Skip to Content

Literasi Kesehatan Mulut dan Oral Frailty Lansia

August 7, 2026 by
Carigi Indonesia

Literasi Kesehatan Mulut dan Oral Frailty Lansia

Literasi Kesehatan Mulut dan Oral Frailty Lansia

Bukan Sekadar Bisa Menyikat Gigi: Literasi Kesehatan Mulut Ternyata Berpengaruh pada Kerapuhan Mulut Lansia

Memahami Informasi Kesehatan Mulut Bisa Menjadi Kunci Menjaga Kualitas Hidup di Usia Senja

Ketika membahas kesehatan lansia, perhatian sering kali tertuju pada penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan jantung. Namun, ada satu aspek yang tidak kalah penting tetapi masih sering diabaikan, yaitu kesehatan mulut.

Seiring bertambahnya usia, banyak lansia mengalami penurunan fungsi mulut, mulai dari berkurangnya jumlah gigi, kesulitan mengunyah, mulut kering, hingga gangguan menelan. Kondisi ini dikenal sebagai oral frailty atau kerapuhan mulut, yang bukan hanya memengaruhi kemampuan makan, tetapi juga berhubungan dengan meningkatnya risiko jatuh, kecacatan, rawat inap, bahkan kematian.

Penelitian terbaru yang diterbitkan di Frontiers in Public Health menunjukkan bahwa kemampuan seseorang memahami dan menggunakan informasi kesehatan gigi atau literasi kesehatan mulut (oral health literacy) memiliki hubungan yang erat dengan risiko terjadinya oral frailty pada lansia yang tinggal di panti jompo.

Mengapa Literasi Kesehatan Mulut Penting?

Literasi kesehatan mulut bukan sekadar mengetahui cara menyikat gigi. Istilah ini menggambarkan kemampuan seseorang untuk memperoleh, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi mengenai kesehatan mulut sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya.

Seseorang dengan literasi kesehatan mulut yang baik umumnya lebih memahami pentingnya menjaga kebersihan mulut, rutin memeriksakan gigi, mengenali tanda awal penyakit mulut, dan mencari pertolongan ketika muncul masalah. Sebaliknya, keterbatasan dalam memahami informasi kesehatan dapat menyebabkan berbagai masalah mulut tidak terdeteksi hingga berkembang menjadi lebih serius.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Penelitian ini melibatkan 403 lansia berusia 60 tahun ke atas yang tinggal di sembilan panti jompo di Chongqing, Tiongkok. Seluruh peserta mengisi kuesioner mengenai karakteristik pribadi, tingkat literasi kesehatan mulut, serta kondisi oral frailty.

Berbeda dari penelitian sebelumnya yang hanya membagi tingkat literasi menjadi kategori rendah atau tinggi berdasarkan skor total, para peneliti menggunakan metode Latent Profile Analysis (LPA). Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengelompokkan peserta berdasarkan pola kemampuan mereka dalam berbagai aspek literasi kesehatan mulut, seperti komunikasi, pemahaman, akses terhadap pelayanan, dukungan, hingga faktor ekonomi.

Tiga Kelompok Literasi Kesehatan Mulut yang Berbeda

Hasil analisis menunjukkan bahwa lansia tidak memiliki tingkat literasi kesehatan mulut yang seragam. Peneliti berhasil mengidentifikasi tiga kelompok utama.

1. Kelompok Literasi Rendah dengan Pemahaman Terbatas (22,1%)

Kelompok ini memiliki kemampuan paling rendah dalam memahami informasi kesehatan mulut. Sebagian besar berasal dari latar belakang pendidikan dan ekonomi yang lebih rendah, memiliki lebih sedikit gigi yang tersisa, serta lebih jarang menyikat gigi.

2. Kelompok Literasi Sedang dengan Hambatan Komunikasi (46,3%)

Kelompok terbesar ini sebenarnya cukup mampu memahami informasi kesehatan mulut, tetapi masih mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan tenaga kesehatan maupun pengasuh mengenai masalah kesehatan mulut yang mereka alami.

