Krisis Rekam Medis Gigi & Umum

Ketika Dokter Gigi Anda Tidak Tahu Anda Sedang Mengonsumsi Obat Pengencer Darah: Studi dari Swedia Mengungkap Krisis Diam-Diam Antara Rekam Medis dan Rekam Gigi
Sebuah studi kualitatif baru dari Karolinska Institutet mewawancarai 18 dokter gigi di pedesaan Swedia dan menemukan bahwa, bahkan di salah satu sistem kesehatan paling maju secara digital di dunia, klinik gigi tetap tidak dapat melihat apa yang dituliskan oleh dokter umum atau dokter spesialis pasien. Temuan ini mengungkap kesenjangan informasi yang berbahaya dan membahayakan keselamatan pasien — sekaligus menunjukkan satu solusi yang ternyata sangat praktis.
Seorang Pasien, Sebuah Pencabutan Gigi, dan Sebuah Rahasia yang Tidak Diketahui Siapa Pun
Bayangkan Anda masuk ke sebuah klinik gigi untuk apa yang seharusnya menjadi pencabutan gigi rutin. Anda duduk di dental chair. Dokter gigi mengajukan pertanyaan-pertanyaan biasa: ada alergi, sedang minum obat apa, ada masalah kesehatan? Anda menggeleng. Anda merasa baik-baik saja.
Yang mungkin Anda lupa — atau memang tidak menganggapnya penting — adalah bahwa Anda saat ini sedang mengonsumsi obat pengencer darah yang kuat (anticoagulant) yang diresepkan oleh dokter spesialis jantung Anda tiga bulan lalu. Atau bahwa Anda baru saja menyelesaikan terapi bisphosphonate untuk osteoporosis tahun lalu. Atau bahwa Anda mulai mengonsumsi obat psikiatri baru dua minggu yang lalu.
Dokter gigi melanjutkan tindakan. Dan masalah pun dimulai.
Ini bukan sekadar skenario menakutkan yang hipotetis. Menurut sebuah studi kualitatif baru yang diterbitkan di JMIR Human Factors pada Januari 2026, skenario seperti ini cukup sering terjadi sehingga dokter gigi yang bekerja di kawasan pedesaan Dalarna, Swedia, menggambarkannya sebagai bagian dari realitas sehari-hari mereka — bukan karena mereka ceroboh, melainkan karena sistem rekam medis gigi elektronik (Electronic Dental Record/EDR) mereka secara harfiah tidak dapat melihat apa yang ada di rekam medis pasien.
Di negara yang terkenal dengan infrastruktur digitalnya, strategi ambisius "Vision for eHealth 2025", dan platform-platform nasional yang didanai dengan baik, fakta tersebut sangat mencolok. Dan ini memunculkan satu pertanyaan yang sedang dihadapi oleh setiap sistem kesehatan di seluruh dunia: mengapa dokter gigi dan dokter umum/spesialis belum berbagi informasi pasien yang sama hingga sekarang?
Mulut Terhubung dengan Tubuh — Tetapi Rekam Mediknya Tidak
Selama beberapa dekade, sains telah secara konsisten menumpuk bukti bahwa mulut dan bagian tubuh lainnya bukanlah dunia yang terpisah. Diabetes, penyakit kardiovaskular, gagal ginjal, kanker, gangguan autoimun — masing-masing dapat mengubah cara perawatan gigi seharusnya direncanakan, dilakukan, dan ditindaklanjuti. Beberapa obat membuat pasien lebih banyak berdarah saat pencabutan sederhana. Yang lain, seperti bisphosphonate, dapat menyebabkan komplikasi serius bernama osteonekrosis rahang terkait obat (medication-related osteonecrosis of the jaw/MRONJ), di mana tulang rahang benar-benar gagal menyembuh setelah tindakan dental.
Namun, terlepas dari kenyataan medis ini, perawatan gigi dan perawatan medis tetap — di hampir setiap negara di dunia — terpisah secara institusional. Mereka menggunakan klinik yang terpisah, organisasi profesi yang terpisah, skema asuransi yang terpisah, dan yang paling penting, sistem rekam digital yang terpisah: Electronic Dental Record (EDR) untuk kedokteran gigi, dan Electronic Health Record (EHR) untuk kedokteran umum.
