Kesehatan Mulut & Risiko Pikun

Bisakah Kondisi Mulut Anda Menjadi Sinyal Peringatan Bagi Otak? Studi Terhadap 83.000 Warga Amerika Mengatakan Bisa Saja
Sebuah analisis besar yang didukung CDC terhadap lebih dari 83.000 orang dewasa paruh baya dan lanjut usia di Amerika Serikat menemukan bahwa orang yang lebih banyak kehilangan gigi — dan mereka yang melewatkan kunjungan rutin ke dokter gigi — secara nyata lebih sering melaporkan tanda-tanda awal masalah daya ingat. Hubungan ini paling kuat pada kelompok usia 40-an, 50-an, dan awal 60-an.
Ketika Sering Lupa Menaruh Kunci Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat
Hampir semua orang pernah masuk ke sebuah ruangan dan tiba-tiba lupa untuk apa ia datang ke sana. Kita biasanya menertawakannya sebagai "momen pikun" — meskipun usia kita masih jauh dari kategori lansia. Namun, bagi semakin banyak orang dewasa paruh baya dan lanjut usia, kejadian-kejadian kecil seperti itu bukan sekadar lelucon. Mereka adalah bagian dari sesuatu yang oleh para dokter disebut subjective cognitive decline (SCD), atau penurunan kognitif subjektif.
SCD adalah istilah medis untuk perasaan bahwa daya ingat atau cara berpikir Anda terasa semakin memburuk dalam setahun terakhir — bahkan ketika belum ada dokter yang secara resmi mendiagnosis Anda dengan kondisi apa pun. SCD adalah salah satu tanda peringatan paling awal bahwa otak mungkin sedang menuju masalah yang lebih serius di kemudian hari, termasuk penyakit Alzheimer dan bentuk-bentuk demensia lainnya. Tidak semua orang dengan SCD akan berkembang menjadi demensia, tetapi sebagian yang cukup besar pada akhirnya mengalami hal itu.
Itulah sebabnya peneliti kesehatan masyarakat sangat bersemangat mencari faktor risiko yang dapat dimodifikasi — hal-hal dalam kehidupan sehari-hari yang benar-benar bisa kita ubah untuk menurunkan risiko. Dan salah satu faktor yang semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir adalah sesuatu yang nyaris tidak pernah dihubungkan orang dengan otak: kondisi mulut mereka.
Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Preventing Chronic Disease yang berafiliasi dengan CDC pada September 2025 kini menambahkan salah satu bukti paling komprehensif sejauh ini mengenai keterkaitan mengejutkan tersebut.
Mengapa Para Peneliti Mulai Mencari Petunjuk tentang Otak di Dalam Mulut
Selama lebih dari satu dekade, para ilmuwan secara perlahan membangun argumentasi bahwa penyakit gusi, kehilangan gigi, dan peradangan kronis di rongga mulut mungkin menyebabkan kerusakan yang lebih besar dari yang diduga. Studi-studi sebelumnya telah mengaitkan penyakit periodontal (infeksi gusi yang berat) dan kehilangan gigi dengan peningkatan risiko Alzheimer. Pada 2024, Lancet Commission on Dementia Prevention yang sangat berpengaruh mendaftar 14 faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi — meskipun komisi tersebut belum secara resmi memasukkan kesehatan mulut ke dalam daftar itu, dengan alasan dibutuhkan bukti yang lebih kuat.
Namun, mulut bukan hanya tempat kita mengunyah. Mulut juga merupakan pintu masuk antara dunia luar dan aliran darah, dan dipenuhi oleh jutaan bakteri. Ketika keseimbangan bakteri itu terganggu — misalnya pada penyakit gusi kronis — bakteri tersebut memicu peradangan berkelanjutan yang dapat menyebar ke seluruh tubuh, termasuk, kemungkinan besar, sampai ke otak.
Itulah latar belakang ketika tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Mohammed H. Alshanbari dari Umm Al-Qura University, Arab Saudi, bersama kolega dari University of Utah dan Department of Veterans Affairs Medical Center, Salt Lake City, memutuskan untuk menyelami sebuah dataset Amerika yang sangat besar.
