Skip to Content

Mekanisme Necroptosis pada Pulpitis

May 21, 2026 by
Carigi Indonesia

Mekanisme Necroptosis pada Pulpitis

Mekanisme Necroptosis pada Pulpitis

Alasan Tersembunyi di Balik Sakit Gigi yang Berujung Bencana: Teori Baru tentang Mengapa Pulpitis Bisa Sampai ke Titik Tak Terbalikkan

Sebagian besar gigi berlubang masih bisa diselamatkan dengan tambalan. Tapi sedikit saja bakteri yang lolos melewati email bisa berubah jadi masalah jauh lebih serius — pulpa yang sekarat dan menuntut perawatan saluran akar. Sebuah ulasan baru dari Universitas Zhejiang untuk pertama kalinya mengusulkan bahwa sebuah bentuk "bunuh diri sel yang penuh peradangan" bernama necroptosis adalah kunci yang menjelaskan mengapa sebagian pulpa pulih, dan sebagian lainnya tidak.

Sakit Gigi yang Tak Kunjung Reda

Setiap dokter gigi pernah melihat polanya. Seorang pasien datang dengan kavitas dalam dan sedikit ngilu. Dengan tambalan dan sedikit keberuntungan, pulpa di dalam gigi tenang kembali dan semuanya beres. Tapi kadang — dan sampai sekarang dokter gigi belum bisa memprediksi kapan — situasi yang sama tiba-tiba berubah jadi sesuatu yang jauh lebih buruk: nyeri berdenyut yang merampas tidur, pulpa yang tak mau sembuh, dan perawatan saluran akar yang sudah menanti.

Titik balik itu — dari pulpitis reversibel menjadi pulpitis ireversibel — adalah salah satu momen paling penting secara klinis di seluruh kedokteran gigi. Dan sampai belakangan ini, belum ada penjelasan yang rapi tentang apa yang menekan tombol perubahan itu.

Tim peneliti dari School of Stomatology Universitas Zhejiang dan Universitas Kedokteran Changsha berpikir mereka mungkin menemukan setidaknya sebagian jawabannya. Dalam ulasan yang terbit di jurnal PeerJ pada Oktober 2025, mereka berargumen bahwa sebuah bentuk kematian sel yang relatif baru dipahami — necroptosis — duduk tepat di pusat masalah ini.

Kematian Sel, Tapi yang Versi Berisik

Sebagian besar orang yang memikirkan kematian sel pasti membayangkan apoptosis: cara tubuh membuang sel-sel tua atau rusak secara diam-diam dan rapi. Apoptosis itu bersih. Sel mengkerut, mengemas dirinya sendiri, lalu didaur ulang tanpa banyak ribut dan tanpa peradangan.

Necroptosis adalah kebalikannya.

Necroptosis adalah bentuk kematian sel terprogram — artinya sel mengikuti instruksi molekuler tertentu — tapi sel itu berakhir dengan pecah terbuka, menumpahkan isinya ke jaringan sekitarnya. Isi yang tumpah itu termasuk molekul alarm yang disebut DAMPs (damage-associated molecular patterns), yang berfungsi seperti suar kebakaran yang dilemparkan ke lingkungan. Sel-sel imun di dekatnya melihat suar itu, berdatangan, melepaskan lebih banyak zat peradangan, dan seluruh area pun berkobar.

Dengan kata lain, necroptosis bukan sekadar kematian. Necroptosis adalah kematian yang berteriak.

Tiga Kekuatan, Satu Lingkaran Setan

Ide baru yang menjadi inti ulasan ini adalah bahwa necroptosis di pulpa gigi tidak dipicu oleh satu hal — necroptosis dipicu oleh tiga hal yang bekerja bersamaan, dan masing-masing membuat yang lain semakin parah. Para penulis menyebut ini sebagai interaksi sinergis antara:

1. Infeksi bakteri. Ketika bakteri seperti Streptococcus atau Lactobacillus menerobos dentin dan mencapai pulpa, mereka membawa serta tanda molekuler yang dikenali oleh sistem imun. Yang paling terkenal adalah LPS, komponen dinding bakteri Gram-negatif. LPS menempel pada reseptor bernama TLR4 di sel pulpa, yang lalu mengaktifkan rantai protein (RIPK1, RIPK3, MLKL) yang mendorong sel ke arah necroptosis.