Pemisahan inilah yang ingin diteliti oleh para peneliti Swedia.
Mengapa Swedia Menjadi Tempat yang Tepat untuk Mempelajari Hal Ini
Swedia telah menghabiskan satu dekade terakhir untuk membangun salah satu infrastruktur data kesehatan nasional yang paling ambisius di Eropa. Dua komponen infrastruktur tersebut menjadi pusat dari studi ini:
NPÖ (Nationell Patientöversikt, atau "Tinjauan Pasien Nasional") — sebuah platform digital yang memungkinkan tenaga kesehatan terotorisasi untuk mengambil data pasien antar-organisasi dan antar-wilayah.
NTjP (Nationell Tjänsteplattform, atau "Platform Layanan Nasional") — "jalan tol" teknis yang memungkinkan berbagai sistem bertukar data pasien secara aman dan terstandar. Konsepnya mirip dengan Health Information Exchange (HIE).
Bersama-sama, kedua platform ini melakukan apa yang masih diperjuangkan oleh sebagian besar negara: memungkinkan dokter di satu wilayah Swedia melihat informasi pasien yang relevan dari rumah sakit di wilayah lain.
Hanya saja ada satu masalah. Keduanya saat ini tidak mencakup perawatan gigi. Dokter gigi tidak dapat membuka rekam medis pasien mereka, dan dokter umum/spesialis tidak dapat melihat rekam gigi pasien mereka — meskipun platform teknis untuk melakukannya sebenarnya sudah ada.
Untuk membuat hal ini lebih menarik, para peneliti memilih untuk meneliti Dalarna, salah satu wilayah terbesar dan paling pedesaan di Swedia, yang memiliki rasio dokter gigi terhadap penduduk terendah di seluruh negeri dan populasi yang menua, di mana sekitar 25% penduduknya berusia 65 tahun atau lebih (dibandingkan dengan rata-rata nasional 19%). Dengan kata lain: sebuah wilayah di mana kebutuhan perawatan gigi paling tinggi justru dari pasien yang paling mungkin mengonsumsi banyak obat — dan di mana kesenjangan informasi paling penting untuk diatasi.
Apa yang Dilakukan Para Peneliti
Tim yang dipimpin oleh Sahid Hasan Rahim, Dr. Nadia Davoody, dan Dr. Stefano Bonacina dari Health Informatics Centre, Karolinska Institutet di Stockholm — salah satu universitas kedokteran paling bergengsi di dunia — melakukan wawancara mendalam dengan format semi-terstruktur terhadap 18 dokter gigi yang bekerja di klinik gigi umum yang dikelola Public Dental Service Dalarna antara Maret hingga Juli 2025.
Wawancara dipandu oleh kerangka sosioteknik yang sudah mapan dari Sittig dan Singh, yang mengevaluasi sistem teknologi kesehatan digital melalui beberapa dimensi yang saling terkait: konten klinis, orang-orang yang menggunakan sistem, antarmuka manusia-komputer, alur kerja dan komunikasi, kebijakan organisasi internal, serta peraturan eksternal.
Dalam bahasa sederhana, para peneliti tidak hanya bertanya "apa yang Anda butuhkan?" — tetapi mereka bertanya, "bagaimana sebenarnya seluruh ekosistem orang, perangkat lunak, dokumen, kebijakan, dan institusi bekerja dalam praktik nyata ketika Anda mencoba melakukan pekerjaan Anda dengan aman?"
Seluruh wawancara ditranskripsi, dianalisis secara tematik, dan dikonversi menjadi sesuatu yang praktis: model alur kerja konseptual yang digambar dalam standar Unified Modeling Language (UML). Diagram-diagram ini menunjukkan, langkah demi langkah, baik alur kerja saat ini yang berantakan maupun alur kerja masa depan yang lebih bersih.
Apa yang Dikatakan Para Dokter Gigi tentang Kebutuhan Mereka: Empat Kategori Penting
Studi ini mengidentifikasi empat kategori utama informasi medis yang secara rutin dibutuhkan oleh dokter gigi tetapi sering tidak dapat mereka peroleh dengan mudah:
1. Kondisi Medis
Kondisi yang paling sering disebut adalah diagnosis kanker (disebutkan oleh 12 dari 18 dokter gigi), penyakit kardiovaskular (10 dokter gigi), dan gangguan psikiatri dan neurologi (7 dokter gigi). Riwayat kanker penting karena radioterapi dan kemoterapi secara fundamental mengubah cara mulut menyembuh setelah suatu tindakan. Kondisi kardiovaskular memengaruhi pilihan anestesi, risiko perdarahan, dan kebutuhan profilaksis antibiotik. Kondisi psikiatri dan neuro-perkembangan memengaruhi cara berkomunikasi dengan pasien — dan jenis sedatif yang aman digunakan.
