Kehilangan Gigi Terkait Kolesterol Buruk: Ulasan 23 Studi

Gigi Hilang, Kolesterol Ikut Terguncang: Ulasan 23 Studi Ungkap Hubungan Mulut dan Lemak Darah
Kehilangan gigi sering dianggap sekadar urusan estetika atau kenyamanan makan. Namun sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang merangkum 23 penelitian dari berbagai negara menemukan pola yang patut diperhatikan: semakin banyak gigi yang hilang, semakin buruk pula profil kolesterol seseorang. Kolesterol "baik" cenderung turun, sementara kolesterol "jahat" dan trigliserida cenderung naik. Kabar baiknya, memulihkan kemampuan mengunyah dengan gigi tiruan yang tepat tampaknya bisa membantu.
Masalah Gigi yang Bukan Sekadar Masalah Gigi
Kehilangan gigi adalah persoalan kesehatan masyarakat yang terus membesar seiring bertambahnya usia penduduk. Data Laporan Surveilans Kesehatan Mulut 2024 dari CDC Amerika Serikat menunjukkan bahwa rata-rata jumlah gigi permanen orang dewasa turun dari sekitar 27 gigi pada usia 20–34 tahun menjadi hanya sekitar 20 gigi pada usia 75 tahun ke atas. Pada kelompok usia tertua itu, hampir satu dari lima orang sudah tidak memiliki gigi asli sama sekali (edentulus).
Gigi yang hilang biasanya merupakan "babak akhir" dari penyakit gusi (periodontitis) yang berlangsung lama, kerusakan gigi, atau trauma. Artinya, kehilangan gigi menyimpan dua beban sekaligus: riwayat peradangan kronis di mulut, dan berkurangnya kemampuan mengunyah secara permanen.
Di sisi lain, ada masalah kesehatan yang tak kalah luas: dislipidemia, yaitu kadar lemak darah yang tidak normal. Kondisi ini mencakup kolesterol total tinggi, trigliserida tinggi, LDL ("kolesterol jahat") tinggi, atau HDL ("kolesterol baik") rendah. Secara global, sekitar 38% orang dewasa memiliki HDL rendah dan hampir 29% memiliki trigliserida tinggi. Gangguan kolesterol ini bisa muncul puluhan tahun sebelum serangan jantung atau stroke terjadi — sehingga menjadi jendela penting untuk pencegahan.
Selama ini, banyak penelitian sudah mengaitkan kehilangan gigi dengan penyakit jantung dan sindrom metabolik. Namun, bukti yang secara langsung menghubungkan jumlah gigi yang hilang dengan kadar kolesterol darah masih tersebar dan belum pernah dirangkum secara menyeluruh.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Dua peneliti asal Tiongkok, Keyi Wan dari Shanghai Jiao Tong University School of Medicine dan Kexin Wan dari Peking University Health Science Center, melakukan scoping review — sebuah jenis tinjauan pustaka yang bertujuan memetakan seluruh bukti yang ada mengenai suatu topik.
Mereka menelusuri empat basis data ilmiah besar (PubMed, MEDLINE, EMBASE, dan Cochrane Library) untuk publikasi sejak Juli 1968 hingga September 2025, tanpa batasan bahasa. Penelitian yang dipilih harus melibatkan orang dewasa (minimal 18 tahun), mengukur kehilangan gigi, dan melaporkan kadar lemak darah seperti kolesterol total, HDL, LDL, atau trigliserida.
Hasilnya, 23 studi utama dianalisis secara mendalam, ditambah sekitar 20 studi pendukung. Studi-studi ini berasal dari berbagai negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Amerika Serikat, Finlandia, Swedia, Inggris, dan Jerman.
Para peneliti lalu mengelompokkan studi berdasarkan cara mengklasifikasikan kehilangan gigi — misalnya membagi peserta menjadi dua kelompok (punya ≥20 gigi vs. <20 gigi, atau bergigi vs. ompong total), atau ke dalam beberapa tingkatan jumlah gigi.
Ada satu sudut pandang menarik yang mereka tekankan: orang yang sudah kehilangan seluruh giginya dianggap sebagai semacam "eksperimen alami". Karena tidak ada lagi gigi dan jaringan penyangganya, peradangan gusi aktif pun praktis hilang. Jadi, bila kelompok ini tetap memiliki kolesterol yang buruk, penyebabnya kemungkinan besar lebih berkaitan dengan perubahan pola makan akibat sulit mengunyah, bukan peradangan.
Hasilnya: Pola yang Cukup Konsisten
1. Mayoritas studi menemukan hubungan nyata
Dari 23 studi utama, 16 studi menemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara kehilangan gigi yang lebih banyak dan profil kolesterol yang lebih buruk. Polanya umumnya berupa HDL yang lebih rendah, LDL yang lebih tinggi, dan trigliserida yang lebih tinggi.
Ambang 20 gigi muncul berulang kali dalam berbagai studi. Angka ini kerap dianggap sebagai jumlah minimum gigi yang dibutuhkan agar seseorang tetap bisa mengunyah dengan baik. Orang dengan kurang dari 20 gigi cenderung memiliki HDL lebih rendah, dan pada beberapa studi juga LDL atau trigliserida lebih tinggi — temuan yang terlihat pada kelompok masyarakat umum, penderita diabetes, maupun lansia.
