Skip to Content

Kehilangan Gigi Sisi Memengaruhi Sendi Rahang TMJ

August 13, 2026 by
Carigi Indonesia

Kehilangan Gigi Sisi Memengaruhi Sendi Rahang TMJ

Kehilangan Gigi Sisi Memengaruhi Sendi Rahang TMJ

Kehilangan Satu Sisi Gigi Ternyata Dapat Memengaruhi Struktur Sendi Rahang

Kehilangan gigi bukan hanya berdampak pada kemampuan mengunyah dan penampilan. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kehilangan gigi, terutama pada satu sisi, berkaitan dengan perubahan mikrostruktur tulang pada sendi temporomandibular (TMJ) atau sendi rahang.

Ketika Kehilangan Gigi Mengubah Beban pada Sendi Rahang

Sendi temporomandibular berperan penting dalam berbagai aktivitas sehari-hari, seperti mengunyah, menelan, dan berbicara. Dalam kondisi normal, gaya kunyah didistribusikan secara relatif seimbang sehingga sendi rahang dapat beradaptasi dengan beban yang diterimanya.

Namun, ketika seseorang kehilangan gigi, terutama gigi belakang, keseimbangan tersebut dapat berubah. Seseorang mungkin secara tidak sadar lebih sering mengunyah menggunakan sisi yang masih memiliki gigi lengkap. Akibatnya, beban mekanis pada kedua sisi sendi rahang dapat menjadi tidak seimbang.

Pertanyaannya, apakah perubahan pola beban tersebut benar-benar dapat terlihat pada struktur tulang sendi rahang?

Peneliti Menggunakan Analisis Fraktal pada Foto Panoramik

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti dari Department of Oral and Maxillofacial Surgery, Sivas Cumhuriyet University, Türkiye, melakukan penelitian terhadap 1.061 orang dewasa, terdiri dari 684 perempuan dan 377 laki-laki.

Para peserta menjalani pemeriksaan klinis untuk mengetahui adanya maloklusi dan kehilangan gigi. Peneliti kemudian menganalisis foto radiografi panoramik untuk melihat struktur tulang trabekular pada kepala kondilus, yaitu bagian tulang rahang bawah yang membentuk sendi temporomandibular.

Salah satu metode yang digunakan adalah fractal dimension (FD) atau analisis dimensi fraktal. Secara sederhana, metode ini mengubah pola kompleks tulang trabekular menjadi nilai angka. Nilai tersebut dapat memberikan gambaran mengenai tingkat kompleksitas dan keterhubungan pola tulang.

Dalam penelitian ini, analisis dilakukan pada area berukuran 50×50 piksel pada kedua sisi kepala kondilus menggunakan perangkat lunak ImageJ.

Maloklusi Tidak Menunjukkan Perubahan yang Signifikan

Salah satu temuan menarik penelitian ini adalah bahwa maloklusi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap nilai dimensi fraktal tulang kepala kondilus.

Rata-rata nilai FD pada sisi kiri maupun kanan tidak berbeda secara bermakna antara kelompok dengan dan tanpa maloklusi. Analisis statistik juga tidak menemukan pengaruh signifikan dari maloklusi, usia, maupun jenis kelamin terhadap struktur trabekular yang diamati.

Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara maloklusi dan perubahan mikrostruktur tulang TMJ mungkin tidak sesederhana yang diperkirakan. Peneliti juga mencatat bahwa penelitian sebelumnya memberikan hasil yang masih beragam mengenai hubungan tersebut.

Kehilangan Gigi Justru Menunjukkan Perbedaan yang Jelas

Berbeda dengan maloklusi, kehilangan gigi menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perubahan struktur trabekular pada kepala kondilus.

Hasil paling menarik terlihat pada kasus kehilangan gigi satu sisi. Pada individu yang kehilangan gigi di sisi kanan, nilai FD pada kondilus kiri—atau sisi yang berlawanan—lebih rendah dibandingkan individu tanpa kehilangan gigi. Pola serupa juga ditemukan pada kehilangan gigi sisi kiri, dengan nilai FD yang lebih rendah pada kondilus kanan.

Secara statistik, interaksi antara sisi TMJ dan sisi kehilangan gigi sangat signifikan (p<0,001). Perbedaan nilai FD antar kelompok berada sekitar 0,05–0,10, atau sekitar 4–8% dibandingkan nilai rata-rata FD yang berada di kisaran 1,28–1,31.

