Skip to Content

Masalah Mulut dan Risiko Penyakit Autoimun: Studi UK Biobank

November 1, 2026 by
Carigi Indonesia

Masalah Mulut dan Risiko Penyakit Autoimun: Studi UK Biobank


Gusi Sakit, Sariawan, dan Gigi Goyang Berkaitan dengan Risiko Penyakit Autoimun

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, tetapi para ilmuwan makin menyoroti peran bakteri, termasuk bakteri di dalam mulut. Sebuah penelitian besar yang mengikuti lebih dari 451.000 orang dewasa di Inggris selama sekitar 12 tahun menemukan bahwa orang yang melaporkan masalah di mulut, seperti gusi sakit, sariawan, sakit gigi, atau gigi goyang, memiliki risiko penyakit autoimun sekitar 11% lebih tinggi. Makin banyak jenis masalah mulut yang dilaporkan, makin tinggi pula risikonya.

Ketika Sistem Kekebalan Salah Sasaran

Penyakit autoimun adalah kelompok penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan menyerang sel atau organ tubuh sendiri. Contohnya antara lain artritis reumatoid (radang sendi), psoriasis (penyakit kulit bersisik), sindrom Sjögren (yang menyerang kelenjar air mata dan ludah), serta diabetes tipe 1.

Jumlah penderita penyakit autoimun terus meningkat di seluruh dunia. Penyebabnya melibatkan banyak faktor, mulai dari genetik dan lingkungan hingga penyakit lain yang menyertai. Belakangan, perhatian para ahli juga tertuju pada peran mikroorganisme, termasuk bakteri di dalam mulut.

Bagaimana Mulut Bisa Berperan?

Mulut dihuni ratusan jenis bakteri. Bila keseimbangannya terganggu, misalnya akibat penyakit gusi, bakteri dan zat-zat yang dihasilkannya dapat masuk ke aliran darah, terutama melalui luka di mulut seperti gusi berdarah atau sariawan.

Para ilmuwan menduga ada beberapa cara bakteri mulut dapat memicu penyakit autoimun:

  • Masuk ke aliran darah dan menyebar ke bagian tubuh lain,

  • "Menyamar", yaitu bagian tubuh bakteri yang mirip dengan jaringan tubuh manusia sehingga sistem kekebalan ikut menyerang jaringan tubuh sendiri,

  • Memicu peradangan berkepanjangan yang membuat sistem kekebalan bekerja berlebihan.

Penelitian sebelumnya sudah mengaitkan kesehatan mulut dengan beberapa penyakit autoimun, tetapi kebanyakan hanya meneliti satu penyakit tertentu, melibatkan sedikit peserta, atau hanya mengamati satu waktu.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari National Institute on Aging (Amerika Serikat), Ewha Womans University dan Chung-Ang University (Korea Selatan), serta Johns Hopkins University, yang dipimpin Dongwon Yoon, menganalisis data UK Biobank, yaitu basis data kesehatan sekitar 500.000 warga Inggris berusia paruh baya dan lanjut usia yang direkrut pada 2006–2010.

Setelah mengeluarkan peserta yang sudah memiliki penyakit autoimun atau datanya tidak lengkap, 451.404 peserta dianalisis. Usia rata-rata mereka sekitar 56 tahun, dan sedikit lebih dari separuhnya perempuan.

Saat awal penelitian, peserta mengisi kuesioner dan memilih masalah gigi dan mulut yang mereka alami:

  • gusi sakit,

  • gusi berdarah,

  • sariawan,

  • sakit gigi,

  • gigi goyang,

  • memakai gigi tiruan.

Peserta yang melaporkan setidaknya satu dari keenam kondisi ini dikelompokkan sebagai memiliki masalah mulut, yaitu sekitar 39% peserta.