3. Kelompok Literasi Tinggi dengan Kondisi Ekonomi Lebih Baik (31,6%)

Kelompok ini menunjukkan kemampuan terbaik dalam hampir seluruh aspek literasi kesehatan mulut. Mereka juga cenderung memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, kondisi ekonomi lebih baik, jumlah gigi yang masih banyak, serta kebiasaan menyikat gigi yang lebih baik.

Risiko Oral Frailty Berbeda pada Setiap Kelompok

Perbedaan tingkat literasi kesehatan mulut ternyata berhubungan langsung dengan risiko oral frailty.

Sebanyak 88,8% lansia pada kelompok dengan literasi rendah mengalami oral frailty. Angka tersebut turun menjadi 78,6% pada kelompok literasi sedang, dan hanya 38,6% pada kelompok dengan literasi tinggi.

Setelah memperhitungkan berbagai faktor lain seperti usia, pendidikan, pendapatan, jumlah gigi, hingga frekuensi menyikat gigi, hubungan tersebut tetap terlihat kuat. Lansia dengan literasi kesehatan mulut rendah memiliki risiko oral frailty yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki literasi kesehatan mulut tinggi.

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Peneliti menjelaskan beberapa kemungkinan penyebabnya.

Lansia dengan literasi kesehatan mulut yang rendah cenderung kurang mampu mengenali tanda awal penyakit gigi dan gusi, sehingga masalah kecil sering kali dibiarkan hingga berkembang menjadi lebih berat. Mereka juga lebih jarang memanfaatkan layanan kesehatan gigi, memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah dalam merawat kebersihan mulut sehari-hari, dan kurang memperoleh informasi kesehatan yang benar.

Sebaliknya, individu dengan literasi kesehatan mulut yang baik lebih aktif menjaga kebersihan mulut, rutin mencari pelayanan kesehatan gigi, serta lebih memahami pentingnya tindakan pencegahan. Kondisi tersebut membantu mempertahankan kemampuan mengunyah, menelan, dan fungsi mulut lainnya sehingga dapat menurunkan risiko oral frailty.

Apa Implikasinya bagi Pelayanan Lansia?

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan yang sama untuk semua lansia mungkin kurang efektif.

Bagi kelompok dengan pemahaman yang rendah, diperlukan edukasi kesehatan mulut menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Sementara itu, kelompok yang mengalami hambatan komunikasi memerlukan dukungan dari pengasuh maupun tenaga kesehatan agar lebih berani menyampaikan keluhan dan kebutuhan mereka.

Untuk kelompok dengan literasi yang sudah baik, pemanfaatan teknologi seperti aplikasi kesehatan, webinar, atau media digital dapat membantu mempertahankan perilaku sehat sekaligus menjadi sarana berbagi pengalaman kepada lansia lain.

Dengan mengenali karakteristik setiap kelompok, program promosi kesehatan mulut dapat disusun secara lebih tepat sasaran sehingga mampu mencegah terjadinya oral frailty sejak dini.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan memahami informasi kesehatan mulut memiliki hubungan yang erat dengan kondisi kesehatan mulut lansia di panti jompo. Lansia dengan literasi kesehatan mulut yang lebih baik terbukti memiliki risiko oral frailty yang lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki literasi rendah.

Temuan ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan mulut tidak hanya bergantung pada ketersediaan pelayanan kesehatan, tetapi juga pada kemampuan individu untuk memahami informasi, berkomunikasi dengan tenaga kesehatan, dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ke depan, penilaian literasi kesehatan mulut dapat menjadi bagian penting dalam pelayanan lansia, sehingga intervensi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu dan mampu membantu mempertahankan kualitas hidup mereka di usia lanjut.

Referensi

Zhao Y, Wang TT, Kong LN, Yang J, Xie F, Huang Y, Yu QL, Ran HY. (2026). Relationship between oral health literacy and oral frailty among older adults in nursing homes: a latent profile analysis. Frontiers in Public Health, 14:1804760. https://doi.org/10.3389/fpubh.2026.1804760

Carigi Indonesia August 7, 2026
Share this post
Tags
Archive
Pemanfaatan Tongue Bite Cetak 3D Radioterapi