Skip to Content

Lesi Mulut Tanda Awal Mpox Monkeypox

August 11, 2026 by
Carigi Indonesia

Lesi Mulut Tanda Awal Mpox Monkeypox

Lesi Mulut Tanda Awal Mpox Monkeypox

Luka di Mulut Bisa Jadi Tanda Awal Monkeypox, Ini yang Perlu Diperhatikan Dokter Gigi

Lesi Mulut Tak Sekadar Masalah Gigi dan Mulut

Mpox, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai monkeypox, merupakan penyakit zoonosis yang dapat menimbulkan berbagai gejala pada kulit. Namun, penyakit ini juga dapat menyerang rongga mulut. Bahkan, pada sebagian pasien, lesi di mulut dapat muncul sebelum tanda khas pada kulit terlihat.

Kondisi ini membuat pemeriksaan rongga mulut menjadi penting, terutama ketika pasien datang dengan keluhan seperti sariawan atau luka mulut yang tidak biasa. Bagi dokter gigi, mengenali kemungkinan tanda mpox dapat membantu mempercepat diagnosis sekaligus mencegah penularan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Apa yang Ingin Diketahui Peneliti?

Sebuah scoping review yang diterbitkan dalam Journal of Global Infectious Diseases meninjau berbagai bukti mengenai manifestasi mpox di rongga mulut. Peneliti ingin mengetahui seberapa sering lesi mulut terjadi, seperti apa bentuknya, serta apa dampaknya terhadap praktik medis dan kedokteran gigi.

Kajian ini mencakup penelitian yang dipublikasikan pada periode 2005–2024. Peneliti melakukan pencarian di berbagai basis data dan sumber literatur menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan mpox dan lesi rongga mulut. Dari 97 rekaman yang ditemukan, sebanyak 15 artikel akhirnya dimasukkan dalam kajian. Tiga peneliti melakukan ekstraksi data secara independen sebelum hasilnya disintesis secara kualitatif.

Lesi Mulut Mpox Bisa Sangat Beragam

Hasil kajian menunjukkan bahwa manifestasi mpox di rongga mulut cukup beragam. Lesi yang dilaporkan antara lain:

  • ulkus atau luka pada mulut,

  • vesikel atau lepuhan,

  • erosi,

  • nekrosis,

  • lesi pada lidah,

  • lesi pada gusi dan mukosa pipi,

  • serta keluhan sakit tenggorokan.

Prevalensi lesi oral dalam berbagai penelitian sangat bervariasi, yaitu sekitar 7% hingga 100%. Perbedaan ini kemungkinan berkaitan dengan karakteristik pasien, desain penelitian, dan jumlah sampel masing-masing studi.

Pada beberapa kasus, lesi oral bahkan menjadi salah satu tanda awal penyakit. Salah satu laporan yang ditinjau menunjukkan bahwa ulkus pada lidah muncul sebelum ruam kulit pada kedua pasien yang dilaporkan. Artinya, pemeriksaan mulut berpotensi memberikan petunjuk penting ketika tanda kulit belum terlihat jelas.

Mengapa Lesi Mulut Penting dalam Diagnosis?

Salah satu tantangan mpox adalah bentuk klinisnya tidak selalu sama pada setiap pasien. Dalam beberapa kasus, lesi di mulut dapat muncul tanpa disertai ruam kulit yang khas.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan mpox menyerupai penyakit lain yang lebih umum, seperti stomatitis aftosa, herpes simpleks, varisela-zoster, atau sifilis. Karena itu, lesi oral yang tidak biasa perlu dinilai bersama dengan riwayat paparan dan gejala lainnya. Jika diperlukan, diagnosis dapat dikonfirmasi menggunakan pemeriksaan seperti PCR.

Tantangan Lebih Besar pada Pasien dengan Kondisi Rentan

Kajian ini juga menunjukkan bahwa tingkat keparahan lesi oral dapat dipengaruhi oleh kondisi pasien. Individu dengan sistem imun yang lemah, termasuk pasien dengan HIV/AIDS, dilaporkan lebih rentan mengalami lesi oral yang berat dan sulit sembuh.