2. Informasi Farmakologi
Dua kelas obat yang sangat menonjol:
Antiresorptive agents (disebutkan oleh 15 dari 18 dokter gigi) — obat-obatan seperti bisphosphonate dan denosumab yang digunakan untuk osteoporosis atau metastasis tulang. Obat-obat ini dapat menyebabkan osteonekrosis rahang terkait obat (MRONJ) setelah pencabutan gigi.
Antikoagulan (11 dokter gigi) — obat pengencer darah yang secara signifikan meningkatkan risiko perdarahan selama tindakan invasif.
Para dokter gigi juga menyoroti obat-obat psikiatri, alergi penisilin, dan riwayat penyalahgunaan zat sebagai informasi kritis. Salah satu dokter gigi menggambarkan kasus seorang pasien dengan riwayat penyalahgunaan opioid yang tidak diketahui — pasien tersebut berpindah-pindah klinik mencari resep morfin sampai akhirnya apotek setempat mengeluarkan peringatan.
3. Riwayat Pengobatan
Pengobatan kanker yang sedang berjalan menjadi perhatian utama. Dokter gigi tidak hanya perlu mengetahui bahwa pasien telah menjalani radioterapi, tetapi juga daerah mana yang diiradiasi. Karena satu informasi tunggal ini bisa menentukan apakah pencabutan gigi rutin masih aman dilakukan, atau justru bisa memicu osteoradionekrosis.
4. Nilai Laboratorium
Untuk pasien yang mengonsumsi warfarin, dokter gigi secara spesifik menginginkan akses ke nilai International Normalized Ratio (INR) — sebuah hasil pemeriksaan darah yang memberi tahu mereka secara konkret apakah pasien aman untuk dioperasi hari ini, atau apakah tindakan perlu ditunda.
Bagaimana Dokter Gigi Saat Ini Memperoleh Informasi Ini — dan Mengapa Sering Gagal
Inilah bagian dari studi ini yang sebenarnya tidak nyaman untuk dibaca.
Laporan dari pasien (patient self-report) adalah sumber utama — dan tidak dapat diandalkan. Para dokter gigi menggambarkan pasien yang mengaku tidak mengonsumsi obat apa pun tetapi kemudian baru menyebut tujuh jenis. Pasien lansia yang tidak bisa menyebutkan diagnosis mereka sendiri. Pasien asing yang kesulitan dengan bahasa Swedia. Pasien yang dengan sengaja menyembunyikan informasi.
Proxy reporting — bergantung pada anggota keluarga, pengantar, atau staf panti jompo — mengisi sebagian celah, tetapi menciptakan celah baru. Salah seorang dokter gigi menceritakan satu kasus yang sangat berkesan: seorang pasien dengan kondisi neurodegeneratif datang bersama pekerja panti jompo yang sama sekali tidak tahu riwayat medisnya. Tim dokter gigi menelepon panti jompo, tetapi tidak ada perawat yang tersedia. Akhirnya mereka berhasil menelepon kerabat pasien. Kunjungan itu memakan waktu hampir sepanjang hari.
Konsultasi langsung dengan layanan medis primer atau spesialis digambarkan sebagai pilihan terakhir — dan yang paling membuat frustrasi. Para dokter gigi melaporkan menelepon klinik dokter umum berulang kali, ditahan di telepon, diarahkan ke nomor lain, kadang ditolak informasinya sama sekali. Salah seorang dokter gigi mencoba menghubungi seorang dokter spesialis anak selama hampir satu tahun sebelum akhirnya menyerah dan meminta pasien untuk mengoordinasikan komunikasi tersebut sendiri.
Hasilnya adalah alur kerja yang, dalam deskripsi para dokter gigi sendiri:
Memakan banyak waktu — memakan waktu janji temu yang seharusnya digunakan untuk merawat pasien.