Apa yang Dilakukan Para Peneliti
Tim ini menggunakan data dari Behavioral Risk Factor Surveillance System (BRFSS) tahun 2022 — sebuah survei telepon berskala besar yang berkelanjutan, diselenggarakan oleh US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), yang menanyakan kepada orang dewasa di seluruh negeri tentang perilaku kesehatan, penyakit kronis, dan kualitas hidup mereka.
Untuk studi ini, para peneliti memfokuskan analisis pada 83.479 orang dewasa berusia 45 tahun atau lebih dari 18 negara bagian yang menjawab modul opsional tentang penurunan kognitif. Setiap responden ditanya, dengan bahasa yang sederhana, apakah mereka mengalami "kebingungan atau kehilangan ingatan yang lebih sering atau semakin memburuk" dalam 12 bulan terakhir. Siapa pun yang menjawab "ya" diklasifikasikan sebagai mengalami SCD.
Para peneliti kemudian mencocokkan jawaban tersebut dengan dua pertanyaan kesehatan mulut:
Berapa banyak gigi permanen yang sudah dicabut karena gigi berlubang atau penyakit gusi? (tidak ada, 1–5 gigi, 6 atau lebih tetapi tidak semua, semua gigi)
Kapan terakhir kali Anda mengunjungi dokter gigi? (dalam setahun terakhir vs. lebih dari setahun yang lalu, atau tidak pernah)
Untuk memastikan bahwa yang mereka ukur memang efek nyata dari kesehatan mulut — dan bukan faktor lain yang bersembunyi di latar belakang — mereka melakukan penyesuaian statistik untuk daftar panjang variabel pengganggu (confounders): usia, jenis kelamin, ras, status pernikahan, pendidikan, status pekerjaan, kondisi kesehatan umum, jumlah penyakit kronis (penyakit jantung, artritis, kanker, asma, PPOK, penyakit ginjal), dan sembilan faktor risiko demensia yang sudah dikenal dari laporan Lancet 2024 (kurang aktivitas fisik, binge drinking, merokok, obesitas, tinggal sendiri, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, depresi, dan diabetes).
Mereka juga membagi peserta ke dalam dua kelompok usia — 45–64 tahun ("paruh baya") dan 65 tahun atau lebih ("lansia") — karena uji pendahuluan menunjukkan bahwa pengaruh kesehatan mulut berbeda di antara kedua kelompok ini.
Apa yang Mereka Temukan: Tiga Hal Penting
1. Kesehatan mulut yang buruk berkaitan dengan keluhan memori yang nyaris dua kali lipat lebih sering
Ketika para peneliti membandingkan peserta murni berdasarkan kondisi kesehatan mulut, perbedaannya cukup mencolok: 13,6% orang dewasa dengan kesehatan mulut sedang-buruk melaporkan SCD, dibandingkan hanya 7,7% pada mereka yang kesehatan mulutnya sangat baik atau baik — hampir dua kali lipat.
Pola yang sama terlihat ketika mereka mengelompokkan orang berdasarkan jumlah gigi yang hilang. SCD dilaporkan oleh 11,0% dari peserta dengan 1–5 gigi yang dicabut, 18,4% dari mereka yang kehilangan 6 gigi atau lebih (tetapi tidak semua), dan 16,9% dari mereka yang sudah kehilangan seluruh gigi — jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak kehilangan gigi sama sekali.
2. Melewatkan kunjungan ke dokter gigi terkait dengan gejala kognitif yang lebih buruk
Orang yang tidak mengunjungi dokter gigi dalam setahun terakhir melaporkan SCD dengan tingkat 14,4% — jauh lebih tinggi dibandingkan 9,2% pada orang yang sudah berkunjung ke dokter gigi dalam setahun terakhir. Pola ini tetap bertahan bahkan setelah disesuaikan dengan pendapatan, pendidikan, dan penyakit kronis.