2. Semakin banyak gigi hilang, semakin buruk kolesterolnya
Studi yang membagi peserta ke dalam beberapa tingkatan menunjukkan pola "bertahap" (dose-response). Misalnya, studi besar di Finlandia terhadap lebih dari 8.000 orang dewasa menemukan bahwa makin banyak gigi yang hilang, makin tinggi trigliserida dan makin rendah HDL — bahkan setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin, dan faktor risiko jantung lainnya. Pola serupa juga terlihat pada studi di Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Tiongkok.
3. Ompong total: jalur lewat piring makan
Pada orang yang tidak memiliki gigi sama sekali, profil lemak darah juga cenderung lebih buruk. Studi di Swedia, misalnya, menemukan HDL yang lebih rendah pada orang paruh baya yang ompong total, dan pada perempuan juga kolesterol total serta trigliserida yang lebih tinggi. Studi jangka panjang selama 12 tahun di Inggris menunjukkan HDL pada kelompok ompong total menurun lebih cepat.
Para peneliti menduga penyebab utamanya adalah perubahan pola makan. Ketika mengunyah menjadi sulit, orang cenderung menghindari makanan berserat seperti sayur, buah, dan biji-bijian, lalu beralih ke makanan yang lebih lunak, olahan, dan kaya lemak. Kurangnya serat larut dapat mengganggu pembuangan kolesterol lewat usus, sehingga hati justru memproduksi lebih banyak kolesterol. Sementara itu, asupan lemak jenuh yang lebih tinggi dapat mendorong peningkatan LDL.
4. Hubungannya bisa dua arah
Menariknya, sebagian bukti menunjukkan hubungan ini mungkin berjalan dua arah. Sebuah studi pada penderita diabetes tipe 1 di Amerika Serikat dan Kanada menemukan bahwa rasio HDL/LDL yang lebih baik justru berkaitan dengan peluang kehilangan gigi yang lebih kecil. Artinya, kolesterol yang buruk juga dapat menjadi penanda risiko kehilangan gigi di masa depan. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
5. Gigi tiruan yang tepat bisa membantu
Salah satu temuan paling praktis datang dari studi tentang pemakai gigi tiruan. Pasien yang kehilangan sebagian gigi dan kemudian memakai gigi tiruan sebagian lepasan menunjukkan penurunan kolesterol total yang signifikan. Kemungkinan besar, karena kemampuan mengunyah yang pulih membuat mereka bisa kembali makan lebih sehat.
Namun, efek ini tidak terlihat secara konsisten pada pasien ompong total yang memakai gigi tiruan lengkap. Gigi tiruan lengkap lepasan memang membantu, tetapi efisiensinya belum menyamai gigi asli, sehingga banyak pemakainya tetap memilih makanan lunak. Sebuah studi lama bahkan mencatat bahwa hanya sekitar 14% pemakai gigi tiruan lengkap yang memiliki kadar kolesterol normal.
Sebaliknya, tinjauan lain menunjukkan bahwa mengganti gigi tiruan lepasan dengan gigi tiruan cekat yang ditopang implan berkaitan dengan berkurangnya asupan kolesterol dan kualitas makanan yang lebih baik secara keseluruhan.
Mengapa Ada Studi yang Tidak Menemukan Hubungan?
Tidak semua studi sepakat. Lima dari 23 studi utama tidak menemukan hubungan yang bermakna. Para peneliti mengajukan beberapa kemungkinan penjelasan:
Kolesterol bukan fokus utama. Banyak studi tersebut sebenarnya meneliti hipertensi, penyakit jantung, atau diabetes, sehingga kolesterol hanya diukur sebagai data tambahan dan mungkin tidak cukup peka mendeteksi perbedaan kecil.
Karakteristik peserta. Pada penderita diabetes atau lansia dengan banyak faktor risiko jantung, kadar kolesterol lebih banyak dipengaruhi obat-obatan dan kondisi metabolik lain.
Cara pengelompokan. Pembagian sederhana seperti "pernah kehilangan gigi vs. tidak" mungkin terlalu kasar dibandingkan ambang 20 gigi atau pembagian bertingkat.
Pengaruh obat dan faktor lain. Pemakaian obat penurun kolesterol, atau penyesuaian statistik yang terlalu banyak, dapat menyamarkan hubungan yang sebenarnya ada.
Tiga Jalur yang Mungkin Menghubungkan Gigi dan Kolesterol
Berdasarkan seluruh bukti, para peneliti merangkum tiga jalur yang kemungkinan saling berkaitan:
Jalur nutrisi — sulit mengunyah mengubah pola makan menjadi rendah serat dan tinggi lemak.
Jalur peradangan — gigi yang hilang sering menandakan penyakit gusi kronis. Bakteri penyebab penyakit gusi memicu peradangan di seluruh tubuh, yang dapat melemahkan fungsi HDL dalam membersihkan kolesterol dari pembuluh darah.
Jalur faktor risiko bersama — kebiasaan seperti merokok, pola makan buruk, kebersihan mulut yang kurang, dan rendahnya literasi kesehatan dapat sekaligus merusak gigi dan kolesterol. Dalam hal ini, kehilangan gigi bisa menjadi "penanda" gaya hidup yang kurang sehat, bukan semata-mata penyebab.