Skip to Content

Kesehatan Gigi Penyandang Asma

July 24, 2026 by
Carigi Indonesia

Kesehatan Gigi Penyandang Asma

Kesehatan Gigi Penyandang Asma

17% vs 14,5%: Penyandang Asma Lebih Sering Menjalani Tambal dan Cabut Gigi Dibanding Orang Tanpa Asma 

Bayangkan seseorang yang sudah bertahun-tahun hidup dengan asma. Inhaler selalu ada di tas, jadwal kontrol ke dokter paru tercatat rapi, dan obat pengendali diminum disiplin setiap hari. Semua perhatian tertuju pada satu hal: agar napas tetap lega.

Namun ada satu bagian tubuh yang nyaris selalu luput dari daftar prioritas itu mulutnya sendiri.

Sebuah penelitian terbaru yang terbit di Journal of Public Health Dentistry menyoroti persoalan yang jarang dibicarakan ini. Menggunakan data survei nasional Amerika Serikat, dua peneliti dari Virginia Commonwealth University menemukan pola yang cukup mengganggu: penyandang asma ternyata lebih sering datang ke dokter gigi untuk perawatan kuratif alias ketika gigi sudah terlanjur bermasalah dibandingkan orang tanpa asma. Dan seperti bisa ditebak, konsekuensi biayanya tidak kecil.

Apa Hubungannya Asma dengan Kesehatan Gigi?

Sekilas, asma dan gigi berlubang terdengar seperti dua urusan yang sama sekali terpisah. Satu soal saluran napas, satu lagi soal rongga mulut. Tapi keduanya bertetangga sangat dekat, dan literatur ilmiah sudah lama mencatat kaitannya.

Beberapa jalur yang paling sering dibahas para peneliti:

  • Mulut jadi lebih kering. Sebagian obat asma, terutama golongan pelega saluran napas, dapat menurunkan produksi air liur. Padahal air liur adalah pertahanan alami mulut: ia membilas sisa makanan, menetralkan asam, dan membantu memperbaiki lapisan email gigi. Ketika aliran air liur berkurang, risiko gigi berlubang naik.

  • Kebiasaan bernapas lewat mulut. Penyandang asma apalagi yang disertai alergi hidung cenderung lebih sering bernapas melalui mulut, yang membuat rongga mulut makin kering.

  • Sisa obat hirup yang menempel. Obat asma jenis kortikosteroid hirup sangat efektif mengendalikan peradangan saluran napas, tetapi residunya bisa tertinggal di rongga mulut dan meningkatkan risiko infeksi jamur (sariawan jamur) bila mulut tidak dibilas setelah pemakaian.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dimuat di American Journal of Epidemiology bahkan menemukan bahwa asma dikaitkan dengan peningkatan risiko gigi berlubang, baik pada gigi susu maupun gigi tetap.

Pertanyaannya kemudian: kalau risikonya memang lebih tinggi, apakah penyandang asma juga lebih rajin memeriksakan giginya secara rutin? Atau justru sebaliknya baru datang saat sudah terlanjur sakit?

Apa yang Dilakukan Para Peneliti?

Shillpa Naavaal dan Vaibhavi Mone menjawabnya dengan menggali data Medical Expenditure Panel Survey (MEPS) tahun 2022, sebuah survei nasional Amerika Serikat yang secara rutin mengumpulkan informasi tentang penggunaan layanan kesehatan, biaya yang dikeluarkan, dan status asuransi penduduk.

Total ada 21.405 responden berusia satu tahun ke atas yang dianalisis. Para peneliti membagi mereka menjadi dua kelompok besar dengan dan tanpa diagnosis asma lalu membandingkan tiga jenis kunjungan ke dokter gigi:

  1. Kunjungan apa pun ke dokter gigi (any dental visit)

  2. Kunjungan preventif pemeriksaan rutin, pembersihan karang gigi, tindakan pencegahan

  3. Kunjungan kuratif/perawatan penambalan, pencabutan, perawatan saluran akar, dan tindakan lain yang dilakukan karena sudah ada masalah

Setelah itu, mereka merangkum rata-rata pengeluaran biaya kesehatan dan biaya perawatan gigi pada masing-masing kelompok, dipilah menurut kelompok usia.

Temuan Pertama: Asma Bukan Kondisi Langka

Dari keseluruhan sampel, 13,2% responden memiliki diagnosis asma. Angkanya tidak merata di semua usia: pada kelompok usia kerja (dewasa produktif) prevalensinya mencapai 14,7%, sementara pada anak-anak sebesar 9,5%.

Artinya, kalau ada 100 pasien yang duduk di ruang tunggu klinik gigi, secara statistik ada belasan di antaranya yang hidup dengan asma sebuah kelompok yang cukup besar untuk tidak diabaikan dalam perencanaan layanan kesehatan gigi.

Temuan Kedua: Lebih Sering Berobat, Bukan Mencegah

Inilah bagian yang paling menarik sekaligus paling perlu direnungkan.

Persentase orang yang menjalani kunjungan perawatan gigi (kuratif) lebih tinggi pada kelompok asma dibandingkan kelompok non-asma: 17,0% berbanding 14,5%, dan selisih ini bermakna secara statistik.

Terlihat kecil? Dalam skala populasi, selisih 2,5 poin persentase itu berarti jutaan tindakan tambahan tambalan, pencabutan, perawatan akar yang sesungguhnya berpotensi dicegah.

