Gigi dan Mulut yang Sehat, Tidur Nyenyak, dan Suasana Hati: Studi pada Lansia yang Ikut Pindah ke Kota

Bagi banyak lansia, pindah ke kota besar mengikuti anak adalah keputusan yang tidak mudah. Mereka meninggalkan kampung halaman, tetangga, dan kebiasaan lama, lalu beradaptasi dengan lingkungan baru, sering kali sambil mengasuh cucu. Di tengah perubahan sebesar itu, kesehatan fisik dan mental mereka ikut diuji.
Sebuah penelitian di Kota Jinan, Provinsi Shandong, Tiongkok, menyoroti tiga hal yang selama ini sering diteliti terpisah: kesehatan mulut, kualitas tidur, dan emosi negatif seperti depresi, kecemasan, dan stres. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMC Public Health (2026) ini mencoba menjawab apakah ketiganya saling berkaitan, dan bagaimana.
Siapa "Lansia Migran" Itu?
Seiring pesatnya urbanisasi di Tiongkok, semakin banyak orang lanjut usia yang pindah ke kota bersama anak-anak mereka. Kelompok ini disebut lansia migran (migrant elderly). Dibandingkan lansia yang tetap tinggal di kampung halaman, mereka menghadapi perubahan lingkungan, jaringan sosial yang melemah, perbedaan bahasa dan kebiasaan, serta tekanan untuk beradaptasi. Semua itu bisa menambah beban psikologis.
Para peneliti menjelaskan bahwa kesehatan mulut bukan hanya soal mengunyah makanan. Masalah gigi dan mulut dapat menimbulkan rasa sakit dan kesulitan berbicara, yang bisa membuat lansia enggan bergaul, merasa kesepian, dan mudah murung. Di sisi lain, gangguan tidur seperti sulit memulai tidur atau sering terbangun malam hari juga umum pada lansia, dan berkaitan dengan suasana hati yang buruk. Namun, penelitian yang melihat ketiga hal ini sekaligus, khususnya pada lansia migran, masih jarang.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Penelitian ini menggunakan survei potong lintang (cross-sectional), yaitu mengumpulkan data pada satu waktu tertentu, pada Juni 2024. Pesertanya adalah 562 lansia berusia 60 tahun ke atas yang pindah ke Jinan bersama anak-anak mereka dan sudah tinggal di sana minimal enam bulan. Peserta dipilih dengan metode pengambilan sampel acak bertahap dari empat distrik, empat jalan, dan empat komunitas. Sebagian besar adalah perempuan (sekitar 73%), mayoritas berusia 60–65 tahun, dan lebih dari 77% pindah untuk merawat cucu.
Data dikumpulkan lewat kuesioner dan wawancara tatap muka oleh petugas terlatih. Tiga aspek diukur dengan alat yang sudah baku:
Kesehatan mulut dengan GOHAI (Geriatric Oral Health Assessment Index), kuesioner 12 pertanyaan tentang fungsi mulut, aspek psikososial, serta rasa sakit dan tidak nyaman. Skor berkisar 12–60, dan makin tinggi berarti makin baik.
Emosi negatif dengan DASS-21, yang mengukur depresi, kecemasan, dan stres. Makin tinggi skor, makin berat emosi negatifnya.
Kualitas tidur dengan PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index). Makin tinggi skor, makin buruk kualitas tidurnya.
Hubungan antarketiganya dianalisis dengan korelasi dan model persamaan struktural (SEM), yaitu teknik statistik untuk menguji apakah suatu variabel berperan sebagai "perantara" antara dua variabel lain.
Apa Hasilnya?
Skor rata-rata. Rata-rata skor kesehatan mulut (GOHAI) adalah 53,23 dari 60, tergolong cukup baik. Rata-rata skor emosi negatif (DASS-21) 7,80 dan rata-rata skor tidur (PSQI) 4,49. Pada skala PSQI, skor di atas 5 menandakan kualitas tidur buruk, sehingga rata-rata kelompok ini berada tepat di bawah batas tersebut.
Ketiganya saling berkaitan. Semakin baik kesehatan mulut seseorang, cenderung semakin rendah gangguan tidur dan emosi negatifnya. Sebaliknya, makin buruk tidur seseorang, cenderung makin tinggi emosi negatifnya.
