"Toh Nanti Tanggal Sendiri": Ternyata Susunan Gigi Susu Sudah Memengaruhi Kualitas Hidup Balita
Banyak orang tua menganggap gigi susu yang tumbuh tidak rapi bukan masalah besar — toh cepat atau lambat akan tanggal juga. Namun sebuah penelitian terhadap 566 anak berusia 5 tahun di Brasil menemukan hal yang mengejutkan: jenis gigitan tertentu pada gigi susu sudah menurunkan kualitas hidup anak sejak dini. Yang lebih menarik lagi, balita ternyata mampu merasakan sendiri masalah itu — sering kali justru pada hal-hal yang luput dari perhatian orang tuanya.
Gigi Susu Sering Dianggap "Tidak Penting" — Padahal Tidak
Ketika gigi susu anak tumbuh berjejal, tidak rata, atau gigitannya terasa "aneh", banyak orang tua memilih menunggu. Alasannya masuk akal: bukankah gigi susu memang akan diganti gigi permanen? Namun anggapan ini menyimpan kekeliruan penting.
Susunan gigi dan gigitan yang tidak selaras — dalam istilah kedokteran gigi disebut maloklusi — ternyata sangat umum terjadi bahkan pada gigi susu. Data global menunjukkan sekitar 55 persen anak mengalaminya pada masa gigi susu. Dan maloklusi bukan sekadar soal tampilan: ia dapat mengganggu kemampuan anak mengunyah, berbicara, sekaligus memengaruhi rasa percaya dirinya.
Pertanyaan yang selama ini kurang terjawab adalah: apakah masalah gigi susu ini benar-benar terasa dampaknya bagi anak — dan siapa yang paling bisa menilainya, anak sendiri atau orang tuanya?
Bukan Sekadar Gigi, tapi Kualitas Hidup
Untuk menjawabnya, para peneliti memakai konsep yang disebut kualitas hidup terkait kesehatan mulut (dalam bahasa Inggris disingkat OHRQoL). Sederhananya, ini adalah cara mengukur seberapa besar sebuah kondisi mulut mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang — mulai dari rasa nyaman saat makan, kemampuan berbicara, suasana hati, hingga pergaulan dengan teman-teman.
Alat ukurnya berupa kuesioner yang menilai beberapa aspek kehidupan anak: kemampuan fisik, emosi, pergaulan sosial, aktivitas di sekolah, dan kesehatan mulut. Semakin tinggi skornya, semakin baik kualitas hidup anak tersebut.
Yang Baru dari Penelitian Ini: Mendengar Langsung dari Anak
Di sinilah letak keunikan penelitian yang dilakukan tim dari Universitas Federal Piauí, Brasil. Selama ini, sebagian besar studi serupa hanya menanyakan pendapat orang tua — dengan asumsi anak balita masih terlalu kecil untuk menilai kualitas hidupnya sendiri.
Para peneliti ini menantang asumsi tersebut. Mereka menggunakan kuesioner bernama PedsQL yang punya dua kelebihan: mencakup kesehatan mulut sekaligus kesehatan umum, dan yang terpenting — meminta jawaban dari kedua belah pihak, yaitu anak dan orang tuanya. Dengan begitu, mereka bisa membandingkan: apakah yang dirasakan anak sama dengan yang diamati orang tuanya?
Apa yang Dilakukan Para Peneliti
Penelitian ini melibatkan 566 anak berusia 5 tahun di kota Teresina, Brasil, yang dipilih secara acak dari sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Setiap anak menjalani pemeriksaan gigi langsung untuk mendeteksi jenis maloklusi, gigi berlubang, serta kelainan pada email gigi.
Yang menarik adalah cara pengumpulan datanya. Anak-anak diwawancarai langsung di sekolah menggunakan skala wajah sederhana (misalnya wajah senang hingga sedih) agar mudah mereka pahami, sementara orang tua mengisi kuesioner di rumah. Para peneliti kemudian menganalisis hubungan antara jenis maloklusi dan kualitas hidup, dengan memperhitungkan faktor lain seperti gigi berlubang dan tingkat pendidikan orang tua agar hasilnya tidak bias.
Hasil dasarnya: sekitar 51 persen anak mengalami maloklusi. Jenis yang paling umum adalah relasi gigi taring "Kelas II" (21 persen), diikuti gigi depan yang terlalu maju atau overjet berlebih (15 persen), gigitan depan yang terlalu dangkal (14 persen), dan gigitan silang di area gigi belakang (7 persen). Selain itu, sekitar separuh anak memiliki pengalaman gigi berlubang.
Kejutan Pertama: Yang Penting Bukan "Ada atau Tidak", tapi "Jenisnya"
Inilah temuan yang paling penting untuk dipahami. Ketika para peneliti hanya bertanya secara umum — apakah anak punya maloklusi atau tidak — ternyata tidak ada perbedaan kualitas hidup yang berarti antara anak yang punya maloklusi dan yang tidak.
Namun begitu mereka melihat lebih rinci ke jenis maloklusinya, gambarannya berubah. Beberapa jenis gigitan tertentu jelas menurunkan kualitas hidup anak, sementara jenis lain tidak. Dengan kata lain, pertanyaan "apakah gigi anak saya berantakan?" terlalu kasar untuk menjawab apakah kondisinya benar-benar mengganggu. Yang menentukan adalah jenis gangguannya.