Berisiko — menyebabkan "in-treatment hazards" di mana informasi penting muncul selama prosedur yang sudah dimulai.
Membuat pasien frustrasi — yang harus menjadwalkan ulang, datang berulang kali, atau menghadapi penundaan perawatan.
Membuat para dokter gigi merasa tidak dihargai — yang, dalam kata-kata salah seorang partisipan, merasa diperlakukan seperti "sepupu miskin para profesional medis" ("the poor cousins of medical professionals").
Sistem EDR-nya Sendiri Tidak Membantu
Bahkan di dalam perangkat lunak gigi mereka sendiri — sistem T4 dari Carestream, yang digunakan oleh seluruh 18 partisipan — para dokter gigi menemui banyak masalah usabilitas yang dalam:
Free-text input mendominasi. Informasi penting tentang kondisi jantung atau obat pengencer darah diketik baik di "bagian medical history" yang terstruktur atau dikubur di dalam progress notes biasa — dan setiap dokter gigi melakukannya dengan cara yang berbeda, sehingga menemukannya kembali nanti berarti mengaduk-aduk seluruh rekam.
Information reliability tidak pasti. Para dokter gigi mengatakan mereka sering tidak dapat memastikan apakah informasi yang dimasukkan oleh kolega sebelumnya akurat atau masih up-to-date.
Manual data entry rentan kesalahan, terutama saat mengetik daftar obat panjang di bawah tekanan waktu dengan nama-nama obat yang asing.
Tidak ada sistem peringatan (alert) bawaan untuk situasi berisiko tinggi seperti penyalahgunaan zat atau interaksi obat berbahaya — jenis "tanda merah" yang secara rutin ditampilkan oleh EHR di rumah sakit.
Lebih buruk lagi, sebuah platform yang sudah ada bernama "Förskrivningskollen" yang seharusnya memungkinkan tenaga profesional terotorisasi melihat resep pasien justru digambarkan sebagai sulit diakses secara teknis atau terlalu terbatas untuk berguna secara klinis. Dan dokter gigi di klinik berbasis rumah sakit memiliki akses ke sistem EHR penuh, sementara kolega mereka di klinik gigi umum tidak — sebuah ketimpangan yang oleh para partisipan disebut tidak adil dan membuat frustrasi.
Solusi yang Diusulkan: Jangan Bangun yang Baru, Hubungkan yang Sudah Ada
Mungkin kontribusi paling bernilai secara praktis dari studi ini adalah solusi yang diusulkan. Para peneliti tidak menyerukan pembangunan sistem TI nasional baru yang mahal. Sebaliknya, mereka berargumen bahwa Swedia sudah memiliki infrastruktur yang dibutuhkan — NPÖ dan NTjP — dan hanya perlu memperluasnya untuk mencakup perawatan gigi.
Menggunakan diagram UML, tim ini memodelkan sebuah alur kerja masa depan di mana:
Dokter gigi membuka EDR, yang secara otomatis melakukan kueri ke informasi medis pasien melalui NTjP.
Otorisasi diverifikasi di sumber data.
Kondisi medis yang relevan, daftar obat, riwayat pengobatan, dan nilai laboratorium muncul langsung di dalam EDR — view-only dan read-only pada tahap awal, untuk menjaga kesederhanaan.
Dokter gigi mengonfirmasi bahwa mereka telah meninjau informasi tersebut, yang dicatat di sistem untuk akuntabilitas.
Kebutuhan untuk menelepon rumah sakit, mencari kerabat pasien, atau bergantung pada memori pasien — hilang untuk kasus-kasus rutin.
Untuk membuatnya berhasil, para penulis menunjukkan bahwa interoperabilitas harus diselesaikan di empat level secara bersamaan:
Teknis — pipa data harus terhubung.
Sintaktis — data harus dalam struktur yang terstandar (para penulis menyoroti HL7 FHIR sebagai standar terdepan).
Semantik — konsep medis yang sama harus berarti sama di kedua sisi (di sini mereka merekomendasikan SNOMED CT).
Organisasional — vendor, otoritas regional, dan organisasi profesi semuanya harus bersedia menyelaraskan diri dengan kerangka kerja bersama. Ini adalah, sebagaimana diakui jujur oleh para penulis, level yang seringkali paling sulit untuk diperbaiki.