Tidur diduga menjadi "jembatan". Analisis statistik menunjukkan bahwa sebagian kaitan antara kesehatan mulut dan emosi negatif berjalan lewat gangguan tidur. Setelah memperhitungkan faktor seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan penyakit kronis, jalur tidak langsung ini menyumbang sekitar 34% dari total keterkaitan, sedangkan sisanya (sekitar 63%) berupa hubungan langsung. Dengan kata lain, kesehatan mulut yang lebih baik berkaitan dengan tidur yang lebih baik, dan tidur yang lebih baik berkaitan dengan emosi negatif yang lebih rendah.
Arah sebaliknya kurang didukung. Peneliti juga menguji model dengan arah terbalik, yaitu emosi negatif memengaruhi tidur lalu memengaruhi kesehatan mulut. Model ini tidak cocok dengan data, sehingga model awal dinilai lebih kuat.
Ada perbedaan kota dan desa. Lansia migran yang tinggal di wilayah perkotaan melaporkan kesehatan mulut yang lebih baik dan emosi negatif yang lebih rendah dibanding yang tinggal di wilayah perdesaan Jinan. Lansia di perdesaan juga memiliki skor tidur yang lebih tinggi, yang pada skala PSQI berarti kualitas tidur yang lebih buruk. Perlu dicatat, sebagian besar peserta (sekitar 85%) berasal dari wilayah perdesaan, sehingga kelompok perkotaannya relatif kecil.
Mengapa Bisa Saling Berkaitan?
Para penulis menyampaikan beberapa penjelasan yang masih berupa dugaan:
Gangguan pada gigi dan mulut dapat menimbulkan nyeri dan rasa tidak nyaman, terutama malam hari, sehingga mengganggu tidur.
Peradangan di rongga mulut diduga memicu peradangan ringan di seluruh tubuh yang dapat memengaruhi kualitas tidur.
Kondisi mulut yang bermasalah dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat lansia menarik diri dari pergaulan, sehingga memperbesar rasa kesepian.
Tidur yang buruk membuat tubuh lebih sulit mengelola stres, dan dapat memperburuk suasana hati serta kemampuan berpikir.
Catatan Penting: Hasil Ini Belum Membuktikan Sebab-Akibat
Para peneliti sendiri menekankan beberapa keterbatasan:
Desain potong lintang. Data dikumpulkan satu kali, sehingga hanya menggambarkan keterkaitan antarvariabel dan tidak dapat memastikan mana yang menjadi sebab dan mana yang menjadi akibat. Istilah "perantara" dalam analisis ini bersifat statistik, bukan bukti hubungan sebab-akibat.
Semua data bersumber dari laporan sendiri. Kesehatan mulut diukur lewat kuesioner, bukan pemeriksaan gigi langsung (misalnya jumlah gigi atau kondisi gusi), sehingga bisa saja berbeda dari kondisi sebenarnya.
Faktor lain belum sepenuhnya terkendali. Penyakit kronis, obat-obatan, dan gaya hidup dapat memengaruhi hasil, begitu pula tingkat ekonomi dan akses layanan kesehatan.
Sampel kurang seimbang. Mayoritas peserta adalah perempuan dan berasal dari perdesaan, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk semua lansia migran.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa pada lansia yang ikut pindah ke kota di Jinan, kesehatan mulut yang lebih baik berkaitan dengan emosi negatif yang lebih rendah, dan keterkaitan itu sebagian tampaknya berjalan lewat kualitas tidur. Dengan kata lain, ketiga aspek ini saling terhubung dan sebaiknya tidak dilihat sendiri-sendiri.
Para penulis menyarankan pendekatan menyeluruh: memperhatikan kesehatan gigi dan mulut lansia melalui edukasi dan pemeriksaan rutin, membantu memperbaiki kualitas tidur, serta memberi dukungan psikologis dan sosial, misalnya lewat kegiatan komunitas dan perhatian keluarga. Penelitian lanjutan dengan pemeriksaan gigi langsung dan desain yang lebih kuat diperlukan untuk memastikan temuan ini.
Sumber asli:
Wang, M., Zhai, S., Li, S., & Liu, X. (2026). The relationship between oral health, psychological emotions and sleep disorders among migrant elderly people - an empirical study based on questionnaire survey. BMC Public Health, 26, 270. DOI: https://doi.org/10.1186/s12889-025-25987-w