3. Hubungannya paling tajam pada usia paruh baya, bukan lansia
Inilah mungkin temuan yang paling menarik secara klinis. Pada kelompok usia 45 hingga 64 tahun, setiap kenaikan tingkat kehilangan gigi disertai dengan kenaikan prevalensi keluhan memori yang dapat diukur, bahkan setelah seluruh penyesuaian statistik:
1 hingga 5 gigi hilang → prevalensi SCD 25% lebih tinggi (PR = 1,25)
6 gigi atau lebih hilang (tetapi tidak semua) → prevalensi SCD 91% lebih tinggi (PR = 1,91)
Seluruh gigi hilang → prevalensi SCD 37% lebih tinggi (PR = 1,37)
Dan pada kelompok usia paruh baya yang sama, mereka yang mengunjungi dokter gigi dalam setahun terakhir memiliki prevalensi SCD 23% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak (PR = 0,77).
Pada kelompok lansia berusia 65 tahun ke atas, arah hubungannya sama — tetapi lebih lemah. Kehilangan seluruh gigi dan kunjungan dokter gigi terakhir tidak lagi menjadi prediktor yang signifikan secara statistik. Para penulis menafsirkan hal ini dengan hati-hati: bukan berarti kesehatan mulut tidak penting lagi setelah usia 65, melainkan bahwa banyak faktor kesehatan lain yang ikut bermain dan saling tumpang tindih seiring bertambahnya usia.
Teka-teki Mereka yang Sudah Kehilangan Seluruh Gigi
Salah satu kejutan yang paling membuat berpikir dalam studi ini adalah: orang dewasa paruh baya yang kehilangan 6 gigi atau lebih tetapi tidak semua ternyata memiliki prevalensi SCD yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang sudah kehilangan seluruh gigi.
Ini terdengar berlawanan dengan logika. Mengapa kehilangan semua gigi justru kurang berbahaya dibandingkan kehilangan sebagian besar gigi?
Penjelasan paling mungkin, menurut para penulis, adalah rehabilitasi prostodontik. Orang yang sudah kehilangan seluruh gigi biasanya menerima gigi tiruan (denture) atau implan gigi, yang mengembalikan fungsi pengunyahan dengan baik. Sementara itu, orang yang berada di "zona tengah" — banyak gigi sudah hilang tetapi belum cukup untuk mendapatkan gigi tiruan lengkap — justru bisa jadi yang paling dirugikan, karena mereka hidup dengan fungsi pengunyahan yang rusak tanpa pengganti.
Gagasan ini sejalan dengan teori yang sedang berkembang bahwa proses mengunyah itu sendiri baik untuk otak. Mengunyah merangsang aliran darah dan aktivitas listrik di area otak yang terlibat dalam memori dan kognisi, terutama hipokampus. Beberapa studi dari Jepang dan Amerika Serikat menemukan bahwa lansia yang menggunakan gigi tiruan dan tetap dapat mengunyah secara normal memiliki risiko demensia yang lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki gigi hilang tetapi tidak menggantinya.
Bagaimana Mungkin Mulut Mempengaruhi Otak? Tiga Mekanisme yang Masuk Akal
Para penulis dengan jelas menegaskan bahwa studi mereka, karena bersifat cross-sectional, tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Namun, mereka menggambarkan tiga jalur biologis yang masuk akal dan telah diteliti secara mendalam:
Hubungan mengunyah dan otak. Berkurangnya aktivitas mengunyah berarti berkurangnya stimulasi pada area otak yang terlibat dalam kognisi, dan seiring waktu area-area itu dapat menyusut atau berfungsi kurang efisien.
Malnutrisi tersembunyi. Orang dengan kehilangan gigi yang parah cenderung menghindari makanan keras atau berserat, yang dapat menyebabkan kekurangan nutrisi penting bagi kesehatan otak — terutama vitamin D, yang memiliki efek anti-peradangan baik pada jaringan gusi maupun jaringan otak.