2. Ketidakseimbangan imun. Begitu sel-sel pertama pecah dan melepaskan DAMPs, respons imun mulai kacau. Makrofag — pasukan kebersihan internal pulpa — berubah ke kondisi pro-inflamasi "M1", memompa keluar TNF-α dan zat kimia lain yang justru mendorong lebih banyak lagi sel ke arah necroptosis. Hasilnya adalah lingkaran umpan-balik: peradangan menyebabkan kematian sel, kematian sel menyebabkan lebih banyak peradangan, dan begitu seterusnya.

3. Stres oksidatif. Semua aktivitas ini merusak mitokondria — pembangkit tenaga mungil di dalam sel. Mitokondria yang rusak membocorkan ROS (reactive oxygen species), molekul yang sangat reaktif dan terus merusak sel sekaligus memperkuat sinyal necroptosis. ROS, pada gilirannya, mengaktifkan jalur peradangan lain (inflamasom NLRP3), membuat semuanya semakin parah.

Masing-masing dari tiga kekuatan ini sendiri-sendiri sudah bisa melukai gigi. Kebaruan dari ulasan ini adalah argumen bahwa mereka tidak bekerja sendiri-sendiri — mereka saling memperkuat menjadi kaskade liar yang mendorong pulpa melewati titik tak terbalikkan.

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Para Peneliti

Ini bukan eksperimen laboratorium. Ini adalah ulasan naratif (narrative review), artinya tim peneliti secara sistematis menyisir literatur ilmiah yang sudah ada — PubMed, Web of Science, Scopus, dan Google Scholar — mencari setiap studi yang menyinggung necroptosis, pulpitis, infeksi bakteri, respons imun, atau stres oksidatif di pulpa gigi.

Mereka memakai pencarian Boolean dengan kata kunci seperti "pulpitis," "necroptosis," "RIPK1," "RIPK3," "MLKL," "oxidative stress," dan "bacterial infection," lalu menggabungkan bukti dari penelitian gigi, imunologi, biologi sel, serta penelitian penyakit infeksi di organ lain (usus, paru, jantung, ginjal). Mereka secara khusus mengeluarkan paper yang hanya membahas apoptosis atau pyroptosis — dua bentuk kematian sel yang terkait tapi berbeda mekanismenya — supaya fokus tetap ketat.

Yang akhirnya mereka hasilkan adalah kerangka kerja pertama yang mengusulkan bahwa necroptosis adalah mekanisme integrasi yang menyatukan infeksi bakteri, disregulasi imun, dan stres oksidatif di dalam pulpa gigi.

Sederet Target Obat Baru

Kalau necroptosis memang mesin yang mendorong pulpitis melewati titik pulih, maka memblokir necroptosis secara prinsip bisa menyelamatkan lebih banyak pulpa dari perawatan saluran akar. Ulasan ini menyurvei beberapa kandidat obat yang sudah ada, sebagian besar masih dalam tahap praklinis atau klinis awal:

  • Eritoran, antagonis TLR4 yang awalnya diuji untuk sepsis, memblokir reseptor yang dipakai LPS untuk memulai seluruh kaskade.

  • Melatonin — ya, hormon tidur yang sama — ternyata menekan jalur peradangan TLR4/NF-κB dan meningkatkan pertahanan antioksidan di sel pulpa, dengan profil keamanan yang sangat baik.

  • ML-193, senyawa eksperimental yang memblokir reseptor bernama GPR55, telah menunjukkan aktivitas anti-radang di sel pulpa gigi manusia di laboratorium.

  • Penghambat HMGB1 menargetkan salah satu molekul DAMP paling penting yang dilepaskan saat necroptosis.

  • Nanozim kromium (NanoCr) adalah nanopartikel rekayasa yang dirancang untuk langsung menyapu ROS di dalam pulpa, memutus lengan stres-oksidatif dari lingkaran setan tadi.

