Tingkatkan Risiko Gigi Copot, Meski Sudah Berhenti

Merokok Terbukti Jadi "Biang Keladi" Kehilangan Gigi, Bahkan Setelah Berhenti pun Risikonya Belum Hilang Sepenuhnya
Selama ini merokok dikenal luas sebagai penyebab penyakit gusi (periodontitis). Namun sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru menegaskan sesuatu yang lebih tegas: merokok secara konsisten meningkatkan risiko kehilangan gigi secara nyata—dan uniknya, risiko itu tetap "menempel" sampai bertahun-tahun meski seseorang sudah berhenti merokok.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Clinical Periodontology (2026) ini dilakukan oleh tim peneliti dari University of Melbourne dan University of Sydney, Australia, bersama kolaborator dari Singapura. Studi ini mengumpulkan dan menganalisis ulang data dari 30 penelitian di seluruh dunia untuk menjawab satu pertanyaan besar: seberapa besar sebenarnya pengaruh rokok terhadap kehilangan gigi, dan apakah hubungan ini benar-benar bersifat sebab-akibat, bukan sekadar kebetulan?
Kenapa Pertanyaan Ini Penting?
Kehilangan gigi bukan sekadar masalah estetika. Kondisi ini bisa membatasi kemampuan seseorang mengunyah dan makan dengan baik, meningkatkan risiko kekurangan gizi, mengganggu komunikasi dan interaksi sosial, bahkan dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih buruk. Secara global, diperkirakan terdapat 353 juta orang yang sudah kehilangan seluruh giginya (edentulisme total).
Di sisi lain, merokok tetap menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia, dengan sekitar 1,18 miliar orang menjadi perokok aktif. Pada tahun 2019 saja, rokok tercatat bertanggung jawab atas 8,71 juta kematian secara global.
Sudah lama diketahui bahwa rokok menyebabkan periodontitis (radang gusi kronis), yang jika dibiarkan dapat berujung pada kehilangan gigi. Namun, penelitian-penelitian sebelumnya tentang hubungan rokok dan kehilangan gigi punya tiga celah besar: (1) banyak yang menggunakan desain penelitian yang rentan bias "sebab-akibat terbalik", (2) belum ada rangkuman kuantitatif (meta-analisis) soal hubungan dosis-respons—apakah makin banyak merokok, makin besar risikonya, dan (3) belum jelas apakah dampak rokok terhadap gigi ini berbeda-beda tergantung status sosial ekonomi seseorang.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Untuk menjawab celah-celah tersebut, tim peneliti melakukan pencarian sistematis di tiga basis data ilmiah besar (Embase, Ovid MEDLINE, dan Web of Science) untuk semua penelitian yang diterbitkan hingga Mei 2025, tanpa batasan tahun publikasi awal.
Satu keputusan metodologis yang penting dalam studi ini: peneliti sengaja mengecualikan penelitian potong-lintang (cross-sectional)—jenis penelitian yang hanya mengambil data pada satu titik waktu. Alasannya, penelitian jenis ini rawan bias "sebab-akibat terbalik" (reverse causation): bisa saja orang yang giginya sudah banyak hilang justru mengubah kebiasaan merokoknya, sehingga sulit dipastikan mana yang menjadi sebab dan mana yang menjadi akibat. Sebagai gantinya, studi ini hanya memasukkan penelitian kohort (yang mengikuti sekelompok orang dari waktu ke waktu) dan penelitian kasus-kontrol, dua desain yang lebih mampu menunjukkan urutan waktu yang jelas antara kebiasaan merokok dan kehilangan gigi—syarat penting untuk bisa bicara soal hubungan sebab-akibat, bukan sekadar korelasi.
Dari proses pencarian awal yang menjaring 3.265 publikasi, setelah proses penyaringan berlapis, akhirnya 30 studi dari berbagai negara (sebagian besar negara berpenghasilan tinggi seperti Swedia, Amerika Serikat, dan Jepang) memenuhi syarat untuk dianalisis lebih lanjut, dengan total gabungan lebih dari 193.000 partisipan. Kualitas tiap studi juga dinilai secara ketat menggunakan alat penilaian risiko bias bernama ROBINS-E.
Temuan Utama: Risiko Kehilangan Gigi Meningkat Nyata pada Perokok
1. Perokok aktif berisiko 41% lebih tinggi kehilangan gigi
Dari lima studi kohort berkualitas yang bisa digabungkan dalam meta-analisis, ditemukan bahwa perokok aktif memiliki risiko 1,41 kali lebih tinggi mengalami kehilangan gigi dibandingkan orang yang tidak pernah merokok. Angka ini berasal dari gabungan data lebih dari 64.000 partisipan dengan masa pengamatan rata-rata 9,3 tahun.