Mengapa Sisi yang Berlawanan Justru Lebih Terpengaruh?

Peneliti menduga fenomena ini berkaitan dengan perubahan pola mengunyah.

Ketika gigi belakang hilang pada satu sisi, seseorang cenderung memindahkan aktivitas mengunyah ke sisi yang masih memiliki dukungan gigi. Perubahan ini membuat beban kunyah lebih banyak diterima oleh sisi tersebut dan dapat meningkatkan beban pada kondilus di sisi berlawanan.

Dalam jangka panjang, perubahan beban tersebut dapat memicu proses adaptasi pada tulang trabekular. Penurunan nilai FD dapat mencerminkan perubahan pada kompleksitas dan keterhubungan struktur trabekular.

Dengan kata lain, kehilangan gigi pada satu sisi tidak hanya menjadi masalah pada lokasi gigi yang hilang, tetapi berpotensi berkaitan dengan perubahan pada sistem sendi rahang secara keseluruhan.

Apa Artinya bagi Perawatan Gigi?

Temuan ini memberikan pesan penting mengenai rehabilitasi kehilangan gigi. Penggantian gigi yang hilang bukan hanya berkaitan dengan mengembalikan fungsi mengunyah atau estetika, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan keseimbangan fungsi sistem pengunyahan.

Peneliti menekankan pentingnya rehabilitasi kehilangan gigi satu sisi, termasuk dengan prostesis cekat atau implan, untuk membantu mempertahankan kesehatan sendi rahang.

Namun, hasil penelitian ini tidak berarti bahwa setiap orang yang kehilangan satu gigi pasti akan mengalami gangguan TMJ. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kehilangan gigi dan perubahan mikrostruktur tulang, bukan membuktikan bahwa kehilangan gigi secara langsung menyebabkan penyakit atau kerusakan sendi rahang.

Foto Panoramik sebagai Alat untuk Melihat Perubahan Mikroskopis?

Hal lain yang menarik adalah penggunaan radiografi panoramik. Pemeriksaan ini relatif umum digunakan dalam praktik kedokteran gigi dan dapat dianalisis menggunakan metode fraktal untuk mendapatkan informasi kuantitatif mengenai pola tulang.

Peneliti menilai bahwa pendekatan ini berpotensi menjadi metode non-invasif untuk mengevaluasi perubahan mikrostruktur tulang TMJ. Namun, karena radiografi panoramik merupakan gambaran dua dimensi, metode ini belum dapat menggambarkan struktur tulang secara tiga dimensi secara sempurna.

Penelitian Masih Memiliki Keterbatasan

Hasil penelitian perlu dibaca dengan mempertimbangkan beberapa keterbatasan. Penelitian menggunakan desain potong lintang sehingga tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat atau menunjukkan bagaimana perubahan tulang berkembang dari waktu ke waktu.

Selain itu, preferensi sisi mengunyah dan kekuatan gigitan tidak diukur secara langsung. Jenis maloklusi juga tidak dibedakan secara lebih spesifik, sementara penelitian hanya dilakukan pada satu pusat pelayanan kesehatan di satu wilayah.

Karena itu, penelitian lanjutan dengan desain longitudinal, populasi yang lebih beragam, serta pengukuran pola dan kekuatan mengunyah diperlukan untuk memperjelas hubungan tersebut.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa kehilangan gigi, terutama kehilangan gigi pada satu sisi, berkaitan dengan perubahan mikrostruktur tulang pada kepala kondilus TMJ di sisi yang berlawanan. Sebaliknya, maloklusi tidak menunjukkan perubahan signifikan pada struktur trabekular yang diukur dalam penelitian ini.

Temuan tersebut memperkuat pemahaman bahwa kehilangan gigi dapat memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar berkurangnya fungsi mengunyah. Perubahan distribusi beban saat mengunyah berpotensi berkaitan dengan adaptasi pada struktur sendi rahang.

Meski demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan bagaimana perubahan tersebut berkembang dan apakah benar berhubungan dengan gangguan TMJ dalam jangka panjang.

Referensi 

Balel Y. Evaluation of TMJ bone microarchitecture in malocclusion and tooth loss using fractal dimension analysis. BMC Oral Health. 2026;26:711. DOI: 10.1186/s12903-026-08085-0.

Carigi Indonesia August 13, 2026
Share this post
Tags
Archive
Pantau Radang Mulut Anak via Foto HP: Tele-Dentistry Pasien Kanker