Pada kasus yang lebih berat, luka di mulut dapat menyebabkan nyeri, kesulitan menelan, infeksi sekunder, hingga gangguan jalan napas. Lesi umumnya berlangsung sekitar 7–14 hari, meskipun pada kondisi tertentu dapat bertahan lebih lama.

Dokter Gigi Berperan dalam Deteksi dan Pencegahan Penularan

Temuan ini memiliki arti penting bagi praktik kedokteran gigi. Dokter gigi dapat menjadi salah satu tenaga kesehatan pertama yang melihat pasien dengan lesi oral, sehingga kemampuan mengenali pola lesi yang mencurigakan menjadi penting.

Selain persoalan diagnosis, aspek pencegahan infeksi juga perlu diperhatikan. Lesi pada mukosa dapat memiliki kandungan virus yang tinggi, sementara prosedur kedokteran gigi sering melibatkan kontak dekat dengan saliva, cairan tubuh, dan aerosol. Karena itu, skrining pasien, penggunaan alat pelindung diri, isolasi kasus yang dicurigai, serta disinfeksi lingkungan klinis menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko penularan.

Bagaimana Mpox dengan Lesi Oral Ditangani?

Sebagian besar penanganan yang dilaporkan berfokus pada perawatan suportif, seperti menjaga hidrasi dan mengendalikan nyeri. Pada kondisi tertentu, obat antivirus seperti tecovirimat dapat digunakan.

Jika terjadi infeksi sekunder, pasien dapat membutuhkan terapi tambahan sesuai penyebabnya. Karena tingkat keparahan dan gambaran klinis berbeda-beda, penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Masih Dibutuhkan Standar Pelaporan yang Lebih Baik

Meskipun memberikan gambaran luas mengenai lesi oral pada mpox, peneliti menekankan bahwa bukti yang tersedia masih memiliki keterbatasan. Sebagian besar penelitian yang masuk merupakan laporan kasus dan seri kasus. Jenis penelitian tersebut berguna untuk menemukan gambaran klinis yang jarang, tetapi hasilnya tidak selalu dapat digeneralisasi ke seluruh pasien.

Selain itu, istilah dan klasifikasi lesi oral yang digunakan antarpenelitian masih berbeda-beda. Peneliti karena itu mendorong adanya standar pelaporan yang lebih seragam agar data dari berbagai penelitian dapat dibandingkan dengan lebih baik.

Kesimpulan

Lesi pada rongga mulut merupakan bagian penting dari gambaran klinis mpox dan pada beberapa pasien dapat menjadi tanda awal sebelum munculnya lesi kulit. Bentuknya dapat berupa ulkus, vesikel, erosi, hingga nekrosis, dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Bagi dokter gigi, temuan ini menegaskan pentingnya memasukkan mpox dalam pertimbangan diagnosis ketika menemukan lesi oral yang tidak biasa, terutama pada pasien dengan faktor risiko tertentu. Pemeriksaan yang cermat, deteksi dini, dan penerapan protokol pencegahan infeksi dapat membantu melindungi pasien sekaligus mengurangi risiko penularan di fasilitas kesehatan.

Peneliti juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut dan standardisasi pelaporan lesi oral agar pemahaman mengenai perjalanan penyakit, tingkat keparahan, serta peran lesi oral dalam penularan mpox dapat semakin baik.

Referensi 

Sridhar C, Krithika C, Deshpande A, Santhanakrishnan S, Narasingam A, Pachamuthu B. Oral manifestations of monkeypox: A global scoping review of evidence. Journal of Global Infectious Diseases. 2025;17:187–195. Doi: 10.4103/jgid.jgid_17_25

Carigi Indonesia August 11, 2026
Share this post
Tags
Archive
Oral Health Index OHI Dampak Kualitas Hidup & Jantung