2. Risiko tetap ada meski sudah berhenti merokok
Yang menarik, mantan perokok juga tetap memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak pernah merokok, yakni sekitar 21% lebih tinggi, meski risikonya lebih rendah dibandingkan perokok aktif. Ini menunjukkan bahwa dampak rokok terhadap kesehatan gigi tidak serta-merta hilang begitu seseorang berhenti merokok—butuh waktu bagi jaringan mulut untuk "pulih" dari paparan rokok sebelumnya.
3. Semakin banyak rokok, semakin besar risikonya (namun belum sepenuhnya linear)
Peneliti juga menelaah apakah ada hubungan dosis-respons, yaitu apakah makin sering atau makin lama seseorang merokok, makin besar pula risikonya. Hasilnya menunjukkan bahwa baik perokok ringan (sekitar 15–20 batang per hari) maupun perokok berat (lebih dari 20 batang per hari) sama-sama memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan bukan perokok—masing-masing sekitar 1,59 kali dan 1,57 kali lipat. Artinya, tidak ada "batas aman" jumlah rokok; bahkan merokok dalam jumlah sedikit pun tetap meningkatkan risiko kehilangan gigi.
4. Belum cukup bukti soal pengaruh status sosial ekonomi
Salah satu tujuan awal penelitian ini adalah mengetahui apakah dampak rokok terhadap kehilangan gigi berbeda-beda tergantung tingkat pendidikan, pendapatan, atau status sosial ekonomi seseorang. Namun, tidak satu pun dari 30 studi yang diteliti melaporkan data semacam ini, sehingga pertanyaan tersebut masih menjadi celah penelitian yang perlu dijawab di masa depan.
5. Seberapa besar dampaknya secara global?
Peneliti turut menghitung fraksi atribut populasi (population-attributable fraction)—yaitu perkiraan seberapa besar kasus kehilangan gigi yang sebenarnya bisa dicegah jika tidak ada rokok sama sekali. Hasilnya, secara global diperkirakan sekitar 7,44% kasus kehilangan gigi parah dan edentulisme (sekitar 26 juta kasus) dapat diatribusikan pada kebiasaan merokok. Angka ini jauh lebih tinggi pada laki-laki (11,79%) dibandingkan perempuan (2,6%), sejalan dengan prevalensi merokok yang memang lebih tinggi pada laki-laki di banyak negara.
Seberapa Yakin Kita dengan Temuan Ini?
Peneliti menggunakan sistem penilaian kualitas bukti bernama GRADE, dan hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kepastian bukti ini masih tergolong "sangat rendah". Ini bukan berarti temuannya salah, melainkan karena seluruh studi yang dimasukkan bersifat observasional (bukan uji klinis acak—yang memang mustahil dilakukan untuk kebiasaan merokok karena alasan etika), dan banyak di antaranya memiliki risiko bias yang tergolong tinggi, terutama terkait cara mengontrol faktor perancu (confounding) seperti usia dan jenis kelamin.
Namun demikian, peneliti juga melakukan uji tambahan yang disebut analisis E-value, yang pada dasarnya mengukur: "seberapa kuat suatu faktor tersembunyi yang belum terukur harus ada untuk bisa membatalkan temuan ini sepenuhnya?" Hasilnya, dibutuhkan faktor perancu yang sangat kuat (dengan kekuatan asosiasi di atas 1,7–2,1 kali) untuk benar-benar menghapus hubungan antara rokok dan kehilangan gigi yang ditemukan dalam studi ini—sebuah indikasi bahwa hubungan ini kemungkinan besar nyata, bukan sekadar kebetulan statistik.
Apa Artinya Bagi Kesehatan Masyarakat?
Temuan ini memperkuat pesan yang sudah lama digaungkan dunia kedokteran gigi: berhenti merokok adalah salah satu langkah paling penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut jangka panjang. Peneliti menekankan beberapa implikasi penting:
Program berhenti merokok sebaiknya diintegrasikan sebagai bagian dari strategi pencegahan kesehatan gigi dan mulut, baik di tingkat pemerintah, komunitas, maupun praktik klinis sehari-hari.
Dokter gigi dan tenaga kesehatan mulut perlu dibekali kemampuan untuk membimbing pasien berhenti merokok, bukan hanya menangani dampaknya setelah terjadi.
Mengingat sekitar 80% perokok aktif di dunia saat ini tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, namun penelitian berkualitas tinggi soal topik ini justru masih sangat minim di wilayah tersebut, penelitian lanjutan di kawasan ini sangat dibutuhkan.
Penelitian ke depan juga perlu lebih banyak menelaah edentulisme (kehilangan seluruh gigi) secara spesifik, serta menjawab pertanyaan yang belum terjawab soal perbedaan dampak rokok berdasarkan status sosial ekonomi.