Yang tersirat dari pola ini bukanlah bahwa penyandang asma lebih rajin ke dokter gigi. Justru sebaliknya: mereka lebih sering datang karena sudah ada yang harus diperbaiki, bukan karena datang lebih awal untuk mencegahnya.

Temuan Ketiga: Mencegah Jauh Lebih Ringan di Kantong

Peneliti juga membandingkan pengeluaran biaya di dalam kelompok penyandang asma itu sendiri. Hasilnya konsisten dan berlaku di semua kelompok usia:

Penyandang asma yang menjalani kunjungan preventif memiliki pengeluaran biaya perawatan gigi yang lebih rendah dibandingkan mereka yang menjalani kunjungan kuratif.

Temuan ini sejalan dengan logika yang sudah lama dipegang di kedokteran gigi masyarakat: biaya membersihkan karang gigi dan kontrol rutin jauh lebih kecil daripada biaya menambal gigi berlubang, apalagi merawat saluran akar atau mengganti gigi yang sudah dicabut.

Namun ada satu catatan penting yang perlu dipahami pembaca: penelitian ini bersifat potret sesaat (analisis data survei satu tahun). Ia menunjukkan adanya kaitan, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat. Bisa jadi orang yang giginya lebih sehat memang secara alami hanya butuh kunjungan preventif bukan semata karena kunjungan preventif itu sendiri yang menekan biaya. Meski begitu, arah temuannya jelas dan sejalan dengan bukti-bukti sebelumnya.

Apa Kesimpulan Para Peneliti?

Naavaal dan Mone menutup penelitian mereka dengan pesan yang lugas: penyandang asma menunjukkan prevalensi penggunaan layanan perawatan gigi kuratif yang lebih tinggi. Karena itu, tenaga kesehatan bukan hanya dokter gigi, tetapi juga dokter umum dan spesialis paru yang menangani asma perlu mengedukasi dan mendorong pasien asma untuk memanfaatkan layanan gigi preventif.

Dengan kata lain: pengendalian asma yang baik seharusnya tidak berhenti di paru-paru.

Apa Artinya untuk Kita di Indonesia?

Data penelitian ini berasal dari Amerika Serikat, dengan sistem asuransi dan pola pembiayaan yang berbeda dari Indonesia. Angka-angkanya tidak bisa langsung dipindahkan begitu saja ke konteks kita.

Tetapi pelajaran perilakunya sangat relevan, terutama karena di Indonesia kunjungan gigi preventif masih jauh dari kebiasaan umum. Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan penyandang asma dan keluarganya:

  • Berkumur dengan air setelah menggunakan inhaler, terutama inhaler jenis kortikosteroid, lalu buang airnya. Langkah sederhana ini membantu mengurangi sisa obat yang menempel di mulut.

  • Gunakan spacer bila disarankan dokter, karena membantu obat lebih banyak masuk ke saluran napas dan lebih sedikit tertinggal di rongga mulut.

  • Cukupi asupan air putih untuk mengimbangi mulut yang cenderung kering.

  • Beri tahu dokter gigi bahwa Anda menyandang asma, dan bawa inhaler saat perawatan gigi.

  • Jadwalkan kontrol gigi rutin setiap enam bulan jangan menunggu sampai terasa nyeri.

Penutup

Penelitian ini tidak menghadirkan teknologi baru atau obat baru. Yang ia tawarkan justru lebih mendasar: sebuah pengingat bahwa penyakit kronis seperti asma punya "efek samping" yang merambat sampai ke rongga mulut dan bahwa sistem layanan kesehatan kita masih sering memperlakukan mulut sebagai wilayah terpisah dari tubuh.

Bagi penyandang asma, menjaga napas tetap lega memang prioritas. Tetapi menjadwalkan kontrol gigi rutin ternyata bukan sekadar urusan estetika atau kenyamanan melainkan bagian dari strategi menjaga kesehatan menyeluruh, sekaligus cara paling murah untuk menghindari biaya yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Referensi

Artikel utama:

Naavaal, S., & Mone, V. (2025). Dental Care Utilization and Expenditures Among Individuals With Asthma. Journal of Public Health Dentistry. DOI: 10.1111/jphd.70026 Lisensi: CC BY-NC-ND 4.0

Referensi pendukung:

  1. Alavaikko, S., Jaakkola, M. S., Tjäderhane, L., & Jaakkola, J. J. K. (2011). Asthma and Caries: A Systematic Review and Meta-Analysis. American Journal of Epidemiology, 174(6), 631–641. DOI: 10.1093/aje/kwr129

  2. Thomas, M. S., Parolia, A., Kundabala, M., & Vikram, M. (2010). Asthma and oral health: a review. Australian Dental Journal, 55(2), 128–133. DOI: 10.1111/j.1834-7819.2010.01226.x

  3. Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ). Medical Expenditure Panel Survey (MEPS). https://meps.ahrq.gov


Artikel ini merupakan ulasan populer dari publikasi ilmiah dan bukan pengganti konsultasi medis. Untuk keluhan asma maupun keluhan gigi dan mulut, silakan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang berwenang.

Carigi Indonesia July 24, 2026
Share this post
Tags
Archive
Periksa Gigi Ibu Hamil dan Janin