Yang Dirasakan Anak-Anak Sendiri
Dari laporan anak-anak, dua jenis maloklusi menonjol sebagai pengganggu kualitas hidup:
Gigitan silang di gigi belakang (posterior crossbite). Normalnya, gigi belakang atas menggigit sedikit di sisi luar gigi bawah. Pada kondisi ini, posisinya terbalik — gigi atas justru menggigit di sisi dalam. Anak dengan kondisi ini sekitar 43 persen lebih besar kemungkinannya melaporkan kualitas hidup keseluruhan yang lebih rendah, dan juga terganggu pada aspek kesehatan mulutnya. Penjelasannya masuk akal: gigitan silang dapat melemahkan kekuatan mengunyah dan membuat otot-otot kunyah bekerja tidak seimbang, sehingga anak merasakan langsung ketidaknyamanannya.
Gigitan depan yang terlalu dangkal (reduced overbite). Pada kondisi ini, gigi depan atas menutupi gigi depan bawah lebih sedikit daripada biasanya. Anak dengan kondisi ini lebih mungkin terganggu pada aspek emosional dan kesehatan mulut — dengan peningkatan risiko sekitar 8 hingga 10 persen. Ini menunjukkan bahwa sejak usia dini, penampilan gigi sudah bisa memengaruhi perasaan anak.
Yang patut digarisbawahi: kedua kondisi ini bukanlah kelainan yang mencolok secara kasat mata. Justru anak-anaklah yang paling merasakannya.
Yang Diperhatikan Orang Tua
Sementara itu, orang tua menyoroti jenis yang berbeda: gigitan adu tepi (edge-to-edge overjet). Pada kondisi ini, gigi depan atas dan bawah bertemu tepat di ujung, alih-alih gigi atas sedikit berada di depan gigi bawah. Menurut laporan orang tua, anak dengan kondisi ini lebih mungkin terganggu pada aspek kemampuan fisik dan pergaulan sosial, dengan peningkatan risiko sekitar 11 persen.
Pola ini menyingkap sesuatu yang menarik tentang cara anak dan orang tua "melihat" masalah. Orang tua cenderung menangkap gangguan yang terlihat jelas atau menimbulkan nyeri. Karena gigitan adu tepi tampak nyata, orang tua mudah menyadarinya. Sebaliknya, banyak maloklusi bersifat "diam" — tidak menimbulkan rasa sakit — sehingga sering luput dari pengamatan orang tua. Padahal, seperti ditunjukkan studi ini, anak tetap merasakan dampaknya. Inilah alasan mengapa mendengar langsung dari anak menjadi begitu penting.
Jangan Lupakan Gigi Berlubang
Sebagai catatan tambahan, penelitian ini juga menegaskan kembali betapa besarnya dampak gigi berlubang. Ditemukan pada sekitar separuh anak, gigi berlubang secara konsisten menurunkan kualitas hidup — dan kali ini disadari baik oleh anak maupun orang tuanya. Berbeda dengan maloklusi yang "diam", gigi berlubang kerap menimbulkan rasa sakit, sehingga jauh lebih mudah dikenali oleh semua pihak.
Catatan Penting: Apa yang Perlu Dipahami
Seperti semua penelitian, studi ini punya keterbatasan. Sifatnya cross-sectional — memotret kondisi pada satu titik waktu — sehingga menunjukkan adanya kaitan, bukan bukti sebab-akibat. Selain itu, temuan ini berasal dari satu kota di Brasil dengan latar budaya dan sosial-ekonomi tertentu, sehingga belum tentu sepenuhnya berlaku di tempat lain. Perlu juga dicatat bahwa besarnya pengaruh yang ditemukan tergolong sedang, bukan dramatis.
Meski demikian, kekuatan studi ini terletak pada rancangannya yang berbasis populasi (dipilih secara acak dari masyarakat luas) dan penggunaan kuesioner yang sudah teruji keandalannya.
Kesimpulan: Suara Anak Layak Didengar
Pesan utama penelitian ini jelas dan menyegarkan: masalah pada gigi susu bukan sekadar menunggu tanggal. Jenis gigitan tertentu — terutama gigitan silang gigi belakang dan gigitan depan yang dangkal menurut anak, serta gigitan adu tepi menurut orang tua — sudah nyata memengaruhi kualitas hidup anak sejak usia 5 tahun.
Dan mungkin yang paling penting: anak berusia 5 tahun ternyata mampu menyuarakan apa yang mereka rasakan, sering kali menangkap hal-hal yang tidak disadari orang tuanya. Ini berarti orang tua sebaiknya tidak buru-buru menganggap remeh keluhan atau kondisi gigi susu anak, dan tidak ragu memeriksakannya lebih awal ke dokter gigi. Pemeriksaan dini memungkinkan penanganan yang lebih sederhana, lebih murah, dan tidak menyakitkan — sekaligus mencegah dampak psikososial di kemudian hari.
Terkadang, cara terbaik untuk mengetahui apakah gigi si kecil bermasalah adalah dengan bertanya langsung kepadanya.
Referensi
Coqueiro, L. J. S., Silvestre, G. V. M., Bendo, C. B., Dantas Neta, N. B., Matias, F. A. S., Lima, C. C. B., Moura, M. S., Moura, L. F. A. D., & Lima, M. D. M. (2026). Malocclusions in primary teeth and quality of life: perception of preschoolers and their parents/guardians. Brazilian Oral Research, 40, e004. DOI: https://doi.org/10.1590/1807-3107bor-2026.vol40.004