  • Davallialactone, senyawa alami, juga menurunkan ROS di sel pulpa dan menunjukkan efek reparatif.

Tidak ada satu pun dari obat-obat ini yang sudah disetujui sebagai pengobatan pulpitis saat ini. Tapi masing-masing mewakili sudut pandang berbeda terhadap pertanyaan yang sama: bagaimana caranya menghentikan kaskade ini sebelum pulpa benar-benar hilang?

Mengapa Ini Penting untuk Pasien

Kedokteran gigi modern sudah lama bergerak menuju sesuatu yang disebut terapi pulpa vital (vital pulp therapy, VPT) — perawatan yang berusaha menyelamatkan pulpa hidup, bukan membuangnya dengan perawatan saluran akar. VPT bekerja sangat baik ketika peradangan masih reversibel. VPT sering gagal ketika peradangan sudah tidak reversibel. Masalahnya, dokter gigi saat ini belum punya cara untuk melihat di level molekuler apakah pulpa yang meradang ini akan pulih kembali atau justru terjun bebas.

Kalau model yang berpusat pada necroptosis ini terbukti benar, suatu saat nanti dokter gigi bisa punya biomarker (mencari aktivitas sinyal RIPK3/MLKL di pulpa) sekaligus target obat (penghambat necroptosis yang dikirim langsung ke lokasi saat pulp capping). Itu prospek yang berarti, untuk sebuah bidang di mana jarak antara "perlu tambalan" dan "perlu perawatan saluran akar" masih terasa acak bagi banyak pasien.

Catatan Jujur dari Penulisnya

Para penulis cukup terbuka soal batasan dari apa yang mereka usulkan. Sebagian besar bukti yang menghubungkan necroptosis dengan pulpitis berasal dari:

  • studi pada tikus, yang anatomi dan imunologinya berbeda dari gigi manusia,

  • eksperimen laboratorium dengan satu jenis bakteri, yang tidak menangkap campuran bakteri kompleks di karies dunia nyata,

  • dan studi di jaringan lain (usus, paru, ginjal) yang belum tentu langsung bisa diterjemahkan ke pulpa gigi.

Ada juga ketegangan biologis yang nyata. Necroptosis bukan cuma penjahat — necroptosis juga senjata sah yang dipakai sistem imun untuk membunuh sel-sel yang sedang bersembunyikan bakteri di dalamnya. Memblokir necroptosis terlalu agresif bisa membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi tertentu, termasuk infeksi yang sulit hilang seperti Enterococcus faecalis, bakteri yang sudah jadi sumber masalah di sebagian besar kasus gagal perawatan saluran akar.

Masa depan, menurut para penulis, terletak di waktu dan target: biarkan necroptosis melakukan tugas perlindungannya di awal infeksi, tekan necroptosis secara lokal begitu mulai merusak jaringan, dan jangan biarkan necroptosis pernah berkembang menjadi lingkaran liar yang menghancurkan pulpa.

Intinya

Ulasan ini tidak membuktikan bahwa necroptosis adalah penyebab pulpitis ireversibel. Yang dilakukannya — untuk pertama kalinya — adalah menyusun teori berbasis mekanisme yang koheren tentang bagaimana penyakit ini bergeser dari "gigi ini masih bisa diselamatkan" ke "tidak bisa lagi." Ulasan ini memberi nama pada saklar perubahannya, mengidentifikasi molekul-molekul yang menggesernya, dan menunjuk pada setengah lusin obat yang suatu saat bisa dimanfaatkan ulang untuk menggesernya kembali.

Untuk sebuah kondisi yang hampir setiap orang alami di suatu titik dalam hidupnya, dan yang penanganannya masih didominasi oleh prosedur yang ditakuti banyak pasien, itu adalah langkah yang berarti.

Referensi

Wang X, Wang Y, Pang Z, Gong P, Ma X, Qiu Y, Li J, Peng L, Liu Z. (2025). Role of necroptosis in pulpitis: integration of bacterial infection, immune imbalance, and oxidative stress. PeerJ 13:e20209.

DOI: 10.7717/peerj.20209


Carigi Indonesia May 21, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kesehatan Gigi Ibu Hamil