Sebuah Pandangan ke Masa Depan: AI, Pencitraan Digital, dan European Health Data Space
Bagian diskusi paper ini melangkah mundur untuk melihat ke arah mana semua ini akan menuju. Dua tren yang penting:
Regulasi European Health Data Space (EHDS), yang saat ini sedang diluncurkan di seluruh Uni Eropa, diharapkan secara dramatis mengurangi ambiguitas hukum di sekitar pertukaran data kesehatan lintas-sektor — termasuk antara perawatan gigi dan perawatan medis. Infrastruktur Swedia yang sudah ada mungkin berada dalam posisi yang sangat baik untuk memanfaatkannya.
Tools kedokteran gigi berbasis AI sedang berkembang pesat — mulai dari sistem digital smile design berbasis AI hingga perangkat lunak analisis senyum berbasis video seperti Dynasmile. Tools ini menghasilkan output yang sangat besar dan kompleks: gambar resolusi tinggi, video, model 3D, score estetika dan diagnostik yang dihasilkan oleh AI. Mengintegrasikan tools ini ke dalam EDR memperkenalkan satu lapisan baru tantangan interoperabilitas, termasuk kebutuhan akan kepatuhan DICOM untuk data pencitraan, pemetaan semantik untuk output AI, serta pertimbangan bandwidth dan consent yang besar untuk memindahkan data multimedia melalui pipa-pipa nasional seperti NTjP.
Singkatnya: rekam gigi pada tahun 2030 akan melakukan jauh lebih banyak hal daripada sekadar menyimpan catatan teks. Pertanyaannya adalah apakah pipa ledeng di bawahnya akan siap.
Keterbatasan yang Diakui Jujur
Para penulis bersikap terbuka tentang apa yang tidak bisa diklaim oleh studi mereka:
Sampel 18 dokter gigi, semuanya dari satu wilayah pedesaan Swedia yang menggunakan satu sistem EDR spesifik, membatasi generalisabilitas. Temuan ini sebaiknya dipahami sebagai transferable ke konteks serupa, daripada secara statistik mewakili kedokteran gigi secara keseluruhan.
Sebagian besar partisipan adalah dokter gigi early-career dengan pengalaman kurang dari lima tahun, yang mungkin membuat persepsi terhadap keterbatasan sistem menjadi sedikit miring.
Penelitian masa depan akan membutuhkan studi kuantitatif berskala besar, mungkin menggunakan survei skala Likert atau metode konsensus Delphi, untuk memvalidasi dan memberi peringkat pada kebutuhan informasi yang teridentifikasi di sini.
Ini adalah keterbatasan yang masuk akal — tetapi tidak melemahkan pesan utamanya, yang didukung oleh temuan-temuan serupa dari studi-studi di Amerika Serikat, Arab Saudi, dan tempat-tempat lain yang dikutip oleh para penulis.
Pesan Utama: Menghubungkan Kedokteran Gigi dengan Kedokteran Lainnya Bukanlah Kemewahan — Ini adalah Isu Keselamatan Pasien
Ada tiga pesan utama yang menonjol dari studi yang dilakukan dengan cermat ini:
Dokter gigi tidak meminta seluruh isi rekam medis pasien — mereka membutuhkan satu set informasi yang fokus dan terdefinisi dengan baik. Kondisi medis, obat-obatan (terutama antikoagulan dan bisphosphonate), riwayat pengobatan (terutama pengobatan kanker yang sedang berjalan), dan beberapa nilai laboratorium spesifik akan menyelesaikan sebagian besar masalah.
Patient self-report saja tidak cukup — dan tidak aman. Ketika dokter gigi bergantung pada apa yang diingat pasien, kesalahan terjadi. Solusinya bukan menuntut lebih banyak dari pasien, tetapi memberikan klinisi alat yang lebih baik.
Infrastruktur untuk menyelesaikan masalah ini sudah ada di banyak negara — termasuk Swedia, dengan NPÖ dan NTjP. Hambatan saat ini bersifat organisasional, regulatori, dan terkait desain — jauh lebih besar daripada hambatan teknis. Ini adalah kesimpulan yang penuh harapan: artinya masalah ini bisa diselesaikan tanpa investasi baru yang besar, jika kemauan politik dan profesi sudah ada.