terjadinya perpindahan implan ke dalam sinus selama atau setelah pemasangan.

Dalam kasus ini, seorang perempuan berusia 75 tahun menjalani pemasangan beberapa implan untuk rehabilitasi penuh rahang atas dan bawah. Saat pemasangan implan terakhir di sisi kiri rahang atas, implan tersebut secara tidak sengaja terdorong masuk ke dalam sinus maksilaris. Upaya pengambilan segera tidak berhasil karena posisi implan tidak lagi terlihat secara langsung. Pemeriksaan radiografi kemudian memastikan bahwa implan telah berpindah ke dalam rongga sinus.

Implan Bergerak Menuju Ostium Sinus

Satu minggu setelah kejadian, pasien dirujuk ke pusat bedah mulut dan maksilofasial untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Saat pemeriksaan, pasien hanya mengeluhkan nyeri ringan dan pembengkakan kecil pada area operasi. Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi sinus ataupun hubungan abnormal antara rongga mulut dan sinus.

Pemeriksaan menggunakan Cone-Beam Computed Tomography (CBCT) menunjukkan temuan yang menarik. Implan yang sebelumnya berada di dasar sinus ternyata telah berpindah ke area ostium, yaitu saluran alami yang menghubungkan sinus dengan rongga hidung. Para peneliti menduga perpindahan ini dipengaruhi oleh gerakan kepala pasien selama periode satu minggu setelah kejadian.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa benda asing di dalam sinus tidak selalu berada pada posisi yang sama dan dapat bermigrasi ke lokasi lain, sehingga menyulitkan proses pengambilan jika penanganan ditunda terlalu lama.

Mengembangkan Alat Khusus untuk Mengambil Implan

Biasanya, pengambilan benda asing dari sinus dapat dilakukan menggunakan teknik endoskopi yang memberikan visualisasi yang baik dan bersifat minimal invasif. Namun, dalam kasus ini pasien menolak prosedur endoskopi dan memilih tindakan melalui rongga mulut dengan anestesi lokal.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim bedah memodifikasi sebuah instrumen kedokteran gigi sederhana, yaitu dental explorer. Ujung alat tersebut dibentuk menjadi kait kecil yang mampu mengunci ulir implan sehingga memudahkan proses pengangkatan dari lokasi yang sulit dijangkau.

Selain itu, dokter juga menggunakan cermin gigi berlapis rhodium yang memiliki kemampuan refleksi tinggi dan tidak mudah berembun. Cermin ini memungkinkan operator melihat posisi implan secara tidak langsung ketika lokasi ostium sulit diamati secara langsung.

Operasi Berhasil Tanpa Komplikasi

Dokter membuat jendela tulang pada dinding lateral sinus untuk mendapatkan akses menuju lokasi implan. Dengan bantuan kombinasi visualisasi langsung dan pantulan cermin, implan berhasil dijangkau dan dikeluarkan menggunakan alat yang telah dimodifikasi sebelumnya.

Setelah implan berhasil diangkat, area operasi ditutup menggunakan Bichat Fat Pad (BFP) atau bantalan lemak bukal. Jaringan ini dipilih karena memiliki suplai darah yang baik, mudah dipindahkan ke lokasi operasi, serta efektif mencegah terbentuknya hubungan abnormal antara rongga mulut dan sinus (oroantral fistula).

Pasien kemudian mendapatkan terapi antibiotik, obat dekongestan hidung, dan obat anti nyeri untuk mendukung proses penyembuhan.

Penyembuhan Berjalan Sangat Baik

Hasil tindak lanjut menunjukkan bahwa proses penyembuhan berlangsung tanpa komplikasi. Pada evaluasi 10 hari, satu bulan, dan tiga bulan pascaoperasi, tidak ditemukan tanda infeksi, fistula, maupun keluhan lain dari pasien. Jaringan lunak di area operasi juga menunjukkan penyembuhan yang baik.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pendekatan intraoral dapat menjadi alternatif yang efektif pada kasus tertentu, terutama jika dilakukan dengan perencanaan yang matang dan mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien.

Pelajaran Penting dari Kasus Ini

Laporan kasus ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi dunia kedokteran gigi. Pertama, implan yang masuk ke dalam sinus sebaiknya segera ditangani karena dapat terus berpindah posisi dan meningkatkan risiko komplikasi seperti sinusitis atau terbentuknya fistula oroantral. Kedua, pemeriksaan radiografi tiga dimensi seperti CBCT sangat penting untuk menentukan lokasi benda asing secara akurat sebelum tindakan dilakukan. Ketiga, modifikasi instrumen sederhana yang disesuaikan dengan kondisi pasien dapat membantu menyelesaikan masalah yang kompleks secara efektif.

Walaupun hasilnya sangat baik, para penulis menekankan bahwa temuan ini berasal dari satu kasus klinis sehingga belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa pendekatan tersebut lebih unggul dibanding metode lain. Diperlukan penelitian dan laporan kasus tambahan untuk menentukan indikasi serta keberhasilan teknik ini pada berbagai kondisi klinis.

Kesimpulan

Perpindahan implan gigi ke dalam sinus maksilaris merupakan komplikasi yang jarang terjadi, tetapi dapat menimbulkan tantangan besar dalam penanganannya. Kasus ini menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang tepat, penggunaan teknologi pencitraan modern, serta modifikasi instrumen yang kreatif, implan yang bermigrasi hingga ke ostium sinus dapat berhasil diangkat melalui pendekatan intraoral yang relatif minimal invasif.

Keberhasilan penanganan ini sekaligus menegaskan pentingnya diagnosis dini dan tindakan cepat untuk mencegah komplikasi yang lebih serius pada pasien implantologi.

Referensi 

Kasapoglu MB, Sahabettinoglu A, Atalay B. Dental Implant Displacement Into the Maxillary Sinus Ostium: A Case Report of Customized Surgical Management. Cureus. 2026;18(4):e106421. DOI: 10.7759/cureus.106421.

Carigi Indonesia June 18, 2026
Share this post
Tags
Archive
Simulasi Virtual Reality Kaca Mulut Dokter Gigi