Peneliti kemudian mengikuti peserta hingga Oktober 2021 dan mencatat siapa saja yang didiagnosis salah satu dari 39 jenis penyakit autoimun, berdasarkan catatan rumah sakit. Analisis memperhitungkan usia, jenis kelamin, ras, penghasilan, pendidikan, tingkat kemiskinan wilayah tempat tinggal, merokok, alkohol, berat badan, serta penyakit lain seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kolesterol, dan kanker.

Hasilnya

1. Masalah mulut berkaitan dengan risiko penyakit autoimun

Selama masa pengamatan, tercatat 31.476 kasus baru penyakit autoimun. Setelah semua faktor lain diperhitungkan, peserta yang melaporkan masalah mulut memiliki risiko penyakit autoimun sekitar 11% lebih tinggi dibandingkan peserta tanpa masalah mulut.

2. Gusi sakit menunjukkan kaitan paling kuat

Bila dilihat per jenis masalah mulut, peningkatan risikonya adalah:

Masalah mulut

Perkiraan peningkatan risiko

Gusi sakit

sekitar 39%

Sariawan

sekitar 23%

Sakit gigi

sekitar 21%

Memakai gigi tiruan

sekitar 13%

Gigi goyang

sekitar 10%

Gusi berdarah

sekitar 8%

3. Makin banyak masalah, makin tinggi risikonya

Setiap tambahan satu jenis masalah mulut berkaitan dengan peningkatan risiko sekitar 9%. Peserta yang melaporkan enam masalah mulut sekaligus memiliki risiko sekitar 1,9 kali dibandingkan peserta tanpa masalah mulut, meski jumlah peserta dalam kelompok ini sangat sedikit.

4. Tujuh penyakit autoimun menunjukkan kaitan yang jelas

Dari 39 penyakit autoimun yang diteliti, tujuh penyakit tetap menunjukkan kaitan bermakna setelah dilakukan koreksi statistik yang ketat:

  • Kolangitis bilier primer (penyakit autoimun yang merusak saluran empedu di hati): risiko sekitar 1,65 kali,

  • Rematik (tidak dirinci jenisnya): sekitar 1,48 kali,

  • Liken planus (peradangan pada kulit dan lapisan dalam mulut): sekitar 1,35 kali,

  • Sindrom Sjögren: sekitar 1,30 kali,

  • Anemia pernisiosa (anemia akibat gangguan penyerapan vitamin B12): sekitar 1,28 kali,

  • Artritis reumatoid: sekitar 1,18 kali,

  • Psoriasis: sekitar 1,16 kali.

Menurut peneliti, kaitan dengan anemia pernisiosa merupakan temuan baru yang sebelumnya hanya dilaporkan dalam laporan kasus.

5. Lebih kuat pada perempuan dan usia di bawah 65 tahun

Kaitan antara masalah mulut dan penyakit autoimun sedikit lebih kuat pada perempuan dan pada peserta berusia di bawah 65 tahun. Hasil utama tetap konsisten ketika peneliti mengabaikan kasus yang muncul pada 2 dan 5 tahun pertama, mengeluarkan peserta yang hanya melaporkan pemakaian gigi tiruan, atau mengeluarkan peserta dengan sistem kekebalan lemah.

Mengapa Bisa Berkaitan?

Para peneliti menduga masalah mulut mencerminkan beban peradangan dan gangguan bakteri di mulut. Beberapa kemungkinan yang dibahas:

  • Sariawan dan gusi berdarah merupakan "pintu" yang terbuka di lapisan mulut, sehingga bakteri dan zat-zatnya lebih mudah masuk ke aliran darah.

  • Gigi goyang umumnya menandakan penyakit gusi yang sudah lanjut, dengan peradangan kronis yang berlangsung lama.

  • Bakteri penyebab penyakit gusi, seperti Porphyromonas gingivalis, telah lama dikaitkan dengan artritis reumatoid dalam penelitian lain.

  • Adanya hubungan antara mulut, usus, hati, dan kulit dapat menjelaskan kaitan dengan penyakit seperti kolangitis bilier primer, psoriasis, dan liken planus.