Peradangan dan bakteri "jahat" yang sampai ke otak. Penyakit gusi kronis melepaskan molekul-molekul peradangan — termasuk C-reactive protein, interleukin-6, dan TNF-α — ke dalam aliran darah. Beberapa bakteri, terutama Porphyromonas gingivalis, bahkan telah terdeteksi di dalam otak pasien Alzheimer dan diduga ikut berkontribusi pada penumpukan plak β-amyloid yang beracun.
Tidak ada satu pun dari ketiga mekanisme ini yang sudah terbukti penuh, tetapi bersama-sama mereka memberikan masuk akal biologis terhadap apa yang ditunjukkan oleh angka-angka BRFSS.
Apa yang Tidak Bisa Dijelaskan oleh Studi Ini
Seperti setiap penelitian yang jujur, studi ini disertai dengan keterbatasan-keterbatasan penting — dan para penulis menyampaikannya secara terbuka:
Ini adalah potret sesaat, bukan film. Karena BRFSS hanya menangkap satu titik waktu, studi ini tidak dapat menunjukkan apakah kehilangan gigi terjadi sebelum atau setelah munculnya masalah memori. Secara biologis, sangat mungkin penurunan kognitif dini-lah yang menurunkan kemampuan seseorang merawat giginya, bukan sebaliknya.
Data yang dilaporkan sendiri memiliki titik buta. Baik pertanyaan tentang memori maupun jumlah gigi yang hilang bergantung pada apa yang diingat dan ingin disampaikan oleh peserta. Orang dengan masalah kognitif mungkin justru kurang melaporkan keluhannya, atau salah menghitung jumlah giginya yang hilang.
Penghuni panti jompo tidak disertakan. BRFSS hanya mensurvei orang yang dapat menjawab teleponnya sendiri — yang berarti orang dewasa yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang, yang sering memiliki kondisi mulut dan kognitif paling buruk, tidak masuk dalam analisis.
Tidak ada informasi tentang gigi tiruan. Survei ini tidak menanyakan apakah orang yang sudah kehilangan seluruh giginya menggunakan gigi tiruan — padahal justru variabel inilah yang dapat menjelaskan temuan mengejutkan di atas.
Pesan Utama: Kunjungan ke Dokter Gigi Mungkin Lebih Penting daripada yang Anda Kira
Meskipun ada keterbatasan-keterbatasan tersebut, pesan dari studi yang sangat besar dan mewakili populasi nasional ini cukup penting: kondisi kesehatan mulut Anda dan keteraturan perawatan gigi Anda tampaknya secara diam-diam berkaitan dengan tanda-tanda awal masalah memori — dan kaitan ini paling kuat pada usia paruh baya, ketika tindakan pencegahan masih sangat memungkinkan dilakukan.
Untuk kepentingan praktis, ada tiga hal yang menonjol:
Perlakukan perawatan gigi sebagai perawatan otak. Pemeriksaan gigi setiap enam bulan atau setahun sekali bukan hanya soal gigi yang bersih dan napas yang segar. Hal itu tampaknya berkaitan dengan prevalensi penurunan kognitif yang lebih rendah, bahkan setelah memperhitungkan pendapatan, pendidikan, dan penyakit kronis.
Jangan abaikan kehilangan gigi "di tengah-tengah". Orang dengan kehilangan gigi yang signifikan tetapi sebagian justru mungkin merupakan kelompok paling rentan. Jika ada gigi yang hilang, menggantinya — melalui implan, jembatan (bridge), atau gigi tiruan — bukan sekadar urusan estetika. Penggantian itu mengembalikan fungsi pengunyahan, yang tampaknya dibutuhkan oleh otak.
Program kesehatan masyarakat perlu menyambungkan titik-titik ini. Para tenaga kesehatan — termasuk dokter umum, dokter gigi, dan tenaga kesehatan masyarakat — perlu lebih aktif mengedukasi pasien dan keluarga bahwa kesehatan mulut adalah bagian dari kesehatan secara keseluruhan, termasuk kesehatan otak. Program promosi kesehatan gigi berbasis komunitas dapat memberi efek riak yang jauh melampaui rongga mulut itu sendiri.