Namun peneliti menegaskan bahwa penelitian ini tidak memeriksa bakteri mulut secara langsung, sehingga mekanisme-mekanisme ini masih berupa dugaan.

Catatan Penting

Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan:

  • Masalah mulut berdasarkan pengakuan peserta, tanpa pemeriksaan gigi. Sariawan, misalnya, tidak bisa dibedakan antara sariawan biasa dan sariawan akibat penyakit lain.

  • Masalah mulut hanya dicatat sekali di awal penelitian.

  • Kebiasaan menyikat gigi dan membersihkan sela gigi tidak tercatat.

  • Kemungkinan sebab-akibat terbalik. Proses autoimun yang belum terdiagnosis bisa saja sudah menimbulkan masalah di mulut sejak awal.

  • Peserta UK Biobank cenderung lebih sehat dan lebih mampu secara ekonomi dibandingkan masyarakat umum.

Ada beberapa hal lain yang patut dicermati pembaca (catatan redaksi):

  • Peningkatan risikonya tergolong kecil. Risiko 11% lebih tinggi pada tingkat individu tidak besar. Kaitan ini lebih bermakna pada tingkat populasi daripada untuk memprediksi risiko seseorang.

  • Beberapa penyakit memang menimbulkan gejala di mulut. Liken planus sering muncul di lapisan dalam mulut, sedangkan sindrom Sjögren menyebabkan mulut kering yang memicu gigi berlubang dan penyakit gusi. Jadi pada penyakit-penyakit ini, masalah mulut bisa jadi gejala awal, bukan penyebab.

  • Memakai gigi tiruan dihitung sebagai "masalah mulut", padahal gigi tiruan lebih menunjukkan riwayat kehilangan gigi di masa lalu. Peneliti sudah menguji hal ini dan hasilnya tetap serupa.

  • Hanya menunjukkan kaitan, bukan sebab-akibat. Belum ada bukti bahwa merawat gigi dan gusi dapat mencegah penyakit autoimun.

Kesimpulan

Penelitian berskala besar ini menunjukkan bahwa masalah mulut yang dilaporkan sendiri, seperti gusi sakit, sariawan, sakit gigi, dan gigi goyang, berkaitan dengan risiko penyakit autoimun yang sedikit lebih tinggi. Makin banyak jenis masalah mulut, makin tinggi pula risikonya. Kaitan paling jelas terlihat pada tujuh penyakit autoimun, termasuk artritis reumatoid, psoriasis, sindrom Sjögren, dan anemia pernisiosa.

Para peneliti menilai bahwa pertanyaan sederhana tentang kondisi mulut dapat menjadi penanda tambahan risiko penyakit autoimun. Penelitian lanjutan dengan pemeriksaan gusi langsung dan analisis bakteri mulut diperlukan untuk memastikan apakah memperbaiki kesehatan mulut dapat memengaruhi perkembangan penyakit autoimun.

Bagi masyarakat, pesannya: jangan abaikan keluhan di mulut. Gusi yang sering sakit atau berdarah, sariawan yang berulang, dan gigi yang goyang adalah tanda bahwa mulut membutuhkan perhatian. Sikat gigi dua kali sehari, bersihkan sela gigi, dan periksakan gigi secara rutin. Bila Anda memiliki penyakit autoimun, ceritakan kondisi ini kepada dokter gigi, karena beberapa penyakit autoimun dan obat-obatannya dapat memengaruhi kesehatan mulut. Sebaliknya, bila sariawan atau luka di mulut sering muncul tanpa sebab yang jelas, sampaikan juga kepada dokter.

Referensi

Yoon D, Ottavio B, Yun C, Jung SY, Beydoun MA, Launer LJ, Song M. Association between self-reported oral health issues and autoimmune diseases: evidence from UK biobank. BMC Oral Health. 2026;26:1532. DOI: https://doi.org/10.1186/s12903-026-09395-z

Carigi Indonesia November 1, 2026
Share this post
Tags
Archive
Gigi Hilang, Hipertensi, dan Risiko Penyakit Jantung serta Stroke